
Elle membuka mata ketika matahari pagi menembus masuk lewat jendela kamarnya. Perempuan itu memicingkan mata, memandang jam bergambar induk ayam yang tergantung di dinding seberang ranjangnya. Jam setengah tujuh pagi.
Elle menarik selimutnya lagi, kembali meringkuk ketika ingatan sebuah mimpi aneh, berkelebat kembali di benaknya. Raffi datang ke kamar ini, terjaga menemaninya sampai pagi. Ah, ya ampun, apa-apaan dia sampai memimpikan hal tak mungkin seperti itu?
Elle mendesah sambil mengelus perutnya. Perutnya, atau bayinya, sepertinya sudah menggeliat meminta jatah kafein pagi ini. Meski masih malas beranjak, Elle memaksakan diri bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi sebelum melangkah keluar kamar membuat secangkir kopi.
Sesampainya di dapur, sambil bersenandung lirih dia memasukkan dua sendok teh kopi dan satu sendok teh gula ke dalam cangkir enamel lurik kesayangannya. Menuangkan air mendidih dari teko, mengaduk kopi setengah melamun.
Dia pernah membaca satu artikel, bahwa jika diamati di bawah mikroskop, kristal kafein ternyata memiliki bentuk
serupa jarum. Mungkin itu alasan logis kenapa ada orang tertentu yang merasakan nyeri lambung setelah minum kopi. Sementara dia, nyeri justru akan terasa jika kopi yang diminumnya diberi tambahan gula. Atau apa pun yang berfungsi sebagai pemanis. Kopi pahit, selalu terasa lebih bersahabat bagi lambungnya. Meski penjelasan tentang kristal kafein itu ilmiah, tapi dia juga berpikir bahwa itu hanyalah masalah keterbiasaan. Ada yang terbiasa menggunakan gula, ada yang terbiasa sekadar kopi saja. Seperti juga hidup, renungnya. Ada yang terbiasa dengan kehidupan yang manis dan bahagia. Ada yang terlalu banyak merasakan pahit dan duka. Dan dia, sepertinya termasuk dalam golongan yang kedua.
“Perempuan hamil jangan kebanyakan minum kopi.” Elle terbeliak.
“Ngapain kamu di sini, pagi-pagi begini?” Raffi tak menjawab, tapi menyodorkan segelas susu putih ke hadapan Elle. “Mestinya kamu minum ini.” Lalu mulai menghirup aroma kopi dari cangkir yang diambilnya dari tangan Elle.
Semalam Raffi memang menginap di sini. Elle yang mengigau tiada henti dalam tidurnya, dan tak juga melepaskan tangannya. Perempuan itu baru bisa tidur tenang, setelah Raffi mengalah dan ikut merebahkan diri di sampingnya. Berjaga dan memeluknya sampai pagi.
Tante Indri yang subuh tadi melihatnya keluar dari kamar Elle hanya tersenyum dan tak memberi komentar apa pun. Sebelum pergi, perempuan itu hanya berpesan agar dia mau memaksa Elle minum susu, bukannya terus-terusan menyeduh kopi seperti yang dia lakukan selama ini.
Elle memandang sengit pada Raffi yang terlihat santai menghirup kopi yang barusan diseduhnya. “Bukan urusanmu ya, aku mau minum apa.”
“Aku enggak peduli apa pun yang kamu minum. Aku cuma enggak mau anakku keracunan kafein kalau kamu terus-terusan seperti ini.”
Elle mendelik. “Ini anakku. Enggak ada urusannya sama kamu. Pergi saja dari sini.”
Raffi tersenyum sinis. Dasar perempuan. Siapa yang semalaman mengigau minta dia jangan pergi? Lihat sekarang, seperti apa kelakuannya! “Jadi, kamu mengaku juga kalau sedang hamil, kan?” ejeknya. Elle terdiam.
“Ini anakku, enggak ada urusannya denganmu!” ulang Elle.
“Enggak. Enggak bisa. Itu juga anakku.”
“Kenapa kamu yakin banget kalau ini anakmu, ha?!”
“Kenapa enggak?”
Elle mendengus sinis. “Memangnya, kamu pikir aku hanya tidur denganmu?”
Biar saja Raffi menganggapnya jalang, asal lelaki itu berhenti menyudutkannya. Lama-lama Elle lelah juga berkelit dan menghindar. Fisiknya sudah sedemikian lemah sekarang. Dia tak sanggup lagi jika masih harus beradu urat saraf dengan lelaki itu.
Di luar dugaan, Raffi justru mendekat padanya. Menatapnya dengan pandangan menilai. Dari ujung kaki, hingga ujung rambut hingga membuat Elle merasa risih. “Ya kita tunggu saja, sampai kita bisa buktikan secara medis kalau bayi itu memang anakku.” Raffi menelengkan kepala. “Tes DNA?”
Elle terdiam. Tak bisa membantah lagi.
Raffi mengamati perempuan itu. Merasa tak habis pikir, sedalam itukah trauma yang dia rasakan hingga seperti membutakan total mata hatinya? Hingga tak bisa, atau tak mau, melihat ketulusan yang selama ini dia berikan, dan sebesar apa cinta yang dia rasakan?
Jika dia tahu tentang hal ini lebih awal, mungkin akan lain cerita. Sedikit banyak Raffi menyesali, karena tak berusaha tahu lebih dalam tentang Elle sebelumnya. Tapi, kebenaran itu datang di saat rasa letih itu sudah mendera hatinya. Tak ada lagi toleransi tersisa, kecuali amarah dan sakit hati.
“Terserahlah, Elle, mau ngapain juga itu bukan urusanku. Aku sudah bilang kalau aku enggak akan peduli lagi, kan? Tapi kalau itu sudah menyangkut anakku, jangan harap kamu bisa semaunya.”
__ADS_1
Elle mengernyit, setusukan nyeri menikam hatinya.
Benar bukan? Hanya bayi itu yang kini diperhatikan Raffi. “Sekarang, kamu minum ini. Enggak usah kebanyakan alasan. Kalau kamu saja kurus begitu, mana ada nutrisi buat anakku?” sindir Raffi tajam.
Elle menggemeretakkan rahang. Tak membalas tiap perkataan pedas lelaki itu, lelah bersikap defensif. Lagi pula dia juga tahu, kebiasaannya minum kopi yang berlebihan memang tak baik untuk kesehatan janinnya.
Tanpa kata, Elle meraih gelas susu yang disodorkan Raffi. Membuat sudut bibir lelaki itu sedikit terangkat melihat Elle yang kali ini mau menuruti apa katanya tanpa banyak mendebat dengan keras kepala.
Kalau saja perempuan ini bersikap seperti ini sejak lama....
“Heghhh!”
Raffi mengernyit. Elle menggeleng. Lalu mencoba lagi meminum susu itu, tapi....
“Heghhh!”
Elle menjauhkan gelas itu lalu membekap mulutnya sendiri dan berlari ke wastafel. Rasa mual hebat yang menyerangnya membuatnya seketika ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Padahal sama sekali belum ada sesuatu yang ditelannya pagi ini.
Lagi-lagi Raffi mengernyit. Melihat Elle terus berusaha memuntahkan isi perutnya, padahal tak ada yang keluar sama sekali. Rasanya pasti sakit sekali.
Beberapa saat kemudian setelah membasuh mulutnya dan meneguk air putih, Elle memandang Raffi mencela. “Aku enggak bisa minum susu. Lihat sendiri, kan?”
Raffi terdiam. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba saja dia mengambil gelas susu Elle. Meneguknya, lalu berjalan mendekat dan meraih wajah perempuan itu dengan kedua tangannya, menautkan mulut mereka.
Elle seperti membeku, tak mengantisipasi tindakan Raffi. Tak bisa menghindari ataupun melawan. Namun secara tak terduga, cairan putih yang tadi aromanya saja membuatnya mual, setelah bercampur saliva lelaki itu justru bisa lewat tenggorokannya tanpa sedikit pun penolakan.
Elle seperti linglung ketika Raffi melepas ciumannya. Sementara Raffi sendiri setengah merutuki dirinya sendiri atas sikap impulsifnya yang tak dapat dia kendalikan. Cepat-cepat ditepisnya rutukan dalam hati. Itu tadi semata demi kebaikan anaknya. Bukan yang lain.
Elle menatap gelas itu setengah ragu. Masih dengan jantung berdebaran liar, diambilnya lagi gelas itu. Setelah mendekatkan ke hidungnya dan tak terjadi apa pun, Elle memberanikan diri meneguknya.
Hingga tandas isi gelas itu, tak ada dia rasakan mual. Tanpa sadar Raffi menghela napas lega. Lalu terlontarlah kalimat bernada mengejek. “Kalau dengan cara ini kamu jadi bisa minum susu, aku enggak keberatan datang ke sini tiap hari. Asal anakku enggak kurang gizi.”
“Enggak perlu,” tukas Elle cepat.
Berarti dia memang bisa minum susu. Harusnya dia bisa. Dan dia tak sudi mendapati sorot mengejek terpancar jelas dari mata Raffi. Mulai hari ini dia akan memaksa dirinya sendiri. Tak sudi dia menerima anggapan bahwa dia mengharap lagi ciuman dari lelaki itu.
Lamunan Elle terpecah oleh suara dering ponsel Raffi. Sesaat lelaki itu terdiam setelah membaca pesan yang barusan masuk. Dia menoleh pada Elle, dan menatapnya.
“Mama ingin ketemu kita hari ini.”
***
“Kalian sudah membuat keputusan, mau apa kalian berdua selanjutnya?” tanya Siera tajam. Masih terlihat marah dan kecewa. Seketika Raffi dan Elle berpandangan. Elle hanya menggeleng pelan dan menunduk lagi.
“Aku mau bertanggung jawab, Mam. Kami harus menikah,” jawab Raffi tegas, lalu melirik tajam pada Elle. “Tapi enggak tahu kalau dia, maunya apa,” sindirnya.
Elle meringis. Kenapa Raffi sekarang malah memojokkannya? “Kamu ... gimana Elle?” tanya Siera kemudian.
“Aku ... aku mau tinggal di Sydney lagi, Tante.”
__ADS_1
Raffi seketika memutar mata kesal sambil mendengus keras.
Siera menatapnya bingung. “Sydney? Maksud kamu apa, Elle? Kamu sekarang sedang mengandung anaknya Raffi, iya kan? Kenapa malah mau pergi ke Sydney, lalu bayi kamu nanti
bagaimana?”
“Aku mau mengurus dia sendiri saja, Tante,” jawabnya.
“Kamu mau membawa pergi anakku, supaya dia enggak punya ayah juga seperti kamu, begitu?”
“Raff!” Seketika Siera menegur anak lelakinya. Tak pantas mengomentari masa lalu ibu calon anaknya dengan nada sesinis itu.
Elle hanya tersenyum masam mendengarnya. Mau menikahinya dia bilang tadi?
Pernikahan macam apa yang akan dia jalani, dengan lelaki yang selalu memandangnya dengan penuh benci? Karena janin di perutnya semata? Kalau sekadar itu, Elle tak butuh. Dia yakin bisa membesarkan anaknya sendiri. Tak butuh siapa pun. Bahkan andai itu seorang Raffi.
Raffi sendiri membuang pandangan ke arah lain. Rahangnya mengeras, pelipisnya kembali berdenyut menahan emosi. Sydney? Demi Tuhan, apa yang sebenarnya ada di kepalanya sampai mau mengambil langkah tak masuk akal semacam itu?! Jelas-jelas dia sudah mau bertanggung jawab, tapi kenapa Elle masih saja keras hati?
Sementara Siera terdiam mengamati dua manusia di hadapannya. Aura permusuhan kental dirasakannya. Perempuan itu tak henti bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi? Kemarin suaminya hanya mengatakan bahwa putranya mencintai perempuan itu sejak lama, dan hubungan mereka selama ini dijalani atas persetujuan bersama. Suka sama suka. Kenapa sekarang terlihat seakan Raffi sangat membenci Elle?
“Sebenarnya, Tante sangat kecewa dengan kalian berdua. Kalau saja kalian tahu, Tante enggak pernah keberatan andaipun kalian menjalin hubungan, tapi tidak dengan cara seperti ini.”
“Maaf, Tante. ”
Siera menggeleng. “Tapi semuanya sudah terjadi. Sudah enggak ada gunanya juga Mama marah-marah sama kamu, Raff. Apa pun masalah yang terjadi di antara kalian berdua, Tante enggak mau tahu. Itu urusan kalian, Tante enggak akan ikut campur. Selesaikan sendiri. Tante cuma mau kalian pikirkan bayi itu. Jadi, sekali lagi Tante tanya, mau apa kalian selanjutnya?” tanya Siera.
“Tentu saja kami harus menikah, kan, Ma?” sahut Raffi.
Siera memandang putranya dalam diam. Meski kecewa karena perbuatan Raffi, setidaknya dia lega karena ternyata tak membesarkan seorang lelaki pengecut yang akan lari dari tanggung jawab. “Dan kamu Elle, masih ingin ke Sydney?” tanya Siera kemudian.
Elle masih terdiam. Pikirannya bimbang, sibuk menimbang di bawah tatap tajam mata Raffi yang mengawasinya dalam kebisuan.
“Pikirkan baik-baik, Elle, enggak mudah membesarkan bayi sendiri. Apalagi Raffi enggak lepas tanggung jawab, kan? Kasihan bayimu. Tante juga enggak tega kalau calon cucu Tante nanti tumbuh tanpa kasih sayang dan perhatian yang cukup, sementara sebenarnya dia punya keluarga yang lengkap.”
Elle masih saja bimbang. Tapi, nada suara Siera yang merendah, dan ekspresi tulus saat mengatakan penerimaannya pada janinnya tadi, mulai menggoyahkan keteguhannya.
Akhirnya dia mengangguk. “Ya sudah Tante, aku setuju nikah sama dia,” putusnya.
Siera mendesah napas lega. “Bagus kalau begitu. Nanti biar Tante dan Indri yang urus biar kalian bisa secepatnya menikah. Kamu istirahat dulu, pulihkan kondisi. Biar cepat sehat dan fit lagi,” kata Siera sambil tersenyum. Elle hanya mengangguk. Siera lalu menoleh kepada Raffi. “Oh ya Raff, kamu tadi katanya mau anter Elle?” tanya Siera. Seketika Elle mengerutkan dahi kebingungan.
“Iya, Ma.”
“Kapan?” tanya Siera.
Raffi beranjak dari duduknya. “Sekarang. Ayo,” ajaknya pada Elle.
Elle lagi-lagi hanya mengernyit heran. “Ke mana?”
“Periksa kandungan kamu. Ke rumah sakit.”
__ADS_1
Elle menelan ludah. Raut wajahnya kembali memucat.