
Koridor yang menghubungkan aula dengan kelas-kelas jurusan IPA itu tampak ramai. Salah satu sudut yang memajang mading tampak disesaki belasan siswa yang antusias mengerubungi sebuah poster pengumuman.
“Njir, yang benar aja! Kok gue diikutin lomba masak? Woy, kerjaan siapa nih!” Sesosok pemuda jangkung tampak tak henti mengumpat kepada teman-temannya yang justru terpingkal-pingkal melihatnya dilanda gusar.
“Santai, Bro, itu sudah kesepakatan bersama. Yoi enggak gaes, haha!” Jawab temannya yang berkacamata dan bertubuh sama jangkungnya.
“Ah elah, bercanda lo pada, masak gue dimasukin ikut lomba beginian? Ck.” Pemuda itu masih saja bersungut-sungut. “Lah, emak lo kan pinter masak tuh, sudah pas dong, lo yang kita ajuin hahaha!” Timpal temannya yang lain.
“Emak gue, emang, terus kenapa malah jadi gue dibawa-bawa? Sialan lo, ah!”
“Sudah bro, santai aja. Kita dukung lo kok hahahaha!” Teman-temannya tak tampak peduli dengan keberatannya.
Memasak? Yang benar saja?!
Meski dia memang akrab dengan dunia memasak sejak kecil, tapi lomba semacam itu bukanlah hal yang dibayangkannya akan diikuti di sekolah. Masukkan saja dia jadi peserta turnamen basket atau festival band, atau lomba debat dan cerdas cermat, pasti dia ikuti tanpa banyak protes.
Tapi, memasak?
Pemuda itu hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa bisa membantah persekongkolan licik teman-temannya.
Di hari pelaksanaan lomba, pemuda itu tampak celingukan di tengah keriuhan lapangan basket, yang telah dipenuhi meja-meja yang dilengkapi dengan kompor dan segala macam peranti memasak. Matanya mencari-cari anggota tim masaknya yang lain. Harusnya dalam tiap tim terdiri dari tiga siswa. Tapi, dia hanya mendapati seorang siswi jangkung yang tengah sibuk mengupasi dan memotong-motong bahan.
“Hai, lo sekelompok sama gue? Kelas A-3?” tanyanya.
__ADS_1
Saat gadis yang disapanya menoleh, pemuda itu tertegun.
Gadis itu adalah siswi cantik yang diam-diam dikaguminya, meski dia cenderung pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Seperti tak ingin menonjolkan diri. Tak pernah terlibat segala macam keriuhan di kelas yang jamak diciptakan remaja-remaja tanggung kelas dua SMA. Dia selalu tertutup dan seakan mengisolasi diri, hanya berbincang seperlunya dengan teman-temannya. Prestasi akademiknya pun biasa saja. Karena dia menutup diri, maka teman-temannya yang lain pun tak berniat mendekatinya. Bahkan, meski sudah hampir dua bulan berada di kelas yang sama, pemuda itu juga belum pernah sekalipun berbicara dengan gadis pendiam itu. Dan sekarang, saat mereka berhadapan sedekat ini, dengan sendirinya dia pun mengamati. Memang tak salah. Gadis itu, meski penampilannya jauh dari kata trendi, di matanya memang terlihat cantik. Tak diragukan lagi. Dadanya mulai berdebar. Tiba-tiba saja dia tak menyesal telah dijerumuskan teman-temannya mengikuti lomba ini.
Gadis itu seperti sadar tengah diamati, tampak risih sendiri. “Lo yang sekelompok sama gue?” tanyanya.
Pemuda itu tersadar dari lamunannya. “Eh, oh eh, ... iya. Kenapa cuma kita berdua? Kata si Fahmi satu grup tiga orang?” tanya pemuda itu.
Gadis itu mengangguk. “Iya, tapi Retno enggak masuk hari ini. Dia bilang kena diare.”
Pemuda itu mengangguk-angguk. “Ya sudah, enggak apa-apa. Jadi, kita mau masak apaan, nih? Lo sudah siap-siapin bahan kayaknya?” tanya pemuda itu sambil menunjuk ke semangkuk bawang merah dan bawang putih yang telah dikupas dan dicuci bersih.
“Iya ... kan katanya Retno enggak bisa masuk. Gue pikir, gue siap-siapin dulu, nanti kan masaknya cuma berdua. Biar nanti enggak repot-repot amat. Tahunya, malah sama cowok.”
“Eh, emangnya kenapa kalau gue cowok?” tanyanya sete-ngah tak terima.
“Mana bisa bantuin masak, sama aja kerja sendiri,” jawab gadis itu.
Pemuda itu mencibir. “Lo pengin kita bikin apa sih hari ini?”
“Ayam panggang madu sama balado udang,” jawab gadis itu sambil mengambil beberapa siung bawang dan cabe, meraciknya ke dalam cobek batu yang ada di depannya. Pemuda itu hanya mengamati.
“Itu bumbu buat balado udang?” tanyanya, menunjuk ke dalam cobek. Gadis itu mengangguk. Tiba-tiba tangan pemuda itu mengambil dua siung bawang putih dari dalam cobek dan mengembalikannya ke dalam mangkuk. “Bawang putihnya kebanyakan,” ujarnya. Gadis itu menatapnya heran setengah tak percaya. “Apaan? Emak gue punya katering, kalau masalah ngeracik bumbu kayak gini sambil merem gue juga bisa,” sombongnya. Gadis itu masih diam tak mengatakan apa pun, tapi ekspresi wajahnya masih menyiratkan rasa tak percaya. “Eh, jangan bengong aja, siapin yang lain, tuh. Ntar enggak kelar punya kita.”
__ADS_1
Gadis itu malah melongo. “Lah, gue kan mau ngulek itu bumbu...,” gumamnya.
Pemuda itu menggeleng. “Gue aja, lo siapin yang lain.”
Mata gadis itu melebar. “Lo ... lo bisa ngulek emangnya?” lirihnya.
Pemuda itu tak menjawab, tapi dengan santainya mulai mengulek bumbu mentah di cobek batu itu. Luwes sekali, seperti memang telah terbiasa melakukannya. Gadis itu hanya diam memandang terkesima.
“Woi, Raf, yang mantep ya nguleknya, bahahaaa!”
Tiba-tiba saja terdengar teriakan dari segerombolan siswa yang ternyata telah ramai mengerumuni meja mereka. Pemuda itu mengacungkan muntu yang dipegangnya sambil meneriakkan sumpah serapah pada teman-temannya, yang justru membuat tawa mereka makin pecah membahana.
Beberapa saat kemudian, ketika bumbu telah halus dan mereka tengah menanti memanggang ayam, pemuda itu bertanya pada gadis itu. “Eh, kita belum kenalan dari tadi,” celetuknya.
Gadis itu memandangnya heran. “Kenalan? Kita kan sekelas?”
Pemuda itu menggeleng. “Gue kan belum pernah ngobrol sama lo, belum tahu nama lo. Gue Raffi.”
Gadis itu tersenyum. “Gue tahu.”
Pemuda itu tersenyum cengengesan. “Lo pasti tahu gue ya?” Gadis itu hanya mencibir. “Kenalan dong, nama lo siapa?”
Gadis itu terdiam sejenak. “Gue ... Elle....”
__ADS_1