CITY LITE: ANOTHER HEART

CITY LITE: ANOTHER HEART
Episode 2


__ADS_3

Hari masih pagi, dan Elle sudah duduk cemberut di sofa ranjangnya. Matanya menatap layar iPad, membuka email yang masuk tadi malam. Memejamkan mata, menarik napas dalam saat samar-samar aroma citrus menguar.



“Apa itu?”



“Email, dari Windy.”



“Kerjaan?”



“Iya.” Kepalanya menunduk lagi ke layar iPad.



“Kopi?”



Barulah Elle mendongak, tersenyum pada Raffi yang mengenyakkan diri di sampingnya. Elle meletakkan iPad-nya, menerima cangkir enamel yang terulur, meniup-niup sebentar sebelum menyesapnya. Pagi, Raffi, dan secangkir kopi. Sempurna.



“Sudah ambil keputusan, mau ambil tawaran yang mana saja?”



Elle menggeleng. “Belum tahu. Aku berencana kembali ke kitchen saja.”



Raffi menyipitkan mata. “Gracelle Ariadna berhenti jadi selebriti?”



“Aku chef, Raff. ”



“Iya … tapi kenapa?”



Elle menggeleng. “Sepertinya sudah cukup, aku pengin hidup tenang lagi.”



Elle memang telah menghitung sejak awal, bahwa keputusannya beralih dari dunia kuliner ke dunia selebrita berarti harus siap segala segi kehidupannya dikuliti media. Pun dengan kehidupan pribadinya. Elle yang nyaris tak pernah terlihat menggandeng sosok pria, menjadikannya kerap kali jadi sasaran pemberitaan sumir.



“Totally resign?”



“Enggak juga, sih. Masih akan kuambil satu penawaran mungkin, karena kalau serta-merta berhenti juga akan jadi pertanyaan, kan?”



“Tawaran mana yang paling menarik?” tanya Raffi.



“Ada satu talkshow, tayang sekali sepekan dan bukan acara live, jadi aku enggak harus taping tiap hari. Durasi episodenya dalam satu session juga enggak panjang.”



“Tawaran dari mana itu?”



“Global Channel.”



“Lalu, tawaran iklan?”



Elle menggeleng. Raffi diam. Mengamati Elle yang menyesap kopi sedikit melamun.



“Resign dari televisi, bagaimana kalau meng-handle operasional resto?” tanya Raffi kemudian.



“Resto?”



“Maghali’s?”



“Om Medy ke mana?”


__ADS_1


“Sudah pamit, pulang ke Sibolga.”



“Oh….” Elle terdiam, berpikir. Sementara cangkir berpindah tangan. “Tapi, apa Tante mau?” tanyanya kemudian.



“Malah Mama yang minta aku menawarkan ini ke kamu.” “Oh ya?”



Raffi mengangguk, menoleh saat mendengar ponselnya berdering. Elle yang meraih ponselnya karena lebih dekat dalam jangkauannya, lalu mengulurkannya pada Raffi.



Sekilas diliriknya layar. “Halo? Ya, Nay?” Sementara Elle mengambil cangkir lagi, meraup dengan kedua tangan. Menunduk. Mengamati dengan penuh perhatian pinggiran enamel yang terkelupas di bibir cangkir. “Iya ... aku ke kantor dulu pagi ini. Oh, mau mampir? Oke. Oke.”



“Dia enggak tahu kalau kamu enggak pulang?” tanya Elle begitu Raffi menurunkan ponsel dari telinga. Lelaki itu menggeleng. Lalu hening.



“Elle. ”



“Hmm?”



“Apa kamu belum berubah pikiran?”



“Berubah pikiran? Tentang apa?”



“Hubungan kita.” Raffi menunduk murung, mengamati kemeja hitamnya yang tampak longgar di tubuh langsing Elle, kontras dengan kulit putihnya. “Aku bosan.”



“Denganku?”



“Dengan hubungan semacam ini. Aku ingin menjalaninya dengan benar, bersamamu.”



“Kamu punya Naura, Raff.”




“Kesepakatan kita dulu enggak seperti itu.”



“Apa kesepakatan itu jauh lebih penting daripada perasaan kita?”



“Perasaanmu,” ralat Elle. Keduanya berpandangan. Ada percik ketidaksepahaman yang seketika terpantik. Elle tersenyum. Melarikan ujung telunjuk menelusuri kulit dada Raffi.



“Enggak ada masalah, Raff. Aku, dan hubungan ini, semuanya baik-baik saja. Enggak ada yang perlu berubah.”



“Baik-baik saja.” Sinisme itu terasa sekental kopi yang diracik Raffi pagi ini. Tidak ada usaha sedikit pun untuk menyembunyikannya.



Sebaliknya, Elle masih tersenyum. Kali ini sangat manis. “Jangan suka menakar orang lain selalu setara dengan standar yang kamu pasang untuk dirimu sendiri.”



“Aku mencintaimu,” kata itu terucap dengan segenap hati yang dia miliki.



“Aku tahu.”



“Dan itu enggak juga cukup untuk bisa mengubah pikiranmu?”



“Sepertinya, aku bisa menerima tawaran untuk restoran Tante.”



“Dan tawaran dariku?”



Elle tak menjawab. Meletakkan cangkir, dia beringsut ke pangkuan Raffi. Mengalungi leher itu dengan lengannya, tersenyum merayu, lalu menggeleng.

__ADS_1



***



Raffi tak terlalu sering datang ke Maghali’s sebelumnya, namun semenjak Elle setuju mengambil alih pekerjaan Medy Saragih— manajer terdahulu yang mengundurkan diri—sekitar dua bulan lalu, dia memang selalu menyempatkan mampir setidaknya sekali dalam sehari. Dan siang ini dia duduk setengah melamun dengan cangkir kopi di tangan, sesekali arah pandangannya tertuju pada lalu lalang pelayan dan tamu restoran. Sementara di seberang mejanya Elle tengah asik berceloteh riang dengan Aldera−adik semata wayangnya. Mereka berdua memang lumayan akrab sejak dulu. Ekor matanya sempat menangkap kelip di layar ponsel, pemberitahuan panggilan masuk dari Naura yang dia abaikan. Mereka akan segera bertemu di sini, untuk apa masih saja menghubunginya?



Naura sudah menyusun segala rencana untuk menggelar acara pertunangan mereka. Dan sudah pula atas sepengetahuan Siera, ibu Raffi. Jadi, siang ini dia dipanggil untuk membicarakannya. Perempuan terkadang bisa jadi licik dan manipulatif, pikir Raffi muram. Sudut bibirnya berkedut saat berserobok pandang dengan Elle yang tampak elegan dan efisien dengan setelan hitam-hitam dan rambut disanggul longgar di tengkuk. Sangat berbeda dengan gadis yang tak segan terlihat berantakan dan bertingkah liar seperti yang kemarin malam dicumbunya.



Lelaki itu mendesah resah. Teringat pada satu tajuk kolom berita populer yang ditemukannya di salah satu portal berita online.



Berita Terpopuler



Chef Seksi Gracelle Ariadna Akhirnya Berhasil Menggaet CEO Global Channel



Badan berita tak dibacanya, dia tahu sebagian besar berita kehidupan selebritas biasanya lebih banyak dibumbui opini daripada sajian fakta. Foto-foto yang terpampang bercerita lebih banyak daripada kata-kata. Apa semua itu benar? Sejatinya ingin dia abaikan saja. Tapi Raffi−walau tak bergerak di lingkar pergaulan yang sama, sesekali turut pula diundang dalam acara sosial kalangan media atau korporasi yang kerap menggunakan jasa agensinya−dalam beberapa kesempatan bahkan melihat sendiri bagaimana sikap dan perilaku konglomerat muda itu kepada Elle. Beberapa waktu lalu Elle malah datang sebagai pasangan Rayhan Danubrata di acara pernikahan putri seorang pengusaha kosmetik nasional. Sempat dia tanyakan kepada Elle, tapi seperti biasa, Elle selalu hanya mengatakan bahwa hal itu bukan urusannya.



Raffi masih saja tak habis pikir. Apakah lelaki itu yang jadi alasan Elle selalu menolaknya? Sementara jika bukan, perempuan normal mana yang suka ketidakpastian, atau hubungan tanpa label dan status yang bisa dipertanggungjawabkan?



Raffi menoleh saat mendengar ponsel Dera berdering, sebuah panggilan masuk yang sepertinya membuat gadis itu harus pergi dan memutus obrolan serunya dengan Elle. Saat adiknya beranjak pamit, Raffi menggeser posisinya jadi duduk tepat di sebelah Elle.



“Jadi, bagaimana?”



Elle menoleh. “Apanya?”



“Restoran ini.”



Yang ditanya mengedikkan bahu. “Enggak perlu terlalu dibenahi. Well organized. Kinerja Om Medy sudah bagus selama ini.” Elle mengedarkan pandangan ke sekeliling. “Stafnya juga sudah dipilih dari yang terbaik. Hanya saja ... aku berharap semoga mereka kooperatif dan bisa bekerja dengan baik di bawah arahanku.” Elle lantas tertawa pelan.



Raffi mengerutkan dahi. “Kenapa enggak?”



Elle masih tertawa. “Karena aku perempuan. Dan belum punya pengalaman memikul tanggung jawab sebesar ini. Apalagi selama ini gosip yang mereka percayai adalah, aku ini perempuan genit yang cuma bisa dandan dan enggak paham apa pun tentang manajemen resto.”



“Tapi Mama percaya kamu,” tukas Raffi. Elle tersenyum penuh terima kasih.



“Siang ini aku dan Mama akan membicarakan pertunanganku dengan Naura,” kata Raffi setelah terdiam beberapa jeda. Elle mengerjap.



“Wah, bagus dong. Selamat!” Diucapkannya tanpa senyum. Membuat Raffi kembali merasa jengkel. Apalagi jika teringat lagi berita dari media online itu.



“Kalau kamu bilang ‘jangan’, aku enggak akan melanjutkan.”



“Kalau memang enggak ingin melanjutkan, seharusnya itu atas dasar keputusanmu sendiri. Lagi pula, Raff, dalam kapasitas apa aku harus melarang-larang kamu?”



“Atau kubilang saja kepada Mama, tentang kita?” Raffi berniat sedikit menggertak.



“Kalau aku enggak mengiyakan, kupikir Tante juga enggak akan semudah itu percaya. Jangan jahat begitu dong, Raff. Kan kamu yang menawariku pekerjaan ini. Lantas, sekarang kamu mau aku dipecat karena pengakuanmu itu? Sudahlah, jalani saja pertunanganmu dengan bahagia.”



“Kamu enggak keberatan sama sekali, ya?” ketus Raffi. Elle menggeleng dengan ekspresi tak berdosa. “Bahkan kalau aku nanti menyentuhnya seperti ini?” Mata Elle melebar saat sadar tangan Raffi sudah bergerak turun ke bawah mengelus lututnya.



Elle melirik sekilas ke sekeliling, lalu berbisik. “Sudah seharusnya, kan? Jangan-jangan Naura malah berpikir kamu punya penyimpangan orientasi seksual kalau kamu nggak mau menggerayangi dia?”



Dengusan jengkel terdengar sebagai reaksi Raffi. Ditariknya tangan dari bawah meja, saat dilihatnya sosok ibu dan calon tunangannya melangkah melewati pintu masuk, lalu menegakkan tubuh, meski tak memperlebar jarak duduknya dengan Elle. Datar ekspresi wajahnya di saat ketiga wanita itu saling menyapa.



Naura dikenalnya sejak beberapa tahun lalu dalam acara orientasi pengenalan lingkungan kampus, salah satu anggota senat fakultas. Dua tahun lebih tua darinya, membuat Dera hingga kini tak henti meledeknya terkena sindrom mother complex. Mereka berteman sejak saat itu. Tapi Raffi tahu, mantan seniornya itu menaruh perasaan kepadanya. Awalnya Raffi hanya bermain-main, karena sesekali ingin melihat Elle menunjukkan raut cemburu kepadanya. Tapi semakin jauh, Raffi justru seperti kelimpungan dengan apa yang dipikirnya tak akan membawa dampak serius. Naura ternyata cukup tahan bersamanya, dan bisa mendekatkan diri kepada ibunya. Ibunya kini bersemangat sekali merancang dan mempersiapkan segala hal untuk pertunangan mereka.

__ADS_1



“Yuk, Nay, ke ruangan Tante saja. Raff ... ayo, Mama butuh bicara dengan kalian.” Naura mengangguk dan bangkit saat Siera memberi isyarat setelah puas berbasa-basi dan membicarakan beberapa hal dengan Elle. Begitupun Raffi. Sejenak dia masih setengah berharap ada perubahan ekspresi di wajah Elle, tapi perempuan itu hanya tersenyum melepas kepergian mereka. Lalu menunduk kembali menekuni layar iPad-nya.


__ADS_2