Cintaku karena ibadah

Cintaku karena ibadah
pengganggu


__ADS_3

Setelah menghabiskan makanannya, Nuripun meminum obat pereda nyeri yang aku berikan. Dan tak selang berapa lama penata riaspun datang.


“Aduh cantiknya pengantin kita ini. Jadi ga sabar buat ngeriasnya.” Ucap penata Rias itu dan saat itu aku melihat Nuripun tersenyum


“Ya udah, kita mulai saja yuk meriasnya.” Ucap penata riasnya


“O ya, kamu suaminya ya?” tanya penata rias itu setelah beberapa saat merias Nuri dan aku juga di rias bersamaan dengan penata rias yang lainnya


“Iya.” Sahutku


“Hmm... Pasangan yang serasi. Yang satunya cantik dan yang satunya lagi tampan. Benar-benar cocok.” Ucap penata rias itu sambil tangannya terus merias wajah Nuri


“Terimakasih pujiannya.” Ucapku dan penata riasnya pun tersenyum melihat kami


Ketika pukul 9 pagi, aku ingat kalau aku menyuruh Randy datang ke rumah


“Aku tinggal sebentar ya. Mau keluar dulu.” Pamitku ke Nuri setelah aku selesai terlebih dahulu


“Iya mas.” Sahut Nuri dan akupun melangkah berjalan keluar kamar.


Sesampainya di luar, aku lagi-lagi bertemu Adit


“Dit, kamu lihat ga temanku datang?” tanyaku


“Kaya’ nya ga mas. Emang teman mas bilang klo mau datang jam segini?” tanya Adit


“Ga juga sih. Cuma kemarin aku yang minta dia buat datang jam segini.” Jelasku


“Oh begitu. Mungkin sebentar lagi kali.” Sahut Adit


“Bisa jadi. Ya udah dit, kamu terusin aja siap-siapnya.” Ucapku dan diapun mengannguk


Setelah itu akupun keluar. Takut-takut Randy menunggu diluar


Setelah beberapa saat, akhirnya yang dicaripun datang, tapi...


“Kenapa dia membawa Cindy? Apa ibu mengundangnya?” gumamku dalam hati


“Hai suf, sory gue telat. Tadi gue jemput cindy dulu.” Ucap Randy tanpa dosa


“Sini lo.” Ucapku sambil menarik tangan Randy


“Ada apa sih suf?” ucapnya bingung

__ADS_1


“Lo ngapain ngajak nih perempuan ke sini?” tanyaku agak emosi


“Bukan gue yang ngajak suf, tapi dia yang maksa minta ikut.” Ucap Randy


“Trus dia tau dari mana klo lo hari ini mau kerumah?” tanyaku


“Sory suf, gue keceplosan waktu dia ngerengek pingin ketemu lo.” Ucap Randy merasa bersalah


“Hadeuh Randy.. Randy.. Awas lo ya klo acara hari ini sampai hancur gara-gara dia.” Ancamku


“Lha emang sekarang ini dirumah lo lagi ada acara apa?” tanya Randy yang baru sadar klo dirumah Randy ada dekorasi


“Siapa yang nikahan Suf?” tanya Randy


“Ini tuh acara pesta pernikahan gue tau.” Ucapku


“Apa?” teriaknya terkejut


“Kalian sedang mengobrol apa sih? Aku kok ga boleh dengar.” Ucap Cindy dan Randy serta akupun hanya diam ga menyahut


“O ya, gue perhatiin dari tadi, di rumah lo ini seperti ada yang mau nikah? Emang siapa suf yang nikah?” tanya Cindy


“Gue. Ini pesta pernikahan gue sama istri gue.” Sahutku tegas


“Sepertinya bakalan ada perang Baratayuda di sini.” Gumam Randy lagi


“Apa Suf? Istri?” tanya Cindy memastikan lagi.


“Iya. Istri. Emang kenapa?” ucapku


“Kapan lo nikah Suf?” tanya Cindy lagi.


“Kemarin.” Sahutku singkat


“Apa? Kemarin? Dengan perempuan mana?” tanya Cindy


“Sebentar lagi dia juga bakalan keluar.” Sahutku


Dan beberapa saat kemudian...


“Nah, itu dia datang.” Ucapku ketika melihat Nuri


“Dia?” tanya Cindy

__ADS_1


“Iya. Dia. Dia istriku yang sekarang.” Ucapku


Namun tiba-tiba..


‘Plak..’ Cindy menampar Nuri ya ga tahu apa-apa


“Dasar perempuan ga tahu malu. Kakak ipar lo sendiri juga lo nikahin.” Ucap Cindy ketus


“Cindy..!! Cukup..!!” ucapku sambil memeluk erat Nuri


“Kamu itu ya?! Sikap Dokter seperti apa kamu yang main tampar pipi orang seenaknya?!” ucapku kesal


“Dengar baik-baik ya. Bukan Dia yang menginginkan pernikahan ini. Tapi aku. Aku yang menginginkannya.” Ucapku ketus.


“Apa? Tapi kenapa? Kenapa kamu lebih memilih adik iparmu sendiri?” tanya Cindy ga terima


“Itu karena aku mencintainya. Sangat.. Sangat.. Mencintai perempuan ini.” Ucapku tegas.


“Dan sekarang.. Kamu lebih baik pergi dari sini. Aku ga akan pernah menerima kehadiramu di sini. Udah sana cepat pergi.” Ucapku mengusirnya


“Suf.. Kamu... Kamu benar benar tega.” Ucap Cindy sambil menangis dan pergi


“Kamu ga apa-apa sayang? Sini coba aku lihat.” Ucapku lembut dan ternyata bekas tamparannya membekas merah di pipi Nuri


“Sakit ga?” ucapku dan diapun mengangguk


“Ya udah ayo kita masuk. Kita obatin lukamu dulu setelah itu minta tolong ke penata riasnya buat di rapiin lagi.” Ucapku sambil merangkul pundaknya


“Dan lo Ran, tolong bantu ibu gue sana. Sebagai hukuman lo.” Ucapku


“Hadeuh... Nasib ya nasib. Ya udahlah. Emang salahku juga sih.” Gumamnya sambil menghela nafas


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan Comentnya ya...🙏


__ADS_2