
Setelah mematikan keran wastafel, Elle terdiam menatap bayangannya sendiri. Meski telah bed rest sehari semalam, wajahnya masih terlihat pucat. Resep dokter Firman sepertinya tak banyak membantu. Buktinya, pusing dan mual masih saja menyerangnya.
Elle menunduk, dan pandangannya terpaku pada sesuatu.
Ada sikat gigi dan pisau cukur Raffi yang masih tertinggal.
Mengernyit, berpikir. Ah, mungkin dia terlupa. Biarlah. Nanti saja, setelah kondisi fisiknya membaik, akan dia bereskan semuanya. Membuangnya saja, mungkin.
Elle mengeringkan wajah, meneliti dirinya sendiri. Memutuskan bahwa bajunya sudah waktunya diganti. Sudah terasa lengket dan tak nyaman. Elle berjongkok, menarik selembar kaus longgar dari tumpukan baju rumahannya. Ekor matanya tertambat pada sesuatu. Selembar kaus lain, sepertinya tak sengaja ikut tertarik. Saat menarik keluar kaus itu dari tumpukan, berniat merapikannya, Elle terdiam.
Kaus Raffi.
Yang tertinggal malam itu. Tujuh tahun lalu.
Elle menyimpan kaus itu hingga kini. Membawanya ke mana pun dia pergi. Seperti jimat. Bahkan membawanya serta saat dia pindah ke Sydney. Mengenakannya tiap kali rasa rindunya pada lelaki itu tak dapat lagi ditahannya.
Elle menggeleng, meletakkan kaus biru itu ke tumpukan teratas setelah melipatnya rapi. Sepertinya setelah ini dia akan kembali sering mengenakan kaus itu kembali. Lagi-lagi Elle terdiam ketika sesuatu melintas dalam pikirannya.
Sydney.
Kenapa tak terpikir olehnya? Ya, tentu saja. Elle mendongak melepaskan napas lega, menemukan jalan yang dicari-carinya. Hal pertama yang harus dilakukannya setelah ini adalah mengembalikan kondisi fisiknya. Dia harus segera meyakinkan dokter untuk memberikan rekomendasi izin terbang untuknya.
Elle bangkit dan menukar pakaian.
Melangkah pelan, Elle ke luar dari kamar menuju dapur. Menemukan banyak sekali makanan yang dikirimkan Tante Siera dari restoran untuknya tadi siang. Meski telah mengatakan dia tak bisa menelan makanan apa pun kecuali roti gandum, perempuan baik hati itu tak peduli. Beliau tetap mengirim salah satu staf restoran membawakan makanan untuknya.
Seluruh makanan lezat racikan chef Adam itu sama sekali tak menarik minatnya. Dia lalu mengambil selembar roti gandum seperti biasa dan mulai mengunyahnya. Setelahnya, lagi-lagi entah apa yang mendorongnya hingga begitu saja dia sudah bergerak menyalakan kompor menjerang air untuk menyeduh secangkir kopi pekat.
Elle mulai menghirup aroma kopi, setengah melamun sambil mengamati cangkir enamel di tangannya. Cangkir kuno bermotif itu dulunya adalah milik mendiang ibunya. Kemudian diwarisinya, dan jadi cangkir kesayangan yang selalu dia bawa-bawa ke mana pun dia pergi.
Dia baru akan menyesap kopi itu ketika didengarnya bel berbunyi. Siapa yang datang malam-malam begini? Mungkin Rayhan. Dia memang tak mengatakan sedang bed rest pada lelaki itu.
Pelan Elle melangkah ke depan. Sementara bel masih terus ditekan berulang-ulang dengan sangat tidak sabaran. Kalau itu bukan Rayhan, Elle sudah siap memaki siapa pun yang bertamu dengan cara kurang sopan seperti itu. Ketika membuka pintu, perempuan itu hanya bisa mematung.
“Boleh masuk?” tanya tamunya.
Harusnya dia usir saja, tapi alih-alih menyuruhnya pergi, Elle justru mengangguk dan mundur memberi jalan pada tamunya untuk masuk.
“Ngapain kamu datang ke sini?” tanya Elle tanpa basa basi. “Ada perlu lah sama kamu.”
“Malam-malam begini? Enggak tahu apa, ini sudah jamnya orang istirahat? Kenapa enggak besok aja datang ke resto?”
Raffi tak menjawab, tapi menatap Elle tajam.
Demi Tuhan, perempuan ini. Kenapa mulutnya masih saja setajam itu?
Saat melihatnya tadi di depan pintu, Raffi sempat dibuat tertegun. Wajahnya pucat, cekungan dan lingkaran hitam di bawah mata terlihat terlalu jelas. Tulang pipinya, kenapa jadi semakin menonjol? Elle terlihat tidak sehat. Terlihat begitu ... lemah dan rapuh.
Seketika hatinya terusik. Untuk sesaat dia seperti merasakan sebuah dorongan kuat untuk mendekat, dan memeluk perempuan itu. Sikap ketus dan mulut tajam perempuan sialan itu, seperti menyadarkannya lagi pada apa tujuannya datang ke sini.
‘Ayahnya bayi kamu, Elle….’
‘Rayhan bukan ayahnya?’
Dua kalimat yang terus bergaung di kepalanya, sejak dia melangkah keluar dari halaman Maghali’s dua hari sebelumnya. Dua kalimat yang mengacaukan lagi perasaan yang sudah susah payah dia rapikan. Memorak-porandakan ketenangan yang dia dapat dengan usaha mati-matian.
Elle mengandung?
Dia masih saja sulit percaya. Meski jika dinalar, tak mustahil sebenarnya. Karena di antara gairah yang sering kali mereka umbar dengan membabi-buta itu, bisa saja terselip satu masa ketika mereka alpa.
Jika berita itu diterimanya beberapa bulan sebelumnya, mungkin akan dia sambut dengan suka cita, karena dia jadi punya kesempatan memiliki perempuan sialan itu. Memaksanya menggunakan bayi itu sebagai alasan. Picik memang, tapi itulah yang akan terjadi pada otakmu jika kau menjalin hubungan dan mencintai perempuan berhati batu seperti Elle. Buntu.
Saat diinginkan tak pernah didapatkan. Ketika ditinggalkan, kesempatan seakan datang. Takdir memang terkadang seperti itu. Tak sejalan dengan nalar manusia. Sekarang, apa yang mesti dilakukannya? Dengan adanya bayi itu haruskah dia kembali, lalu berlutut memohon pada perempuan sialan itu agar menerimanya lagi?
Sekian lama, demi alasan cinta, dia biarkan saja perempuan itu menarik ulur perasaannya. Bertingkah sesukanya. Menginjak-injak harga dirinya sebagai pria. Bukankah saat itu dia sudah berujar akan pergi? Tak akan mengganggu perempuan itu lagi, tak mau terlibat lagi dengannya, tak akan mencampuri lagi kehidupannya. Apa kali ini dia lagi-lagi harus menekan ego dan harga dirinya, meski kali ini dengan sebuah alasan yang berbeda: tanggung jawab? Raffi memejamkan mata sejenak. Berusaha menetralkan lagi apa pun yang berkecamuk dalam dadanya, agar dia bisa fokus pada tujuannya semula.
“Ada yang mau aku tanyakan,” kata Raffi. Sedingin dan setajam nada bicara Elle.
“Tanya apa, penting banget ya? Sampai malam-malam begini ngetok pintu rumah orang.” Elle masih menyahut dengan tajam.
Topeng. Topeng yang selalu digunakannya di hadapan Raffi. Untuk menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan dalam hati. Elle pun diam-diam mengamati. Penampilannya masih seperti biasa. Tapi jambang yang tak biasa, bayangan hitam kelopak bawah mata ... Elle tahu lelaki ini tak serapi biasanya. Kepalanya mendadak terasa pening setelah mengamati Raffi, pening dihantam perasaan khawatir sekaligus bersalah. Perasaannya mulai bergolak. Dan sialnya, isi lambungnya pun turut serta. Elle mengetapkan bibir menahan mual.
“Kamu enggak merasa perlu menjelaskan sesuatu kepadaku?” tanya Raffi akhirnya.
“Kupikir kita sudah enggak ada hubungan. Enggak lagi punya urusan, jadi apa yang mesti aku jelaskan?”
“Sekali ini saja lah Elle, enggak usah ketus begitu. Aku tanya baik-baik. Tolong, please ... jawab baik-baik juga.” Raffi terdiam sejenak. Emosinya yang sempat mulai terpancing harus lebih dulu diredam. “Kamu ... hamil. Anakku.”
Seketika Elle membeku. Dan panik.
__ADS_1
“Ngomong apa kamu? Hamil? Siapa yang hamil? Jangan-jangan kamu salah alamat. Perempuan lain yang kamu hamili, malah kamu datangnya ke sini,” kata Elle, masih dengan nada tak acuh yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Raffi.
“Kamu tinggal jawab saja, enggak perlu ngata-ngatain aku begitu.”
Elle mengernyit merasakan mual yang kembali menyerang. Diletakkannya punggung tangannya ke bawah hidung, menahan mulutnya agar tak mengeluarkan suara. “Jawab apaan sih, aku enggak ... hegh!”
Mendadak serangan mual hebat, mendesak apa pun yang susah payah bisa melewati tenggorokannya, dimuntahkan keluar. Tak bisa ditahannya lagi, Elle setengah berlari masuk ke kamarnya sambil membekap mulut dengan telapak tangannya.
Raffi tertegun di tempat. Menggeleng, lalu beranjak dan berjalan mengikuti Elle masuk ke kamarnya. Saat sampai di sana pintu kamar mandi tertutup. Dengan jelas didengarnya suara perempuan itu seperti sedang mengeluarkan seluruh isi perutnya. Raffi bergerak mendekat. Menarik handle pintu. Terkunci.
Raffi termangu di sana.
Apa Elle selalu seperti ini? Kalau memang iya, pantas saja wajahnya jadi pucat sekali.
Kira-kira setengah jam kemudian baru Elle keluar dari kamar mandi. Parasnya semakin memucat. Berjalan sedikit limbung menuju meja riasnya lalu duduk di sana, mencari-cari ikat rambut lalu menggulung rambutnya tinggi-tinggi.
“Kamu enggak apa-apa?”
Elle memutar badan, kaget mendapati Raffi menyusulnya. “Ngapain kamu di sini?” tanyanya dengan suara parau.
Raffi tak menjawab, mengulangi pertanyaannya. “Kamu enggak apa-apa?”
Elle terdiam, mengenali nada khawatir yang meski samar, terselip dalam kalimat tanya yang terucap dalam ekspresi datar itu. Nada khawatir yang dirindukannya. Tapi seperti sebelumnya, tatapan menusuk itu seperti mengembalikan kesadarannya untuk membangun benteng diri kembali.
“Aku enggak apa-apa.”
Raffi mengamatinya lagi. “Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, Elle.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Kamu sedang hamil, kan?”
“Siapa bilang?
“Enggak penting. Jawab saja.”
“Enggak.”
“Enggak usah bohong.”
“Dan muntah-muntah tadi apa?”
“Enggak ada, cuma masuk angin.”
“Ckk ... sudahlah, Elle ... jawablah yang jujur.”
“Enggak, Raff!”
Raffi memejamkan mata, mendengus frustrasi. Berkepala batu, seperti biasa. Dengan sisa kesabarannya yang tinggal selapis, emosinya cepat sekali terpantik. Raffi sudah akan membuka mulut ketika tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Setengah enggan, Elle beranjak. Meninggalkan Raffi yang masih terdiam di kamarnya. Siapa pula yang datang lagi malam-malam begini? Apa Rayhan? Celaka jika sampai lelaki itu datang ke sini di saat Raffi belum pergi.
“Elle ... Sayang?”
Elle sesaat melongo tak percaya. Lalu memekik gembira dan menghambur memeluk sosok yang tengah tersenyum hangat padanya. “Tante Indriiii!”
Indri tertawa pelan membalas pelukan erat anak asuhnya itu. Setelah mengurai pelukan, perempuan itu mengamati Elle lekat-lekat. “Kamu kenapa kurus sekali sekarang?”
Elle hanya menggeleng. Malah mengeratkan lagi pelukannya dan merengek manja. “Tante kapan pulang, kenapa enggak bilang apa-apa sebelumnya?”
Indri hanya terkekeh. “Kejutan, dong.”
Elle mencibir mendengarnya. Seperti baru sadar, Elle menoleh. “Sama Tante Siera juga? Kok bisa? Eh, masuk dulu, Tante,” ajaknya. Masih bergelayut manja pada lengan Indri, dibawanya perempuan itu masuk.
“Tadi kan Tante jalan-jalan dekat-dekat Maghali’s sana. Mampirlah. Kangen sama Siera. Sekalian mau ketemu kamu. Tapi katanya, kamu sedang sakit. ”
Seketika Elle membeku dalam rengkuhan Indri. Matanya melirik pada Siera. Apa Siera memberi tahukan tante Indri perihal kondisinya sekarang?
Di tengah keheningan, perhatian mereka tiba-tiba saja terfokus pada sesosok yang baru saja keluar dari kamar tidur Elle. Elle menelan ludah. Ah, celaka!
Indri lalu memandang bergantian dengan ekspresi bingung pada Elle yang terdiam membeku, dan pada Raffi yang juga seperti kaget melihat kehadirannya. Suara Siera-lah yang akhirnya memecah kebisuan.
“Raff, ngapain kamu di sini malam-malam begini?”
***
Suasana ruang keluarga yang didominasi warna biru tua itu terasa tegang. Belum ada satu pun yang angkat bicara sejak sang nyonya rumah meminta berkumpul tadi.
Si bungsu, yang biasanya cerewet dan banyak bicara hanya bisa memandang bingung pada kakak lelakinya yang tertunduk dengan raut muka kusut. Kepada ibunya yang belum pernah sebelumnya terlihat olehnya memasang ekspresi murka, menatap tajam pada anak sulungnya. Juga ayahnya, yang meski tampak tenang, tapi juga terlihat kebingungan dengan situasi ini, seperti halnya dirinya.
__ADS_1
Sepulang dari kantor ayahnya tadi, Dera sempat mendengar ayahnya yang menerima telepon untuk segera pulang. Ada sesuatu yang penting yang harus mereka bicarakan. Melihat perubahan mimik muka, Dera menduga pasti sesuatu yang serius tengah terjadi.
Meski sempat was-was sesuatu yang buruk terjadi pada salah satu anggota keluarganya, dia bernapas lega ketika sampai di rumah mendapati baik ibu maupun kakaknya dalam keadaan baik-baik saja. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, apa yang sebenarnya telah terjadi hingga ibunya terlihat semarah ini?
Sementara Siera memandang putranya dengan emosi menggemuruh di dada….
‘Kebetulan Elle, ada Mama, ada tante kamu juga. Jadi, sekalian saja kamu bilang di depan mereka, anak siapa yang di perut kamu itu.’
‘Diam kamu Raff, enggak usah ngomong macam-macam!’
‘Maksudnya apa ini Elle, Raff?’
‘Tante Indri belum tahu kalau Elle sedang hamil?’ ‘Raff! Diam kamu!’
‘Sudah, enggak usah mungkir lagi lah Elle. ’
‘Raff. ’
‘Mama juga sudah tahu kan kalau Elle sedang hamil? Tapi Mama dan Tante Indri enggak tahu kan itu bayi anak siapa?’
‘Raff, kalau kamu enggak bisa diam, keluar dari sini!’ ‘Bayi itu anakku, kan?’
‘Enggak!’
“Kamu harus menjelaskan semuanya ke Mama.”Raffi mengangkat wajah. Seketika rasa gentar terbit dalam hatinya. Ada amarah, amarah membara yang sepertinya jauh lebih besar dibanding ketika Raffi memutuskan pertunangan dengan Naura. Tapi, sudah telanjur ibunya tahu. Dia tak bisa mundur lagi, apalagi menutup-nutupi.
“Mama kan sudah tahu tadi,” jawab Raffi, memberanikan diri memandang ibunya.
“Maksud Mama, bagaimana bisa kamu bilang Elle hamil anak kamu sementara baru sebulan kemarin pertunanganmu dengan Naura kamu putuskan?! Jangan bilang kalau itu terjadi gara-gara masalah ini!” Suara Siera mulai meninggi.
Raffi menunduk kembali.
“Mama sudah tahu tentang kehamilan itu dari dokter Firman, tapi Mama enggak tahu kalau lelaki itu adalah kamu, Raff!”
Ayahnya membelalak kaget. Dan Dera, seketika menutup mulut karena nyaris memekik terkejut. Dia sudah hendak mengatakan sesuatu, ketika ekor matanya menangkap gelengan kepala ayahnya, mengisyaratkan agar dia diam.
“Mama enggak pernah mengajari kamu jadi laki-laki kurang ajar! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bilang bayi itu anak kamu, sementara Elle malah ngotot bilang bukan, jelasin sama Mama!”
“Karena itu memang anakku, Ma.”
“Lalu kenapa Elle malah bilang bukan?”
“Dia yang bohong.”
“Bohong? Kalau itu memang anak kamu, enggak mungkin Elle bilang bukan. Mama juga perempuan Raff, enggak mungkin ada perempuan yang mau menutup-nutupi anak siapa yang dia kandung dari ayahnya sendiri!”
Karena Mama bukan Elle.
Dan Mama juga enggak tahu seperti apa Elle.
“Apa kamu memaksa dia?”
“Memaksa gimana maksud Mama?”
“Kamu ... melecehkan dia?”
Raffi menggeleng. “Aku bukan laki-laki semacam itu,” gumamnya lirih. “Tapi bayi itu memang anakku, Ma, itu saja yang bisa kubilang sekarang.”
Siera menunduk, memejamkan mata sambil menguruti pelipisnya yang berdenyut-denyut. “Mama sudah enggak tahu lagi seperti apa sebenarnya kamu.” Suaranya terdengar lelah, membuat Raffi seketika meringis kembali ketika perasaan bersalah yang bertubi-tubi mulai menghunjam hatinya.
“Maaf, Ma. ”
Siera hanya menggeleng, lalu mendengus keras. “Mama benar-benar kecewa!” Siera lalu beranjak dan melangkah pergi tanpa mengatakan apa pun lagi.
Raffi sudah berdiri akan mengejar ibunya saat ayahnya memberi isyarat agar dia tetap duduk di tempat. Lelaki paruh baya yang masih gagah itu menyusul langkah istrinya masuk ke kamar mereka.
Raffi hanya bisa terpekur sendiri. Takut-takut Dera menggeser duduknya mendekat pada satu-satunya saudara yang dimilikinya itu. “Bang. ” panggilnya pelan.
“Hmm?”
“Itu tadi serius?”
“Yang mana?”
“Nggg yang Kak Elle lagi hamil anaknya Abang?”
Raffi menarik punggungnya bersandar di bahu sofa, meletakkan kepala dengan ekspresi lelah. Lalu mengangguk. “Iya. Kenapa, mau marah-marah juga kayak Mama?”
__ADS_1
Dera menggeleng. Dia justru melingkarkan tangannya memeluk perut kakaknya itu sambil tersenyum. “Selamat ih, Abang sudah mau jadi bapak,” ujarnya lalu terkikik sendiri. Raffi hanya mengangkat alis mendengar suara tawa terkikik Dera. “Jadi aku enggak perlu nunggu lama buat punya keponakan.”