
CHAPTER 3
DOUBLE QUESTION
"...apa kau bercanda?"
Horikita memanggilku dengan nada yang menyalahkan.
"Sayangnya memang benar jika Kouenji tiba-tiba bertindak dan mengakhiri
ujian di kelompoknya" balasku padanya.
"Apa kau bodoh? kenapa kau tidak menghentikannya dan mengamuk di
sana? Itu adalah tanggung jawambmu sebagai teman sekamarnya"
"Itu mustahil, tidak ada gunanya menangis seperti susu yang tumpah saat
ini"
Rencana kasar yang Kouenji gunakan untuk mengakhiri ujian di
kelompoknya telah menyebar dikalangan murid dan menyebabkan kelas tersebut menjadi heboh. Karena itulah saat pembicaraan kemarin,
Horikita langsung saja ingin bertemu denganku. Sepertinya dia masih belum
yakin saat dia menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain.
"Aku akan memarahinya lain kali ketika aku bertemu dengannya. Aku ingin
menghindari kejadian seperti itu lagi masa depan"
“Kau harus tahu jika itu tidak ada gunanya, kata-kata seperti itu tidak akan
sampai kepadanya, kau akan terseret oleh langkahnya. untuk saat ini,
berkonsentrasilah kepada kelompok kita sendiri" kataku sebagai tanggapan.
Karena dia teman sekamarku, mungkin aku akan disalahkan karena tidak
menghentikannya tepat waktu, jadi aku memutuskan untuk mengganti topik
pembicaraan.
"Itu benar. kelompokku penuh dengan musuh yang merepotkan, tetapi aku
tidak akan kalah dari mereka"
Sikapnya kuat seperti sebelumnya, dan kurasa aku harus menyerahkan
masalah ini kepadanya.
Di akhir, aku juga mengalami sedikit masalah karena berurusan dengan
Ichinose yang Hoshinomiya-sensei kirim untuk memata-mataiku.
“Omong-omong, karena kau juga seorang gadis, aku ingin bertanya sesuatu
kepadamu" kataku padanya.
"Apa maksudmu? Aku adalah seorang gadis sejak awal, kau tahu" dia
langsung membalas.
karena salah mengerti, dia menganggap kata-kataku sebagai sebuah
sindiran saat dia menatapku dengan mata yang sedikit kecewa.
"Tidak, bukan begitu, aku hanya mengatakan bahwa aku ingin bertanya
kepadamu sebagai perempuan"
Karena sepertinya dia akan menjadi semakin marah jika aku terus berusaha
membuat alasan seperti itu, aku segera terjun ke intinya.
"Aku ingin informasi tentang Karuizawa" kataku padanya
Karena aku berencana untuk melakukan kontak dengan Karuizawa, aku
memerlukan informasi tentang dia. Jika dia membuat peringkat anak laki-
laki di kelas, aku pasti berada di posisi terbawah.
"Jadi kau ingin meminta saran denganku tentang masalah Karuizawa?"
Aku mengangguk.
"Aku ingin melacak anggota kelompokku, tapi aku merasa sedikit kesulitan,
aku bisa saja menghadapi Sotomura dan Yukimura, tapi Karuizawa adalah
masalahnya. Setelah ujian di pulau itu selesai, kau pernah diundang makan
siang oleh Karuizawa, kan?"
"Kau harus tau jika aku sudah menolaknya, aku sama sekali tidak tertarik
dengan Karuizawa-san. Jika kau menginginkan informasi tentangnya,
kenapa kau tidak bertanya dengan Hirata-kun? Jika dia, itu pasti bisa
membantumu"
Itu benar, tetapi sebelum ujian dimulai, aku sudah melewatkan kesempatan
untuk makan siang bersama Karuizawa dan Hirata. Tentu saja Hirata juga
mengingat kejadian itu, jadi aku menghindar untuk bertanya kepadanya saat
ini.
"Apa kau khawatir jika dia mungkin adalah ‘target’ atau semacam itu?"
Horikita tiba-tiba bertanya padaku.
"Sebagian, tapi untuk saat ini, mustahil aku bisa mengerti dengan tingkah
laku Karuizawa, aku hanya penasaran" kataku padanya.
"Buang-buang waktu saja, tidak ada apa pun dibalik tingkah lakunya. Jika
kau peduli padanya, itu hanya akan membuang-buang waktu saja"
"Horikita, aku rasa tidak baik membicarakan orang lain"
"Membicarakan orang lain? Apa maksudmu?" dia bertanya padaku
"Tentu saja sejauh ini kau hanya pernah melihat sisi Karuizawa yang egois
dan menyebalkan, tapi kau tahu, dia mungkin juga memiliki sisi yang baik?”
"Apa memang ada sisi yang baik? Aku tidak bisa membayangkannya,
bukankah dia hanya penuh dengan kegagalan?"
Tentu saja, saat ini sejauh kerja sama yang terjalin aku harus mengakui
bahwa Horikita sama atau lebih baik dari dia.
"Ketika pertama kali bertemu dengan seseorang, naluri pertama adalah
menilai mereka dari penampilan mereka, bukan? Apakah mereka keren atau
imut atau semacamnya, kemudian kau akan menilai mereka dengan kata-
kata untuk melihat ke dalam diri mereka sendiri apakah mereka makhluk
sosial atau agresif atau pasif dan sejenisnya”
Karena itu, Horikita menyilangkan lengannya dan menunggu kata-kata yang
berikutnya.
"Tapi itu masih penampilan luar, pola pikir sebenarnya tidak akan segera
terlihat dengan hal seperti itu. Contohnya Kushida atau Ibuki atau bahkan
aku misalnya, kepribadian 'depan' dan kepribadian 'belakang' terbagi
dengan baik"
"Apa Karuizawa-san juga memiliki perpecahan seperti itu?"
"Ini adalah sesuatu yang dimiliki oleh kebanyakan orang, bahkan jika
mereka tidak menyadarinya. Horikita, kau juga memilikinya"
Karena setiap kali dia berada di depan kakaknya, dia selalu menunjukkan
sifatnya yang sebenarnya dan sangat rapuh.
"Aku masih belum sepenuhnya yakin, tapi aku bisa mengerti bahwa kau
akan mengenalnya dengan lebih baik dengan kontak langsung"
Tentu saja itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, karena jika aku
tidak memutuskan untuk berusaha, aku tidak akan pernah bisa mengetahui
sifat asli Karuizawa.
"Dan apa gunanya dengan Karuizawa-san?" Horikita bertanya padaku
"Aku belum bisa menjelaskannya dengan jelas, tapi jika aku harus
mengatakannya, itu adalah 'kemampuan untuk memerintah'. Dia memiliki
__ADS_1
inisiatif dan tidak bisa disangkal bahwa statusnya di Kelas D tidak
tergoyahkan"
Namun, di kelompok kami (Kelinci), aku belum pernah melihat sisi itu
dirinya. Inilah sebabnya aku berpikir untuk memastikan sifat asli Karuizawa
secepat mungkin.
"Dengan asumsi bahwa dia memiliki kemampuan seperti itu, apa yang akan
kau lakukan? Apa kau akan membawa Karuizawa-san ke dalam kelompok
kita juga?" dia bertanya padaku.
"Aku juga ingin tau tentang hal itu" kataku padanya.
Sementara aku bertanya-tanya atas jawabanku, Laki-laki yang kemarin
datang kembali kepada kami.
"Yo, kalian berdua, apa kalian sedang berkencan di tempat yang teduh?"
Ryuuen yang mengatakan kalimat itu.
Dia tidak bersama Ibuki hari ini, namun mendekati kami dengan senyum
menyeramkan di wajahnya.
"Kau cukup melakukan sesuatu seenaknya. Bahkan jika kau menyudutkanku
seperti ini, tidak ada yang kau dapatkan" Horikita memarahi Ryuuen.
"Akulah yang memutuskan hal itu. Jadi, Apa kau sudah memutuskan untuk
mencoba dan menemukan ‘target’ itu?"
Dan lagi, Ryuuen duduk di kursi terdekat tanpa izin.
"Apapun rencanaku, aku tidak akan memberitahumu" kata Horikita.
"Itu memalukan, aku berpikir untuk mendiskusikannya denganmu, tapi
sepertinya kau belum membuat kemajuan dengan pencarianmu lagi"
"Itu menarik, apa kau ingin mengatakan bahwa kau tahu siapa ‘target’ saat
ini?"
Menatapnya dengan ekspresi yang aneh, Ryuuen menjawabnya seolah-olah
dia sudah menduga dia akan menanyakan hal itu sejak awal.
"Aku sudah menemukan siapa ‘targetnya’, bisakah kau mempercayaiku jika
aku mengatakan itu?"
"Tidak, tidak, kau bukan seseorang yang seperti Ichinose-san atau Katsuragi-
kun dengan sekutu di sisimu, kau hanya memiliki musuh. Tidak ada yang
bisa mengumpulkan informasi semacam itu untukmu" Horikita membalas
Ryuuen.
"Itu tidak benar, aku tidak berada di klub 'berteman' seperti mereka, tapi
berteman dan mengumpulkan informasi adalah dua hal yang sangat
berbeda"
Dia berbicara dengan Horikita dengan sikap yang hampir menyerupai
seorang guru yang kecewa dengan murid mereka karena tidak mendapatkan
jawaban yang benar.
"Sayangnya, aku sudah mencelupkan tanganku ke dalam ujian ini.
Bergantung kepada situasinya, Kelas C mungkin adalah pemenangnya,"
"T-tidak mungkin".
Tidak, apa yang dia katakan mungkin benar.
Sekolah selalu membuat ujian berdasarkan kriteria yang sangat spesifik.
Ujian tengah semester sama, akhir sama dan ujian di pulau juga sama. Jika
kau memahami 'peraturan' di balik sebuah ujian, sesuatu yang mungkin
untuk mencapai nilai yang tinggi dan menghasilkan hasil yang baik.
Jika memang benar, ujian ini tidak berbeda. Jika itu adalah Ryuuen, dia pasti
"Ini sangat sederhana, kau hanya perlu menemukan ‘target’ saja.
Membongkar struktur kelompok dan menganalisanya sampai kau
menemukan jawabannya”
"Itu benar, siapa pun pasti pernah memikirkannya, tetapi apakah mereka
akan menjawab dengan jujur? Sejak sekolah tersebut menjamin sebuah
anonimitas, seseorang dapat tetap diam dan mendapatkan 500.000 poin
dengan cara yang seperti itu."
Horikita mengatakannya kepada Ryuuen, tetapi Ryuuen menjawab dengan
tenang menanggapi keraguan Horikita.
"Aku hanya harus memastikan bahwa hal itu merupakan situasi di mana
mereka akan menjawab dengan jujur tanpa kebohongan"
"Situasi yang membuat mereka menjawab dengan jujur tanpa kebohongan?"
Horikita bertanya padanya.
"Karena aku meminta kontak semua orang, aku mampu bertanya satu per
satu tanpa sekolah ketahui.”
"Apa kau gila? Itu dilarang oleh sekolah. Jika ketahuan, kau akan di drop out"
Horikita bertanya kepadanya dengan kaget.
"Tidak masalah, aku berdiri disini sekarang karena itu bukanlah sebuah
masalah, kau mengerti maksudnya?"
Itu adalah rencana kasar yang bisa digunakan Ryuuen karena dia memiliki
gambaran seorang tiran yang sebenarnya. Jika dia dengan paksa melihat
ponsel murid kelas lain, tidak diragukan lagi, Ryuuen akan dilaporkan dan
dikeluarkan, namun Ryuuen mendominasi Kelas C. Apapun yang dia
lakukan, tidak ada yang mau mengacuhkannya.
Dan jika tidak ada keluhan, tidak masalah. Ini berarti tindakan Ryuuen masih
dalam batas aman dari peraturan sekolah. Pasti strategi Ryuuen seperti itu.
Strategi yang secara paksa melepaskan semua rahasia dari Kelas C. Dan jika
memang benar, Ryuuen dapat memiliki identitas sampai tiga ‘target’. Itu
akan menjadi petunjuk besar baginya dalam ujian ini.
Agar lebih mudah dimengerti, itu lebih seperti menulis pertanyaan dan
jawaban di sisi panel yang berbeda. Biasanya kau tidak akan tahu jawaban
itu kecuali kau membalikan panel tersebut. Tetapi jika panel dilipat seperti
kertas, mungkin saja untuk mendapatkan sedikit petunjuk jawaban dari sisi
yang lain. Pada dasarnya, Ryuuen mungkin sudah tahu nama semua "target"
dalam ujian ini.
"Sepertinya kau akhirnya mengerti situasi ini"
"... Ya, tapi jika kau sudah tahu jawabannya, bukankah seharusnya kau
mengirimkannya ke sekolah?" Horikita bertanya padanya.
"Mungkin aku hanya ingin bermain-main"
"Kau tidak tahu kapan orang lain akan mengambil jawabannya, kau tidak
seharusnya sangat lengah seperti itu," kata Horikita menanggapi.
Tidak ada bukti, tapi aku punya perasaan bahwa asumsi Horikita itu benar.
Jika dia sudah tahu jawabannya, tidak ada gunanya menunda hal itu.
Seharusnya dia mengakhirinya saat itu juga jika dia bisa.
"Jadi, akhirnya aku berada di tahap yang terakhir"
"Ryuuen-kun, ngomong-ngomong bisakah aku menanyakan sesuatu?
__ADS_1
Kemarin saat ujian kelompok monyet berakhir, apa pendapatmu tentang hal
itu?" Horikita bertanya padanya.
"Tidak ada yang spesial, aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang
lemah"
Ryuuen hanya meninggalkan kata-kata itu saat dia berjalan pergi.
"Aku tidak tahu seberapa banyak dari apa yang dia katakan itu benar"
Horikita memiliki ekspresi bingung di wajahnya sambil menatap bagian
belakang Ryuuen yang sedang berjalan pergi. Dan kemudian dengan percaya
diri, aku melihat ke bawah kursi Horikita dan di sana aku menemukan satu
ponsel dengan mode perekamannya diaktifkan.
Di ponsel tersebut, ada satu chat. Hanya satu chat. yang dikirimkan. Tidak
ada suara atau getaran yang diaktifkan. Dan tidak melihat semua isi
chatingan tapi untuk sesaat, aku melihat kata-kata "maaf atas yang
kemaren" yang ada nama Ryuuen di atasnya.
Mungkin ada yang salah dengan kelasnya? Aku tidak ingin menggali lebih
dalam lagi dan kembali ke posisi normalku di kursiku. Horikita cepat-cepat
memahami situasinya juga, dan dengan cepat mengeluarkan ponselnya
sendiri dan mengetik ini padaku.
"Jika ponsel itu memang miliknya, lebih baik tidak bicara sembarangan"
Apa yang dia katakan memang benar.
"Menurutmu, apa yang Ryuuen katakan itu benar? Apa yang dia katakan
tentang menangkap ‘target’ dari setiap kelas.”
Horikita menatapku kaget sesaat tapi kemudian dia cepat mengerti maksud
di balik kata-kataku.
“Aku ingin tahu. Aku tidak bisa mengatakan dengan 100% kepastian, tidak
ada banyak waktu untuk ujian ini".
"Kau juga sangat angkuh".
"Aku akan akan membuatmu bekerja sampai ke tulang, kita juga harus
menemukan ‘target’ secepat mungkin"
"Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tidak mungkin aku bisa
melakukan itu" kataku padanya.
"Aku juga tidak berharap banyak darimu, tapi aku hanya menginginkan
informasi tentang kelompok (Kelinci) darimu" katanya.
Dengan pembicaraan seperti ini, aku mampu menyoroti bakat Horikita dan
ketidakmampuanku sendiri. Dengan melakukan hal tersebut, kecurigaan
akan dialihkan dariku sampai ke tingkat tertentu.
Lagipula, Ryuuen memang mencoba menguping menggunakan ponselnya
sendiri.
"Jika tidak ada harapan spesial kepadaku, aku akan mencobanya"
Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Horikita menekan sebuah tombol di lift dan
pergi. Sekarang, haruskah aku kembali ke kamarku dan tidur? Atau datang
dengan strategi untuk ujian?
Tidak ada keraguan tentang penilaian guru yang kemarin dan penilaian
Ryuuen sendiri. Jika kami hanya mengejar kemampuan akademis, Yukimura
pasti juga ada di sana bersama Hirata dan Horikita. Tentu saja dia tidak akan
puas dengan ditempatkan di kelompok (Kelinci).
Yukimura memang menghindari penggunaan namanya secara langsung
tetapi dia menatapku dengan saksama. Tidak ada yang bisa aku lakukan
bahkan jika kau mengatakan hal itu. Kemudian aku memutuskan untuk pergi
ke tempat tidurku dan menunggu sampai Hirata kembali. Tetapi Yukimura
menatapku dengan mata curiga sepanjang jalan.
"Ayanokouji, aku hanya ingin memastikan, tapi kau bukan" ‘target’ kan?"
Yukimura bertanya padaku.
"Aku akan menyangkalnya, tapi apa yang kau maksud dengan memastikan?"
"Tentu saja, di dalam ujian ini 'kerja sama' adalah kuncinya. Dengan kata
lain, jika kau bekerja sama, kita tidak akan kalah" katanya kepadaku.
"Itu benar, sayangnya aku bukan ‘target’ di sini"
"Itu benar, kan? Sebaiknya kau tidak mencoba mengambil poin untuk dirimu
sendiri" Yukimura memberitahuku.
Sepertinya kebijaksanaan pribadinya adalah meragukan orang lain, tidak
mengherankan bagaimana respons Yukimura kepadaku.
"Aku bukan ‘target’, Bisakah aku percaya jika kau juga bukan ‘target’
Yukkimura?”
"Tentu saja tidak. Omong-omong Sotomura juga bukan ‘target’, kau tahu"
Ini adalah sebuah konfirmasi antar teman, hampir seperti sebuah kata kode
yang mengisyaratkan 'jangan mengkhianati satu sama lain'.
"Aku juga bertanya kepada Karuizawa dan dia juga menyangkalnya, tetapi
percaya kepada kata-katanya adalah masalah yang berbeda"
Sepertinya Yukimura yang tidak menyukai Karuizawa, cenderung tidak
mempercayai kata-katanya. Tentu saja, untuk mengetahui itu secara pasti,
dia bisa saja memeriksa ponselnya, tetapi mengingat hubungan di antara
mereka, sepertinya akan sulit dilakukan.
Sepertinya Yukimura sudah puas untuk saat ini karena dia tidak bertanya
lebih jauh. Aku mengubur wajahku di bantal dan memejamkan mata. Aku
merasa tidak nyaman karena ada seseorang di ruangan itu yang melihatku
tidur, tapi itu tidak terlalu menyebalkan.
Aku mampu menjadi adaptif seperti bunglon pada saat diperlukan, dalam
hal berteman juga. Sepertinya Yukimura sudah mulai mengakuiku sebagai
teman. Aku kemudian tertidur setelah mendengar sedikit desah Yukimura
lagi dari seberang ruangan.
"Aku juga bertanya kepada Karuizawa dan dia juga menyangkalnya, tetapi
percaya kepada kata-katanya adalah masalah yang berbeda"
Sepertinya Yukimura yang tidak menyukai Karuizawa, cenderung tidak
mempercayai kata-katanya. Tentu saja, untuk mengetahui itu secara pasti,
dia bisa saja memeriksa ponselnya, tetapi mengingat hubungan di antara
mereka, sepertinya akan sulit dilakukan.
Sepertinya Yukimura sudah puas untuk saat ini karena dia tidak bertanya
lebih jauh. Aku mengubur wajahku di bantal dan memejamkan mata. Aku
merasa tidak nyaman karena ada seseorang di ruangan itu yang melihatku
tidur, tapi itu tidak terlalu menyebalkan.
Aku mampu menjadi adaptif seperti bunglon pada saat diperlukan, dalam
hal berteman juga. Sepertinya Yukimura sudah mulai mengakuiku sebagai
teman. Aku kemudian tertidur setelah mendengar sedikit desah Yukimura
lagi dari seberang ruangan.
__ADS_1