CITY LITE: ANOTHER HEART

CITY LITE: ANOTHER HEART
Episode 5


__ADS_3

Bulan Februari adalah salah satu puncak keramaian Maghali’s. Meja-meja yang tersedia biasanya sudah direservasi sejak jauh hari oleh pasangan yang ingin ikut menyemarakkan nuansa cinta. Kesibukan yang meningkat mau tak mau membuat seluruh pegawai bekerja lebih keras.



Setengah melamun Elle mengawasi seorang pelayan yang memasang taplak baru pada meja, ketika pundaknya ditepuk seseorang. Elle menoleh, mendapati pemilik Maghali’s tengah tersenyum padanya.



“Gimana persiapan buat malam ini?” Siera mengamati sekeliling.



“Beres, Tante, seperti biasa.” Elle mengacungkan jempolnya. “Tante, tumben jam segini baru ke sini?” tanyanya.



Siera menoleh sekilas pada Elle sebelum mengedarkan pandangan lagi ke sekeliling resto. “Tadi ada janji bertemu dengan Jeng Desy,” jawabnya. “Itu lho, ngobrolin rencana pertunangannya Raffi.”



Pertunangan itu tetap berlanjut?



Elle hanya tersenyum. Tak mengatakan apa pun.



“Ma....” Nyaris berbarengan Elle dan Siera menoleh. Siera seketika tersenyum semringah. Elle sesaat sempat tertegun, namun segera memandang Raffi tanpa ekspresi.



“Loh Raff, katanya tadi ke sini sama Naura? Mana dia?” tanya Siera.



“Ke toilet sebentar,” jawabnya singkat. Lelaki itu melirik Elle. Sekilas, tapi terasa tajam menusuk. Dan ... nyeri. Elle membuang muka ke arah lain, pada kesibukan pegawai restoran di sekitar mereka.



Pandangan matanya menumbuk pada sesosok perempuan yang berjalan anggun ke arah mereka. Elle mati-matian menahan diri tak mencibir.



“Hai, Sayang.” Siera menyapa Naura.



Yang disapa tersenyum, lalu memeluk dan mengecup pipi Siera. “Sori Tante, kami agak telat, tadi masih ada meeting di kantor. Raffi juga tadi jadi agak lama nunggunya,” katanya ceria.



Siera menggeleng. “Enggak apa-apa. Ya sudah, ayo makan malam sekarang saja sambil ngobrol-ngobrol.” Dia lalu menoleh pada Elle. “Ikut sekalian, Sayang, biar rame.”



Elle tersenyum manis, melirik ekspresi tak setuju yang samar dari wajah Naura. Raffi, lagi-lagi hanya meliriknya sekilas. Elle menggeleng. “Enggak Tante, makasih ... ini masih banyak kerjaan,” tolaknya halus.



Siera melempar pandangan tak setuju. “Tinggalkan saja sebentar, enggak apa-apa. Ayolah, mumpung lagi ngumpul ini. Sebentar lagi Om dan Dera nyusul,” bujuk Siera.



Elle hanya tertawa. “Enggak Tante, makasih ... beneran. Itu tamu-tamu sudah berdatangan. Masak mau aku tinggalin?”



Siera akhirnya hanya menghela napas panjang. “Ya sudah. Tapi kalau mau bergabung masih kita tungguin lho, dan kamu jangan sampai lupa makan.”



Elle tersenyum geli melihat ekspresi Naura. “Iya, Tante,” jawabnya kemudian.



Siera pun meninggalkan Elle menuju meja yang telah disiapkan untuk mereka di sudut utara restoran itu, diikuti Raffi yang menyusul dengan Naura di sisinya.



Keluarga sempurna, meski calon menantu perempuannya sedikit sakit jiwa. Di luar itu, tak ada yang bisa dicela. Elle menunduk, menyembunyikan senyum masam.



Sejak perbincangan terakhir mereka di basement apartemennya sekitar sebulan lalu, Raffi memang menepati janji. Tak lagi menemuinya. Tak sekalipun menghubunginya. Hatinya jadi nyeri karenanya, tapi, sudahlah. Dia sudah hampir melangkah menuju dapur memeriksa kinerja chef baru Maghali’s ketika merasakan ponsel di saku peplum blazer hitamnya bergetar. Saat membukanya, didapatinya sebuah pesan masuk. Rayhan Danubrata.



***



Raffi hanya mengamati, saat Rayhan masuk ke Maghali’s, lalu Elle yang mendatangi meja dan menyalami mereka satu per satu untuk berpamitan pulang.



“Raff, apa Elle ada hubungan sama ... siapa itu namanya?” tanya Siera, meski Elle tak memperkenalkannya ke meja mereka.



Raffi tak menjawab, justru Dera yang menimpali. “Mamaaa, itu kan pemilik Global Channel, Rayhan Danubrata. Gosipnya mereka memang pacaran,” Siera hanya mengangguk-angguk. Ayahnya hanya tersenyum mendengar celoteh anak gadisnya yang memang penggemar gosip.



“Kok bisa ya, Elle sama dia?” gumam Siera.


__ADS_1


“Bisalah Mam, Kak Elle kan cantik. Berbakat pula, seleranya bos-bos stasiun tivi tuh.”



“Sok tahu kamu,” cela Siera pada anak bungsunya, tapi Dera hanya cekikikan. “Sudah malam Raff. Anterin Naura pulang, gih?” kata Siera. Raffi mengangguk lalu bangkit dari duduknya.



Setelah berpamitan pada semua yang ada di sana, Raffi berjalan beriringan bersama Naura menuju area parkir di halaman Maghali’s.



Sepanjang perjalanan menuju rumah Naura di kawasan Radio Dalam mereka berbincang akrab seperti biasa. Naura tampak semringah dan bahagia. Raffi sesekali menimpali, di antara konsentrasinya mengemudi. Sesampainya di halaman kediaman megah orangtua Naura, Raffi ikut turun pula, mengiringi langkah perempuan cantik itu masuk ke dalam rumah.



“Hai, Raff?” sapa ibu Naura yang muncul dari ruang tamu. “Dari mana ini tadi?”



Raffi balas tersenyum sopan. “Dari resto, Tante, makan malam dengan Mama Papa,” jawabnya.



Desy, ibu Naura mengangguk. “Iya lupa, tadi siang Jeng Era kan sempat bilang sama Mama.” Perempuan itu terkekeh sendiri. “Maklum kalau sudah seumuran Tante, memori sudah agak-agak ... yah, tahu sendirilah.” Raffi tertawa pelan menanggapinya. Sementara Naura hanya diam, memandang keduanya dengan ekspresi bahagia. “Terus ini Raffi mau langsung pulang aja atau...?”



“Maaf, Tante, masih ada yang harus saya bicarakan dengan Naura, kalau boleh.” Naura menoleh penasaran pada lelaki itu, tapi Raffi hanya memberinya seulas senyum manis.



“Oh ... boleh. Sana masuk ke dalam. Tante masih nungguin Om ini, sudah di jalan katanya bentar lagi sampai,” balas Desy.



Setelah berpamitan, Raffi mengikuti langkah Naura masuk ke rumah bernuansa pink salem itu. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum memandang keduanya.



“Ngomongin apa sih, Raff?” tanya Naura penasaran. “Kita ngobrol di ruang tivi atau di kamarku?”



“Kamar kamu aja. Enggak enak kalau didengar Tante.”



Bicara dalam kamar. Berdua saja? Kemajuan, pikir Naura. Mungkin ini adalah indikasi keberhasilannya menyingkirkan Elle. Mungkin perempuan sialan itu telah jera, ketakutan di bawah ancamannya. Atau foto-foto yang beberapa waktu lalu dikirimkannya, menggoyahkan apa pun yang dirasakan Raffi pada perempuan jalang itu. “Masuk Raff, aku ambilin minum dulu,” kata Naura setelah membukakan pintu kamarnya. Raffi mengangguk, lalu melangkah masuk.



Setelah meletakkan kopi di meja dekat window seat kamarnya, dia menyusul Raffi duduk di sana. Lelaki itu sedang mengamati pemandangan teras samping yang berbatasan dengan tepian kolam renang.



Menyadari kehadiran Naura, Raffi menoleh dan tersenyum. “Kamar kamu nyaman banget,” komentarnya.




Raffi terkekeh. “Enggak apa-apa. Begini aja sudah bagus,” jawabnya.



Naura tersenyum bahagia mendengarnya, lalu dia teringat sesuatu. “Tadi mau ngomongin apa memangnya?” tanya Naura penasaran.



Masih dengan tersenyum, mengambil cangkir kopi di meja. Setelah menyesapnya, dia tampak berpikir. “Enak Nay, tapi masih terlalu manis,” katanya.



“Persiapan pertunangan kita, lancar kan?” tanya Raffi.



Naura memperbaiki posisi duduknya, matanya seketika bersinar. “Iya sih, tapi aku agak kesulitan mencari toko bunga yang bagus. Aku enggak mau nanti hanya menggunakan bunga-bunga lokal semacam lily atau krisan, kurang elegan menurutku. Menurutmu bagaimana?”



“Memangnya enggak ada sama sekali?”



“Ada sih, tapi kita mesti pesan dulu jauh-jauh hari.”



“Jadi itu masalah besar dong, ya?”



“Iya lah, aku mau acara kita nanti sempurna, di setiap detailnya,” tukas Naura. Raffi mengerutkan dahi mengamatinya. “Masih keburu apa enggak, mencari toko bunga yang sesuai dengan keinginanmu?” Naura mengangkat bahu sambil cemberut. “Kalau misalnya enggak ketemu, bagaimana?” tanya Raffi lagi.



“Aku bakalan kecewa, Raff. Tapi masak iya acara itu harus di-pending kalau bunganya enggak ada?”



“Jangan. Jangan di-pending. Batalkan saja sekalian,” tukas Raffi pelan.



Naura mengerjap. “Raff? Maksudmu apa?”

__ADS_1



“Dibatalkan saja. Karena bunganya enggak ada, dan mempelai lelakinya juga enggak ingin hadir.”



Naura memandang Raffi bingung. Mulutnya membuka, lalu mengatup lagi beberapa kali tapi tak ada yang bisa dia katakan.



“Aku enggak ingin menikah denganmu, jadi buat apa pertunangan itu digelar?” Raffi mengambil lagi cangkir kopinya. Bahkan meski tak berbasa-basi, percakapan ini terasa cukup memuakkan juga baginya.



Raffi merogoh saku bagian dalam blazer abu-abu gelapnya. Mengambil sesuatu, mengulurkannya pada Naura. Naura menerimanya dengan pandangan bingung, tak langsung membukanya. Melirik dari pinggir cangkir kopi yang disesapnya, Raffi bergumam. “Buka saja.” Dirinya melanjutkan lagi menghirup kopinya.



Setengah ragu Naura merobek pinggiran amplop itu. Mengeluarkan isinya. Foto. Belasan lembar foto. Foto dirinya dan....



Jantung Naura bagai berhenti berdetak. Wajahnya seketika memucat. Dengan jemari gemetar dibukanya satu per satu lembaran foto ukuran 4R itu, lalu mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa, bagaimana mungkin Raffi punya foto-foto semacam ini?



“Kenapa, Nay?” tanya Raffi, meletakkan cangkir kopinya kembali ke meja.



Naura menatap Raffi panik. “Kamu kamu memata-matai



aku?” desisnya lirih.



Raffi hanya mengangkat bahu. “Daripada menanyakan itu, apa kamu enggak merasa perlu menjelaskan sesuatu kepadaku?” tanya Raffi.



“Raff, ini enggak ini enggak seperti yang kamu bayangkan.



Aku enggak. ”



Sepasang alis Raffi terangkat. “Kamu enggak apa?”



“Kenapa kamu memata-matai aku?” tukas Naura defensif. “Kenapa kamu enggak menjawab pertanyaanku?”



Naura terdiam. Dia tentu saja ingin menyangkal. Tapi, mau disangkal seperti apa pun, foto-foto bicara lebih banyak fakta. Sial, dari mana Raffi mendapatkannya?



Melihat Naura hanya diam, Raffi menggeleng. “Aku punya hak menyelidiki siapa pun yang punya potensi kelak jadi istriku.”



“Kamu ... kamu, kamu enggak mungkin setega itu,” cicitnya putus asa.



Raffi mengangguk. “Memang. Memang aku enggak tega, tapi selain itu aku juga harus mengatakan yang sejujurnya. Aku enggak pernah mencintaimu. Melihat dari foto-foto itu, sepertinya kamu juga enggak mencintaiku, kan? Jadi buat apa kita menikah?”



“Aku ... aku mencintaimu. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan dari foto-foto itu. Percayalah, Raff. Kita bisa berusaha saling mencintai seiring berjalannya waktu.”



Raffi hanya menatapnya skeptis, lalu menggeleng. “Aku enggak mau,” balasnya.



Naura mulai merasa emosi. “Dan dia, memangnya dia juga mencintaimu?” Raffi yang memandangnya bingung kali ini. “Apa enggak seharusnya kamu berkaca dulu sebelum mengatakan hal itu? Kamu sama saja sepertiku. Mengejar-ngejar perempuan yang bahkan enggak peduli sama kamu.”



Raffi menyipit, ini sudah mulai melebar. Dia mulai tak tahan dengan pembicaraan ini, apalagi dengan lagak Naura yang mulai dikuasai emosi. “Kupikir itu bukan urusanmu, kita selesaikan ini baik-baik. Dan kembali berteman.”



Naura mendengus. “Semudah itu menurutmu?”



“Kenapa harus membuatnya rumit?”



“Kamu keterlaluan, Raff. Lima hari sebelum acara pertunangan itu, dan kamu—”



“Aku minta maaf sekali, Nay. Mungkin seharusnya sudah sejak lama kukatakan ini, tapi ... yah ... sekali lagi aku minta maaf.”



Naura terdiam. Menatap Raffi dengan ekspresi ganjil yang membuat lelaki itu mengernyit tak nyaman. Setelah segala usaha yang dilakukannya untuk mendapatkan Raffi?

__ADS_1



“Kamu keterlaluan,” desisnya dingin. “Dan sepertinya kamu juga enggak paham, apa saja yang bisa kulakukan.”


__ADS_2