CITY LITE: ANOTHER HEART

CITY LITE: ANOTHER HEART
Episode 11


__ADS_3

“Ayo, Elle. Kenapa enggak turun?”



“Harus ya, kita ke rumah sakit?” lirih Elle kemudian.



“Kamu harus ke dokter. Lihat kondisimu, enggak kasian bayimu kalau terus-terusan seperti ini?” gumam Raffi.



Elle mengernyit tak nyaman, ketika kenangan delapan belas tahun lalu di saat ibunya dibawa ke rumah sakit—lalu tak pernah kembali lagi kepadanya—menyeruak kembali dalam ingatannya. Menyakitkan, bahkan setelah belasan tahun berlalu. Mungkin terdengar tak masuk akal. Tapi, memang seperti itulah yang dirasakannya ketika harus kehilangan satu-satunya orang yang dia sayangi, dan untuk selanjutnya seperti tak memiliki siapa pun lagi.



“Aku ... aku enggak bisa,” katanya lirih. Nyaris tak terdengar.



Raffi termangu, begitu menyadari wajah pucat itu berubah muram. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah dilihatnya. Mungkin dia salah karena menganggap sepele apa yang dirasakan perempuan itu.



Raffi memejamkan mata. Tidak bisa. Mereka tetap harus pergi ke dokter.



Raffi lalu mencabut kunci mobilnya, dan melangkah keluar lalu memutari Jeep hitam itu. Membuka pintu penumpang depan yang diduduki Elle.



“Ayo, Elle....” ajaknya kemudian.



“Enggak, Raff, aku aku enggak berani.”



Raffi terdiam. Mana Elle yang biasanya keras kepala? Ini ...



ini adalah seorang perempuan yang seperti tengah ketakutan.



Raffi merunduk dan berbisik. “Ada aku di sini. Enggak akan kenapa-kenapa.” Elle masih diam. “Ayolah demi anakmu,” bisik Raffi lagi.



Elle memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk pada dirinya sendiri. “Ayo,” putusnya kemudian. Raffi tersenyum tipis mendengarnya, lalu mundur dan memberi jalan pada Elle.



Keduanya lalu berjalan beriringan memasuki lobi rumah sakit yang cukup ramai pagi itu. Di samping Raffi, Elle berjalan setengah melamun. Tak memperhatikan kesibukan lalu lalang orang di sekitarnya. Elle masih terdiam ketika mereka berdua menaiki lift menuju ke lantai lima. Raffi hanya mengamati Elle dalam diam. Juga ketika mereka keluar dari lift, dan tubuh Elle yang seketika membeku ketika di depan mereka lewat serombongan paramedis yang mendorong brankar pasien menuju salah satu ruang perawatan.



Melihat Elle yang terdiam di tempat setengah melamun, Raffi menarik tangan perempuan itu, menggandengnya untuk segera berjalan kembali.



Sesampai di depan ruangan dokter pun, Elle juga seperti ragu saat hendak masuk. Raffi tak mengatakan apa pun, mempererat genggaman tangannya lalu membawa masuk perempuan itu ke dalam. Seorang dokter perempuan paruh baya yang kira-kira seusia dokter Firman menyapa mereka berdua ramah.



Setelah memperkenalkan diri, dokter itu—dokter Aini— mulai melakukan anamnesis seputar kondisi Elle. Setelah itu menyuruh Elle mengikutinya ke ruang periksa di mana asistennya telah menunggu dan mempersiapkan peralatan. Melihat Elle yang hanya terdiam, dokter Aini tersenyum.



“Bapak boleh ikut ke dalam kalau mau melihat kondisi bayinya.”



“Boleh, Dok?” “Boleh, mari silakan.”



Raffi bangkit dari duduknya. “Ayo, Elle?”



Elle berdiri setengah enggan. Setelah masuk ruang praktik dokter ini, ketakutannya sebenarnya mulai sedikit terpupus. Apalagi dengan adanya Raffi di sampingnya, dia merasa lebih aman. Namun setelah dokter tadi mewawancarainya seputar kondisinya, mau tak mau merasa bersalah karena tidak berusaha jadi ibu yang baik. Tanpa sadar Elle mengelus perutnya, lalu bangkit dan melangkah memasuki ruang periksa.



“Usia janin berjalan sekitar dua belas minggu. Tapi jika melihat dari sini, saya khawatir, bayi Bapak dan Ibu sepertinya kurang sehat. Apalagi dari penimbangan tadi ternyata berat badan ibu masih kurang. Di bawah angka normal di usia kehamilan seperti sekarang.” Seketika Elle menoleh pada Raffi. Lelaki itu meliriknya tajam.



“Saya ... saya selalu mual tiap kali makan, Dok. Apa pun sepertinya tidak bisa lewat tenggorokan saya,” kata Elle begitu mereka telah kembali duduk berhadapan di meja kerja dokter Aini.



Dokter itu tersenyum sambil mengetikkan sesuatu di komputernya, mengirim pesan ke instalasi farmasi resep obat untuk pasiennya itu. “Memang pada beberapa ibu hamil mengalami mual dan muntah semacam itu. Biasanya karena perubahan hormonal dalam tubuh. Sebenarnya wajar, karena biasanya keluhan semacam itu akan menghilang setelah memasuki trimester kedua. Yang jadi masalah adalah ketika ibu sama sekali tidak bisa menelan makanan, maka asupan gizi untuk bayi dipastikan tidak akan mencukupi. Tidak baik untuk perkembangan bayi.”



“Bagaimana kalau terlalu banyak minum kopi, Dok?” tanya Raffi tiba-tiba.



“Kopi?”



Raffi mengangguk. “Dalam sehari dia bisa minum lebih dari tiga cangkir kopi.” Elle meringis mendengarnya.



“Pada ibu hamil yang sehat, sebenarnya tidak ada pantangan apa pun. Asalkan tidak dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Saya rasa, tiga cangkir kopi sehari, dalam kondisi kehamilan yang selemah ini, sebaiknya dikurangi. Kalau bisa dihentikan dulu kebiasaan minum kopinya. Jika diteruskan, tidak baik, Bu, karena berisiko bayi lahir dengan berat badan rendah.”



Elle menelan ludah mendengarnya. Raffi meliriknya sekilas. “Dijaga baik-baik, Bu. Ini kehamilan pertama, bukan? Untuk Bapak, sebaiknya didampingi istrinya. Sepertinya kondisi fisik Ibu juga dipengaruhi faktor psikis selain faktor hormonal. Ibu sepertinya sedang mengalami stres. Dalam keadaan seperti ini, ibu hamil perlu lebih banyak dukungan dari keluarga, utamanya suami.”



Elle menunduk. Stres? Mungkin memang benar. Tapi dukungan keluarga? Suami? Dari mana dia akan dapatkan kalau keduanya saja tak dimilikinya?



Raffi pun merasakan perasaan bersalah yang sama, jadi kali ini sepertinya dia memang harus mengalah lagi. Ini sudah bukan lagi tentang dirinya, atau tentang Elle saja. Raffi menggenggam tangan Elle ketika mereka keluar dari ruangan dokter Aini saat dirasakannya ponsel di saku jeansnya bergetar. Diambil dan dibukanya pesan masuk, dari Sandro−tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.



Raffi lalu mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan itu. Kemudian memasukkan ponselnya kembali ke saku jeansnya. Menatap Elle dalam-dalam.



“Kali ini, please, Elle. Nurut sama aku. Jangan keras kepala lagi. Kalaupun bukan karena aku, seenggaknya untuk bayi ini.” Tanpa canggung, meski di sekitaran mereka beberapa orang terlihat berlalu lalang, Raffi mengusap perut Elle. Masih belum melepaskan tatapan matanya dari perempuan itu. Sembari terdiam, dan berpikir.



Ada berapa lapis sebenarnya, batasan antara cinta dan kebencian? Apa yang sebenarnya dia rasakan kini? Sekadar tanggung jawab? Atau sebenarnya, masih tetap sebuah cinta?



Setelah segala hal yang terjadi di antara mereka, Raffi merasa bukan hal yang aneh kalau apa yang sebelumnya dia anggap sebagai cinta kemudian berbalik jadi benci. Elle yang dikenalnya, dengan segala sikap egois dan keras kepala yang memuakkan itu, memang sangat patut dibenci.



Tapi, perempuan rapuh ini?



Dan setelah Raffi tahu apa yang telah menjadikannya sosok perempuan serumit itu, simpati menyeruak, yang tak mampu dia tahan dalam hati. Jika hanya sesederhana rasa simpati, atau tanggung jawab, kenapa tanpa menunggu waktu dia berlari mencari Elle, memaksanya mengakui kebenaran itu?



Apakah bahkan di antara kebencian yang mulai tumbuh subur dalam hatinya, asa itu masih saja membelukar dengan keras kepala?



Sepertinya batasan antara rasa cinta dan kebencian memang hanya satu lapisan tipis. Baik sekarang ataupun delapan tahun lalu, Raffi tahu, dengan menggelikannya dia selalu bisa jatuh cinta kepada perempuan ini bahkan di saat dia berada dalam titik terburuk dalam hidupnya. Yah, mungkin yang Raffi rasakan sebelumnya adalah kebencian. Tapi, mungkin juga rasa itu pada dasarnya masih tetap sebuah cinta.



Sementara itu, Elle tenggelam dalam kebimbangannya sendiri. Sejujurnya, dia merindukan lelaki ini. Sekali lagi dia mengingatkan diri sendiri, ini hanya tentang bayi itu. Bukan tentang mereka. Apalagi tentang perasaan lelaki itu terhadapnya. Sama sekali bukan.



“Kamu masih yakin mau menikah denganku?”



“Anak ini butuh kamu, butuh aku. Dia butuh punya orangtua yang lengkap.”


__ADS_1


Benar bukan? Semuanya hanya tentang bayi itu.



Dia tak punya pilihan lain, dia tak boleh bersikap egois lagi. Jika Raffi bisa bersikap seperti itu demi anaknya, kenapa pula dia tak bisa melakukan hal yang sama?



Elle pun mengangguk. Raffi tersenyum ketika akhirnya mereka menyepakati satu hal. Sementara Elle hanya memandangnya tanpa ekspresi.



Entah kenapa Elle merasakan keinginan yang demikian besar untuk menoleh ke arah lain. Seseorang seperti tengah mengawasinya. Benar saja. Ketika menoleh ke kanan, Elle dibuat tertegun. Refleks, dilepaskannya genggaman tangan Raffi.



“Mas Rayhan?”



***



“Jadi siapa yang sakit, Mas?”



“Salah satu anggota dewan direksi. Sudah sejak dua hari lalu sebenarnya dirawat di sini, tapi baru hari ini aku bisa menjenguk.”



Elle hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Rayhan.



Suasana gerai kopi itu tidak terlalu ramai. Sudah masuk jam kerja. Sudah terlalu siang untuk orang-orang sarapan sambil menyesap segelas kopi. Dan masih terlalu pagi untuk menghabiskan waktu makan siang di sana. Hanya ada beberapa orang yang mengisi meja kafe yang terletak di salah satu sudut gedung utama rumah sakit, paramedis yang baru saja melakukan pergantian sif setelah berjaga malam.



“Kamu ... masih belum sehat sepertinya? Wajahmu jauh lebih pucat dari terakhir kali kita bertemu. Kenapa kamu sebenarnya, Elle?” tanya Rayhan kemudian. “Jangan bikin aku khawatir,” tambahnya.



Elle meringis. Semakin tak enak hati pada lelaki itu.



“Sakit apa kamu sebenarnya?” tanya Rayhan lagi, melihat Elle yang hanya terdiam.



“Ada ... ada sedikit masalah, Mas. Jadi aku periksa tadi.”



“Dan dokter bilang apa?”



“Enggak apa-apa Mas, cuma anemia sama dismenore parah.”



Rayhan mengernyit. Meski sebenarnya masuk akal, nalurinya seperti mengatakan Elle sedang mendustainya. “Dan laki-laki yang bersamamu tadi siapa?”



Elle meringis lagi. Akhirnya keluar juga pertanyaan itu. “Temanku.”



“Teman kamu?”



“Iya.”



“Kalau memang kamu sakit, kenapa enggak memintaku mengantarmu untuk ke dokter? Malah minta diantar orang lain.”



“Mas kan sibuk, aku enggak enak.”




Sementara itu, Elle terdiam setengah menunduk sambil memutar-mutar gelas berisi air mineral. Mengingat pesan dokter Aini tadi, meski air liurnya sudah hampir menitik menghirup aroma kopi yang menguar pekat di seantero ruangan kafe, dia tahan kuat-kuat dan pilih memesan air mineral yang sudah pasti aman. Dia tak mau ambil risiko sampai merasakan mual di depan Rayhan jika memesan minuman lain.



Sikap diam Rayhan mulai membuat Elle resah. Bagaimana tidak? Kondisinya yang memburuk, dan desakan dari Raffi, dia begitu saja mengiyakan ajakan lelaki itu menikah dan seperti melupakan bahwa dia masih berstatus sebagai kekasih Rayhan. Sekarang, apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan?



“Elle. ”



“Ya, Mas?”



“Kamu ... kamu enggak pengin menjelaskan sesuatu kepadaku?”



“Menjelaskan? Menjelaskan apa?”



“Lelaki yang mengantarmu periksa tadi siapa?”



Elle menelan ludah. “Aku kan sudah bilang kalau dia itu temanku, Mas.”



“Teman? Kamu enggak sedang membohongi aku, kan?” tanyanya tajam.



Sekali lagi Elle menelan ludah, kelu. “Mas, aku. ”



“Sayang, sudah ini obatnya. Yuk, pulang.”



Seketika Elle menegang. Raffi sudah duduk santai di sebelahnya. Mengacungkan paperbag dari apotek yang dipegangnya. Saat melirik Rayhan, raut wajah lelaki itu sudah berubah keruh.



Raffi melirik gelas air yang dipegang Elle. “Enggak minum kopi lagi, kan? Ingat, dokter Aini tadi bilang, kopi enggak bagus buat bayi kamu.”



Demi Tuhan! Ingin rasanya Elle menyumpal mulut Raffi dengan scarf yang melilit lehernya agar lelaki itu diam.



“Elle... ?” gumam Rayhan menatap Raffi tajam. Sementara yang dipandang justru dengan santainya mengelus-elus perut Elle. Pelan Elle menepis tangan Raffi, lalu berbisik pada lelaki itu. “Please, pergi dulu. Aku mau bicara dengan dia.”



Raffi mengerutkan dahi heran. “Kenapa sih, Sayang? Bicara saja, aku tungguin. Setelah itu kita langsung pulang,” jawab Raffi dengan ekspresi polos dan tak tahu diri.



“Raff, please ... biar aku bicara dulu dengan Mas Ray. Tinggalin kami sebentar saja.”



“Sebenarnya Anda ini siapa?” tanya Rayhan akhirnya karena tak tahan melihat dua orang di depannya berkasak-kusuk sendiri seperti tak memedulikan kehadirannya.



“Saya calon suami Elle,” jawab Raffi lugas. Seketika mata Rayhan membelalak. Sementara Elle memejamkan mata frustrasi. Raffi ini memang benar-benar....



“Anda jangan mengada-ada. Sekarang Elle sedang menjalin hubungan dengan saya. Kenapa Anda mengaku-ngaku sebagai calon suaminya?”



“Kami memang akan segera menikah. Ya kan, Sayang?” kata Raffi sambil melirik Elle mesra, yang dibalas lirikan tajam perempuan itu. “Dia sedang mengandung anak saya.”

__ADS_1



Elle seketika menunduk putus asa mendengar bom yang barusan dijatuhkan Raffi. Sia-sia sudah dari tadi dia susah payah berusaha menemukan dan merangkai kata untuk menyampaikan pada Rayhan, untuk memutuskan hubungan baik-baik tanpa harus lelaki itu merasa tersakiti jika harus tahu tentang kondisinya. Rayhan sendiri sesaat hanya terdiam, terkejut, tak berkata apa-apa lagi.



Jadi, Elle tadi memang sedang memeriksakan kandungannya. Amarah semakin menggelegak dalam dadanya. Kalau saja tak ingat harus menjaga tingkah laku, ingin rasanya dia menghantamkan kursi yang kini didudukinya ke kepala lelaki yang barusan mengaku menghamili kekasihnya.



“Raff, please ... tinggalkan kami dulu. Nanti aku pulang sama kamu. Please ” pinta Elle putus asa.



Raffi diam sejenak memandang perempuan itu, lalu mengangguk dan beranjak. “Oke. Aku tunggu di depan sana. Jangan lama-lama.” Elle memutar mata mendengar kalimat Raffi. Tubuhnya seketika membeku ketika sebelum berlalu, lelaki itu mengecup sudut bibir kanannya singkat. Takut-takut diliriknya Rayhan yang menatap dengan mata menyipit tajam.



“Mas, aku—”



“Benar apa yang dibilang laki-laki tadi?”



Elle memejamkan mata sambil menghela napas dalam, sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Maaf, Mas. ”



Rayhan termangu. Ternyata memang benar.



“Kamu bisa-bisanya kamu lakukan hal semacam ini. Aku pikir semua gosip yang kudengar tentangmu itu enggak benar. Aku pikir kamu perempuan baik-baik tapi. ”



“Aku memang bukan perempuan baik-baik. Enggak ada yang salah dengan segala pemberitaan itu.”



Begini saja. Akan jauh lebih mudah kalau Rayhan menganggapnya perempuan jalang, perempuan murahan, jadi tak akan terlalu sulit lelaki itu untuk melepaskannya.



“Kenapa Elle, kurang apa aku ini? Sampai kamu berbuat seperti ini?”



Elle menggigit bibir. Dia tak akan bercerita pada lelaki itu, bahwa jika berdasarkan hitungan dokter Aini, dia sebenarnya sudah mengandung anak Raffi ketika mengiyakan lamaran lelaki itu untuk menjalin hubungan.



“Maaf, Mas. ” Hanya itu yang keluar dari mulutnya.



Rayhan memandanginya lekat. “Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Apa dia memaksamu?” tanya Rayhan lagi. Setengah menghibur diri. Sedikit berharap apa yang dialami Elle adalah sebuah kesalahan yang tak diniati dengan sengaja untuk dilakukan. Batinnya terlalu sakit membayangkan, perempuan yang dicintainya memadu kasih dengan lelaki lain hingga tumbuh benih di rahimnya.



Elle hanya menggeleng lemah. “Sudah enggak penting, Mas. Karena yang pasti, dengan kondisiku yang seperti ini, sudah enggak mungkin kita melanjutkan hubungan.”



Kali ini ganti Rayhan yang terdiam. Tak ada lagi yang bisa dia katakan. Lelaki itu menghela napas berat, lalu memandang Elle dengan sorot mata terluka. “Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?”



“Apa, Mas?”



“Kamu ... apa kamu pernah cinta sama aku?”



Elle terdiam sejenak. “Aku sayang sama Mas Rayhan.”



***



Beberapa meja dari meja yang diduduki Elle dan Rayhan, Raffi duduk tenang mengawasi keduanya. Meski raut mukanya tenang, tapi dadanya diamuk badai emosi.



Sebenarnya, belum hilang rasa sakit hatinya yang dulu pada Rayhan. Jika saja tak ingat di mana mereka berada sekarang, sudah dia hajar lelaki itu karena masih saja menjalin hubungan dengan Elle di saat perempuan itu sudah mengandung anaknya. Batinnya yang telanjur diamuk amarah membuat Raffi tak sampai pada pemikiran bahwa mungkin saja Rayhan memang benar tak tahu tentang kondisi Elle.



Impulsif sesaat tadi dia bertingkah absurd di depan Rayhan, melakukan sesuatu yang mirip seperti kelakuan perempuan-perempuan culas dalam drama televisi yang suka melebih-lebihkan fakta yang ada.



Tapi biarlah. Biar lelaki itu tahu. Agar segera berhenti berhubungan dengan Elle.



Raffi menyipit melihat Elle telah meninggalkan mejanya, mendekatinya dengan langkah agak limbung. “Kamu enggak apa-apa?” tanyanya sambil berdiri dari tempat duduknya.



Elle menggeleng. “Ayo pulang,” katanya.



“Kamu pusing lagi? Duduk dulu.”



“Enggak, Raff, pulang saja. Tambah pusing aku lama-lama di sini,” ketus Elle.



Raffi mengamatinya sejenak. “Ya sudah. Kita pulang.”



Melihat langkah Elle yang seperti agak sempoyongan, Raffi begitu saja melingkarkan lengannya di pinggang perempuan itu, berjaga-jaga andai dia terjatuh. Elle menepisnya dan berusaha berjalan sendiri. Apa-apaan Raffi, bukankah ini di tempat umum? Dia risi juga diperlakukan seperti itu. Tapi Raffi tak menyerah. Dia melangkah sejajar dengan Elle lalu menarik tangan kanan perempuan itu dan menggandengnya sambil berjalan. Ketika Elle coba melepaskan, dieratkannya genggaman tangannya, hingga akhirnya Elle menyerah dan membiarkan Raffi menggandengnya hingga sampai ke parkiran.



“Sudah puas kamu sekarang?” tanya Elle sinis begitu dia telah duduk di jok depan Jeep Wrangler hitam Raffi.



“Puas gimana maksudnya?”



“Puas memojokkan aku.”



“Memojokkan?”



“Iya. Tadi pagi kamu tahu-tahu sudah datang ke rumah Tante Indri, maksa-maksa aku. Lalu kamu menyeretku ke depan Tante Siera, memaksaku menikah denganmu, dan masih sempat-sempatnya mengungkit-ungkit masa laluku. Sekarang, kamu buka semua aibku di depan Mas Rayhan. Kamu memang niat banget ya, mau menyakiti aku,” gerutu Elle sinis.



“Aku memaksa demi kebaikanmu, demi kebaikan bayimu. Dan soal kekasihmu tadi, memang mau bagaimana? Masih bersama dia, tapi di perutmu ada anakku, begitu? Dia memang harus tahu. Aku cuma membantumu bicara.”



“Membantuku bicara, atau menghancurkan harga diriku, niatmu sebenarnya?”



“Lalu maumu apa? Harga diri yang mana?”



“Ah, sudahlah, terserah kamu! Capek.”



Elle menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata dengan lelah. Raffi benar-benar sudah keterlaluan hari ini padanya.



Raffi terdiam memandang wajah pucat yang merebahkan kepala dengan mata tertutup itu. Mungkin Elle benar, hari ini dia sudah bertindak keterlaluan.



Beberapa saat kemudian, menyadari sepertinya Elle sudah jatuh terlelap, Raffi lalu melongokkan badan mencari-cari sesuatu di jok belakang. Setelah menemukannya, lalu menyelimutkannya ke bagian atas tubuh Elle, menghalau udara dari pendingin udara mobilnya, mencegah perempuan itu masuk angin. Elle diam tak bergerak ketika Raffi menyelimutinya. Sepertinya memang sudah jatuh tertidur. Raffi tersenyum tipis, mengelus sayang perut perempuan yang tertidur tenang di sampingnya. Lalu menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya keluar pelataran parkir rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2