
Setelah mendengar ucapan ibu-ibu tersebut, Lani pun mendekat dan....
“Plak..” sebuah tamparan mendarat di pipi Aisyah.
“Ada apa mba?” tanya Aisyah bingung karena tiba-tiba di tampar oleh Lani
“Ada apa.. Ada apa.. Eh, beraninya kamu ya deket deket ma mas yusuf?! Ingat sama status kamu. Status kamu itu cuma pembantu di rumah ini, gak lebih. Jadi jangan harap kamu bisa deket-deket sama mas Yusuf.” Ucap Lani kasar
“Mba.. Mba salah paham. Saya di sini itu..” ucapan Aisyah terpotong karena tiba-tiba...
‘plak..’ tamparan yang keduapun mendarat di pipi Aisyah
Aku yang melihatnyapun langsung emosi dan seketika membuat aku..
‘Plak..’ sebuah tamparan mendarat di pipi Lani
“Tamparan itu mewakili rasa sakit hati Aisyah.” Ucapku dan kemudian..
“Plak..” sekali lagi tamparan mendarat di pipi Lani
“Dan ini balasan untuk menghina keluarga besar Abraham” ucapku emosi
“Mas, kenapa kamu malah membela perempuan ga tau malu ini sih dan menamparku?” ucap Lani ga terima
“Siapa yang kamu bilang ga tau malu hah?” ucapku emosi
“Asal kamu tahu dan semua yang ada disini tau, dia yang kalian bilang pembantu ini, adalah istriku. Ingat dia istriku..!!” ucapku penuh amarah
“Mas sudah.. Aku ga apa-apa.” Ucap Aisyah berusaha menenangkanku
“Apa? Perempuan murahan ini istri kamu?!” Ucap Lani yang ga terima
“Sekali lagi.. Siapa yang kamu maksud murahan hah?! Bukannya kamu yang lebih murahan daripada dia?!” ucapku yang masih emosi
“Mas.. Sudah.. Sudah..” ucap Aisyah dengan lembut
“Kamu..” ucapan Lani terpotong karena melihat ibu datang
“Bu, lihat tuh mas Yusuf. Lebih belain perempuan kampung itu di banding aku yang calon istrinya.” Ucap Lani yang masih kekeh menganggap semua yang dikatakan oleh aku itu bohong
“Maaf lani, dari awal, acara ini ibu buat sebagai acara syukuran mereka berdua. Dan untuk masalah kamu ini, lebih baik kamu cari laki-laki lain yang lebih pantas buat kamu.” Ucap ibu tenang
“Ga bu. Aku tetap maunya mas yusuf yang bakalan jadi suamiku.” Ucap Lani keras kepala
“Huh... Sekarang siapa coba yang ga tau malu. Udah tau ga mungkin, tapi masih tetep aja ngejar. Itu apa namanya klo bukan perempuan murahan?!” ucapku tajam
“Bener juga ya..” bisik ibu-ibu di ruangan itu.
“Mas, kamu kok tega sih bilang begitu sama aku? Apa sih yang kamu lihat dari perempuan miskin kaya dia ini sampai-sampai kamu lebih pilih perempuan miskin ini dari pada aku hah?” ucap Lani kasar
‘plak..’ sebuah tamparan lagi mendarat dipipi Lani dan tamparan ini berasal dari ibu
“Lani, ibu sudah cukup bersabar ya. Ibu bersyukur karena menantu ibu itu bukan kamu. Kamu ga akan pernah tau sulitnya menjadi orang biasa. Karena kamu itu dari awal sudah dilahirkan sebagai anak manja.” Ucap ibu
“Ibu..” ucap Lani yang akhirnya menangis
“Lani, maaf. Kamu ga apa-apa?” tanya Aisyah sambil memegang pundak Lani
__ADS_1
“Jangan sentuh aku cewe’ murahan.” Ucap Lani memukul tangan Aisyah
“Lihat saja nanti. Kamu pasti bakalan menyesal udah memilih dia dibanding aku.” Ucap Lani
“Iya.. Kita lihat saja nanti.” Ucapku
Setelah bicara seperti itu, lanipun pergi dan acarapun tetap berlangsung dan diakhiri dengan permintaan maaf dari ibu-ibu
***********************************
“Mas, mas kenapa tadi?” tanyaku setelah semua sudah selesai di rapikan
“Tadi aku kepancing emosi. Aku sakit hati melihat kamu di perlakukan begitu.” Ucapku
“Aku ga apa-apa mas.” Jawab Aisyah
“benarkah?” tanyaku memastikan dan Aisyahpun mengangguk
“oh syukurlah. Tapi coba kulihat pipi kamu yang tadi dipukul.” Ucapku hendak memegang pipi Aisyah tapi Aisyah mengelak
“Jangan mas. Aku ga apa-apa kok.” Ucap Aisyah
“Beneran ga apa-apa?” tanyaku memastikan tapi bisa terlihat jelas klo pipinya merah dan bengkak
“Iya mas ga apa-apa.” Sahut Aisyah
“Oh ya udah klo begitu. Aku ga lihat. Tapi kamu minum obat ini ya. Biar cepat sembuh.” Ucapku memberikan obat pereda nyeri.
“Iya mas. Makasih.” Ucap Aisyah sambil memaksakan tersenyum
“Sama-sama” jawabku
***********************************
Keesokan harinya, kami bersiap-siap untuk pulang.
“Ibu, kami pamit dulu untuk pulang.” Ucapku ke ibu
“Nak, sini.. Ayah mau peluk kamu.” Pinta ayah dan akupun mengangguk
Setelah mendengar permintaan ayah dan melihatku membolehkannya, akhirnya Aisyahpun memeluk ayah
“Sayang.. Sering-sering main ke sini ya. Ajak juga adik-adikmu.” Ucap Ayah
“Iya ayah.” Jawab Aisyah
“Yusuf, jaga baik-baik ya menantu kesayangan kami ini. Jangan kamu sakitin perasaannya.” Pesan ayah
“Iya Ayah.” Jawabku
“Nak, ini ada sedikit oleh-oleh buat kamu bawa pulang.” Ucap ibu sambil memberikan bungkusan yang ntah apa isinya
“Terimakasih bu.” Ucap Aisyah
Setelah berpamitan, kamipun masuk kedalam mobil.
“Bu, kami berangkat dulu ya.” Ucapku
__ADS_1
“Iya nak. Hati-hati. Nanti klo sudah sampai jangan lupa telpon ayah dan ibu.” pesan ibu
“Iya ibu.” Jawabku
Setelah itupun kami langsung berangkat.
Dalam perjalanan, Aisyah terlihat muram sekali.
“Ada apa Aisyah?” tanyaku
“Ga ada apa-apa mas.” Jawab Aisyah
“Apanya yang ga apa-apa?! Kamu terlihat pucat. Kamu pusing lagi?” tanyaku khawatir
“Aku ga tau mas. Tiba-tiba saja aku merasa mual.” Jawabnya
“Tadi kamu sudah sarapan kan sebelum berangkat?” tanyaku
“Sudah mas. Tapi cuma sedikit. Habisnya enek banget.” Jawabnya
“Ya udah.. Ya udah.. Klo emang kamu mau muntah bilang ya. Nanti kita berhenti dulu sebentar.” Ucapku sambil mengelus-ngelus rambutnya dan diapun mengangguk
Disaat sudah mau sampai di rumah, tiba-tiba saja Aisyah ingin muntah
“Mas.. Berhenti dulu sebentar. Aku ga kuat. Mau muntah..” ucapnya
Mendengar permintaannya, akupun berhenti dan disaat itu juga Aisyah memuntahkan semua makanannya.
Setelah selesai muntah-muntah, tiba-tiba dia..
“Bruk..” Aisyah tak sadarkan diri.
Lalu dengan sigap aku membawanya kerumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, aisyah langsung di berikan pertolongan pertama. Salah satunya adalah pemeriksaan lab.
Setelah menunggu beberapa saat, hasilnya pun keluar.
“Bagaimana Dok, keadaan istri saya?” tanyaku
“Lebih baik Dokter Yusuf lihat sendiri hasilnya.” Ucap Dokter itu
Setelah aku melihatnya ternyata....
.
.
.
.
.
Bersambung...
Tunggu lanjutannya di next..
__ADS_1
Jangan lupa like dan comen ya..🙏