
Beberapa saat kemudian, ibupun keluar.
“Yusuf, kamu ngapain disini?” ucap ibu terkejut
“stsstst... Bu, jangan kencang-kencang.” Ucapku lirih
“Kamu ini kenapa sih?” tanya ibu heran
“Bu, tadi aku ga sengaja dengar pembicaraan kalian. Aku ga nyangka klo dia punya pemikiran seperti itu.” Ucapku
“Ya begitulah suf. Ibu sendiri juga terkejut dengan omongannya tadi. Ya udah sana kamu masuk. Temenin dia. Ibu mau kebelakang dulu.” Ucap ibu
“Iya bu.” Sahutku dan ibupun pergi lalu aku masuk kedalam
“Bagaimana keadaan kamu sekarang Nur?” tanyaku
“Sudah jauh lebih baik mas.” Sahutnya
“Kamu bisa ceritain ga ke mas kenapa kamu bisa sampai demam seperti ini?” ucapku
“Oh.. Aku.. Aku sebenarnya waktu itu sedang tidak enak badan. Tapi karena demi menolong Rico, aku jadi seperti ini.” Jelas Nuri
“Rico lagi.. Rico lagi.. Dia itu emang siapanya kamu sih?! Apa apa Rico.. Apa apa Rico.” Ucapku sewot
“Dia itu temanku mas. Aku ngebantu dia buat dapetin perempuan yang dia suka. Dan kebetulan perempuan itu adalah sahabatku.” Jelas Nuri
“Oh begitu. Tapi kamu kan ga harus sampai seperti ini. Ini namanya ngerugiin diri sendiri tau ga?” ucap ku
“Tapi aku udah terlanjur janji mas sama dia mas buat bantu dia dapetin orang yang dia suka.” Jelasnya
“Dasar bodoh. Karena keadaanmu yang seperti ini, bukan Cuma berhasil bantuin si Rico itu, tapi kamu juga udah sukses buat mas sangat khawatir.” Ucapku
“Maafin aku mas. Aku ga bermaksud buat mas khawatir. Aku hanya ingin membantu temanku aja.” Ucapnya sedih
“Nur, jujur. Lihat keadaan kamu seperti ini, membuat mas sangat takut. Mas takut merasakan kehilangan lagi seperti waktu itu.” Ucapku serius sambil mengangkat wajahnya yang serius
“Maksud mas apa ngomong begitu?” tanya Nuri
“Nur, awalnya mas masih ga yakin dengan apa yg di minta oleh mbak mu sebelum dia meninggal. Butuh waktu yang sangat lama sekali buat mas bisa menerima ini semua.” Ucapku
“Maksud mas apa?” tanyanya yang semakin bingung
“Ini.. Ini adalah surat uang ditinggalkan oleh mbakmu sebelum dia meninggal. Bacalah sendiri.” Ucapku sambil memberikan surat yang waktu itu ditinggalkan Aisyah.
Setelah membacanya, Nuripun menangis.
“Mas, kenapa mas ga ngasih tahu aku masalah ini?” tanya Nuri
__ADS_1
“Maafin Mas, nur. Mas hanya masih belum yakin apa mas bisa ngewujudin permintaan terakhir mba mu atau ga. Mas juga takut, klo mas ngasih tahu masalah ini ke kamu, yang ada nanti kamu sakit hati karena ternyata mas ga bisa jaga amanah mbakmu.” Jelasku
“Lalu sekarang, kenapa mas ngasih tahu masalah surat ini ke aku? Apa mas udah yakin sekarang dengan perasaan mas sendiri?” tanyanya
“Nur, entahlah. Apa ini disebut dengan sayang sebagai pria dan wanita ato hanya perasaan sayang sebagai saudara?!” ucapku
“Maksudnya?” tanyanya lagi
“Begini, waktu mas tahu kamu dijemput oleh rico dan juga mau diantar pulang sama rico, entah kenapa hati mas itu kesal, marah dan jadi uring-uringan. Ketambahan waktu kamu bilang akan mengikuti acara sekolah satu hari satu malam. Rasanya mas seperti kehilangan sesuatu. Jadi mas putusin buat nungguin kamu disana.” Jelasku
“Apa mas? Jadi mas nungguin aku dari awal sampai pulang?” tanyanya terkejut dan akupun mengangguk
“Bukan hanya itu nur, mas juga sangat khawatir sama kamu waktu demammu ga juga turun. Mas nungguin kamu semalaman.” Jelasku
“Maafin aku mas.” Ucapnya
“Jadi menurut kamu, perasaan mas ini bisa dibilang seperti apa?” tanyaku
“Mas, kenapa mas tanya ke aku. Seharusnya mas lebih berpengalaman dalam hal ini.” Ucapnya
“Nur, mau ga kamu kasih mas kesempatan buat mendalami perasaan mas ini?!” tanyaku
“Mak.. Maksud mas apa?” tanyanya bingung
“Maksud mas itu, kamu mau ga menerima mas sebagai calon suami kamu demi amanah mbakmu?” tanyaku lirih
“Tapi nur..” lagi-lagi ucapanku terpotong olehnya
“Mas, pastikan dulu dengan apa yang mas rasakan. Jika sudah pasti, mas bisa menjadikan apapun yang mas mau.” Ucapnya
“maksudmu bisa menjadikan yang mas mau itu... Berarti kamu memberikan kesempatan untuk mas. Iya Nur?!” tanyaku mencoba memastikan
“Iya mas. Aku akan menunggumu sampai mas benar-benar yakin dengan apa yang mas rasakan.” Jelasnya
“Terimakasih Nur.” Ucapku yang langsung memeluk tubuhnya yang masih hangat karena demam
Setelah mengobrol sebentar, aku akhirnya menyuruhnya tidur dan akupun juga menunggunya hingga tanpa sadar, akupun tertidur
Keesokan harinya, aku terbangun saat Adit datang dan langsung melihat keadaan nuri yang masih tertidur lemas.
“Mas, bagaimana keadaan Nuri?” tanya Adit
“Sudah jauh lebih baik dit. Gimana kuliah kamu?” tanyaku
“Lancar mas.” Sahut Adit singkat
“Klo ada apa-apa, ga usah sungkan buat bilang ya. Nanti mas usahain buat bantu.” Ucapku
__ADS_1
“Iya mas. Terimakasih.” Sahutnya
“Ya udah sekarang kamu bersih-bersih dulu sana dan istirahat. Nuri biar aku yang jaga.” Ucapku
“Iya mas. Klo begitu, aku ke kamar dulu ya.” Ucap Adit
“Iya.” Sahutku sambil mengangguk
Setelah beberapa saat, Nuripun terbangun
“Bagaimana keadaanmu Nur?” tanyaku
“Sudah jauh lebih baik mas.” Sahutnya
“Oh syukurlah klo begitu.” Ucapku lega
“Oh ya mas, emangnya mas ga kerja?” tanyanya
“Ga Nur. Aku ijin. Aku kerja setelah kamu sehat aja.” Ucapku
“Tapi mas, apa ga lebih baik klo mas masuk aja. Aku kan disini ada ibu.” Ucap Nuri
“Dan ada aku juga.” Ucap Adit yang tiba-tiba masuk
“Tapi Nur....” Ucapku terpotong
“Mas, beneran. Aku udah ga apa-apa kok. Mas ga usah Khawatir.” Ucapnya
“Ya sudah klo begitu. Tapi, klo kamu ada apa-apa, cepat kabari aku ya.” Ucapku
“Iya mas.” Sahutnya singkat dan akupun pergi untuk bersiap-siap berangkat kerja.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan comentnya ya..🙏
__ADS_1