
Indri Maheswari duduk setengah melamun, mengelus-elus rambut panjang perempuan cantik yang kini tengah meringkuk manja dan meletakkan kepala di pangkuannya. Bagi Indri, Elle tetaplah sama. Masih tetap gadis kecil yang dia asuh dan dia besarkan sebagai amanat dari mendiang sahabatnya.
Tak terasa memang. Belasan tahun telah berlalu sejak pertama dia membawa Elle ke Jakarta, meninggalkan Surakarta yang menorehkan banyak luka di sepanjang perjalanan hidup gadis itu. Dan kini, setelah semua hal yang barusan diceritakan Elle padanya, sekali lagi rasa bersalah menyergap. Rasa bersalah karena tak bisa menjaga anak asuhnya dengan baik. Dia merasa tak melakukan apa pun. Atau setidaknya, menjaga dan mengusahakan agar Elle tetap bahagia, dan berhenti menyakiti dirinya sendiri.
“Enggak semua lelaki sama Elle,” gumamnya kemudian. “Kamu tahu Raffi cinta sama kamu ... kenapa malah bersikap seperti ini?”
“Om Adji dulu juga cinta sama Tante, lalu apa? Om tetap bisa ninggalin Tante, kan?”
“Tapi Raffi bukan Om Adji, Sayang. Bukan juga seperti ayah kandungmu ... enggak bisa kamu samakan seperti itu.”
“Mereka laki-laki, Tante. Sama saja.”
Indri mendesah berat. Keras kepala, seperti mendiang Sophia.
“Kalau Tante enggak sakit hati karena Om, kalau Tante masih bisa percaya kepada laki-laki, kenapa sampai sekarang Tante masih saja hidup sendiri?”
“Elle, Sayang, Tante masih sendiri sampai sekarang bukan karena Tante enggak percaya lagi kepada lelaki. Kamu salah kalau berpikir seperti itu.”
Pelan Elle menggeliat bangkit, lalu duduk menghadap ibu asuhnya itu dengan wajah bingung. “Salah?”
Indri tersenyum, memandang Elle penuh sayang. “Jujur saja, Tante memang sakit hati. Tante memang patah hati karena perpisahan dengan Om Adji waktu itu. Memang tidak setiap hubungan berakhir menyenangkan, Elle. Itu kenyataan yang harus bisa diterima tiap manusia.”
“Om bahkan ninggalin Tante karena alasan yang enggak masuk akal, karena Tante enggak bisa punya anak, kan? Apa cinta memang cuma sedangkal itu, Tante?”
“Itu bukan alasan yang enggak masuk akal, Elle. Tiap orang pasti ingin punya anak atau keturunan.”
“Tapi bisa saja kan lewat adopsi, Tante, Om cuma cari-cari alasan buat ninggalin Tante. Laki-laki memang seperti itu kan, Tante?”
“Enggak, bukan begitu, Elle. Ada beberapa hal yang enggak kamu tahu tentang hubungan Om dan Tante. Dengan atau tanpa adanya anak, kami memang sudah sepakat berpisah waktu itu.”
“Sepakat?”
“Iya. Perpisahan itu adalah kesepakatan bersama.” “Tapi karena ada perempuan lain kan, Tante?”
“Memang. Tapi kalau waktu itu Tante berkeras mempertahankan hubungan kami, adanya perempuan itu sebenarnya juga enggak akan banyak berpengaruh.”
“Maksudnya, Tante?”
“Tante sendiri yang putuskan berpisah dengan Om.”
“Tante yang putuskan seperti itu? Tapi Tante dan Om saling cinta, kan? Aku enggak pernah lihat kalian bertengkar.”
“Kami memang saling cinta. Tapi, sebuah hubungan enggak selalu seperti yang terlihat dari luar. Yang paling tahu hanyalah dua orang yang terlibat di dalamnya. Bukan orang lain.”
“Lalu, kenapa sampai sekarang Tante masih saja sendiri?” Sekali lagi Indri tersenyum. Miris. Keputusan yang dianggapnya terbaik bagi dirinya dan Elle, ternyata turut andil dalam membentuk persepsi buruk anak asuhnya itu pada sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan.
Diambilnya sejumput rambut panjang Elle, lalu diselipkannya ke belakang telinga kanannya. Seperti yang selalu dilakukannya, ketika Elle masih anak perempuan yang polos belasan tahun lalu.
“Kamu tahu, pernah gagal dalam menjalani pernikahan kadang membuat perempuan takut menjalin hubungan baru. Tante juga seperti itu. Tapi, kalau kamu berpikir Tante trauma dan tidak percaya lagi pada pria, itu jelas salah. Waktu itu Tante hanya butuh memberi waktu buat diri Tante sendiri. Berpikir. Merenung. Tentang apa pun. Intinya, Tante juga perlu mengevaluasi diri kenapa pernikahan Tante waktu itu dengan Om Adji sampai berakhir. Tidak mungkin kesalahan ada di pihak Om Adji sepenuhnya, Elle. Tante pun pasti juga punya andil. Itu yang coba Tante renungkan.”
Elle masih diam. Mencoba mencerna dan merenungkannya.
“Lagi pula, Elle, waktu itu Tante mendapat amanah untuk menjaga kamu. Dan hidup memang harus terus berjalan, bukan? Waktu itu Tante memang memutuskan untuk sementara sendiri dulu. Menjaga dan merawat kamu. Amanah itu harus dijaga baik-baik, Elle. Apalagi, amanah yang datangnya dari Tuhan.” Indri tersenyum sambil mengusap perut Elle.
“Seperti apa pun jalannya dia hadir ke rahimmu, berarti Tuhan memang sudah percayakan dia untuk kamu jaga. Dan dia enggak berdosa, Elle, enggak bersalah apa-apa. Bayi kamu sama sekali enggak ada sangkut pautnya dengan masa lalu kamu ataupun mendiang ibumu. Tante mohon ... jaga baik-baik. Perlakukan dia dengan adil. Berikan semua haknya. Termasuk haknya untuk merasakan kasih sayang seorang ayah.”
Elle memalingkan muka ke arah lain.
“Kamu juga mencintai Raffi, kan?” tanya Indri yang melihat Elle masih saja diam. Indri tak akan pernah lupa pengakuan Elle padanya beberapa hari menjelang keberangkatannya ke Sydney hampir tujuh tahun lalu. Dia pun tak menyangka kisah sepasang manusia itu masih berlanjut hingga kini, dan harus bergulir dalam alur yang serumit ini.
“Tapi aku enggak bisa percaya sama dia, Tante.” “Kenapa enggak bisa percaya?”
“Aku ... aku hanya. ”
Elle terdiam.
“Aku telanjur enggak bisa percaya.”
***
Sudah hampir sejam Raffi termangu sendiri di dalam mobilnya. Di depan sebuah rumah mungil asri yang bercat cokelat susu itu. Sementara keadaan di sekitarnya sudah semakin sepi, dan rembulan sudah bergerak semakin tinggi.
Entah apa yang membawanya hingga melajukan Jeep-nya sampai ke depan rumah ini. Setelah tiga hari lalu dipergoki ibunya keluar dari dalam kamar Elle, lalu menceritakan semua tentang hubungannya dengan perempuan itu pada ayahnya, Raffi belum bertemu Elle lagi.
__ADS_1
‘Papa boleh tanya sesuatu sama kamu?’
‘Apa, Pa?’
‘Ketika kamu tahu tentang bayi itu, apa pernah terlintas dalam pikiranmu untuk lepas dari tanggung jawab?’
‘Enggaklah, Pa. Aku benci ibunya. Tapi bayi itu enggak punya salah apa-apa.’
‘Good.’
‘Papa enggak marah sama aku?’
‘Semua anak lelaki pasti pernah bandel, Raff, wajar. Tapi kadang itu juga perlu. Ada beberapa hal yang memang harus dilalui seseorang, untuk sampai jadi manusia, jadi lelaki yang baik. Lelaki yang sebenarnya.’
‘Aku harus gimana, Pa? Sudah benar belum keputusanku?’
‘Kamu cuma perlu menyelesaikan dulu, apa pun yang kamu rasakan dalam hatimu. Baru bisa kamu selesaikan masalah antara kamu dan dia. Percaya deh, Papa dukung kamu, kok.’
‘Mama, gimana? Mama marah besar sama aku.’
‘Biar nanti Papa bicara pelan-pelan sama Mama kamu.’
Meski sebenarnya dia sangat ingin.
Bukan karena rindu. Entahlah. Batinnya masih dipenuhi rasa benci dan sakit hati. Namun, rasa ingin tahunya pada keadaan perempuan itu, dan bayi yang kini ada di rahimnya— anaknya—jauh lebih besar dari semua rasa negatif yang berkecamuk dalam hatinya.
Apa sebenarnya yang jadi kemauan perempuan itu?
Jelas-jelas janin itu anaknya. Kenapa masih juga tak diakuinya?
Demi Tuhan, andai dia itu lelaki, ingin rasanya Raffi benturkan kepalanya ke tembok agar hancur kepala sekeras batu itu. Raffi menggeleng, lalu begitu saja melangkah turun dan berjalan ke rumah yang telah gelap itu. Sudah selarut ini, apa yang sebenarnya ingin dia lakukan di sini?
Lama dia termangu di depan pintu bercat putih itu, sebelum tangannya tergerak menekan bel yang terletak di sebelah kanan atas pintu.
Sekitar dua menit kemudian, Indri-lah yang muncul. Sepertinya belum tidur, karena tidak ada tanda-tanda kantuk di wajahnya. Hanya terkejut.
“Raff?” Raffi hanya tersenyum, dengan ekspresi tak enak hati karena bertamu jam sebelas malam. “Ada perlu apa?” tanyanya lagi. “Ya sudah, masuk dulu.” Melihat tamunya yang seperti kebingungan menjawab pertanyaannya, perempuan itu lalu mundur memberi jalan Raffi agar masuk.
‘Lo yakin, mau ngelakuin ini? Lo enggak akan nyesel? Kalau sudah terjadi, lo enggak bisa kembali seperti dulu lagi.’
‘Karena gue memang enggak pengin kembali seperti dulu lagi, jadi please ... bantu gue, Raff? Sekali ini saja, sebelum gue pergi.’
‘Kenapa harus gue?’
‘Lo satu-satunya teman gue.’
‘Tapi, Elle ... gue enggak bisa ... ngerusak elo seperti itu?’ ‘Gue yang mau, jadi enggak akan pernah ada yang nyalahin elo.’
Raffi tak bertemu Elle saat kemarin mendatangi apartemen, juga sore tadi. Dia tak punya gagasan di mana perempuan itu berada. Entah apa yang menuntunnya, tahu-tahu dia sudah berada di depan rumah ini.
“Ada perlu apa, Raff, penting ya? Malam-malam begini datang ke sini?” tanya Indri lagi, setelah meletakkan cangkir berisi kopi di hadapannya. Melihat tamunya yang masih seperti bingung menjawab, Indri hanya mengulum senyum. “Atau, Elle yang telepon minta kamu datang ke sini?” tanyanya lagi.
Raffi menggeleng. “Enggak, Tante.”
Indri mengerutkan dahinya. “Oh ya? Kalau begitu kenapa bisa pas sekali? Elle ... demam sepertinya. Tante pikir, dia yang menyuruh kamu ke sini, makanya Tante kaget malam-malam begini kamu datang.”
Seketika dahinya berkerut. “Demam?” tanyanya. Indri mengangguk. “Sudah dibawa ke dokter kan, Tante?” Mau tak mau dia jadi khawatir. Apalagi mengingat kondisi fisik Elle yang seperti melemah di pertemuan terakhir mereka.
Indri menggeleng. “Sejak delapan belas tahun lalu, Elle enggak pernah mau berurusan dengan dokter.”
“Tapi kalau enggak ke dokter, bagaimana ... dia kan harus mendapat pengobatan, Tante. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Ckck, apa dia tidak memikirkan bayi di perutnya itu?!”
Indri lagi-lagi mengulum senyum, menemukan nada khawatir yang terselip di antara gerutuan Raffi. “Ya memang seperti itulah Elle, kalau kemarin tidak sampai pingsan pun belum tentu dia juga mau diperiksa dokter.”
“Pingsan?”
“Iya, pingsan di restoran. Mama kamu enggak cerita?”
Raffi menggeleng. Bagaimana mau cerita jika ibunya tengah marah besar kepadanya? Tapi, pingsan? Kalau Elle memang tidak sehat, bagaimana dengan bayinya?
“Kalau boleh tahu, kenapa Elle sampai tidak mau diperiksa dokter, Tante?”
Indri terdiam. Sepertinya pada Raffi pun ternyata Elle tak menceritakan apa pun.
__ADS_1
“Kamu mau dengar ceritanya?” tanya Indri kemudian. Raffi mengangguk.
“Aku enggak pernah tahu semua itu, Tante. Aku cuma tahu Elle sudah enggak punya orang tua. Mamanya meninggal karena kanker. Itu saja.”
Indri tersenyum miris. “Tante enggak akan heran. Selain Tante, Elle memang enggak pernah bisa percaya sama siapa pun.”
‘Elle.’
‘Ya?’
‘Gue. ’
‘Apa?’
‘Gue rasa ... gue cinta sama lo.’
‘Lo lo bilang apa barusan?’
‘I love you Elle, gue cinta sama lo, Gracelle Ariadna.’
‘Raff, jangan salah paham. Gue enggak minta lo lakuin ini hanya karena mau denger lo ucapin itu ke gue.’
‘Enggak, lo yang salah. Gue cinta lo sudah sejak lama, ada kejadian ini atau enggak, gue juga akan nyatain perasaan gue.’
‘Enggak, Raff, lo salah. Lo enggak seharusnya bilang itu.’
‘Salahnya di mana?’
‘Karena gue enggak cinta sama lo.’
‘Tapi, kalau lo enggak cinta sama gue gimana bisa, gimana bisa lo ’
‘Gue kan sudah bilang tadi, gue minta tolong sama lo.’ ‘Elle gimana bisa?’
‘Lo temen gue, satu-satunya yang gue percaya. Gue hanya enggak ingin berangkat ke Sydney sebagai gue yang kemarin, jadi terima kasih banget lo udah mau bantuin gue.’
‘Tapi gue ada rasa sama lo, apa itu enggak ada pengaruhnya?’
‘Enggak Raff, makasih. Tapi bukan itu yang gue harapin dari lo.’
‘Elle, kita sudah sejauh ini, enggak ada arti apa-apa gitu buat lo?’
‘Enggak Raff, anggap aja ini semacam salam perpisahan
dari gue.’
‘Lo tetep akan pergi?’
‘Iya. Jadi tolong, jangan harapin apa pun, apalagi nungguin gue.’
Lama setelahnya Raffi masih juga terdiam. Masih mencerna fakta yang baru didapatnya. Indri pun tak angkat bicara lagi. Hanya mengamati kebisuan lelaki muda itu.
“Kamu ... mau lihat Elle?” tanya Indri kemudian. Raffi menoleh dan memandang Indri bingung. Tapi perempuan itu hanya tersenyum, mengangguk, mengajak Raffi beranjak dari duduknya, mengikuti langkah Indri hingga ke depan pintu kamar Elle.
“Tante sengaja mengajak dia ke sini kemarin. Selain kangen, Tante juga enggak tega melihat dia sendirian di apartemen, kondisinya seperti itu,” gumam Indri. Dia lalu menoleh pada Raffi. “Masuk saja. Tante memang melarang Elle mengunci pintu, takutnya kalau kenapa-kenapa dan Tante enggak tahu.”
“Enggak apa-apa, Tante?” tanya Raffi.
Masih tersenyum, Indri menggeleng. “Enggak apa-apa. Masuk saja,” katanya. Lalu meninggalkan Raffi di depan pintu kamar Elle.
Akhirnya, meski ragu Raffi menarik handle kuningan itu dan mendorong pintunya hingga terbuka. Lampu kamar memang menyala, tapi redup. Setahu Raffi, Elle memang tak bisa tidur dalam kondisi kamar gelap.
Elle meringkuk seperti bayi. Raffi kenal betul tiap lekuk tubuh perempuan itu, dan dari selimutnya yang melorot hingga ke bawah pinggangnya itu Raffi jelas melihat, tubuh sintal yang selalu membuatnya gila itu kini tergerus jadi demikian kurus.
Setahunya, bukankah perempuan hamil harusnya bertambah berat badannya? Karena harus banyak makan untuk mengadaptasi kebutuhan energi yang meningkat dengan hadirnya makhluk mungil dalam tubuhnya. Kalau seperti ini, seperti tubuh itu yang tak mendapat cukup nutrisi ... apa yang akan terjadi pada bayinya, pada anaknya? Raffi menggeleng.
Apa pun yang kini dirasakannya pada Elle, anaknya tak boleh tumbuh dengan tidak layak. Kalau Elle masih saja keras kepala, kalau perlu dia akan memaksanya. Persetan dengan apa pun penolakan Elle terhadapnya.
Raffi lalu bergerak mendekati ranjang Elle. Tangannya terulur begitu saja, menempelkan punggung tangannya di dahi dan pipi perempuan itu. Raffi mengernyit. Panas sekali.
Raffi sudah akan menarik tangannya ketika merasakan perempuan itu bergerak-gerak gelisah. Matanya masih memejam. Jemari panasnya menahan tangan Raffi agar tetap berada di wajahnya. Lelaki itu hanya bisa mematung ketika sebuah gumaman lirih terlontar.
“Raff ... jangan pergi. ”
__ADS_1