
CHAPTER 1
HARI YANG TENANG, TIBA-TIBA...
Tiga hari telah berlalu sejak ujian di pulau tak berpenghuni. Di kapal pesiar
mewah yang disediakan oleh sekolah kami, tidak ada catatan yang terjadi
dan munculah ketenangan.
Bagi murid yang masih pemula di masa muda mereka, harus menjalani
hidup di pulau seperti itu, sebagian besar pasti akan kehilangan akal sehat
mereka.
Di hari terakhir, kami anak laki-laki kurang lebih seperti binatang buas dan
hewan karnivora yang aktif. Saat kami melihat perempuan-perempuan
yang membuang-buang waktu mereka, kami anak laki-laki bersama-sama
mulai mengharapkan pengalaman yang ditakdirkan bersama para gadis. Ini
merupakan kapal pesiar mewah dimana kau bisa kehilangan dirimu sendiri
di dalam dunia mimpi dan melupakan segala hal yang buruk. Bahkan jika
seseorang jatuh cinta di sini, itu sama sekali tidak aneh.
Selain itu, aku pernah mendengar beberapa cerita tentang para siswa yang
saling berkencan dalam pelayaran ini dan pasangan baru dilahirkan setiap
harinya. Sayangnya, pertemuan seperti itu tidak mungkin terjadi padaku
dan aku terus menghabiskan waktu sendirian dalam kesendirian.
Situasiku sama seperti sebelum ujian di pulau tak berpenghuni. Tidak.
Mungkin lingkungan sekitarku memang sudah berubah? Meski
bertentangan dengan kemauanku, aku masih terpaksa mengubah jalur
yang sebenarnya setelah memasuki sekolah ini.
Awalnya, aku memilih masuk di sekolah ini untuk alasan yang sangat
spesifik. "Kontak dengan luar dilarang hingga kelulusan". Aturan sekolah
itu adalah alasan kenapa aku masuk. Saat ini, "orang-orang tertentu"
mencoba menghubungiku dari luar. Chabashira-sensei lah yang
memberitahuku tentang ini. Selanjutnya, dia memerasku untuk
membantunya membawa kelas ke Kelas A dengan mengancam akan
mengeluarkanku dengan paksa jika aku tidak mematuhinya.
Itu akan menjadi cerita bodoh di satu sisi, tapi karena tidak memiliki
kekuatan untuk menolak, aku terpaksa mengikutinya. Aku tidak memiliki cara untuk memastikan kebenaran dari ucapannya, jadi aku memutuskan
untuk bermain aman dengan menganggapnya benar.
Tapi aku tidak akan diperas olehnya selamanya. Untuk saat ini, aku akan
mengumpulkan informasi yang diperlukan dan tergantung pada keadaan,
aku harus melakukan langkah pertama.
Iblis manis berbisik ke bagian belakang kepalaku. "taklukan mereka
sebelum mereka menaklukanmu". Hanya itu yang harus aku lakukan. Tapi
pikiran keras semacam itu hanya sesaat, aku segera kembali ke cara
berpikirku yang biasanya pasif.
‘Seandainya saja aku memiliki kekuatan untuk memukul poros bumi dari
keseimbangan’ pikirku.
Jika aku bisa melakukan itu, tidak perlu khawatir akan hal sepele seperti
ini. Mengatakan itu, aku melamun tentang hidup di dunia Dragon Ball. Para
siswa pada awalnya merasa tidak nyaman setelah ujian berakhir dengan
memikirkan sesuatu yang lebih akan datang. Tapi tidak ada yang terjadi.
Pelayarannya tenang, damai dan menyenangkan. Hampir seolah seperti
liburan musim panas telah menimpa kami. Wajar saja, para siswa beralih
ke suasana meriah. Selama perjalanan dua minggu ini sepertinya minggu
yang terakhir tidak lain hanyalah liburan yang mewah dan berkelanjutan
bagi para siswa.
Para siswa sangat santai sejak ujian di pulau itu baru saja berakhir. Dan itu
bukan hal yang buruk. Fakta bahwa siswa mampu tetap tenang selama
ujian itu sendiri adalah alasan kenapa kami bisa mendapatkan hasil yang
baik.
"Hmm? Kau berada di kamarmu sepanjang hari?".
Teman sesama murid laki-lakiku, Hirata Yousuke adalah orang yang
memanggilku.
"Tidak ada alasan bagiku untuk pergi keluar, lagipula aku tidak punya
seseorang untuk aku habiskan waktu dengannya"
"Itu tidak benar, Sudou dan Horikita masih ada,"
Memang, Sudou dan Horikita adalah orang-orang yang secara teknis bisa
aku kategorikan sebagai "teman". Tapi hanya karena kau tergolong sebagai
"teman"
masih sebuah tingkatan dan jika kau berada di bawah tingkatan itu,
perlakuan antar teman akan tetap berbeda. Terkadang saat orang jalan-
jalan, mereka hanya akan mengajakmu pergi dari 10 acara. Aku adalah
orang yang seperti itu yang ada hanya untuk diundang sekali dalam 10
acara.
"Aku pikir Ayanokouji-kun akan bisa membuat lebih banyak teman jika kau
sedikit lebih aktif"
Orang ini adalah orang populer yang banyak disukai dan didukung oleh
banyak murid. Secara khusus, anak perempuan sepertinya sangat
mempercayainya. Ia juga memiliki pacar seperti Karuizawa. Bagi orang
yang beruntung dan bahagia seperti Hirata, dia tidak akan pernah mengerti
penderitaan penyendiri sepertiku.
"Cara berbicara Ayanokouji-kun sudah bagus, kau hanya butuh pemicu
untuk mengobrol" dia terus memberitahu. Aku tidak membutuhkan
kebaikan kejam seperti itu.
Aku tidak membutuhkan kata-kata dari gadis-gadis seperti "Eeh... kau
terlihat seperti kau bisa menjadi populer". Karena jika aku membalasnya
dengan "Menjauhlah dariku" mereka hanya akan mengatakan "Itu sedikit
merepotkan". Itu karena aku tidak bisa mendapatkan teman atau memiliki
pacar sehingga terpaksa menghabiskan waktu sendirian seperti ini.
Hirata kemudian mengatakan kepadaku,
"Aku berencana pergi bersama Karuizawa-san pada jam 12.30 untuk
makan siang bersama. Maukah kau ikut bersama kami, aku yakin akan
menyenangkan jika kau bersama kami"
"Apa hanya Karuizawa?" aku bertanya kepadanya.
"Tidak juga, ada 3 perempuan lain yang akan bersama kami. Apa kau tidak
menyukainya?"
Jika aku harus mengakui kebenaran, aku sudah lama ingin sedikit bicara
dengan Karuizawa untuk sementara waktu. Tapi... tidak perlu terburu-
buru. Selain dengan perempaun-perempuan lain yang ikut bersama kami,
akan sulit untuk memulai pembicaraan dengannya dan aku pasti tidak akan
memiliki napsu untuk makan siang.
"Aku harus melewatinya saja, kurasa aku tidak akan pernah berteman
dengan kelompok Karuizawa,"
Dengan selesainya semester pertama kami, hubungan antara teman sekelas
sudah diatur dalam batu. Tidak mungkin aku bisa membangun hubungan
baru dengan orang lain pada saat ini. Aku sudah bisa membayangkan
ketidaksukaan Karuizawa terhadapku.
Hirata duduk di dekatku, setelah menyadari bahwa aku tidak ingin
memulai hubungan baru dengan orang lain.
"Aku bisa mengerti kenapa kau menjadi enggan, tapi aku ingin kau
bergantung kepadaku" Hirata akhirnya memberitahuku.
Hirata pun siap membantu kapanpun dan dimanapun dengan wajah yang
menyenangkan itu. Untungnya aku menolak tawarannya dengan
menggelengkan kepala.
"Hanya 10 menit sebelum makan siang, aku pikir kau harus
meninggalkanku sekarang"
"Tidak perlu terburu-buru, selain itu aku merasa nyaman bersamamu
seperti ini sekarang" Hirata cepat menjawab.
Sekilas kau mungkin berpikir bahwa aku hanya berusaha terdengar kuat
atau membuat alasan, tapi sebenarnya aku cukup puas dengan situasiku
saat ini. Tentu saja, ketika aku pertama kali datang ke sini, aku berpikir
bahwa aku bisa menghasilkan 100 teman dan masuk dengan tekad seperti
itu.
Tetapi semangat itu cepat mereda. Meski aku bisa berteman dengan 3 Idiot,
Horikita, Kushida dan Sakura. Lebih dari itu, kehidupan sekolah sosialku
tidak terlalu buruk, aku bisa yakin dengan hal itu. Tapi pria bernama Hirata
tidak bisa meninggalkan teman sekelas berkubang dalam kesepian seperti
ini. Dia mengatakan kepadaku,
"Lalu bagaimana kalau kita makan siang bersama. kita berdua saja, bisakah
kau bahagia dengan itu?" dia melanjutkan untuk bertanya kepadaku
Hanya kami berdua sekarang, dengan Hirata menatapku tajam. Sepertinya
dia akan terus mendesakku sampai akhir.
"Aku baik-baik saja dengan itu, tapi kau perlu mempertimbangkan
perasaan Karuizawa"
"Baiklah, aku bisa makan dengan Karuizawa-san kapan pun aku mau, tapi
denganmu Ayanokouji-kun, aku punya sedikit kesempatan untuk makan
bersama" jawab Hirata.
Seseorang seperti Hirata tidak bisa memperhatikan kenyataan bahwa pada
dasarnya dia meminta orang lain untuk makan siang. Dengan cepat aku
berpikir mungkin dia tersirat "seperti itu". Meski popularitasnya tidak
wajar, Hirata selalu bisa mempertahankan rasionalitasnya sebagai laki-laki.
"Aku tidak ingin Karuizawa membenciku nanti" kataku padanya dalam
usaha untuk menolak tawarannya dengan sopan.
Sepertinya akan bekerja dengan menarik hati nurani Hirata. "Tidak
masalah, Karuizawa-san bukan tipe yang marah padamu karena sesuatu
seperti itu"
Tidak tidak. Karuizawa pasti tipe perempuan yang sama seperti yang ada di
pikiranku. Bahkan jika dia berpura-pura diam di depan Hirata, dia pasti
tipe yang dominan saat berhadapan dengan gadis-gadis lain. Mungkin dia
belum mengungkapkan sisi asli dirinya kepada Hirata? aku pikir.
Dia hampir terlihat seperti seorang guru yang baik yang dengan senang
hati membantu siswa yang bermasalah.
"Kurasa aku akan membatalkan makan siang dengan Karuizawa-san
setelah semua ini"
Dengan cepat dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Karuizawa.
Aku mencoba menghentikannya tapi Hirata menggunakan tangannya untuk
menutupi mataku dan menghentikanku.
"Apa kau memiliki sesuatu yang ingin kau makan?"
dia bertanya padaku. Aku terpaksa mendengarkan Hirata membatalkan
kencan makan siang bersama Karuizawa.
"Aku bisa makan apa saja... aku ingin menghindari makanan berat jika
memungkinkan"
Kapal pesiar ini memiliki banyak restoran. Menunya mulai dari makanan
cepat saji seperti ramen dan hamburger hingga masakan Prancis. Karena
masih siang hari aku ingin makan makanan ringan jika itu memungkinkan.
Seperti yang aku duga, Hirata benar-benar membatalkan kencannya
bersama Karuizawa untuk ini. Aku tidak bisa dengan jelas mendengar
suara Karuizawa melalui telepon, tapi Hirata dengan paksa menutupnya
dan membatalkan rencananya.
"Apa kau baik-baik saja dengan ini?"
"Tentu saja, ayo kita pergi ke dek, kalau hanya makanan ringan saja akan
lebih mudah untuk makan di luar sana"
Hirata membuka pintu dan menarikku keluar dari sana.
"Terima kasih atas kerja samamu selama ujian di pulau. Aku tidak bisa
cukup hanya dengan berterima kasih, Ayanokouji-kun, kau bahkan
membantuku mencari pelakunya"
"Jangan berterima kasih untuk itu, kartunya milik Horikita, dia yang
menemukan pelakunya yang mencuri pakaian dalam" aku segera
mengatakan kepadanya sebagai tanggapan.
"Tentu itu benar, tapi aku masih ingin mengucapkan terima kasih kepada
Ayanokouji-kun yang bekerja sama denganku tanpa syarat”
Berbicara tentang celana dalam, masih ada sesuatu yang ingin aku
tanyakan kepadanya. Aku melihat sekeliling untuk melihat apakah ada
orang di sekitar sini.
"Apa kau mengembalikan celana dalam Karuizawa padanya?”
"Ye, bagaimanapun, Ibuki-san adalah pelakunya sehingga dia bisa
menerimanya dengan baik,”
Pakaian dalam yang aku bicarakan adalah insiden pencurian selama ujian
di pulau. Celana dalam dari salah satu gadis itu, Karuizawa Kei, dicuri dan
keadaan dengan cepat menjadi ricuh. Terutama karena celana dalam itu
ditemukan di salah satu tas laki-laku, hubungan antara anak laki-laki dan anak perempuan menjadi tegang. Tapi Hirata berhasil menyelesaikannya
dengan mengembalikan celana dalam dan mencari tahu pelakunya.
Bagaimanapun, semuanya ternyata bagus. Itu adalah situasi yang sulit, jadi
aku khawatir dengan apa yang bisa terjadi.
Aku khawatir bahkan jika itu Hirata mengembalikan pakaian dalam wanita
yang dicuri ternyata sangat buruk. Kenyataan bahwa dia bisa dengan lancar
mengembalikan celana dalam wanita ke tubuhnya berarti dia sudah
menaiki tangga kedewasaan. Dari lift di kapal pesiar ke geladak, para siswa
sepertinya menikmati liburan musim panas mereka dengan dress favorit
mereka.
Karena ada juga kolam renang di dekat para siswa laki-laki dan perempuan
dengan berani mengenakan pakaian renang dan berenang di kolam renang.
Karena ketegangan ujian sudah tidak ada, ini tak terelakkan.
Mungkin saja keinginan pemberontak yang terpendam dari murid yang
tertindas selama ujian di pulau ini akhirnya menghilang untuk
menghasilkan situasi ini. Hal ini ditambah dengan fakta bahwa kau tidak
perlu membayar poin apapun untuk penggunaan fasilitas yang disediakan
oleh pelayaran termasuk makanan dan minuman. Terlepas dari poinmu,
semua hal di atas semuanya gratis. Tentu saja, kau masih perlu membayar
untuk menggunakan pakaian renang dan perlengkapan berenang lainnya,
tapi selain itu, semuanya gratis.
Saat kami sampai di restoran, lebih dari setengah kursi sudah terisi. Kami
berdua dengan cepat mengamankan kursi kosong yang masih ada di antara
restoran yang ramai itu.
"Sejujurnya ... aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu"
Sementara aku melihat ke bawah pada menu, suara Hirata meminta maaf
kepadaku.
"Apa itu?"
Tentu saja ada motif tersembunyi. Karena itulah dia begitu memaksa
__ADS_1
makan bersamaku. Aku tidak mengeluh karena dia berusaha
mengundangku, pasti ada alasan untuk itu.
"Aku mungkin bukan pendengar terbaik tapi ... apa kau bisa
menyingkatnya?"
Aku bukan pembicara yang baik atau pendengar yang baik, jadi itulah
alasan kenapa aku meminta intinya.
"Aku ingin kau menjadi jembatan antara aku dan Horikita-san, aku pikir
Horikita-san akan menjadi orang yang sangat diperlukan untuk Kelas D di
masa depan dan aku sangat ingin bekerja sama dengannya"
Aku mengerti, jadi dia butuh bantuanku untuk itu. Aku mengangguk saat
Hirata terus berbicara sambil meminta maaf padaku.
"Bahkan kemarin, berkat usaha Horikita-san, Kelas D meraih kemenangan
tak terduga, semangat kelas melonjak, aku pikir jumlah siswa yang
menyukai Horikita-san juga meningkat yang merupakan perubahan besar
dari sebelumnya "
"Kurasa itu benar,"
Perempuan bernama Horikita Suzune ini adalah murid kelas D yang
kebetulan juga adalah teman pertamaku di sini. Tapi selain itu, dia orang
soliter tanpa teman sama sekali. Satu-satunya keterampilan yang
dimilikinya adalah kemampuan untuk menjadi murid akademis terbaik.
Tapi kelemahannya, sebagai gantinya adalah dia buruk dalam keterampilan
interpersonal dan sering memiliki sikap tegas yang menyebabkan kesulitan
saat bersosialisasi.
"Saat ini, aku merasa seperti bersama denganku dan dia dan semua orang
yang bekerja sama, kita bisa naik bersama ke Kelas C, Kelas B dan Akhirnya
Kelas A" Hirata mengatakannya dengan optimis.
Jika aku mendengar cerita ini dari orang lain, aku akan menyingkirkannya
sebagai cerita yang mudah. Tapi Hirata pernah mengemukakan masalah
Horikita sejak awal semester. Sejak awal, dia pasti merasakan potensi yang
dimiliki Horikita. Aku tidak merasakan niat buruk dari Hirata. Aku tidak
keberatan membantunya dalam hal seperti ini, tugas itu sendiri relatif
sederhana. Tapi jika aku bisa membuat Hirata dan Horikita bersama. Tapi
itu saja tidak akan memecahkan masalah.
"Tapi jika kau menjembatani jarak antara kau dan Horikita, itu tidak akan
mudah terselesaikan, Horikita adalah tipe orang yang seperti itu".
Bahkan jika aku mencoba memperbaiki hubungan antara Horikita dan
Hirata, hal itu hanya akan membuatnya tarlihat sebagai gangguan yang tidak perlu. Jika dia merasa seperti itu, dia mungkin benar-benar
memperluas jarak antara dia dan seluruh kelas sebagai tanggapan.
Interaksinya dengan Kushida pada awal semester pertama adalah bukti
dari fakta itu.
"Tentu saja aku mengerti fakta itu, Horikita-san tidak akan membuka diri
terhadap siapapun kecuali Ayanokouji-kun. Aku tidak bermaksud
memaksakan masalah ini, oleh karena itu aku ingin kau menjadi jembatan
yang menghubungkan keberadaanku kepada Horikita-san "
Jadi, seharusnya aku memberitahu hal ini kepada Horikita sama seperti
yang dia katakan. Itu berarti sebaliknya, aku juga perlu menyampaikan
perasaan Horikita pada masalah itu kembali ke Hirata.
Memang, jika aku bertindak sebagai perantara Hirata, Horikita tidak akan
bekerja sama dengan anggota kelas lainnya dan kami bisa membangun
jembatan hubungan kooperatif yang tak terlihat.
"Ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, biasanya aku yang
mengikuti Horikita... lebih tepatnya, aku tidak pernah benar-benar
memberi Horikita pendapat sebelumnya. Jika aku mulai memberikan
pendapatku tentang berbagai masalah, tiba-tiba akan terasa aneh"
"Tapi saat ini aku tidak punya ide yang bagus, bahkan jika aku harus
berbicara dengan Horikita-san tentang hal ini sekarang, aku tidak yakin
bahwa aku bisa meyakinkannya untuk bekerja sama dengan kami. Ini
adalah jalan terakhirku "
"Bukankah sedikit terlalu cepat untuk mengambil jalan terakhir pada saat
ini?"
Aku tentu mengerti sekarang keinginannya untuk bekerja sama dengan
Horikita. Tapi jika demikian, dia tidak punya pilihan selain langsung
mendekati Horikita dalam masalah ini. Aku mengerti bahwa melakukan ini
mungkin akan sulit baginya, tapi bekerja sama dengan orang lain sebagai
kelompok juga sama sulitnya.
Hirata seharusnya bisa menyadari sesuatu yang sejelas ini. Dialah yang
peduli dengan kelas ini dan memikirkannya dan menghargai ikatan
persahabatan di antara mereka. Tapi masih ada satu pertanyaan tersisa tentang dia. Kembali ke pulau itu, dia sepertinya hampir takut akan sesuatu
dan kehilangan pandangan terhadap dirinya sendiri.
Aku masih ingat tingkah aneh Hirata. Ketika seluruh kelas D dipermalukan
oleh kejadian tersebut, dia terlihat hampir ‘kosong’. Itu bukan prilaku
normal.
Untuk saat ini, aku memesan sandwich dan beberapa minuman. Makanan
ringan secara keseluruhan, mudah dimakan. Siswa berenang di kolam
renang di geladak sementara yang lainnya sedang makan sambil tetap
memakai pakaian renang mereka. Suasana hati di antara para siswa
tampak sangat ramai. Jika Ike dan Yamauchi ada di sini, mereka akan
meneteskan air liur lebih banyak pada pakaian renang anak-anak
perempuan daripada makanannya sendiri. Hirata, di sisi lain, sama sekali
tidak memperhatikan gadis-gadis itu, tapi malah menatapku.
"Ye, seperti yang dikatakan Ayanokouji-kun, rencanaku mungkin sudah
dipikirkan dengan buruk"
Dia juga jujur atas kesalahan dan mampu mengenali kesalahannya sendiri
dalam penilaian rasional yang cepat. Itu adalah salah satu kekuatan Hirata.
Tapi sepertinya keinginannya untuk bekerja sama dengan Horikita lebih
kuat lagi karena dia tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah untuk
membujukku.
"Sepertinya aku harus memikirkan kembali pendekatanku, Horikita-san
adalah tipe orang yang sangat serius. Bagaimana kau bisa menyesuaikan
diri dengan Ayanokouji-kun?"
Untuk memperkuat hubungannya dengan Horikita, sepertinya Hirata ingin
berteman dengannya terlebih dahulu dengan meminta sebuah saran. Aku
pikir itu adalah sikap yang tepat untuk diambil dan jika ada sesuatu yang
dapat aku lakukan, aku ingin meminjaminya.
"Biarkan aku membantah salah satu poinmu, tidak seperti aku berteman
dengan baik dengan Horikita atau apa pun, sepertinya dia bahkan tidak
mengangapku sebagai teman"
"Tapi sepertinya Horikita hanya berteman denganmu, Ayanokouji-kun"
Jadi itu membuatku istimewa karena akulah satu-satunya yang bisa
berteman dengan orang itu. Atau mungkin itu adalah seseorang yang bisa dengan mudah berteman dengan 40 orang, tetapi karena frustrasinya ia
merasa tidak bisa berteman dengan orang ini.
"Jangan terburu-buru, kita baru saja menyelesaikan semester pertama, kau
tau?"
perpaduan hubungan kelas dengan waktu yang dihabiskan bersama. Atau
dalam beberapa kasus, saat mereka tiba-tiba diuji dalam kondisi sulit
seperti saat ujian di pulau. Tentu saja kau bisa memaksa perpaduan di
kelas dengan bertindak kepada teman sekelasmu, tapi semacam perpaduan
itu sangat rapuh dan mudah hancur berantakan.
"Aku juga harus menambahkan bahwa Horikita bukanlah tipe yang mudah
Aku mengatakannya begitu agar Hirata bisa mengerti itu yang cepat.
"... itu mungkin benar"
Mungkin dia tidak sabar dalam hal itu tapi wajah Hirata menunjukkan
sebuah reaksi.
“Kuakui aku tidak memikirkan perasaannya tapi hanya memikirkan
keinginanku untuk kerja sama"
Hirata memberitahuku sambil tersenyum dan mengangguk. Aku yakin dia
mengerti sekarang.
"Maaf, aku mengajakmu ke sini hanya untuk mendengarkan permintaan
egoisku, ayo kita makan"
Mungkin dia juga memperhatikannya, tapi setelah beberapa saat Hirata
juga menyadari bahwa ada seseorang yang mendekat dan menatapku
dengan wajah malu.
"Ah ... jadi kau di sini selama ini, Hirata-kun, ayo kita makan siang
bersama!"
Suara gembira memanggil kami. Itu adalah Karuizawa yang mendekati
kami.
"Umm ... Karuizawa-san, aku yakin aku pernah meneleponmu beberapa
waktu yang lalu untuk memberitahumu tentang pembatalan makan siang,
tapi ..."
Hirata tersandung pada kata-katanya. Karuizawa dan teman-temannya
menarik meja lain, bergabung dengan meja kami sementara Karuizawa
dengan cepat mendorongku keluar dari kelompok. Makan siang tiba-tiba
menjadi agak berisik dan aku, tentu saja, mengalami masalah bersosialisasi.
Tapi aku tidak perlu khawatir. Aku sudah terbiasa dengan situasi seperti
ini. Dalam hal ini aku perlu menggunakan keahlian khususki ‘Cepat kabur
dari lokasi’
Aku mengambil makanan dan diam-diam pergi. Mataku bertemu dengan
Hirata beberapa saat, tapi tak lama kemudian dia dikelilingi oleh Karuizawa
dan perempuan lainnya dan aku tidak bisa lagi melihatnya.
Aku rasa itu salah satu kerugian membuat terlalu banyak teman. Kau
kehilangan waktu yang bisa kau habiskan untuk diri sendiri dengan harus
mengorbankannya kepada orang lain. Bahkan jika Hirata memiliki masalah
pribadi yang perlu dikonsultasikan dengan seseorang, aku yakin dia tidak
dapat meminta saran dari Karuizawa agar dia harus tetap diam di dalam
rumah.
...
Setelah meninggalkan Hirata dan Karuizawa, aku memutuskan untuk
kembali ke kamarku karena tidak ada orang yang bisa didatangi atau diajak
berbicara.
Aku menggunakan tangga bukannya lift untuk kembali menuruni kapal ke
lantai tiga di mana kamarku berada. Ada tetesan air di koridor, aku
memperhatikan. Bukan hanya kamarku tapi tetesan-tetesan itu
membentang di sepanjang koridor. Aku berjalan di sepanjang tetesan itu,
mengikuti mereka dan melihat seorang pria berjalan dengan anggun
melewati koridor yang tidak mengenakan apa-apa selain pakaina renang.
Seluruh tubuh bagian atasnya telanjang.
"T-tuan, ini masalah bagi kami kalau berjalan di koridor saat kau basah!"
Salah satu staf yang melihat situasi darurat, bergegas turun untuk
berbicara dengan pria itu. Staf itu sudah membawa handuk di tangannya,
seolah-olah dia selalu membawanya untuk situasi seperti ini.
"Ha Ha Ha, sepertinya kau sudah menemukanku" kata orang itu.
"Ya, tuan Ini adalah keempat kalinya aku menemukanmu seperti ini. Aku
sudah mengatakannya berkali-kali , tapi tolong keringkan tubuhmu
sebelum kembali ke kapal. M-melakukan sesuatu seperti ini akan sangat
merepotkan para tamu lainnya"
Jadi, inilah alasan kenapa staf sudah menyiapkan handuk terlebih dahulu,
dia sudah pernah melihat ini terjadi berkali-kali sebelumnya.
"Aku membuat sebuah prinsip untuk tidak pernah mengeringkan tubuhku"
kata Kouenji sementara tetesan air menetes dari sekujur tubuhnya. Tiba-
tiba ia berhenti berjalan.
"Apa kau kebetulan punya pulpen dan kertas?"
"Hah?... uh aku punya buku catatan dan pulpen"
Staf tersebut dengan cepat membalasnya tanpa memahami dengan pasti ke
mana dia pergi saat ini sambil dengan canggung mengambil pulpen dan
buku catatannya.
"Apa kau tau kenapa tanda tangan seorang selebriti bisa tiba-tiba memiliki
harga premium, kadang bernilai puluhan juta di luar negeri?"
"Dan ... kenapa?"
Begitu selesai menulis sesuatu di buku catatan dengan pulpen, Kouenji
dengan cepat menyerahkannya kembali ke staf. Itu sangat jauh sehingga
aku tidak bisa melihat dengan benar tapi sepertinya dia telah menuliskan
namanya 'Kouenji Rokusuke' di buku catatan.
"A-apa ini?" tanya staf itu dengan lemah lembut.
"Apa ini tidak jelas? Ini adalah tanda tangan. Tanda tangan. Meskipun
ditulis dengan buku yang begitu murah, di masa depan pasti akan sangat
berharga, aku akan memberikan ini kepadamu sebagai hadiah. Terimalah
dengan penuh syukur"
Sepertinya Kouenji bukan orang jahat, dia memberi tanda tangan pada
stafnya dengan harapan akan berguna baginya sebagai sarana untuk
mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Tapi entah bagaimana aku ragu apa itu akan sangat berguna bagi staf,
kemungkinan besar itu hanya membuang-buang kertas dan tinta yang
berharga.
"Jangan membuatku terlihat bodoh, aku adalah orang yang akan membawa
masa depan Jepang di punggung masa depan. Sebagai ucapan terima kasih
telah membantuku, aku akan mengizinkan kau untuk bekerja di sebuah
kapal mewah yang jauh lebih besar. Satu yang cukup besar untuk membuat
yang satu ini terlihat seperti kapal biasa, "
Secara pribadi aku pikir, aku lebih suka tidak memiliki kapal yang terlalu
besar dan mengambil risiko seperti Titanic yang tenggelam. Namun,
Kouenji tertawa terbahak-bahak. Staf sepertinya telah kehilangan tekadnya
untuk menghentikan pria ini dan hanya menatap lantai yang sekarang
basah dengan sedih.
Rumor mengatakan bahwa teman sekelasnya secara aktif menghindari
Kouenji karena kepribadiannya yang egois ini. Sepertinya beberapa teman
sekelasku sendiri sudah mengalami apa yang baru saja dialami oleh staf
pria ini.
Aku yakin jika itu Hirata, dia pasti akan memanggil Kouenji bahkan jika dia
disingkirkan seperti staf itu sekarang. Tapi pria bernama Kouenji itu
seperti racun, dan mereka yang berinteraksi dengan dia, teman atau musuh
akan menderita karenanya.
Untuk menghindari masalah seperti itu, aku dengan sederhana dan diam-
diam melewati mereka berdua.
__ADS_1
"Oh, bukankah itu Ayanokoji? Kebetulan sekali"
Tanpa diduga mendengar namaku dipanggil seperti itu, aku menoleh ke
belakang untuk melihat staf pria itu dengan gembira tersenyum bahwa
sasaran keinginan Kouenji telah beralih darinya kepadaku seolah
mengatakan bahwa 'aku akhirnya bebas' padaku.
Memang, Kouenji sepertinya termasuk dalam spesies asing yang dengan
kejam melahap semua spesies asli di sungai.
"Kau punya urusan denganku?"
"Tidak, tidak, tidak, aku hanya memanggilmu sebagai teman sekelas.
Bagaimanapun, kau memang kebetulan teman sekamarku"
Lalu dia mengusap rambutnya dan hampir seperti senapan, tetesan air
terbang dari rambutnya dan mendarat di wajah dan seragamku.
Tentu saja, Kouenji sepertinya begitu senang dalam dirinya sehingga dia
bahkan tidak menyadari keadaan sulitku.
"Kalau begitu, aku permisi"
Staf laki-laki yang sebelumnya menyaksikan tontonan ini meluruskan,
dengan cepat berkata dan berjalan menjauh, dengan jelas tidak mau
terlibat lagi dalam masalah ini.
Tentu saja, aku juga tidak ingin sendirian dengan Kouenji dalam situasi
seperti ini.
"Apa yang kau bicarakan dengan Kouenji?"
Sejenak, staf pria itu sepertinya sedikit marah karena menolak kesempatan
untuk melepaskan diri dari Kouenji tapi dengan patuh menjawabku.
"Sepertinya dia sedang basah, jadi kupikir dia harus ditemani dengan
handuk... tapi sepertinya aku mengganggu kalian berdua, aku permisi"
"Begitu, jadi dia berusaha menjagaku?"
"Y-ya, sepertinya begitu"
Aku cepat-cepat memberitahunya sebagai jawaban. Entah bagaimana
rasanya aku berhasil melepaskan diri dari Kouenji dan berhasil kembali ke
kamarku.
"Tetap saja, ini sebuah kebetulan. Bertemu dengan Kouenji dalam
perjalanan pulang ke sini"
Meski begitu, walau terasa tidak nyaman, Kurasa masih akan terjadi entah
bagaimana mengingat kurangnya ruang yang penuh sesak di kapal ini
bersamaan. Karena ingin menghindari pertemuan canggung yang lain, aku
malah memilih untuk berbelok ke kanan dan bukan ke kiri dan memilih
untuk kembali ke kamarku di waktu yang lain. Hirata dan Yukimura yang
juga berbagi kamar yang sama denganku, pasti segera kembali.
Aku sudah pergi ke papan pemandu terdekat yang petanya digambarkan
dengan jelas untuk menggambarkan berbagai rute pelarian jika terjadi
keadaan darurat.
Saat aku berjalan dengan santai melewati koridor di lantai dua, sepertinya
saat ini tidak banyak murid di sini. Lalu ponsel di sakuku bergetar. Aku
mengeluarkannya untuk melihat bahwa aku memiliki pesan.
Seorang perempuan sudah menghubungiku. Karena tidak ada yang lebih
baik untuk dilakukan, aku memutuskan untuk menerima dan menuju
keluar untuk menemuinya.
"Hah ... hah ... hah"
Saat aku mendekati perempuan yang mengirimiku pesan itu, Sakura, aku
bisa mendengar desahan cemas keluar dari mulutnya.
"Ada apa?"
"Waaah ... A-Ayanokouji-kun?"
Sepertinya aku sudah mengejutkan Sakura, karena dia dengan cepat panik
dan memanggil namaku dengan suara terkejut.
"Maaf karena mengejutkanmu"
"T-tidak... aku-aku hanya sedikit gugup".
Jika dia merasa gugup saat bertemu dengan seorang teman sepertiku,
hidupnya pasti sangat sulit, aku pikir.
"Ayanokouji-kun, teman sekamarmu adalah Hirata-kun, Yukimura-kun dan
Kouenji-kun ... kan?”
"Ya, ada sesuatu yang penting?"
Aku terkejut mendengarnya bertanya hal seperti itu.
"Umm... tentang itu... aku sedikit khawatir dengan orang-orang yang
membagi kamarku dengan ..."
Dia membungkuk. Sepertinya Sakura tidak akrab dengan teman
sekamarnya, karena dia tidak pernah bersosialisasi sejak awal. Dengan
melihat ekspresinya yang khawatir, aku bisa memahami keparahan
masalahnya.
"Apa kau khawatir kau tidak akan bisa berteman dengan mereka?"
"Aku tidak yakin, aku merasa ingin berteman dengan mereka, tapi ada
bagian dari diriku yang ingin sendirian juga, aku tidak punya harapan sama
sekali bukan?"
Suaranya membungkuk lemah, tapi kecuali aku tahu siapa teman sekamar
Sakura, aku tidak bisa memberikan saran yang tepat pada saat ini.
"Jadi, siapa teman sekamarmu?"
"... itu Shinohara-san, Ichihashi-san dan Maezono-san ..."
Dia menjawab dengan suara sedih sambil memberi tahuku nama teman
sekamarnya.
Itu adalah kumpulan perempuan dengan kepribadian yang sangat kuat dan
berbeda, tidak seperti Sakura. Berbicara tentang Shinohara, dia adalah
seorang perempuan yang berteman dekat dengan teman sekelasku
Karuizawa.
Dia adalah seorang perempuan keras kepala yang sering bertengkar
dengan anak laki-laki dan tidak bisa menahan diri terhadap orang yang
tidak dia sukai.
Aku tidak berpikir dia akan menahan apapun terhadap Sakura, tapi aku
ragu jika mereka juga akan senang berteman. Ichihashi biasanya lebih
dewasa, tapi masih memiliki sikap agak keras seperti Shinohara. Aku tidak
tahu banyak tentang Maezono, tapi sepertinya dia kurang berperilaku
buruk dan pasti memiliki kesan jelek pada diriku. Untuk Sakura, ini pasti
seperti dilemparkan ke dalam sarang singa. Aku ingin menepuk kepalanya
untuk menghiburnya sedikit.
"Tapi kenapa bertanya kepadaku secara khusus?"
".... kupikir kalau itu Ayanokouji-kun ... aku mungkin bisa mendapatkan
nasehat yang bagus..."
Sepertinya dia sangat bergantung padaku, tapi dia dengan cepat meminta
maaf kepadaku untuk itu.
"Aku-aku minta maaf, Ayanokouji-kun pasti sedang sibuk, maaf tergantung
padamu seperti ini"
"Tidak masalah, aku tidak keberatan dimintai nasehat, tapi aku meragukan
kemampuanku untuk membantumu"
Sayangnya, aku tidak tahu apapun tentang Sakura, hanya namanya, jadi aku
mungkin tidak akan banyak membantu Sakura. Sementara memikirkan
jawabanku, pintu ruangan terbuka.
"Oh, Ayanokouji-kun dan Sakura-san, apa yang kalian berdua lakukan di
sini?" .
Itu adalah salah satu teman sekelasku, Kushida Kikyou yang datang ke
ruang tamu untuk menyapa kami. Ucapan Sakura yang sebelumnya cerah
dengan cepat menjadi gelap dan suasananya berubah menjadi canggung.
Meskipun Kushida jelas tidak menyadarinya, Sakura yang biasanya
antisosial menolak kehadirannya dan mundur ke dirinya sendiri. Tentu
saja, Kushida terus berbicara tanpa peduli pada dunia.
"Tidak masalah, aku tidak akan mengganggu kalian berdua. Lagipula aku
sedang dalam perjalanan untuk menemui beberapa teman."
"Aku-aku akan kembali nanti ..." Sakura dengan lemah memberitahuku
Meski Kushida mencoba minta maaf, Sakura kembali bangkit dan berlari
kembali ke kamarnya.
"Maafkan aku, mungkin aku datang pada saat yang buruk, seharusnya aku
tidak memanggilmu?"
Aku pikir tidak perlu meminta maaf seperti itu, Sakura tentu saja tidak
menyosialisasikannya seperti ini lagi.
"Ngomong-ngomong aku belum pernah berbicara denganmu sejak kembali
ke kapal, Kushida, kau sudah pergi dengan cukup banyak teman setelah
semuanya"
Kushida adalah idola kelas. Tentu dia adalah perempuan paling populer.
Dia benar-benar hidup sesuai dengan kata-katanya yang ingin berteman
dengan semua orang kecuali beberapa penyendiri seperti Sakura.
"Akan akan pergi dengan Kelas C hari ini, apa kau ingin ikut denganku,
Ayanokouji-kun?"
"Err ... bisakah aku bergabung?"
"kau akan datang?"
Dia terdengar terkejut. Aku pikir ini akan menjadi hari yang buruk. Kushida
sepertinya sedikit bingung dengan tanggapanku. Dengan cepat aku berpikir
aku harus menolak ajakan ini.
“Aku bercanda, kau tahu aku bukan tipe yang bersenag-senang seperti itu"
"Hmm ... aku sedikit terkejut, Ayanokouji-kun kau sangat lucu"
"B-benarkah?"
Aku tidak berpikir itu adalah pikiran yang sebenarnya, pikiran sebenarnya
pasti akan jauh lebih menakutkan dari itu.
"Kalau begitu aku akan pergi"
Sama seperti yang dia katakan, Kushida dan ponselku bergetar pada saat
bersamaan. Bahkan dalam mode diam nadanya masih terdengar jelas, ini
pasti menjadi instruksi penting yang dikirim oleh sekolah ke semua murid.
"Aku ingin tahu apa itu" gumamnya.
Terlepas dari berbagai instruksi yang kami terima setelah memulai
sekolah, ini adalah pertama kalinya kami dihubungi dengan cara seperti itu.
Liburan musim panas ini adalah yang pertama kalinya menerima instruksi
seperti ini. Pada saat bersamaan, sebuah pengumuman dimulai dari
speaker kapal.
"Ini adalah pengumuman untuk semua murid, kalian akan menerima pesan
dari ponsel kalian lebih awal. Periksa isi pesan dan ikuti instruksi tersebut
dengan seksama. Jika kalian belum menerima pesannya, silakan hubungi
bagian sekolah terdekatmu. Pengumuman ini sangat penting jadi tolong
pastikan untuk tidak ketinggalan. Aku ulangi --- "
Suara itu mengulang pesannya.
"... itu pesan yang baru kita terima, kan?"
"Mungkin".
Pesan dari sekolah tersebut sampai pada kedua ponsel kami bersamaan.
Berikut ini tertulis pada pesan di ponselku:
"Ujian khusus akan segera dimulai, berkumpul di waktu yang telah
ditentukan di ruangan yang ditunjuk. Murid yang terlambat lebih dari 10
menit akan menerima hukuman. Pergi ke ruangan 204 di lantai dua pukul
18:00 hari ini. Hanya tersisa 20 menit sampai saat itu tiba, cuci tangan dan
simpan ponselmu dalam mode diam atau matikan. "
Jadi ini akan menjadi 'tes khusus'. Ini tidak akan seperti ujian kertas yang
kami terima atau ujian kebugaran fisik. Sama seperti ujian di pulau, ini
adalah sesuatu yang tidak dilakukan sekolah biasa.
Hanya sekolah kami yang akan menguji kami sedemikian rupa. Tidak ada
lagi ujian yang ditulis. Apa itu sesuatu yang bisa kami simpulkan dari pesan
atau ujian itu sendiri masih belum diketahui?
Bagaimanapun, hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.
Titik pertemuannya sepertinya adalah ruangan 204 pada pukul 18:00.
Hanya ada 20 menit yang tersisa.
"Bisakah aku melihat pesanmu?"
Aku menunjukkannya padanya. Dia juga menunjukkan pesannya kepadaku,
tapi meski struktur dasarnya sama, titik temu miliknya adalah dua ruangan
dariku dan waktu berkumpulnya 20:40 dan bukannya pukul 18:00.
"Aku penasaran kenapa mereka memberi kita instruksi aneh seperti itu?"
"....tidak tahu".
Satu-satunya hal yang pasti dalam pikiranku adalah perasaan buruk yang
aku alami tentang hal ini.
Aku tidak pernah berpikir kapal kami memiliki ujian semacam ini, tetapi
sepertinya memang kenyataan. Memberi kami kebebasan untuk
menggunakan bioskop, tempat pesta dan restoran prasmanan, semua
terserah kepada kami sendiri.
Aku mencoba melihat kembali semua itu untuk mencoba menebak isi ujian
misterius ini, sayangnya, aku tidak bisa mengumpulkan petunjuk apapun.
Dengan cepat aku mengirim pesan ke Horikita dan dia langsung
membalasku dengan cepat.
"Apa kau menerima pesan dari sekolah sekarang?"
"ya"
"Aku ditunjuk untuk bertemu pada pukul 18.00. Bagaimana denganmu?"
"Aku ditunjuk pada pukul 20:40. Sepertinya waktu pertemuan kita yang
ditugaskan berbeda”
"Aku mengerti. di 20:40 ya?"
Waktu pertemuan yang sama dengan Kushida. Aku bertanya-tanya dalam
hati apakah mereka akan membagi anak laki-laki dan anak perempuan.
Tapi itu tidak mungkin, aku diberitahu di pesanku bahwa ujian dimulai
pukul 18.00.
"Aku penasaran dengan perbedaan waktu mulai ini, ini bisa menimbulkan
ketidakadilan antara murid dari berbagai kelompok."
"Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti pada saat ini".
Kami mengirim pesan bolak-balik tapi segera ada pesan dari Horikita.
"Ada hal-hal yang ingin aku diskusikan lebih lanjut tapi tidak ada waktu
lagi, karena waktu pertemuanmu lebih awal, tolong laporkan kembali
kepadaku" katanya singkat.
"Mengerti"
Aku kemudian mematikan ponselku.
"Ayanokouji-kun?"
Sementara aku fokus untuk berbicara dengan Horikita, Kushida menatapku
seolah bertanya kepadaku apa yang salah. Aku berpikir sebentar apakah
aku harus memberitahu Kushida tentang waktu pertemuan yang sama
dengan Horikita, tapi akan sangat mengganggu untuk melakukannya. Aku
memutuskan untuk menunggu dan melihat bagaimana hal-hal seperti ini
__ADS_1
dimainkan. Seharusnya tidak terlambat bahkan jika aku bertindak setelah
mendapatkan lebih banyak informasi.