
“Sakit apa, Dok, sebenarnya?” tanya Siera, membenahi pasmina lebar yang dia gunakan menyelimuti bagian bawah tubuh Elle, setelah dokter Firman dokter keluarga sekaligus salah satu teman baik suaminya selesai memeriksa manajer restorannya itu.
“Cuma stres dan kelelahan. Enggak apa-apa. Wajar kok perempuan dalam kondisi seperti dia mengalami ini,” gumam dokter Firman sambil menutup gesper tas hitamnya.
“Wajar? Kalau hanya kelelahan saja, kenapa sampai bisa pingsan dan sepanas ini badannya?”
“Yah, kamu kan pasti paham kalau perempuan yang sedang hamil biasanya kondisi tubuhnya memang melemah,” kata dokter Firman lagi.
Siera seketika membelalak. “Ha–hamil?”
Dokter Firman terdiam sejenak. Sepertinya Siera belum tahu. “Fundus uteri-nya belum teraba. Perkiraanku usia janinnya belum mencapai dua belas minggu. Dari semua tanda fisiknya, dia memang sedang mengandung. Lebih baik kamu bawa ke ginekolog, supaya diagnosisnya lebih jelas. Yang pasti, kondisi fisiknya lemah, dan sepertinya dia juga sedang stres berat. Aku sarankan sebaiknya dia bed rest total setidaknya selama tiga hari.”
Siera masih tercenung beberapa saat setelah dokter Firman pamit. Hamil?
Siera mengenal Elle sejak lama. Sejak gadis itu masih remaja, teman sekolah putranya. Elle juga dikenalnya sebagai anak angkat Indri, salah satu sahabatnya. Sejauh yang dia tahu, sebelum dia berangkat ke Sydney untuk melanjutkan studi, Elle adalah gadis baik-baik yang tak banyak tingkah. Dan kini, dia hamil? Siera tak ingin menghakimi, tapi yang jadi pertanyaan adalah: perbuatan siapa?
“Nghhh. ”
Siera menoleh. Sudah sadar sepertinya. Siera lalu mengulurkan tangan, membantunya duduk. Gadis itu sesaat seperti linglung, lalu menatap ke sekeliling sambil memegang kepala. “Tante, aku kenapa?” tanyanya setengah mengernyit.
“Kamu pingsan tadi,” jawab Siera singkat. Dirinya mengambil secangkir teh madu hangat yang tadi diantar salah satu staf dapur ke ruangannya, dan mengulurkannya pada Elle. “Minum ini dulu.”
Meski ragu, Elle menerimanya. Tenggorokannya terasa kering. Bibirnya bahkan belum sampai menghirup teh hangat itu … “Heggg!”
Aroma manis madu yang menguar seketika memicu rasa mual. Sambil menutup mulut dengan telapak tangan, diletakkannya kembali cangkir itu ke meja.
“Kenapa, Sayang, kok enggak diminum?”
Elle menggeleng. “Baunya bikin mual, Tante.”
Siera beranjak menuju meja kerjanya. “Minum air putih saja ya, kalau begitu?” tawarnya. Melihat Elle mengangguk, dia lalu menuang segelas air dari teko kaca berisi air putih yang selalu tersedia di ruangannya.
Saat mengulurkannya pada Elle, dilihatnya gadis itu meneguknya sampai habis tanpa ragu. Lalu terdengar ketukan di pintu. “Masuk!” teriaknya.
Seorang pelayan yang tadi menerima tubuh limbung Elle, masuk dan mengangguk sopan pada keduanya. “Maaf, Mbak, ditunggu Pak Rayhan di depan,” katanya.
Elle terdiam. “Bilang saja aku sudah pulang, Mas Arif,” jawabnya kemudian. Dahi Siera mengerut heran mendengarnya. “Tapi aku tadi telanjur bilang kalau Mbak Elle masih di sini....”
Elle menggeleng tegas. “Bilang saja kalau Mas Arif tadi enggak tahu waktu aku pamit pulang.”
Lelaki muda itu pun mengangguk paham, lalu pamit dan menutup pintu itu kembali.
Siera mengamati Elle yang termangu. “Lagi berantem yah, kalian?” tanyanya sambil tersenyum.
Elle menoleh, dan mengerutkan dahinya. “Ah, enggak, Tante,” bantahnya.
“Lalu kenapa enggak mau dijemput? Apa coba namanya kalau enggak lagi berantem? Apa dia dia belum tahu berita gembira ini?” tanya Siera hati-hati sambil tetap tersenyum.
Elle memandang bingung kepada Siera. “Kabar gembira? Kabar gembira apa, Tante, maksudnya?”
Masih dengan senyum di wajahnya, tangan Siera terulur mengelus perut Elle. Membuat perempuan itu seketika menegang. “Ada bayi kan, di sini?” tanyanya.
Lama terdiam, kemudian Elle hanya mengangguk pelan. Mungkin dokter yang sempat didengarnya akan dipanggil Siera untuk memeriksanya yang mengatakan tentang kehamilannya.
“Kalau begitu, kenapa enggak dikasih tahu ayahnya? Malah berantem, pakai enggak mau dijemput segala,” godanya.
__ADS_1
“Ayah?”
“Iya Elle, ayahnya bayi kamu. Hmm ... Rayhan?”
Entah masih karena pengaruh rasa pusing atau kesadarannya yang memang belum kembali sepenuhnya, Elle menggeleng begitu saja. Membuat dahi Siera seketika berkerut heran. “Rayhan bukan ayahnya?” tanyanya begitu saja.
Sesaat Elle terdiam bingung, lalu menyadari tanpa sadar telah menggeleng saat Siera bertanya tadi. Apa boleh buat. Sudah telanjur. “Aku boleh enggak menjawab pertanyaan itu kan, Tante?” tanyanya lirih.
“Elle, kamu kan sedang hamil. Kata dokter Firman kondisi kamu lemah. Kamu butuh bantuan. Kalaupun bukan Rayhan, siapa pun itu ayah bayimu, dia harus tahu dan bertanggung jawab atas kalian berdua.”
Elle terdiam. Semua yang dikatakan Siera benar. Tapi perempuan ini salah paham.
“Tante, aku masih pusing. Bisakah kita enggak membahas masalah ini dulu?” katanya kemudian. Mengalihkan pembicaraan. Menghentikan pertanyaan.
Siera hanya bisa menghela napas dalam. Dia peduli pada gadis itu, dan sebenarnya penasaran setengah mati pada sosok lelaki yang menanam benih di rahim Elle. Jika bukan Rayhan, lalu siapa? Siera tak mau berpikiran buruk bahwa Elle ternyata menjalin hubungan dengan lebih dari satu pria di saat bersamaan. Melihat ekspresi muram dan enggan manajernya itu, justru rasa khawatir yang muncul di hatinya. Mungkinkah Elle korban pelecehan? Bukan sesuatu yang mustahil, mengingat semakin tingginya angka kriminalitas di ibukota.
Meskipun masih penasaran, dia sadar bukan siapa-siapa yang punya hak memaksa Elle buka suara.
“Ya sudah. Kamu istirahat dulu kalau begitu.”
***
Raffi mengernyit saat mendapati sebuah Mercedes hitam metalik yang cukup dikenalnya terparkir di halaman Maghali’s. Lelaki itu sedang di sini juga ternyata.
Sejak memutuskan pertunangan dengan Naura, ibunya memang marah padanya, tapi Raffi tak peduli. Yang penting pertunangan itu batal. Biarlah untuk sementara ibunya marah padanya. Jika sudah lewat masanya, akan reda murka itu dengan sendirinya.
Untuk sementara dia memang menjauh. Tak pulang ke rumah. Tak juga mengunjungi Maghali’s. Raffi hanya menghabiskan lebih banyak waktu, turun tangan langsung menangani beberapa proyek Overture. Memasung dirinya dalam kesibukan. Pulang hingga lepas tengah malam. Atau pilih lembur hingga tertidur di kantornya karena dia butuh sibuk. Dia butuh bekerja agar seluruh energinya tercurah untuk otaknya, bukan pada hatinya.
Dan dia jadi lebih sering mengunjungi Bordesse−klab malam milik Sandro untuk mengganggu sahabatnya. Membuat mulut serampangan Sandro menyumpah-nyumpah tiap kali Raffi mencemari ruangannya dengan aroma kopi−karena Raffi selalu menolak alkohol. Dan hanya terdiam seperti manusia sakit jiwa sampai hampir pagi di sana.
Di luar segala hal yang menyangkut permasalahan hatinya, setiap perkataan ayah dan ibunya adalah titah yang menurutnya wajib dia laksanakan.
Raffi turun dari Jeep-nya lalu melangkah menuju pintu masuk Maghali’s. Frontgirl yang berjaga di depan mengangguk hormat dan tersenyum sopan padanya. Dia hanya balas mengangguk. Saat melewati pintu masuk, dia berpapasan dengan Rayhan yang melangkah sendiri. Raffi mengerutkan alis heran. Kenapa perempuan sialan itu tak bersamanya?
Raffi menggeleng sendiri. Mengabaikan suara-suara yang berdengung di kepalanya. Langkahnya tegas dan pasti menuju ruangan ibunya di sudut utara restoran itu.
Tiap kali berkunjung, Raffi biasanya memang akan masuk ke dalam begitu saja. Dia sudah akan mendorong pintu yang sedikit terbuka ketika sayup-sayup didengarnya suara ibunya. Raffi menghentikan langkah. Tak jadi masuk. Sepertinya ibunya sedang menerima tamu.
Dia sudah hampir berbalik meninggalkan pintu itu ketika didengarnya satu kalimat yang memukul telak jantungnya.
“Iya Elle, ayahnya bayi kamu. Hm ... Rayhan?”
Jadi di dalam ibunya sedang berbincang dengan Elle?
Sebenarnya dia tak ingin peduli lagi, apa pun yang menyangkut perempuan sialan itu. Apalagi jika ada kaitannya dengan kekasih barunya. Tapi telinganya seperti menajam dengan sendirinya, mencoba menangkap sisa percakapan mereka selanjutnya.
“Rayhan bukan ayahnya?”
Raffi membeku di tempat. Apa yang barusan dia dengar?
***
Sore itu Siera sedang berada di dekat pintu masuk Maghali’s, mengiringkan serombongan tamu yang telah jadi pelanggan restorannya sejak belasan tahun lalu. Dia sudah hampir berbalik masuk ke dalam resto, ketika di mendengar namanya dipanggil.
“Ra....”
__ADS_1
Saat menoleh, Siera sempat tertegun mendapati sosok yang tersenyum lebar padanya. Senyum itu seketika menular.
“Indriii!” teriaknya, lalu bergegas merentangkan tangan dan memeluk perempuan itu. “Duh, ibu diplomat. Betah amat di negara orang sampai enggak ingat pulang,” cibirnya setelah mengurai pelukan.
Perempuan itu, Indri Maheswari, sahabatnya yang selepas kuliah berkarier di kementerian luar negeri. Terakhir yang didengarnya, beberapa tahun lalu memang sahabatnya itu dikirim bertugas di konsulat jenderal Indonesia di Frankfurt.
“Abdi negara Ra, manalah bisa nolak ditaruh di mana juga? Beda sama juragan kayak kamu, kerja bisa suka-suka,” balasnya sambil terkekeh. Siera hanya mencibir.
“Kapan pulang?”
“Dua hari yang lalu nyampe Jakarta.”
“Tumben ke sini?”
“Kebetulan lagi muter-muter dekat sini, lalu ingat kamu. Mampir deh,” jelasnya.
Siera lalu menggandeng perempuan itu, membawa sahabatnya yang berkulit sawo matang dan berambut bergelombang khas perempuan Jawa itu masuk ke ruangannya. Tamu istimewa tentu tak boleh sekadar dia jamu berbaur dengan para pengunjung lain.
Di dalam ruangan itu pun, cerita tak berhenti mengalir dari mulut keduanya.
“Ra, beberapa bulan lalu Elle mengatakan kalau dia sekarang jadi manajer di sini. Benar?” tanyanya beberapa saat kemudian. Siera mengangguk.
Indri tersenyum. “Mana? Aku mau ketemu dong. Kangen banget ini sama dia,” ucapnya antusias. Siera menanggapinya dengan raut muka sedih.
“Enggak masuk hari ini.” “Enggak masuk?”
“Iya. Aku kasih cuti. Kata dokter harus bed rest total.”
“Bed rest total? Sakit apa memangnya?”
Siera terdiam memandang sahabatnya itu dengan bimbang. Sepertinya Indri pun tak tahu. Apa harus dia katakan?
“Kamu ... belum tahu memangnya?”
“Belum tau apa sih, Ra?”
“Elle belum cerita kepadamu?”
“Cerita apa? Duh, jangan bikin aku penasaran begini dong.
Aku jadi khawatir ini.”
Siera menghela napas dalam, sebelum memutuskan mengatakan saja pada Indri. “Elle sedang hamil, Ndri.”
“Hamil? Ah, bercanda kamu. Elle kan belum ... terakhir skype tiga minggu lalu dia enggak bilang apa-apa sama aku.”
Seingatnya Elle tak mengatakan padanya apa pun tentang pernikahan atau menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Setahunya Elle seperti tak pernah tertarik menjalin hubungan dengan pria.
“Sophia. Kenapa dia ikuti jejak Sophia?” gumamnya tanpa sadar.
Siera tanpa sengaja menangkap gumam lirihnya. Dengan dahi bertaut heran, dia bertanya. “Sophia? Sophia siapa, Ndri?”
Indri menatap Siera dengan pandangan sedih, karena di benaknya hadir kembali sebuah kenangan kisah muram seorang perempuan. Sahabat baiknya.
“Sophia. Mendiang ibunya Elle….”
__ADS_1