
Elle tersenyum semringah sepanjang malam itu, saat datang sebagai pasangan Rayhan dalam acara peresmian studio baru Global Channel di kawasan Jakarta Barat. Dia tak punya alasan menolak lelaki menyenangkan seperti Rayhan, yang tahu benar bagaimana memperlakukan dan memuja wanita. Meski melankolis dan mudah luluh perasaan bukan sifat dasarnya, tapi dia juga tetap wanita. Suka diperlakukan istimewa. Malam itu, di sepanjang acara, Elle merasa bahagia.
Rasa bahagia yang terbawa hingga ketika Mercedes hitam Rayhan telah memasuki parkiran basement apartemennya. Elle masih tersenyum ketika keluar dari mobil. Tapi senyumnya perlahan memudar, berganti ekspresi bingung ketika melihat Rayhan yang seperti menatapnya dengan resah.
“Mas Ray, Mas kenapa? Ada masalah?” tanya Elle hati-hati.
“Elle....” Lelaki itu tampak kebingungan. Elle menanti dengan sabar hingga Rayhan menemukan apa yang hendak disampaikannya. “Maaf sebelumnya kalau apa yang aku sampaikan ini bikin kamu enggak nyaman. Tapi. ” Lelaki itu menggantung kalimatnya sendiri dengan gelisah.
“Enggak apa-apa, Mas, bilang aja.”
Rayhan menatap wajah Elle lekat-lekat. “I fall in love with you, Gracelle Ariadna.”
Elle tertegun.
“Aku minta maaf karena mengatakannya di tempat semacam ini,” katanya meringis sambil mengamati sekeliling. “Tapi, beberapa jenis perasaan terkadang memang sulit ditahan dan dikendalikan, bahkan sekadar menunggu agar bisa diungkapkan di tempat yang lebih layak.
“Kupikir aku sekadar terpesona, siapa sih yang enggak? Tapi setelah sekian lama baru aku sadar, sepertinya aku memang benar-benar jatuh cinta padamu. Kamu tahu, mungkin terdengar ... yah, cheesy, tapi mau bagaimana lagi?”
Elle melongo tak percaya.
“Aku enggak minta kamu jawab sekarang, pikirkan baik-baik, but ... please Elle, let me make you mine....” bisik Rayhan penuh harap.
Tak ada yang menyadari ketika Rayhan bergerak. Menarik pelan tubuh berbalut dress satin warna magenta itu mendekat. Lelaki itu masih menatap Elle dalam-dalam, ketika tanpa sadar bibir Elle membuka, tahu-tahu Rayhan sudah mengecupnya. Pelan. “Aku mohon, pikirkan permintaanku.”
Elle hanya bisa mengangguk. Beberapa saat setelah Rayhan pergi, dia masih diam terpaku di tempatnya berdiri. Mencerna apa yang barusan terjadi. Rayhan Danubrata menyatakan cinta kepadanya? Bukan hal yang sama sekali tak dia prediksi. Tapi saat hal itu memang benar terjadi, ternyata rasanya masih cukup mengejutkan. Dia tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala dan memutuskan segera masuk ke lift. Baru beberapa langkah, didengarnya sebuah suara memanggil namanya. Membuatnya berbalik dan menoleh, lalu tertegun ketika mendapati siapa yang berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang.
***
“Kamu ... ngapain di sini?”
“Nyari kamu, mau ngapain lagi memangnya?” “Ada perlu apa?”
Raffi tertawa sumbang. “Sejak kapan aku mesti punya keperluan kalau mau datang ke sini?” Elle menatap Raffi seperti lelaki itu makhluk aneh yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Perempuan itu hanya mengangkat bahu dan tak mengatakan apa pun.
“Elle, kamu ada hubungan apa dengan Rayhan sekarang?” tanya Raffi begitu saja, menatap perempuan itu tajam.
Elle menggeleng. “Aku enggak ada hubungan apa-apa dengan dia.”
“Sama seperti hubungan kita?”
“Maksudnya apa?”
“Yah, dibilang kita enggak ada hubungan apa-apa tapi. ” Raffi menghentikan kalimatnya melihat Elle menyipitkan mata ke arahnya. “Seperti juga kamu bilang enggak ada hubungan apa-apa dengan Rayhan tapi mau saja dicium dia, begitu?” dengus Raffi sinis.
“Raff! Jaga omongan kamu, ya!”
“Oh? Lalu, yang barusan tadi apa maksudnya?” tanya Raffi tajam.
Elle mengetatkan rahang. “Itu bukan—”
“Bukan urusanku? Enggak ada apa, jawaban selain itu?” sinis Raffi.
“Karena–itu–memang–bukan–urusan–kamu,” desis Elle, penuh penekanan di tiap katanya.
Raffi menggeleng, mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Bukan urusanku, oke. Tapi itu kalau aku enggak mencintai kamu.” Raffi mengucapkannya pelan, menurunkan nada suaranya yang sempat meninggi. “Tapi apa kamu sudah lupa, kalau sudah berkali-kali kubilang aku mencintaimu, dan aku peduli tentang apa pun yang terjadi terhadapmu.”
“Dan kamu pasti juga belum lupa kalau berkali-kali juga aku bilang, enggak ada satu pun hal yang mengikat kita, yang membuatmu jadi punya hak ikut campur dalam hidupku.”
__ADS_1
“Elle ... kenapa sih enggak kita buat jadi gampang saja?”
“Aku enggak pernah bikin ini jadi susah untukmu, ataupun untukku. Kita sama-sama have fun. Enggak ada yang rugi juga, kan?”
Raffi menatap Elle tak percaya. “Begitu? Lalu perasaanku enggak kamu perhitungkan? Bisa-bisanya ya.... Kamu tahu kalau aku suka sama kamu, cinta sama kamu. Enggak sehari-dua hari Elle, tapi sejak delapan tahun lalu!”
“Sejak awal aku memang enggak pernah menawarkan apa-apa kan, Raff? Apalagi jenis hubungan yang membuatmu bisa merasa seperti punya hak untuk mengatur dan melarang-larang aku. Kalau kamu enggak suka, kamu bisa pergi kapan saja, semaumu. Aku juga enggak memaksamu untuk tetap bersamaku.”
“Ya Tuhan, Elle, apa kamu memang enggak punya perasaan, hah?! Kamu pikir gampang, meninggalkan begitu saja orang yang kamu sayang?”
“Ya itu masalahmu sendiri, kenapa sekarang malah mengeluh?” ketus Elle.
Raffi terdiam. Tumpul sudah otaknya kalau menghadapi Elle. Apa memang sekeras itu hati perempuan ini?
Raffi memejamkan mata. Delapan tahun. Dan dia mulai merasa lelah. Lelah dengan perasaannya sendiri. Lelah dengan ketidakacuhan Elle.
Raffi lalu menatap Elle lagi. “Kamu ... ada perasaan kepada Rayhan?” tanyanya, kali ini tidak dengan nada defensif seperti sebelumnya. Bahkan Elle pun mengernyit saat menyadarinya.
“Aku enggak harus menjawab,” kata Elle pendek.
“Kamu mau aku tetep di sini, atau aku pergi?”
“Putuskan saja sendiri. Enggak perlu bertanya kepadaku.”
Keduanya lalu hanya saling menatap. Jika mata Elle adalah samudra, akan dia selami hingga ke dasarnya untuk mencari. Benarkah tak ada sedikit pun rasa yang dimiliki perempuan itu kepadanya? Nihil. Raffi tak menemukan apa pun di sana.
Kata orang, mencintai adalah ketika kau melihatnya dan memberikannya kebahagiaan, dalam genggaman tanganmu atau di pelukan yang lainnya. Jika selama ini Elle tak bahagia dengannya, jika ekspresi bahagia itu sumbernya justru dari lelaki lain....
Sebenarnya, sudah sejak lama otaknya menyuruhnya berhenti. Tapi jika berkaitan dengan Elle, Raffi cenderung mengabaikan nalar dan lebih sering mengikuti kata hati. Dan hasilnya? Dia memang lelaki. Dia memang mencintai. Mencintai dengan hati. Kali ini, hati itu menyuruhnya berhenti.
“Aku enggak tahu, terbuat dari apa hatimu, sampai-sampai kamu jadi sama sekali enggak punya perasaan. Mungkin memang sudah waktunya. I quit. Cukup, Elle. Sampai di sini saja. Buat apa aku tetap memaksa? Jadi....” Raffi menghela napas dalam, kenapa kalimat yang sudah di ujung lidahnya itu terasa berat sekali dia ucapkan. “Jadi lebih baik sekarang aku pergi. Aku janji, apa pun yang akan terjadi dalam hidupmu, aku enggak akan ikut campur lagi. Kita ambil jalan masing-masing.”
“Mungkin itu yang lebih baik. Lagi pula kamu sudah bertunangan. Aku. ” Elle mengedikkan bahunya tak peduli.
“Aku akan menjalani hidupku sendiri. Seperti sebelumnya. Sebelum kamu datang.”
Perempuan itu tersenyum tipis, dan membalik badan. Berlalu tanpa mengatakan apa pun. Raffi mematung.
Raffi mencintai Elle, maka dia menurut saja pada apa pun keinginan perempuan itu, menjalani seperti apa pun jenis hubungan yang diinginkannya. Hanya demi satu alasan. Tak mengapalah Elle belum mau menerima perasaannya. Asal dia tak diusir menjauh pergi dari hidupnya. Bisa mati dia. Seperti ketika beberapa tahun lalu Elle meninggalkannya begitu saja. Perempuan itu tentu tak paham seperti apa rasanya.
Ketika dipertemukan lagi dengan Elle dua tahun yang lalu, Raffi sedikit berharap ini adalah pertanda bahwa memang ada takdir yang telah digariskan untuk mereka berdua. Karena dalam hatinya cinta itu tetaplah sama.
Tapi kini, akan seperti ini sajakah akhirnya?
***
Elle berbalik dengan tetap menegakkan badan. Meski menyadari dengan sangat jelas ada yang menggemuruh hebat dalam dadanya. Digapainya tombol di pintu lift, melangkah masuk, menunduk untuk menyembunyikan kernyit di dahi akibat simpul imajiner yang mendadak seperti mengencang di sekeliling perutnya. Sesaat sebelum pintu lift menutup, masih dilihatnya Raffi berdiri di tempatnya semula. Elle menengadah, memejamkan mata.
‘Mama, anak haram itu apa?’
‘Kenapa tanya seperti itu?’
‘Aku diejek teman-teman, Ma. Aku enggak boleh main sama mereka hiks hiks. Mereka bilang aku anak haram Ma, kata mereka aku enggak punya Papa hiks hiks.’
‘Mama ... kenapa aku enggak punya Papa? Hiks, hiks, hiks … kenapa, Ma, memangnya Papa aku ke mana, Ma ... aku pengin punya Papa seperti mereka, Ma.’
‘Jangan dengerin mereka, Sayang. Kamu enggak butuh seorang papa. Kamu enggak butuh. Kamu cuma punya Mama. Kamu cuma butuh Mama.’
__ADS_1
Setelah pintu lift terbuka, Elle melangkah menyusuri lorong menuju ke unitnya di lantai sembilan. Termangu sejenak di depan pintu, menyadari jemarinya bergetar ketika menekan kode kombinasi di panel. Elle hanya mendesah, lalu masuk dan menutup kembali pintu di belakangnya. Setelah menyalakan lampu, Elle langsung berjalan masuk lalu meletakkan tasnya di meja pantry dan menarik kursi tinggi di sana, mendudukinya. Lalu termenung.
‘Elle, Sayang, setelah ini Elle ikut tante dan Om ke Jakarta, yah?’
‘Ikut Tante dan Om? Ke Jakarta?’
‘Iya, Sayang, kamu ikut tante, nanti sekolah di sana. Yah?’
‘Tapi, Tante, kata Mama, Elle enggak boleh percaya sama siapa-siapa.’
‘Kemarin Mama kamu bilang sama Tante, supaya bawa Elle ikut sama Tante.’
Usianya baru delapan tahun saat ibunya mendadak harus dilarikan ke rumah sakit. Dia sendirian. Tak tahu apa-apa. Tak punya siapa-siapa. Hanya mereka berdua. Saat ibunya tertidur semakin lama, dan tak kunjung bangun, datanglah Tante Indri dan Om Adji, suaminya, membawanya pergi dari kamar perawatan ibunya. Elle tak terlalu ingat apa yang dirasakannya saat beberapa hari kemudian Tante Indri membawanya ke sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama ibunya. Dia hanya tahu, sejak saat itu dia jadi benar-benar sendirian.
‘Dia dulunya adalah ajudan kepercayaan kakekmu, dan saat hal itu terjadi, dia sudah memiliki istri dan satu anak perempuan. Tante enggak pernah setuju, Elle. Karena walau bagaimanapun, hal itu salah. Tapi, ibumu telanjur jatuh cinta kepada lelaki itu. Bahkan saat kakekmu marah besar karena tahu anak gadisnya mengandung, ibumu tetap tak mau bicara tentang identitas lelaki itu, malah memilih pergi meninggalkan rumah dan membawamu.’
Jadi … dia memang adalah anak yang tak diinginkan. Dari situ dia paham kenapa hampir semua teman masa kecilnya menjauhinya, dan perempuan-perempuan yang lebih tua seperti selalu membenci ibunya. Seingatnya, ibunya bukan perempuan lemah. Beliau tetap bekerja keras demi menghidupi mereka berdua. Sementara Tante Indri pernah bercerita bahwa kakeknya sebenarnya adalah perwira yang cukup disegani di sebuah kesatuan elit di Sukoharjo. Terkadang Elle ingin tahu tentang mereka. Mereka yang seharusnya adalah sanak keluarganya. Kemudian dia juga selalu berusaha mengingatkan dirinya sendiri, bahwa dia adalah anak yang tidak diinginkan. Lagi pula, mendiang ibunya sudah menitipkannya kepada Tante Indri. Satu-satunya keluarga yang dia miliki adalah Tante Indri dan Om Adji.
Elle menoleh ke foto kecil yang dia tempel di pintu lemari es. Memandanginya dengan rindu. Fotonya bersama Tante Indri di bandara beberapa tahun silam, sesaat sebelum dia berangkat ke Sydney. Memorinya berhamburan kembali.
‘Om mau ke mana? Kenapa bawa-bawa koper sebesar itu?’
‘Om mau pindah, Elle.’
‘Pindah? Sama Tante juga?’
‘Enggak, Tante Indri masih di sini. Elle temani Tante yah, jadi anak baik. Om pergi dulu.’
Om Adji pun akhirnya pergi meninggalkan Tante Indri, karena Tante Indri tidak bisa melahirkan. Om Adji sudah bertemu perempuan lain yang bisa melakukan itu. Raffi menyebutnya perempuan egois yang tak punya hati karena tega mempermainkan perasaannya selama bertahun-tahun? Well, tak sepenuhnya salah.
Elle punya hati, tentu saja, tapi bukan untuk mencintai dan memercayai. Dua hal itu, menurutnya, hanya bisa dilakukan perempuan baik-baik, sementara dia telanjur tumbuh cacat secara emosi, dan kemampuan untuk memercayai itu pun telah lumpuh. Elle juga telah belajar bahwa menjadi perempuan baik-baik yang mudah percaya hanya akan membuatnya rapuh. Seperti mendiang ibunya, yang tak mampu melindungi dirinya sendiri dari monster mengerikan bernama cinta yang merenggut segala yang dimilikinya.
Menjadi rusak, tak punya hati ... dalam beberapa segi, terlihat jauh lebih baik, lebih sesuai untuknya. Hal itu memberinya kekuatan sebesar yang selalu dia butuhkan. Itu karena dia tak punya siapa-siapa. Dia hidup untuk dirinya sendiri. Tak ada yang akan mengulurkan tangan andai dia tak membuat dirinya sendiri kuat.
Yah, mungkin dia memang mencintai Raffi. Tapi baik itu cinta ataupun lelaki, tak ada yang bisa dia percayai.
Tak ada yang bisa dia percayai.
Tidak ayah kandungnya, yang menelikung istrinya sendiri untuk merayu anak gadis atasannya, lalu mencampakkannya setelah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Meninggalkan ibunya tanpa menampakkan sedikit saja jiwa bertanggung jawab selayaknya lelaki beradab.
Tidak juga Om Adji, suami Tante Indri, yang sempat membuatnya bisa percaya lagi bahwa di dunia ini masih ada laki-laki baik. Pada akhirnya, lelaki itu pun bisa meninggalkan istrinya demi perempuan lain, meskipun Elle tahu betapa lelaki itu sebelumnya selalu membanjiri Tante Indri dengan kasih sayang dan cinta.
‘Ya Tuhan, Elle, apa kamu memang enggak punya perasaan, hah?! Kamu pikir gampang, meninggalkan begitu saja orang yang kamu sayang?’
Raffi benar. Itu sama sekali tak mudah.
Lelaki itu harusnya juga tak mengguruinya tentang rasa sakit. Tentang perasaan. Elle tahu, lebih tahu dari siapa pun, tentang rasa sakit. Rasa sakit dari ditinggalkan, ataupun meninggalkan. Elle tahu.
Sepertinya memang konyol, menyakiti diri sendiri dengan menolak lelaki yang jelas-jelas mengatakan mencintai dan menginginkannya. Ada terlalu banyak trauma yang bersengkarut tak beraturan dan memenuhi hatinya. Penolakan, perasaan terbuang dan tak diinginkan, kesendirian ... sudah berjejalan menyesaki hatinya di saat dia bahkan belum memahami apa pun tentang kehidupan.
Elle memandang ke sekeliling. Tiap sudut apartemen ini meninggalkan jejak bayangan Raffi. Bagaimana dia akan melanjutkan hidup setelah ini?
Air mata mulai menitik.
Jika sejak awal dia tegas menghindar, tak akan sampai begini, tenggelam terlalu dalam pada perasaan yang akhirnya tak mampu dia kendalikan. Dia sendiri yang bersalah membiarkan nalarnya dikuasai hasrat. Hasrat yang dulu dia ajarkan pada Raffi untuk mereka coba cicipi, kini pada akhirnya malah menjerat dan membakar dirinya sendiri.
Sebenarnya, apa yang akan berbeda? Bukankah dia memang selalu sendirian? Mungkin, dia hanya akan kehilangan pagi-pagi sempurna yang dimilikinya bersama Raffi, dan secangkir kopi yang selalu mereka bagi berdua. Yah, itu saja kan?
__ADS_1
Elle merapatkan bibir untuk menahan isak, mengusap air mata dengan punggung tangan. Dia rindu ibunya. Dan sangat merindukan Tante Indri.