Cintaku karena ibadah

Cintaku karena ibadah
Wanita itu


__ADS_3

Setelah satu bulan setelah acara lamaran Adit, Nuri menjadi lebih murung dari biasanya.


“Nur, kamu kenapa sayang? Kamu sedang tidak enak badan?” tanyaku saat sedang sarapan


“Ga ada apa-apa mas. Cuma kemarin ada seorang wanita yang datang mencariku.” Ucap Nuri


“Wanita? Siapa?” tanyaku


“Dia bilang sih katanya dia ibuku.” Ucap Nuri


“Ibumu?” tanyaku terkejut dan dia mengangguk


“Trus dia bilang apa?” tanyaku lagi


“Dia bilang, dia kangen sama aku dan mas Adit. Diapun memintaku agar aku dan mas Adit mau tinggal bersamanya.” Jelas Nuri


“Lalu kamu jawab apa nur?” tanyaku


“Aku diam aja mas. Masalahnya aku ga tahu dia itu benar ibuku atau bukan. Secara waktu ibu dan ayahku berpisah, aku kan masih sangat kecil. Satu-satunya orang yang bisa mengenali ibu dan ayahku hanyalah mas Adit.” Ucap Nuri


“Trus dia juga bilang akan menemuiku nanti sepulang sekolah untuk meminta jawaban dariku.” Jelas Nuri


“Ya udah, kamu ga usah khawatir masalah itu. Nanti aku dan juga Adit bakalan jemput kamu. Kamu jangan keluar dari sekolah dulu ya sebelum aku datang.” Ucapku dan diapun mengangguk


***********************************


Saat pulang sekolahpun tiba. Seperti janjiku. Aku dan juga Adit datang untuk menjemput Nuri


Dan benar saja, ada seorang wanita yang sedang menunggu Nuri dipintu gerbang sekolah


“Dit, kamu lihat ga wanita yang di sana itu? Kira-kira kamu kenal ga?” tanyaku sambil menunjuk seorang wanita di depan gerbang sekolah


“Yang mana sih mas?” tanya Adit


“Itu lho, yang di depan pintu gerbang percis.” Sahutku

__ADS_1


“Itu... Itukan ibuku.” Ucap Adit terkejut sekaligus emosi


“Ngapain dia datang ke sini?” Ucap Adit


“Kata Nuri sih, sebelum ini ada yang datang menemui dia dan mengaku-ngaku sebagai ibunya. Lalu mengajak Nuri untuk tinggal bersamanya. Tapi Nuri diam aja. Ga jawab apa-apa masalahnya nuri ga tahu, itu emang benar ibunya atau bukan. Nah rupanya sekarang dia datang lagi untuk meminta jawaban dari Nuri. Oleh karena itu, untuk memastikan, kamu, aku ajak ke sini.” Jelasku


“Ga.. Ini ga bisa dibiarkan. Enak aja dia main datang begitu aja dan juga pergi begitu aja tanpa kasih kabar. Dan sekarang, dia ingin kita tinggal bersamanya?! Jangan harap.” Ucap Adit emosi


“Tenang Dit. Aku tahu perasaanmu. Tapi biar bagaimanapun, dia tetaplah ibumu. Jangan seperti itu. Sebenci-bencinya kita ke seorang ibu, kita tetap ga boleh menyinggung perasaannya.” Ucapku


“Tapi mas...” ucapan Adit aku potong


“Udah sekarang lebih baik kita temui dia, lalu cari tempat dan bicara baik-baik. Gimana?” ucapku


“Baiklah mas.” Sahut Adit


Kemudian setelah itu, kamipun turun dari mobil dan menghampirinya


“Permisi, apa ada yang bisa saya bantu? Masalahnya dari tadi saya lihat ibu berdiri saja disini. Apa ibu sedang menunggu seseorang?” tanyaku


“Aku sedang menunggu puteriku, Nuri.” Sahut ibu itu


“Mas, untung mas udah datang. Aku takut banget tadi mas.” Ucap Nuri yang langsung memelukku begitu dia ada didepanku.


“Nur, ini ibu nur. Kenapa kamu pelukan sama cowo ini di depan ibumu sendiri?” tanya ibu itu yang sepertinya akan emosi


“Ibu? Aku ga kenal ibu. Aku kenalnya ibu yang sudah lama meninggalkan kami tanpa kabar.” Celetuk Adit


“Hus dit, ga boleh begitu.” Ucapku ke Adit


“Kenalin bu, saya Yusuf, suami Nuri.” Ucapku memperkenalkan diri


“Suami? Apa maksud kamu? Nurikan masih sekolah.” Ucap ibu itu yang sepertinya emosi bercampur terkejut


“Ini nih, orang tua yang terlalu peduli sama anaknya. Sampai-sampai apa yang terjadi pada anaknya aja ibu ga tahu.” Ucap Adit yang ga kalah emosi

__ADS_1


“Maksud kamu apa?” tanya ibu itu bingung


“Sudah.. Sudah.. Lebih baik kita cari tempat untuk bicara. Ga enak dilihat orang klo kita bertengkar seperti ini.” Ucapku menengahi


Akhirnya kamipun mencari tempat untuk mengobrol.


“Bu, begini. Pertama-tama perkenalkan nama saya yusuf. Saya adalah seorang Dokter. Ada dua alasan kenapa saya menikahi Nuri disaat dia masih sekolah seperti ini. Pertama, karena saya terlalu mencintai dan menyayangi dia. Dan yang kedua, ini adalah amanah dari Aisyah sebelum dia meninggal.” Jelasku


“Apa? Aisyah sudah meninggal? Kapan?” tanya ibu terkejut sekaligus syok


“Kira-kira kurang lebih 6 tahun yang lalu. Karena pecahnya pembuluh darah yang ada di kepalanya.” Jelasku dan membuat ibu itu sedikit hilang keseimbangan.


“Ibu ga apa-apa?!” tanyaku


“Ini bu, minum air putih dulu supaya lebih tenang.” Ucapku sambil memberikan air minum kepadanya


“Sekarang ibu tahu kan apa yang terjadi pada kami setelah ayah dan ibu pisah lalu pergi meninggalkan kami?! Mba aisyah banting tulang untuk membiayai hidup dan juga sekolah kami. Mba Aisyah yang selalu ada di saat kami memerlukan kasih sayang. Bahkan setelah dia meninggal pun, dia masih tetap menyayangi kami dengan menitipkan kami di keluarga mas yusuf yang ternyata juga menyayangi kami.” Ucap Adit


“Lalu kemana ibu? Ibu sekarang tiba-tiba ingin mengajak kami untuk tinggal bersama ibu. Apa ibu ga punya perasaan? Apa ibu ga bisa mikir gimana kami akan menjawab pertanyaan ibu setelah apa yang sudah ibu lakukan kepada kami? Ibu, asal ibu tahu, dulu waktu ibu dan ayah pergi ninggalin kami, hidup kami susah. Dan ketika sekarang kami sudah menemukan jalan hidup kami, ibu menjemput kami. Bu, aku benar-benar tidak habis fikir dengan jalan pikiran ibu.” Ucap Adit melampiaskan semua uneg-uneg yang dia pendam selama ini. Sementara ibu hanya bisa diam tanpa menjelaskan apa-apa.


“Jadi benar ya, ibu itu adalah ibu kami?” tanya Nuri lirih dan kemudian pingsan


“Nur... Nur... Kamu kenapa sayang?!” ucapku khawatir


“Ayo kita bawa Nuri ke rumah sakit.” Ucapku sambil menggendong Nuri


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like dan comentnya ya...🙏


__ADS_2