
Beberapa saat setelah pintu ruangan Siera menutup, barulah Elle mengangkat wajah. Terdiam. Naura Naysilla yang akan jadi menantu Tante Siera yang disayanginya.
Sejak meninggalkan Jakarta—selepas kelulusan SMA—untuk melanjutkan pendidikan di salah satu akademi kuliner ternama di Sydney, dia sudah memutuskan untuk melupakan apa pun yang pernah terjadi di antara dirinya dan Raffi. Apa pun. Bahkan saat kembali pulang karena berniat melanjutkan karier sebagai pastry chef di Jakarta sekitar empat tahun setelahnya, dia juga tak mencari Raffi. Tak berencana menjalin hubungan lagi. Dia hanya ingin menjalani hidup dengan tenang. Sendirian, sembari menanti Tante Indri—ibu angkatnya—kembali dari penugasannya di Jerman. Raffi, dan segala hal tentangnya adalah masa lalu.
“Lo yakin, mau ngelakuin ini? Lo enggak akan nyesel? Kalau sudah terjadi, lo enggak bisa kembali seperti dulu lagi.” “Karena gue memang enggak pengin kembali seperti dulu lagi, jadi please ... bantu gue, Raff? Sekali ini saja, sebelum gue pergi.”
“Kenapa harus gue?”
“Lo satu-satunya teman gue.”
“Tapi, Elle ... gue enggak bisa ... ngerusak elo seperti itu?”
“Gue yang mau, jadi enggak akan pernah ada yang nyalahin elo.”
Elle memejamkan mata. Patah hati memang tak selalu tentang ditinggalkan.
Mungkin, segalanya akan jauh lebih baik untuk semua orang andai dia dan Raffi tak pernah dipertemukan lagi.
Setelah berhasil menguasai perasaannya kembali, dia beranjak dari meja itu. Dan bergegas menuju kitchen untuk memeriksa beberapa hal.
Seperti biasa, personel dapur bergerak sigap dan taktis dalam ritme yang dinamis. Seluruh chef de partie tampak sibuk di station masing-masing siang itu, bekerja cepat menyelesaikan pesanan yang datang tak henti-henti. Teriakan-teriakan ‘ya, Chef!’ bersahut-sahutan meningkahi suara denting logam yang saling beradu, desisan minyak panas di atas kompor, deru mesin-mesin penghalus bumbu. Sembari mengamati, Elle tersenyum samar, teringat kembali kenangan hari-hari saat dia masih menjalani pendidikannya di Sydney. Dalam hati dia bersyukur atas tawaran kerja dari Tante Siera. Dia tak sedang mengalami kesulitan secara finansial, tapi merasa tak lagi mampu mengatasi kejenuhan emosional.
Elle mulai menikmati kariernya sebagai pastry chef di sebuah restoran Prancis yang berlokasi di kawasan Kuningan saat seorang pencari bakat menghubunginya via direct message akun Instagram-nya. Orang itu menawarinya menjadi bintang iklan sebuah produk bumbu masakan instan. Semuanya berawal dari sana. Lalu mulai susul-menyusul berdatangan tawaran, mulai dari iklan, sampai menjadi pembawa acara di televisi. Karena semakin banyak tawaran, Elle merelakan kariernya di restoran. Tak ada salahnya mencoba menjalani sesuatu yang baru, sesuatu yang benar-benar berbeda, pikirnya saat itu. Wajah cantik. Tubuh molek. Skill memasak yang mumpuni. Segera saja Gracelle Ariadna bertransformasi dari pastry chef biasa jadi salah satu selebritas yang cukup bersinar.
Dan di sanalah dia kembali dipertemukan dengan Raffi.
“Aku masih berutang tanggung jawab sama kamu.”
“Sudah kubilang saat itu, kan? Enggak akan ada yang menyalahkanmu, apalagi menuntut tanggung jawab. Jadi santai saja lah, jangan terlalu dipikirkan.”
“Tapi aku mencintaimu.”
“Kita berteman, enggak akan pernah ada perasaan semacam itu.”
“Di hatiku ada.”
“Itu masalahmu, dan bukan urusanku.”
Cinta adalah satu hal absurd yang diyakini Elle sejatinya tak pernah ada. Hanya bualan lelaki untuk memperdaya perempuan dan memanfaatkannya. Sekadar aksesori tempelan yang bisa dipasang jika suka, atau dilepas dan ditanggalkan manakala bosan. Mungkin, bentuk cinta yang nyata dan bisa dipercayainya hanyalah cinta ibu kepada anaknya. Seperti cinta yang diberikan Indri Maheswari dan Sophia Girisabha kepadanya.
Elle melengak dari lamunan saat seorang gadis berseragam pelayan mendekat. Dia mengatakan bahwa nyonya pemilik restoran memanggilnya untuk bicara tentang beberapa pemasok bahan makanan, jadi Elle pun bergegas. Saat melintasi ruang utama restoran, ponsel di saku blazer hitamnya bergetar. Panggilan masuk. Rayhan Danubrata. Elle tak menjawabnya, memasukkan lagi ponsel ke saku, dan mengetuk pintu ruangan Siera. Terdiam saat menyadari perempuan itu tak sendiri di sana. Masih ada Raffi dan Naura.
“Wah, aku mengganggu ya, Tante?” sapanya.
Siera menggeleng. “Enggak, kami sudah selesai bicara kok. Mereka sudah mau pergi,” jelasnya. Elle lalu mendekati meja perempuan itu. Tak menyadari sepasang mata yang menatapnya marah, mendamba, sekaligus rindu. Dan sepasang mata lain yang menyimpan amarah sekaligus dengki.
***
Toilet wanita di dekat ruang penyimpanan properti syuting di salah satu sudut gedung utama lantai dua Global Channel itu sepi. Biasanya, para kru atau artis pengisi acara memang lebih sering menggunakan toilet di dekat ruang make up, lebih efisien dari segi waktu.
Setelah selesai dan membenahi kemejanya, Elle mendengar suara pintu yang menghubungkan wastafel toilet dengan lorong studio, dikunci dari dalam. Meski heran, tapi dia abaikan. Mungkin memang ada orang lain yang masuk.
Elle menyipit saat membasuh tangan di wastafel. Beberapa kali dia memang pernah melihat sosok Naura di area studio Global Channel. Bukan hal yang aneh sebetulnya, karena dia adalah desainer yang setahu Elle lumayan aktif menjadi sponsor busana bagi beberapa acara. Tapi Elle kaget juga saat mendadak bertemu langsung dengan gadis tunangan Raffi itu.
“Hai, Nay?” sapa Elle.
Yang disapa tak menjawab. Elle hanya mengangkat bahu.
Kewajibannya untuk bersikap sopan sudah gugur. Ditanggapi atau tidak, itu bukan urusannya. Elle mengambil pouch kosmetiknya, berniat melakukan touch up sebelum meninggalkan studio dan pulang ke apartemennya. Seingatnya, Raffi tadi mengatakan akan mampir malam ini.
“Bisa enggak, kamu menyingkir baik-baik dan berhenti menjadi perusak hubungan orang lain?”
Tangannya yang sedang memulaskan lipstik terhenti dan menggantung di udara. Elle memutar badan, dan mengernyit menatap Naura. “Maaf? Maksudnya itu tadi apa?”
“Tolong ya, berhenti mengganggu Raffi. Kami sudah akan bertunangan. Keluarga kami sudah merencanakan agar pernikahan kami digelar tidak lama setelahnya.”
“Dan apa hubungannya denganku?”
Naura mendengus tak sabaran. “Aku tahu, pokoknya aku tahu. Jadi, kuminta jauhi Raffi, demi kebaikanmu sendiri.”
“Apa kamu yakin enggak salah orang dengan berbicara seperti itu kepadaku? Kami nggak ada hubungan apa-apa kok,” kilah Elle. Naura menatapnya tajam. “Serius,” tambah Elle. Memang baginya tak ada hubungan istimewa di antara mereka.
“Sekali lagi kuminta, jauhi Raffi.”
“Tapi bagaimana kalau kami enggak sengaja bertemu di restoran, misalnya?” Elle entah mengapa merasa geli. Dan ingin sedikit menggoda Naura. Menjauhi Raffi? Memangnya, siapa yang sedari dulu mengejar-ngejar dirinya? “Ng, kamu benar-benar cinta sama Raffi, ya?”
Elle jadi iseng ingin tahu. Meski jika melihat sikap Naura, seharusnya hal itu tak perlu dia tanyakan. Naura tak menjawab. “Tapi, apa dia juga ... mencintaimu?”
“Itu bukan masalah besar, andai enggak ada perempuan jalang sepertimu.”
Harusnya Elle marah, tapi dia justru tertawa pelan. “Kalau dia enggak mencintaimu,
kenapa memaksakan diri?”
Elle terkesiap saat sesuatu yang terasa dingin menempel di lehernya. Nadinya mendadak berdenyut lebih cepat. Naura sudah merangsek dan menempelkan sebilah pisau.
__ADS_1
“Aku bisa melakukan apa pun, asal kamu tahu. Ke wajahmu. Tubuhmu. Atau kariermu. Sebaiknya, berhati-hatilah dengan apa yang akan kamu lakukan,” desisnya.
Elle tertegun. Psikopat. Seperti inikah perempuan yang akan Raffi nikahi? Di antara adrenalin yang terpompa deras dalam darah, ada setitik rasa tak rela tumbuh dalam hatinya. Bagaimana bisa Raffi sampai salah memilih perempuan?
“Ingat baik-baik, aku enggak pernah main-main dengan apa pun yang kukatakan.” Dengan kasar Naura melepaskan Elle, menarik pisau dari leher, lalu melenggang pergi seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Sepeninggalnya, Elle merosot terduduk di lantai keramik toilet yang dingin. Susah payah dia mengambil udara untuk mengisi paru-parunya yang seperti tercekik. Apa-apaan itu tadi? Elle berusaha berdiri. Meski tubuhnya masih gemetar, dia paksakan kakinya melangkah keluar. Elle melangkah pelan, berusaha menemukan ketenangannya lagi. Lorong di sekitar toilet itu memang sepi. Apa Naura memang telah mempersiapkan diri untuk menyerangnya? Elle cukup heran dengan keberaniannya, padahal dia tentu tahu studio televisi yang tentu masih ramai di jam-jam seperti ini.
“Elle....”
Perempuan itu menoleh, dan tersenyum lega. “Mas Rayhan?” sapanya.
Lelaki balas tersenyum, tapi seketika mengernyit khawatir. “Kamu kenapa, sakit?”
Elle menggeleng. “Enggak, Mas, aku enggak apa-apa.”
“Tapi kenapa pucat sekali?”
Elle mengangkat alisnya. “Masa sih, pucat? Oh, mungkin kecapekan.”
Rayhan menatap perempuan itu ragu. “Serius, kamu enggak kenapa-kenapa?”
Elle menggeleng lagi. “Iya, Mas, aku enggak apa-apa.” Lelaki itu hanya mengangguk-angguk.
“Kudengar kamu enggak menerima lagi tawaran acara di televisi?” tanya Rayhan beberapa saat kemudian.
“Masih menerima, kok, Mas. Aku baru saja selesai taping untuk tayangan minggu depan,” balas Elle. Rayhan menggeleng.
“Bukannya masih banyak sekali tawaran yang datang kepadamu?”
“Tahu dari mana?” canda Elle, sembari masih berusaha menenangkan perasaannya sendiri.
“Aku tahu, lah,” balas Rayhan. “Sayang sekali, kalau hanya satu talkshow itu, berarti selanjutnya kamu enggak akan sering datang ke studio,” gumam Rayhan.
Elle lalu terdiam seperti berpikir. “Mas Rayhan, bisakah aku minta tolong?”
Ekspresi Rayhan berubah antusias. “Iya, minta tolong apa?” Elle tersenyum, biasanya dia tak pernah suka meminta bantuan pada orang lain. Tapi peristiwa yang barusan dialami masih mengguncang jiwanya. Di balik senyum manis yang dia tampilkan, masih tersisa gentar di hatinya. “Bisa minta tolong anterin aku pulang?”
Rayhan segera mengangguk. “Oke. Ayo, aku anter.”
***
Raffi berjalan santai keluar dari lift. Di dekat pintu unit apartemen Elle, langkahnya terhenti. Sesosok lelaki keluar dari sana. Raffi tertegun saat mengenalinya.
Mereka tak saling mengenal, maka lelaki itu hanya memandangnya sekilas ketika mereka berpapasan. Raffi mengernyit. Selarut ini. Apa yang dilakukan lelaki itu di apartemen Elle?
Raffi termangu sendiri di depan pintu. Lama. Hingga akhirnya dia tekan juga bel di sana. Saat pintu terbuka, sesaat yang dilihatnya adalah raut muka terkejut Elle. Tapi sekejap berubah, perempuan itu seperti jadi kesal saat melihatnya.
Meski menatapnya sebal, Elle tetap membuka pintu lebih lebar. Kakinya melangkah mundur, memberi jalan Raffi masuk. Setelah menutup pintu, langsung berjalan ke pantry tanpa mengatakan apa pun. Lelaki itu hanya diam, mengikutinya lalu duduk di kursi tinggi di depan meja pantry.
Raffi masih diam menatap Elle yang sibuk mencuci di wastafel. ‘Apa Rayhan tadi juga dijamunya di sini?’ pikirnya masam.
“Elle?”
“Hmm?” gumam Elle tanpa menoleh.
“Rayhan tadi baru dari sini?” tanyanya tanpa basa-basi. Elle terdiam sejenak, lalu melanjutkan kembali kegiatannya.
“Iya.”
“Ngapain dia ke sini?” “Bukan urusan kamu.”
“Elle, aku tanya baik-baik kenapa malah ketus begitu?” “Dia nganterin aku pulang tadi.”
“Cuman nganterin?”
“Iya.”
“Kenapa malam sekali baru pulang?”
Elle meletakkan cangkir terakhir yang dicucinya ke rak stainless dekat wastafel, mengeringkan tangannya lalu menoleh kepada Raffi. Wajahnya masih terlihat jengkel.
“Kenapa sih, kamu tanya-tanya begitu?” ketus Elle. “Ya, kamu masukin laki-laki lain ke sini.”
“Lalu apa masalahnya? Apa enggak boleh, ada orang datang bertamu ke sini? Apartemen punyaku, ngapain kamu yang resek? Kebiasaan.”
“Elle, kamu enggak inget ya, hubungan kita? Kenapa seenaknya main masukin laki-laki lain?!”
“Eh, kamu itu yang mestinya ingat, kalau kamu itu enggak punya hak untuk melarang-larang aku!”
“Elle—”
“Daripada kamu resek, segala siapa yang aku masukin apartemen kamu ributin, urusin tuh tunangan kamu! Bilangin, enggak usah pakai ngancam-ngancam aku. ”
__ADS_1
Raffi terbeliak kaget seketika.
“Maksud kamu apa sih?” tanya Raffi tak paham.
Elle menarik napas cepat penuh emosi lalu mengembuskannya kasar. “Tunangan kamu ngancam aku, nyuruh aku ninggalin kamu. Nempelin pisau ke leherku!” teriak Elle.
“Bercanda, kamu pasti bercanda kan?” tanya Raffi tak percaya.
Elle mendengus sinis. “Bercanda? Apa untungnya buat aku, ha?!”
Raffi masih menatap Elle tak percaya. “Serius Naura ngancam kamu?”
“Iya, enggak perlu senewen apalagi sampai nodongin pisau ke leherku. Dasar sakit jiwa!”
“Elle, tapi—”
“Sudah mendingan kamu pulang aja, Raff, males aku lihat kamu!”
***
Siang itu selepas jam makan siang, Raffi baru akan melangkah memasuki kantornya ketika Citra, sekretarisnya, memanggil dan berjalan mendekat ke arahnya.
“Mas Raffi?” panggilnya ragu-ragu. “Ya, Mbak, ada apa?”
Perempuan yang lima tahun lebih tua dari bosnya itu mengulurkan selembar amplop cokelat ukuran sedang. “Tadi ada yang datang mengantar ini. Dan aku diminta memberikan langsung ke Mas Raffi.”
Raffi menerima amplop itu, mengernyit. Tanpa nama. “Dari mana ini?” tanya Raffi, tapi Citra menggeleng. Raffi terdiam, lalu memandang bergantian pada amplop di tangannya dan wajah Citra.
“Mbak Citra tadi ... sudah buka amplop ini?” tanyanya.
“Enggak berani, Mas, tadi yang mengantar setengah agak mengancam gitu, jangan sampai aku buka. Padahal mestinya tiap surat yang masuk ke sini harus aku sortir dulu sebelum sampai meja Mas Raffi,” jelas Citra.
Raffi termangu. “Yang ngantar tadi laki-laki apa perempuan?” “Laki-laki.”
Lagi-lagi Raffi terdiam. Lalu mengangguk dan tersenyum pada Citra. “Ya sudah. Makasih ya, Mbak.”
Ketika Raffi membalik badan akan melangkah kembali, Citra memanggilnya lagi. “Ada Pak Sandro di dalam.”
Sandro? Tanpa mengatakan apa pun lagi dia hanya tersenyum dan mengangguk lalu bergegas memasuki kantornya.
“Lama amat, gue tungguin dari tadi juga.” Sebuah teriakan menyambutnya begitu tangannya mendorong handle pintu hingga terbuka.
Raffi hanya nyengir mendapati wajah jengkel setengah bosan lelaki yang duduk bersilang kaki di sofa. Sandro, sahabatnya. Lelaki slebor pengusaha kafe dan pengelola beberapa tempat hiburan malam, sekaligus penyedia jasa mata-mata alias detektif swasta.
“Biasa, meeting sama klien,” jawab Raffi masih dengan cengiran di wajahnya ketika mendekat dan duduk di sofa seberang Sandro.
Lelaki berkulit kecokelatan itu lantas melemparkan selembar amplop cokelat ke atas meja. “Tuh, pesenan lo.” Raffi menunduk mengambil amplop itu. “Sekretaris lo suruh ke sini gih, bawain air. Kering ini tenggorokan dari tadi nungguin,” gerutu Sandro.
Tapi Raffi mencibir sambil mulai membuka amplop yang dibawa Sandro. “Enggak usah modus, bininya orang itu,” gumamnya. Sahabatnya itu memang menaruh hati pada sekretarisnya.
Sandro hanya mencebik. “Siapa tahu dianya mau sama gue.”
Raffi tak menjawab, sudah sibuk memperhatikan foto-foto dari amplop tadi.
“Itu yang lo pegang, foto dari rekaman CCTV pas hari kejadian.” Raffi masih diam. Foto Naura yang tertangkap kamera tengah keluar dari salah satu toilet di studio Global Channel. Sandro memang bisa diandalkan.
“Ini ... aman kan? Informasi ini?” tanya Raffi.
Sandro mengangguk mantap. “Enggak akan bocor ke media, gue jamin.”
Raffi mengangguk, Elle sudah pernah menyatakan ingin berhenti dari dunia televisi. Hal semacam ini jika terendus media akan menimbulkan keriuhan yang sama-sama tak mereka inginkan. Raffi lalu melirik ke arah meja, di mana Sandro melemparkan satu amplop cokelat lagi ke sana. “Sebenarnya, cowok itu masih ada semacam hubungan sepupu sama tunangan lo. Tapi orang bego juga tahu, sepupu doang ya enggak akan sampai kayak gitu kelakuannya,” cetus Sandro. Raffi mengangkat kepala sejenak, lalu sibuk kembali dengan foto-foto itu. Sambil mendengar informasi apa lagi yang didapat Sandro.
“Yang gue dapat itu bukti autentik perselingkuhan tunangan lo. Kecuali lo memang berencana uji kekuatan mental dan emosi, gue saranin mendingan jangan dibuka,” Sandro terkekeh lalu bangkit dari duduknya.
“Mau ke mana lo?” tanya Raffi.
“Cabut, ogah banget kalo ntar lo gampar pakai kursi. Siapa tahu lo emosi abis liat foto-foto itu.” Lelaki itu masih terbahak ketika mulai berjalan menuju pintu. “Tapi kalau lo mau, gue bisa beresin tuh laki,” katanya sebelum menutup pintu.
Raffi hanya mengangkat bahu. Lalu mulai membuka amplop dan meneliti satu per satu lusinan foto yang terdapat di dalamnya. Sandro terkadang suka melebih-lebihkan. Tak ada yang aneh, masih sewajar interaksi antar-sepupu. Ada beberapa foto mereka berada dalam satu mobil bersama. Atau foto saat mereka sedang menikmati santap malam. Beberapa foto mereka seperti sedang terlibat pembicaraan serius. Mungkin kalau dia memang mencintai Naura, kata-kata Sandro baru bisa terbukti benar dan tak berlebihan. Raffi kembali mengamati lembaran foto di tangannya, dan seketika tertegun mengamati beberapa lembar foto terakhir.
Jika Naura menjalin hubungan dengan lelaki lain, lantas kenapa masih juga berkeras melanjutkan hubungan mereka? Jika Naura merasa tak bahagia dengannya, kenapa tak memutus saja lebih dulu pertalian hubungan mereka? Dan malah mengancam Elle?
Dia tak berencana menyelidiki gadis itu sampai sejauh ini, tapi Sandro terkadang memang seperti itu. Raffi masih termangu, memandangi micro SD yang ditemukannya dalam amplop berisi foto tadi. Dia punya bukti kuat perselingkuhan Naura.
Tapi....
Bukankah dia pun sebenarnya melakukan hal yang sama? Menjalin hubungan dengan Elle di saat telah resmi berhubungan dengan Naura. Lalu, apa bedanya mereka berdua?
Tiba-tiba Raffi teringat sesuatu. Amplop cokelat lain yang diserahkan Citra padanya tadi. Raffi meraihnya, terdiam sejenak sebelum menyobek tepian amplop itu untuk membukanya.
Dan baru di lembar foto kedua, lelaki itu tertegun. Foto Elle, bersama Rayhan. Hanya beberapa pose lumayan intim keduanya, saat mereka berpegangan tangan, saat Rayhan menatap Elle penuh cinta, atau beberapa foto lain yang sebenarnya tak jauh beda dengan apa yang biasa ditemukan di tabloid gosip atau di internet. Rahangnya mengeras. Apa-apaan maksudnya ini?
Raffi menggeleng, mendesah berat, memejamkan mata sebelum melanjutkan melihat-lihat foto itu. Sampai di lembar terakhir, dia menemukan sebuah pesan yang membuat emosinya mendidih:
__ADS_1
“Sebaiknya jangan menyia-nyiakan diri menjalin hubungan dengan perempuan yang tak akan memilihmu. Dilihat dari sudut mana pun, lelaki itu jauh lebih segalanya dari pada kamu.”