
Setelah beberapa hari kemudian, tibalah dimana hari acara sekolah Nuri dilaksanakan.
“Nur, ingat pesan mas. Jangan lupa hubungi mas setiap satu jam sekali ya.” Ucapku mengingatkannya
“Iya.. Iya.. Mas. Klo aku ga lupa ya.” Ucapku
“Pokoknya harus. Jangan sampai ga.” Ucapku tegas
“Ih posesif banget sih jadi orang.” Gerutunya lirih tapi masih bisa didengar olehku.
“Apa tadi kamu bilang? Coba ulangi lagi.” Ucapku emosi
“Ga kok, ga. Ya udah aku berangkat dulu ya.” Pamitnya
“Iya. Ya udah sana. Hati-hati.” Ucapku
“Iya pak Dokter ku.” Celetuknya sambil pergi
Setelah dia pergi, aku merasa seperti ada yang hilang. Padahal kan ga lama. Hanya satu malam saja.
“Hadeuh suf, lo ini kenapa sih?” gumamku dalam hati
Beberapa jam kemudian, aku mulai gelisah karena Nuri tidak juga menelpon.
Namun disaat yang bersamaan ternyata dia memang lupa dengan janjinya
Setelah menunggu beberapa jam kemudian, akhirnya aku putusin buat menelponnya duluan
“Hallo Nur.” Ucapku
“Hallo mas.” Sahutnya
“Kamu lupa ya sama syarat yang aku bilang ke kamu?” ucapku
“Syarat? Hmm... Ya ampun mas, aku lupa. Maaf.. Maaf.. Maaf..” ucapnya
“Ya udah aku maafin. Tapi untuk satu jam dari sekarang, kamu jangan sampai lupa lagi buat telpon.” Ucapku Tegas.
“Iya mas.” Sahutnya
Setelah mendengar ucapannya, akhirnya aku menutup telponnya
“Siapa Nur?” tanya Rico
“Mas Yusuf, Ric.” Sahut Nuri
“Oh..” ucap Rico singkat
Sementara ditempat yang berbeda, aku benar-benar kacau. Baru kali ini aku merasa ga nyaman seperti ini.
Karena terlalu kepikiran dengannya, akhirnya aku putuskan untuk datang ke sana
Sesampainya disana, aku mencari-cari sosok Nuri. Setelah aku menemukannya, akupun langsung menelponnya lagi
“Hallo.” Sapanya
“Hallo Nur. Kamu sedang bersama siapa?” tanyaku
“Aku ga bersama siapa-siapa mas. Aku Cuma duduk bersama-sama dengan teman-temaku.” Ucapku
“Mas, ada apa? Kan belum ada satu jam, kenapa udah telpon lagi?” tanya Nuri
__ADS_1
“Oh ga ada apa-apa kok. Ya udah aku tutup telponnya klo begitu ya. Tapi ingat, jangan lupa telpon.” Ucapku
“Iya mas.” Sahutnya
“Ya udah aku tutup.” Ucapku
“Iya.” Sahutnya singkat
Setelah menutup telponnya, akupun duduk bersandar dalam mobil
Satu jam telah berlalu, tapi lagi-lagi Nuri tidak telpon. Ini membuatku sangat kesal sekali.
“Sebenarnya ni anak kenapa sih? Kok lagi-lagi ga telpon.” Gumamku
Lalu aku putuskan untuk menelpon lagi
“Hallo Nur, kamu ada dimana?” tanyaku saat telpon diangkat
“Mas, maaf bukan aku ga mau menelpon mas, tapi...” ucapannya terpotong
“Tapi apa Nur?” tanyaku
“Mas, aku ngantuk. Dan aku juga takut klo gangguin Mas tidur, jadi aku putuskan untuk ga menelpon mas.” Jelasnya
“Klo kamu ngantuk, kamu kan bisa telpon dulu sebelum kamu tidur. Klo begini kan namanya kamu udah buat aku nahan ngantuk, sementara kamu udah enak tidur duluan.” Ucapku
“Iya maaf mas.” Sahutnya
Setelah mengatakan itu, tiba-tiba telponpun terdengar sunyi.
“sepertinya dia ketiduran deh. Haizz.. Yusuf.. Yusuf. Kamu begini, jangan-jangan kamu sudah beneran suka sama Nuri?! Udahlah, jangan terlalu berfikir macam-macam.” Gumamku pada diri sendiri
Keesokan harinya, hari dimana Nuri waktunya untuk pulang. Dan akupun menelponnya duluan
“Hallo mas.” Sahutnya
“Kapan kamu pulang? Mas udah ada tempat kamu nih.” Ucapku
“Mas ada disini?” tanyanya bingung
“Iya. Emang kenapa? Mas kan mau jemput kamu.” Ucapku
“Ya ga apa-apa sih mas. Ya udah, sebentar lagi aku keluar.” Ucapnya
“Ya udah, aku tunggu.” Sahutku
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Nuri keluar dengan Rico
“Lagi-lagi sama dia. Sebenarnya mereka ada hubungan apa sih?” gerutuku
“Mas, maaf. Aku lama ya?” tanya Nuri
“Hmm..” sahutku singkat
Setelah Nuri masuk ke dalam mobil, aku pun langsung menyalakan mobil. Dan akhirnya mobilpun melaju.
Dalam perjalanan, aku suntuk sekali. Semalaman aku ga bisa tidur eh dia tadi malah asik ketawa ketiwi ma si Rico Rico itu. Kesal rasanya hatiku ini.
“Mas, mas punya obat demam ga?” tanyanya tiba-tiba
“Obat demam?” tanyaku dan seketika aku langsung memegang keningnya
__ADS_1
“Nur, demam mu tinggi. Baik.. Tahan sebentar ya.” Ucapku dan akupun langsung melajukan mobil ke Rimah Sakit
“Mas, kenapa kesini? Aku ga mau kesini. Aku pulang mau aja. Lagipula aku Cuma demam biasa. Ga harus datang ke rumah sakit. Plis mas. Aku ga mau.” Rengeknya
Aku yang tau persis kenapa dia begini akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ya udah kita pulang sekarang. Tp kamu harus janji akan menuruti semua perintahku. Klo ga, aku bakalan bawa kamu kerumah sakit dan menyerahkan kamu ke Dokter lain. Gimana?” ancamku
“Iya.. Iya.. Mas. Aku janji akan menuruti semua omongan mas asal aku ga di bawa ke rumah sakit.” Ucapnya
“Baiklah. Kita pulang.” Ucapku
Namun ketika aku hendak memutar arah mobilku, tiba-tiba ada seseorang yang mengahalangi
“Hai suf, lo mau kemana?” tanya Cindy.
“Bukan urusan lo. Udah sana lo minggir. Gue buru-buru.” Sahutku
“Ah.. Ngapain lo buru-buru sih? Anterin gue dulu ya.” Ucapnya yang langsung aja mau masuk kedalam mobil bagian depan
“Eh ada orang. Lo pindah sana ke belakang. Gue mau duduk deket sama yayang gue.” Ucap Cindy, namun nuri tidak menanggapi karena badannya memang sedang demam
“Eh lo denger ga?” ucapnya ketus
“Hai Cindy.. Lo ada hak apa nyuruh dia dengan cara begitu hah?” ucapku yang emosi
“Suka-suka gue lah. Secara lo itu kan cowo gue.” Akunya
“apa lo bilang? Siapa tadi yang lo bilang cowo lo?” ucapku ga kalah ketus
“Ingat dan dengar baik-baik. Dia ini calon istri gue. Lo ga ada hak untuk memperlakukannya seperti tadi. Dan satu hal lagi, gue dari dulu ga pernah dan ga akan pernah suka sama cewe sarap kaya’ lo. Ingat itu..!!” ucapku
“Sekarang lo minggir..!! Minggir..!!!” ucapku dengan suara kencang sehingga semua yang ada disana saat itu bisa mendengarnya.
Aku yang ga peduli dengan bagaimana Cindy pun akhirnya lebih memilih untuk segera pergi
Sesampainya dirumah, aku pun langsung menidurkannya di atas tampat tidur dan ini rupanya ketahuan olen ibu
“Suf, kenapa Nuri?” tanya ibu
“Nuri demam bu.” Jawabku
“Kok bisa demam suf? Kamu udah bawa dia kerumah sakit?” tanya ibu.
“Aku tadi udah coba bawa, tapi dianya histeris menolaknya. Mungkin dia masih suka keingat mba’nya. Jadi dia sama sekaIi ga mau di bawa ke rumah sakit.” Jelasku
“oh begitu.” Sahut ibu
“ya udah bu, aku mau coba periksa dia dulu sekaligus mau kasih dia obat.” Ucapku
“Ya baiklah klo begitu. Ibu keluar dulu. Tolong kamu jaga dia ya.” Ucap ibu dan akupun mengangguk
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan comentnya ya..🙏