CITY LITE: ANOTHER HEART

CITY LITE: ANOTHER HEART
Episode 6


__ADS_3

Jam delapan pagi ketika Elle mendengar ponselnya berteriak nyaring. Perempuan itu menggeser badannya, menggapai ponselnya lalu melirik caller ID yang terpampang di layar.



Rayhan.



“Halo?”



“Baru bangun?”



“Iya, Mas, kesiangan kayaknya.”



“Kamu ... sakit? Enggak enak gitu suaranya?”



“Hm ... agak pusing dikit, sih. Enggak apa-apa kok.” “Beneran enggak apa-apa? Aku kirim dokter ke sana, gimana?” “Enggak ah, males banget mesti diperiksa dokter. Aku ada aspirin di sini.”



“Beneran nih enggak apa-apa? Aku khawatir lho kalau kamu kenapa-kenapa.”



“Enggak ... tenang aja. Kecapekan aja mungkin.”



“Enggak usah masuk kerja dulu ya kalau begitu.”



“Iya, aku mau izin aja hari ini. Mas kapan pulang?”



“Kenapa, kangen ya?”



“Ih, padahal cuma tanya.”



“Yah, aku kan seneng kalau dikangeni sama kamu.”



“Ck ck ck, cheesy.”



“Haha ... minggu depan, Elle.”



“Masih lama dong.”



“Iya. Kenapa?”



“Enggak apa-apa.”



“Ya sudah, kamu istirahat aja. Jangan lupa makan sama minum obat. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku, atau Dewi. Oke?”



“Oke, Boss.”



“Good girl.”



Klik.



Kemarin Rayhan memang berangkat mengunjungi beberapa kota di Kanada untuk menjajaki kerja sama telekomunikasi antara Global Corp. dengan salah satu korporasi media yang cukup berpengaruh di kawasan Amerika Utara.



Pada akhirnya, Elle memilih kembali bersikap jalang dan memanfaatkan segala hal yang ditawarkan lelaki itu. Perhatian, perlindungan, rasa aman, pengakuan. Jika itu lebih bermanfaat daripada kesendirian, kenapa harus menolaknya? Lama-lama dia juga lelah bersikap tegar. Terkadang, dia juga butuh tempat bersandar. Meski tentu saja, sandaran itu harus bersifat inert dan tak akan memantik reaksi emosional apa pun dalam hatinya. Dan tak ada pilihan yang sesempurna Rayhan. Lagi pula, dia juga sudah tak bersama Raffi.



Elle menggeleng, lalu duduk di tepi ranjang dan menghubungi Maghali’s untuk mengabarkan bahwa dia tidak bisa masuk bekerja hari ini.



Dia sudah akan berjalan ke kamar mandi, ketika serangan nyeri di kepala memaksanya membanting badan kembali terduduk di tepi ranjang. Nyeri sekali. Matanya seketika berkunang-kunang. Elle memijiti tengkuk dan pelipisnya pelan.



Mungkin hanya postural hypotension yang biasa terjadi jika mengubah posisi dari duduk jadi berdiri secara tiba-tiba.


__ADS_1


Setelah merasakan nyerinya mulai mereda, dia berjalan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia belum berencana mandi, sepertinya kondisi tubuhnya yang tidak fit belum memungkinkan. Tentu dia tidak ingin sakitnya bertambah parah.



Setelah mencuci muka, dan mendapati pasta giginya telah habis. Dia lalu berjongkok membuka pintu kabinet putih yang bersatu dengan mangkuk wastafelnya. Setelah meraih se-tube pasta gigi, dia termangu sejenak melihat isi kabinet itu.



Kenapa stok pembalutnya masih banyak sekali?



Setelah selesai menggosok gigi, dia keluar dari kamar mandi, meraih ponsel di nakas lalu membuka aplikasi kalender di sana. Dahinya mengerut melihat tanda yang dia buat. Terakhir kali dia menstruasi adalah … tiga bulan yang lalu?



Apa mungkin kalendernya salah? Elle menggeleng keras. Tidak. Tidak mungkin.



Mengernyit menahan perih di hati ketika membongkar lagi ingatannya, Elle menggigiti kukunya dengan gemetar. Ya, dia mengingat sesuatu. Tapi, bukankah sebelumya tak pernah terjadi masalah?



Elle lalu berjalan mendekati meja rias, membuka laci kanan paling atas. Memeriksa strip-strip progesterone yang selama ini digunakannya. Biasanya Elle akan membuang strip itu jika satu siklus telah terlewati. Kali ini, di laci itu dia menemukan beberapa strip yang telah terpakai. Saat menelitinya satu per satu, wajahnya memucat. Ada satu strip yang masih tersisa beberapa pil di sana. Dengan hati mulai dilanda cemas, dia mulai mengingat-ingat lagi, kapan sekiranya dia mengonsumsi strip yang masih menyisakan beberapa pil non-plasebo itu.



Elle semakin memucat saat ingatannya terangkai utuh.



Tak mungkin. Elle kembali berusaha membantah keras-keras kemungkinan yang dibisikkan suara-suara dalam kepalanya. Dia lalu menekan nomor telepon apotek franchise langganannya, memesan sesuatu untuk diantar ke apartemennya oleh jasa delivery mereka.



Setelah menutup telepon, lagi-lagi Elle termangu. Tak mau berandai-andai. Tak berani memikirkan kemungkinan apa pun.



Setengah jam kemudian, setelah menerima pesanannya, mengabaikan rasa pusing yang masih berdenyut di kepala, agak tergesa Elle berjalan masuk ke kamar mandi. Dibukanya satu per satu dan dijajarkannya sekitar selusin testpack beragam model dan merek di dekat wastafel. Dengan jantung berdebaran liar, dia menunggu.



Seketika matanya membelalak dan tanpa sadar Elle menelan ludah lagi, ketika ditemukannya seluruh testpack itu pelan-pelan memunculkan hasil yang sama.



***



Siang itu, Elle sedang duduk di salah satu meja Maghali’s bersama Siera dan Adam Morris, executive head chef Maghali’s. Di hadapan mereka tersaji masing-masing seporsi creme brulee dan tarte tartin racikan dua orang kandidat pastry chef baru dapur Maghali’s yang dipersiapkan untuk menggantikan seorang pastry chef senior yang mengalami kecelakaan hingga harus pensiun.



Dua lelaki muda mengenakan chef jacket, menatap serius chef Adam yang sedang mencicipi. Lelaki Amerika itu tak mengatakan apa pun, dan menyerahkan giliran selanjutnya pada sang pemilik restoran. Siera juga tak mengatakan apa pun, menyerahkan giliran selanjutnya pada Elle.




Elle mulai menyendok sedikit masing-masing dari dua dessert tersebut. Tekstur lembut, manis vanilla dan rasa segar buah-buahan yang harusnya jadi ciri khas creme brulee ala Maghali’s, justru terasa tawar di lidahnya. Mungkin ada yang salah. Dia menyendok lebih banyak lagi. Rasanya tak berubah. Yang ada, dia justru mulai merasa mual. Hal yang sama terjadi pada semua piring yang dia cicipi setelahnya. Kalau seperti ini, bagaimana dia bisa memilih dan memberi penilaian?



Tingkahnya yang agak aneh mengundang perhatian Siera. “Kamu enggak apa-apa?” tanyanya.



Elle tersenyum gugup, menggeleng. “Enggak, Tante. Gimana? Tante sudah menentukan pilihan?” tanyanya mengalihkan perhatian.



Siera mengangguk, lalu memberikan map hitam yang sudah berisi penilaiannya. Chef Adam melakukan hal yang sama. Saat melihat apa yang tertulis di dalamnya, keningnya berkerut dalam. Siera dan Chef Adam memilih orang yang berbeda. Padahal setelah sadar lidahnya tak begitu berfungsi baik, dia berniat mengikuti saja pilihan kedua orang tersebut. Kalau pilihan mereka berbeda seperti ini, apa yang harus dilakukannya?



Kemudian setelah menimbang-nimbang, akhirnya dia mengikuti pilihan Siera. Meski perempuan itu bukan chef, tapi dia pasti telah belasan tahun mengenal rasa dari resep asli creme brulee dan tarte tartin ala Maghali’s.



Setelah keputusan dijatuhkan, pastry chef terpilih diajak chef Adam ke dapur Maghali’s agar lelaki muda itu bisa mengenali lingkungan barunya dan bisa mulai bekerja secepatnya.



Elle masih terdiam sendiri setelah Siera kembali ke ruangannya. Pikirannya kusut. Kondisi fisiknya sepertinya sedang melemah. Dia sering merasa pusing dan selalu mual tiap berusaha menelan makanan. Satu-satunya yang bisa melewati tenggorokannya hanya roti gandum, jelas tak cukup menyuplai energi untuk tubuhnya yang terbiasa memetabolisme karbohidrat dari nasi. Meski tak sampai muntah, tapi mual yang dirasakannya di tiap pagi dan malam menjelang tidur dirasanya cukup mengganggu.



Di saat seharusnya dia banyak mengonsumsi susu, malah bergelas-gelas kopi yang selalu dia minum tiap hari. Aroma gurih susu membuatnya mual. Ludahnya justru seperti selalu menetes tiap mencium aroma kopi. Untuk menjaga tubuhnya tak ambruk karena hanya mendapat cukup nutrisi, dia pilih mengonsumsi beberapa multivitamin sekaligus tiap hari.



Tak ada yang dia mintai saran tentang kondisinya kini. Karena tak ada yang tahu. Karena dia tidak ingin ada yang tahu. Akan dia simpan sendiri, setidaknya hingga tak sanggup dia sembunyikan lagi. Atau jika dia telah menemukan langkah apa yang hendak diambilnya.



Masalahnya, sampai kini pun dia masih bingung hendak mengambil keputusan seperti apa. Belum pernah sebelumnya dia segamang ini. Sebelumnya, apa pun yang dia putuskan hanyalah tentang hidupnya sendiri. Tentang dirinya sendiri. Tapi kini....



“Mbak Elle....” Suara Sarah, salah satu pelayan Maghali’s membuyarkan lamunannya. Dia pun menoleh. “Maaf, Mbak, chef Adam minta Mbak Elle ke dapur sekarang,” katanya.



Elle terdiam sejenak, lalu tersenyum dan mengangguk pada perempuan muda itu.



***

__ADS_1



Lalu lalang pengunjung Maghali’s sore itu cukup ramai. Menjelang waktu makan malam, tamu-tamu yang telah mereservasi meja telah berdatangan. Seperti biasa Elle berkeliling mengawasi berbagai sudut restoran. Menyapa beberapa pengunjung, dan mencatat dalam tabletnya beberapa hal yang dirasanya perlu dibenahi.



Elle sedang berdiri di sebelah meja yang kosong ketika merasakan ponsel di saku blazernya bergetar. Diliriknya layar sekilas, lalu digesernya layar untuk menerima telepon itu.



“Ya Mas, halo?”



“Kamu di mana?”



“Di resto, lah, di mana lagi memangnya?”



“Cuma tanya....”



“Mas Ray di mana?”



“Ini masih di Semanggi. Oh iya, mungkin nanti aku agak terlambat. Sepertinya meeting ini agak makan waktu, jam segini saja belum ada tanda-tanda sepakat.”



“Iya, enggak apa-apa.”



“Kamu masih pusing-pusing?”



“Enggak, sudah berkurang. Aku kan sudah minum obat.”



“Baguslah. Kalau masih pusing jangan kebanyakan jalan keliling, duduk-duduk saja.”



“Ih Mas, apa kata pegawaiku nanti kalau aku cuma duduk ngawasi mereka?”



“Ya enggak apa-apa, kan? Bilang saja kamu enggak enak badan.”



“Iya, iya.”



“Ya sudah. Aku tutup dulu.”



“Oke.”



Rayhan tentu saja belum tahu. Elle masih kebingungan mencari cara memberitahukannya, dan berusaha tak melibatkannya. Memutus begitu saja hubungan mereka tanpa alasan yang logis dan kuat, dia tahu pasti bukan hal mudah.



Elle tersenyum kecut. Apakah alam semesta akan sebegitu kejamnya dengan memberikan dosa ibu kepada putrinya? Elle meraba pelan perutnya. Tapi, dialah yang dengan sukarela menyusul ibunya menyusuri jalan yang sama. Jadi, tidak. Alam semesta tidak kejam, dia hanya memberi manusia kesempatan menuai apa yang sudah dia tabur. Pelan Elle berdiri. Karena jika dia lakukan tiba-tiba, serangan postural hypotension yang memang sering kali dialaminya akan kembali menghantam kepalanya dengan derajat nyeri yang lebih tinggi. Memasukkan ponsel ke saku blazernya, dia lalu berjalan pelan menuju dapur memeriksa kesibukan para staf di sana.



Hingga hampir petang menjelang, kesibukan resto tak juga surut. Tamu-tamu mulai berdatangan. Dan Elle, di antara nyeri kepala yang kadang hilang kadang timbul, tetap melangkah anggun di atas heels setinggi sembilan senti, mengawasi dan menyapa para tamu. Bukan kewajiban seorang manajer sebenarnya. Dia bisa saja duduk manis di ruangannya, memeriksa berkas-berkas laporan keuangan maupun kinerja para staf restoran., tapi itu bukan gayanya. Dia tahu salah satu compliment yang membuat pengunjung punya loyalitas tinggi terhadap sebuah restoran adalah sentuhan personal. Pengunjung senang jika disapa, dipanggil namanya, dan ditanya apa yang mereka inginkan. Sebisa mungkin Elle menyapa ramah mereka yang datang, terkadang menyempatkan duduk di meja bersama mereka.



Petang ini, kepalanya mulai berdenyut semakin nyeri. Ditambah mual yang menyerang tiada henti.



Dengan jari telunjuk, Elle menyeka beberapa titik keringat dingin yang mulai menetes di dahi. Beberapa pegawai resto yang khawatir, sempat menanyakan apakah dia baik-baik saja. Dia hanya tersenyum dan menggeleng. Mungkin lebih baik kalau dia sementara ini berdiam di ruangannya saja hingga pening dan mual yang menyerangnya reda dengan sendirinya.



Elle melirik sekilas lalu lalang tamu dan pelayan, gumam percakapan mereka, yang tiba-tiba seperti membuat telinganya berdenging dan kepalanya terasa seperti mau pecah. Dia harus segera beristirahat.



Baru beberapa langkah dia menuju ruangannya, langkahnya terhenti oleh nyeri yang semakin berdenyut-denyut tak tertahankan. Pandangan matanya berkunang-kunang, dan tiba-tiba dirasakannya tubuhnya melemas begitu saja. Melenyapkan koordinasi saraf dan tulang, membuatnya limbung seketika. Seorang pelayan yang kebetulan berdiri di dekatnya refleks berlari mendekat melihatnya nyaris terkulai ambruk.



Lelaki muda itu menangkap tubuhnya sebelum terjatuh sambil berteriak panik. “Mbak Elle! Mbak kenapa?!”



Teriakannya mengundang perhatian beberapa rekan sekaligus pengunjung yang ada. Di tengah kesadarannya yang seperti mulai terbang, Elle sayup-sayup mendengar gumaman bernada khawatir yang tak begitu jelas tertangkap telinganya. Hanya sebuah suara yang cukup jelas bisa di dengarnya.



“Bawa ke ruanganku, dan kamu cepat panggil dokter ke sini.”



Lalu, semuanya gelap.

__ADS_1


__ADS_2