CLASSROOM OF THE ELITE

CLASSROOM OF THE ELITE
14.VOLUME 4 Part 14


__ADS_3

EPILOG


PERBEDAAN SETIAP ORANG


Hari terakhir ujian dimulai dan tidak seperti saat di pulau tak berpenghuni,


waktu berlalu dengan cepat di kapal mewah. Selanjutnya, setiap hari selama


dua jam waktu diskusi berlalu tanpa banyak pembahasan yang sebenarnya


sedang dibahas.


Sementara itu, baik itu rencana melawan Ryuuen dan rencana benteng


Katsuragi berjalan seperti biasanya, Ichinose Honami dari Kelas B


menghabiskan waktunya tanpa bisa menghadapi serangan balasan melawan


strategi tersebut.


"Waah, aku menariknya lagi, apa mungkin aku payah di old maid?"


Ichinose mengatakan hal itu sambil mengeluarkan kartu di tangannya di


hadapanku.


Meskipun saat ini adalah waktu diskusi kelima yang kami miliki, Ichinose


sekali lagi menyarankan untuk bermain kartu. Aku akan mempertanyakan


pendekatan ini, tetapi sepertinya tidak ada seorang pun di Kelas A yang


bersedia muncul untuk berdikusi sehingga hanya ada sekelompok kecil


orang yang berpikir akan lebih baik jika bermain daripada menghabiskan


waktu tanpa tujuan dan bergabung di dalam permainan kartu.


Hubungan Manabe dan yang lainnya dengan Karuizawa sedikit


mengkhawatirkan, tetapi sepertinya efek dari pengiriman foto-fotonya


berhasil dengan sangat baik dan sekarang, mereka mematuhi perintah untuk


menjauhinya. Karuizawa juga percaya akan hal tersebut dan bersikap


normal seperti biasanya.


Di sisi lain, jika melihat dari sudut pandang Manabe, orang misterius yang


mengirim chat tersebut mungkin adalah aku atau Yukimura yang muncul di


dalam insiden di tangga darurat. Aku menambahkan pada chat yang aku


terima bahwa itu dari teman sekelasnya, tetapi sudah jelas bahwa salah satu


dari dua orang yang ada di sana sudah pasti adalah orang yang memotretnya.


Entah hal itu atau foto-foto mereka sudah dipastikan disebarkan oleh orang


misterius yang memulai chat tersebut sebagai sesuatu yang menarik.


Manabe pasti sudah mendapat pemikiran semacam ini dari semua kejadian


itu.


Selama dia tidak bisa memastikan dengan pasti bahwa akulah yang


bertanggung jawab atas semuanya, dia tidak bisa mengambil tindakan


terhadapku karena tidak ada gunanya mencari tahu identitas seseorang


yang memotret kejadian itu.


"Apa aku boleh berhenti di sini seperti ini? ..."


Yukimura berbicara sementara duduk di sampingku dengan ekspresi yang


suram dan depresi.


"Kau terlihat murung, Yukimura-kun. ini adalah tempat dimana kau bisa


memainkan hati mu dan mengeluarkan amarahmu. Pertandingan ulang.


Pertandingan ulang!”


(T/N: Tidak yakin ini hati (perasaan) atau


kartu wajik hati? Tapi kayanya itu adalah kartu wajik heart.)


"Aku akan melewatkannya, lagipula aku juga tidak bisa menikmatinya, yang


lebih penting, apa ini baik-baik saja, Ichinose-san? Mengakhiri ujian seperti


ini, aku pikir kau lah yang memegang kendali di kelompok ini dan


membimbing kami semua selama diskusi" Yukimura bertanya kepada


Ichinose.


Dan untuk menanggapi hal tersebut, Ichinose yang tangannya memegang


kartu, berhenti untuk sementara.


"Bukankah itu terlalu cocok untuk dirimu sendiri, Yukimura-kun? Jika kau


benar-benar ingin menang, jangan mengandalkan orang lain untuk


melakukannya untukmu dan gunakan kekuatanmu sendiri untuk menang"


"... aku sangat mengerti itu, aku mengerti"


Fakta bahwa dia tidak mampu memiliki tanggung jawab itu di dalam dirinya,


aku yakin Yukimura juga menyadari fakta tersebut, tetapi meski tahu, aku


pikir dia masih ingin mengubah suasana pasrah ini.


Yukimura yang memegang nilai tinggi akan menjadi salah satu yang paling


bisa diandalkan jika ujian itu murni mengukur kepintaran akademis kami.


Tetapi hanya karena kau berbakat secara akademis, itu tidak selalu berarti


membangkitkan semangat orang-orang. Bukan berarti mereka bisa menemukan ide yang baru begitu saja. Ada hal-hal di dunia yang tidak bisa dilakukan hanya dengan menghafal kata dan rumus.


Selama liburan musim panas, ada dua ujian khusus yang kami hadapi,


bahkan Horikita terpaksa menghadapi ketidakberdayaannya dalam


menghadapi hal tersebut.


Aku bertanya-tanya apakah di dalam kebuntuan situasi ini, Ichinose,


Machida dan yang lainnya juga merasakan kejengkelan ini.


Bagaimana pun, bahkan dengan frustrasi itu, selama hal itu tidak berakhir


dengan menghancurkan semangatmu, akhirnya itu bisa digunakan untuk


kekuatanmu.


***


"Dan dengan pertemuan berikutnya, ujian ini akan selesai. Bagaimana


dengan keadaan di sisimu, Ayanokouji-kun?"


Aku mengadakan pertemuan terakhir dengan Horikita. Dunia luar sudah


terbungkus oleh kegelapan. Catatan pembicaraan kami tetap ada di dalam


Chat. Untuk menghindarinya, saat ini kami bertemu secara langsung.


"Tidak ada perubahan yang spesial di sisiku, sepertinya target kami akan


lolos dengan selamat. Bagaimana denganmu?"


Aku pikir aku tidak bisa berharap banyak kepada Horikita, namun...


"Aku akan menang"


Jawabnya singkat seperti itu.


"Jadi kau sudah menemukan ‘target’?"


"Aku tidak tahu siapa yang mendengarkan kita, jadi aku tidak bisa


menceritakan rinciannya, tapi aku tidak keberatan jika kau percaya


kepadaku, semuanya akan berjalan dengan lancar"


Dari Hirata, aku sudah pernah mendengar bahwa "target" kelompok Naga


itu adalah Kushida. Tentu saja, aku yakin Ryuuen dan Kanzaki sudah


melakukan segalanya dengan kekuatan mereka untuk menjebaknya. Tetapi


sepertinya Horikita telah berhasil berlayar menuju keselamatan dan


bertahan.Jika dia bisa dipercayai, aku yakin tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau


hanya perlu menunggu 500.000 poin untuk digulirkan di kemudian hari. Hal


ini bahkan bisa digambarkan sebagai kemenangan yang pasti bagi kami


dalam masalah tersebut.


"Apa kau mungkin ingin berkonsultasi denganku?" dia bertanya.


"Tidak usah, kau bisa membuat pergerakan apapun yang kau suka"


Bahkan jika dia bercerita tentang kelompok (Naga), sepertinya aku tidak


bisa berbuat banyak untuk membantunya.


"Jadi, kau bilang kau ingin berbicara denganku tentang sesuatu, apa itu? Aku


ingin menghindari kontak yang ceroboh jika itu memungkinkan" kata


Horikita kepadaku.


Mungkin dia mewaspadai keberadaan Ryuuen yang sudah menguntit


Horikita... mungkin. Aku tidak bisa merasakan kebaikan apapun dari


sikapnya, tapi itu akan merepotkanku bahkan jika Horikita tiba-tiba


bersikap baik kepadaku.


"Kau tidak boleh takut dengan tatapan Ryuuen selamanya, kau tahu"


"Dilihat dari nada itu, bisakah aku menganggap bahwa kau memiliki


rencana?"


Tetapi sepertinya dia tidak banyak berharap kepadaku karena dia terlihat


terkejut saat aku mengangguk menanggapi hal itu.


"Aku sudah menarik Hirata ke pihakku, aku percaya aku bisa membangun


hubungan kerja sama dengannya di masa depan"


"Aku benar-benar tidak menginginkan semua itu" jawabnya.


"Baiklah, aku tidak akan memintamu terlibat dengan Hirata secara pribadi,


aku akan menangani pembicaraan dengan Hirata sehingga itu akan sesuai


dengan langkahku"


"...Aku tidak suka ini, aku tidak suka kau seperti bergerak di belakang


punggungku" kata Horikita


Aku sudah menduga dia akan mengatakan sesuatu seperti ini.


"Kalau begitu tunjukkan wajahmu saat kita membahasnya nanti. Bahkan jika


kau tidak bisa memaksakan diri untuk mengatakan sesuatu, kau bisa


mengikuti diskusi sehingga tidak ada masalah di sana, benarkan?" Tanyaku


padanya


"Aku rasa begitu"


Dia merasa tidak puas, tetapi jika aku memberi Horikita pilihan untuk


berpartisipasi atau tidak berpartisipasi, dia tidak bisa menolaknya. Lagipula,


keberadaan Hirata adalah sebuah keuntungan bagi kelas dan setelah melihat


kepemimpinannya di pulau tak berpenghuni, Horikita pasti akan


memahaminya juga.


"Termasuk Hirata, ada seseorang yang ingin aku perkenalkan. Tolong


luangkan waktumu sebelum ujian selesai" kataku.


"Aku masih tidak menyukainya, jangan ikut sertakan lebih banyak orang dari


yang dibutuhkan"


"Tolong pertimbangkan jika itu adalah konsekuensimu yang berdiri di garis


depan. Selain itu, orang tersebut pasti akan berguna bagi kita"


"Aku pikir kurang lebih aku mengerti apa yang sedang terjadi... tapi baiklah.


Kita akan bertemu di sini tepat setelah ujian berakhir,"


Setelah menukar janji itu, aku melihat jam di ponselku. Diskusi terakhir akan


berlangsung dalam 30 menit.


"Dalam ujian ini, aku bertanya-tanya, seberapa banyak kelompok yang akan


diselesaikan oleh pengkhianat?"


"Aku juga ingin tau. Aku terkejut jika ujian kelompok Sapi tiba-tiba berakhir,


tapi aku ragu hal seperti itu akan terulang. Aku pikir hasil yang paling


mungkin adalah ‘target’ yang lolos saat ujian hampir selesai"


"Sudah kuduga, aku juga berpikir seperti itu"


Dan sebentar, Horikita mengalihkan pandangannya. Itu adalah gerakan


tidak sadar yang manusia buat saat mereka mengkhawatirkan sesuatu.


"Ada apa?"


"Tidak ada, hanya saja, aku hanya merasakan sesuatu yang salah dengan


cara ujian ini berkembang, tetapi seharusnya tidak ada kesalahan, aku pasti


tidak akan kalah"


Sepertinya beberapa kecemasan yang dia simpan di dalam dirinya sedikit


bocor. Bahkan jika aku menawarkan kalimat dukungan, aku yakin dia akan


menganggapnya sebagai masalah yang tidak penting. Jadi aku memutuskan


untuk diam saja.


***


Anggota kelompok (Kelinci), tanpa harus mendekat untuk mencari solusi di


dalam ujian, ujian sudah memasuki diskusi yang keenam dan yang terakhir.


Karena aku ingin mempertimbangkan ideku dengan tenang dan rasional


untuk sementara waktu, aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan


Hirata dan yang lainnya dan mulai menuju ruang diskusi kelompok.


Karena masih tersisa sekitar 30 menit sampai dimulainya diskusi, jelas tidak


ada yang akan datang ke sana.


Tetapi, harapan itu terabaikan oleh kehadiran seseorang yang tak terduga...


"... Seseorang yang sudah datang duluan, ya?"



Itu merupakan sosok seorang perempuan yang tidur di lantai di sebuah


ruangan saat tidak ada seorang pun yang seharusnya berada di sana. Meski


begitu, aku bertanya-tanya kenapa roknya sangat menggelitik hati seorang


laki-laki?


Ini gawat, ini gawat.


Karena dia sedang berbaling, paha gemuk Ichinose bahkan terlihat lebih


jelas dari biasanya dan ke arah rok yang tidak bisa kulihat di dalamnya, aku


mendapati diriku tidak bisa mengalihkan tatapan dari mereka.


Jika ada laki-laki di sini yang tidak merasakan hal yang sama kepada


Ichinose, maka dia adalah gay atau biseksual. Tidak terlepas dari kejadian


itu, ini merupakan takdir dari seorang anak laki-laki yang sehat.


Meskipun kupikir itu tidak ada gunanya, aku tidak bisa berhenti melihat


mulai dari paha ke kakinya, lalu ke wajahnya, lalu ke payudaranya, lalu


kembali turun ke pahanya.


Tatapanku berkedip di antara mereka.


Sementara merasa frustrasi kepada zaman ini, aku tiba-tiba terganggu oleh


sesuatu yang lebih jauh di belakang kepala Ichinose, yaitu ponsel yang pasti


pernah dia gunakan sebelum tertidur.


Di ponsel yang diberikan oleh sekolah, cukup sedikit informasi yang tertulis


dan tidak hanya memainkan peran penting di dalam ujian ini, tapi juga


memungkinkanmu unyuk menentukan poin masing-masing individu.


Tentu saja untuk mengonfirmasi hal ini, sesuatu seperti ID pribadi dan kata


sandi diperlukan, namun untuk menghindari kerumitan haruslah log in


setiap kali seseorang ingin memeriksanya, ada banyak kasus dimana murid


yang menyimpan informasi semacam itu di terminal mobile.


Itu berarti, dengan kata lain, jika aku bisa mencuri ponsel Ichinose sekarang,


aku bisa memastikan kekayaan Ichinose dan jumlah poin yang dia pegang.


Beberapa waktu yang lalu, aku sudah memutuskan untuk mengabaikan ID


dan kata sandinya, Ichinose juga menyimpan informasinya di terminal


mobile.


Jika situasinya tidak berubah, aku akan bisa mendapatkan informasi.


Perlahan dan hati-hati, aku mendekatinya.


"... uuuuu”


"Wow"


Seiring jarak antara kami semakin dekat, mungkin suasananya akan berubah


dan dia akan merasakan kehadiran orang lain, tetapi Ichinose hanya sedikit


bergerak dan kemudian dia langsung tertidur lagi. Sepertinya aku berhasil


melakukannya tanpa membangunkannya. Aku memperpendek jarak lagi.


"... nnn".


Aku ingin tahu apa yang sedang aku lakukan.


Meskipun demi


mengumpulkan informasi, jika ada yang melihat ini, mereka hanya akan


melihatku sebagai orang yang mesum.


Bagaimana jika Ichinose terbangun saat aku memunggungi dia? aku merasa


sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan.


Karena diskusi dimulai dalam 30 menit, tidak masalah meski aku datang


lebih awal, kalau begitu, bukankah sebaiknya aku menunggu di dalam


ruangan dengan tenang? Jika tidak ada hal yang aku anggap salah, aku harus


bertindak normal. Langkah demi langkah, aku menutup jarak dengan


Ichinose.


"... nnnnn ... munyumunyu".


Ini tidak mungkin.


Setiap kali aku bergerak, Ichinose terus menunjukkan tanda-tanda


terbangun. Untuk menguji dugaan ini, aku mencoba menggerakkan kakiku


di tempat tanpa benar-benar bergerak. Jika Ichinose menanggapi hal ini, aku


bisa menyimpulkan jika dia hanya tidur ringan. Dikatakan bahwa orang-


orang yang tertidur ringan adalah orang sangat berhati-hati...


... ini menyedihkan


Kenapa aku menyelinap seperti ini? Tapi anehnya, dia sama sekali tidak


berbicara di dalam tidurnya. Tapi jika ada yang melihatku sekarang yang


mereka lihat hanyalah sebuah kata mesum.


Setelah memperhatikan tingkah lakuku sendiri sebagai usaha yang bodoh,


aku menyerah mencuri ponselnya dan menjauh darinya lagi. Lalu aku duduk


di tempat yang jauh dari Ichinose.


Dari sudut pandang ini, tidak ada risiko bahwa aku tanpa sengaja melihat


rahasia tersembunyi di pahanya dan resiko bahwa aku juga tidak sengaja


membuat kontak dengannya dari tempat ini.


Yang lebih penting lagi, sejak awal. Aku bertanya-tanya kapan tepatnya


Ichinose sudah tiba di sini?


Kemudian, sekitar 20 menit sebelum diskusi dimulai, musik yang imut


terdengar di ruangan. Itu berasal dari ponsel Ichinose.


"... nnnn"


Sambil tetap memejamkan matanya, dia meraih ponsel dan mengoperasikan


layar ponselnya, dia menghentikan musik itu. Sepertinya musik itu berasal


dari alarm yang dia atur. Sambil tetap merasa mengantuk, Ichinose


mengangkat dirinya dari lantai dan memperhatikan kehadiran yang asing,


yaitu keberadaanku di dalam ruangan.


Aku bertanya-tanya apa yang harus dilakukan jika dia membuat wajah jijik


ke arahku, tetapi dia sama sekali tidak mengkhawatirkannya.


"Selamat pagi, Ayanokouji-kun Maaf, apa alarmku mengejutkanmu?"


"Tidak. Yang lebih penting, sepertinya kau tidur dengan nyenyak"


"Ahahahaha maaf maaf, aku baru saja tertidur, kau datang cepat, masih ada


20 menit lagi"


"Sama saja denganmu, sejak kapan kau di sini?"


"Sejak satu jam yang lalu. Aku hanya ingin meluangkan waktu dengan


tenang, jika di kamarku, itu sangat ribut dengan teman-temanku yang keluar


masuk"


Sepertinya ini adalah tempat terbaik baginya untuk beristirahat.


"Selain itu, aku juga ingin mengumpulkan pemikiranku"


Dari pada merasa segar setelah tidur, wajahnya terlihat lebih seperti dia


memiliki sekilas pemahaman.


"Apa kau mendapatkan beberapa hasil?" aku bertanya.


"Kurang lebih"


Lalu berdiri, entah kenapa Ichinose berjalan menyeberangi ruangan ke


arahku dan duduk di sampingku.


Sebuah ruangan dengan hanya dua orang yang hadir dan jarak yang terlalu


dekat. Aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku di dalam situasi ini


tetapi sepertinya Ichinose sama sekali tidak memperhatikannya.


"Masih ada waktu yang tersisa sebelum ujian, jadi bisakah kita ngobrol


sedikit? Jika itu tidak menganggumu" dia bertanya.


"Tidak, itu sama tidak mengganggu. Jika kau tidak masalah dengan itu, aku


akan mengobrol"


"Kalau begitu sudah diputuskan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku


tanyakan kepada Ayanokouji-kun, aku juga pernah menanyakan ke semua


teman sekelasku, termasuk anak laki-laki seperti Kanzaki-kun juga. Tapi aku


juga belum pernah mendengar pendapat dari kelas yang lain, jadi aku


penasaran. Ayanokouji-kun, apa kau pernah menjadi sangat ingin naik ke


kelas A?”


Aku penasaran pertanyaan apa yang akan dia pilih untuk diberikan


kepadaku, tetapi itu adalah pertanyaan yang sangat umum untuk diajukan.


"Tentu saja, aku memikirkan sesuatu seperti itu. Tidak... Dari pada ingin naik


ke Kelas A, itu lebih seperti karena aku ‘membidik’ Kelas A. Itu akan menjadi


cara yang lebih tepat untuk menggambarkannya"


"Dengan kata lain... itu karena jaminan karier dan penempatan kerjanya


yang bagus?"


Di sekolah ini, murid terbagi menjadi kelas A sampai D dan dibuat untuk


saling berkompetisi. Namun, hak istimewa tertinggi adalah agar bisa pergi


ke universitas manapun dan mendapatkan pekerjaan setelah lulus hanya


diberikan kepada Kelas A. Tulisan itu ditulis dengan ambigu di pamflet


sekolah sehingga pada awalnya mungkin terlihat seperti sebuah tipuan.


(T/N: Pamflet dapat juga disebut selebaran.)


"Di hari ini dan waktu yang lama, setelah lulus kau tidak akan sanggup


memegang hidup dan pekerjaanmu, terutama jika harus dipekerjakan"


"Aku pikir itu benar, aku juga berpikir begitu, tetapi terlalu percaya kepada


sistem ini juga sangat berbahaya, bukankan begitu? Di dalam 99,9% kata-


kata yang mereka katakan, ada perangkap yang tak kasat mata yang mata


kita tidak bisa melihat" katanya.


Tentu saja perangkap yang Ichinose bicarakan kemungkinan ‘99, 9%


menjamin tingkat lapangan kerja dan pendidikan yang berikutnya’ yang


disebut-sebut oleh sekolah.


Misalnya, jika aku ingin menjadi pemain basket profesional namun tidak


memiliki pengalaman yang dibutuhkan, sekolah tersebut akan berusaha


menemukan cara untuk mendorongmu ke tingkat profesional. Selanjutnya,sekolah ini juga merupakan tempat berkembangbiakannya koneksi


interpersonal. Tetapi hanya karena kau bermain basket secara teratur atau


telah lulus dari universitas atau sekolah terkenal, tidak akan menjamin masa


depanmu.


Orang-orang yang berhasil mengapai cita-cita mereka yang telah dijamin


sejak awal, hanyalah sebagian kecil saja. Menurut statistik tertentu, hanya


satu dari enam murid SD yang mewujudkan cita-cita mereka.


Sekilas, ini terlihat seperti kemungkinan yang tinggi, namun data itu adalah


yang paling ambigu dan standar statistiknya terlihat kabur.


Menjadi pemain basket profesional sukses tidak berarti kau akan menjadi


pemain kelas satu. Pemain basket profesional misalnya, termasuk trainee,


akan berjumlah sekitar 900 atau 1000 orang. Namun, hanya dengan bermain


secara reguler, bertanding dan menang melawan sainganmu, seseorang


dapat mengapai cita-cita mereka. Pada akhirnya, hanya ada 100 dari orang-


orang tersebut yang berhasil mewujudkan cita-cita mereka.


Dengan kata lain, membidik cita-citamu dan berhasil menyelesaikannya


memiliki kemungkinan yang sangat rendah. Bagaimanapun, mewujudkan


cita-cita itu sangat sulit dilakukan. Banyak murid hanya mengulangi


kehidupan membosankan mereka berulang-ulang sambil berbicara dengan


samar tentang impian mereka. Tetapi jika seseorang benar-benar ingin


mewujudkan mimpinya, mereka akan membutuhkan banyak usaha dan


keberuntungan.


"Begitulah sekolah ini... jika kau memikirkannya, hal itu memiliki pengaruh


yang besar bukan? Dan banyak orang sudah berhasil di dalam kehidupan


mereka karena bantuannya atau apa kau ingin mengatakan bahwa kau tidak


tertarik dengan itu, Ichinose?"


"Tidak ada yang seperti itu, bahkan aku memiliki mimpi, lulus dari kelas A.


Dan juga mimpi yang ingin aku penuhi"


Meskipun dia mengatakannya sambil tersenyum, aku bisa melihat perasaan


kuat dan tegas di matanya.


"Sistem sekolah itu sendiri sudah bagus, tapi jika kau tidak bisa lulus dari

__ADS_1


Kelas A, kemungkinanmu tidak seberapa, karena sekolah beroperasi dengan


realisme, jika kau tidak bisa menang dengan menggunakan bakatmu sendiri,


tidak ada yang bisa kau lakukan untuk melakukannya. Dan yang terpenting,


murid ditempatkan ke kelas berdasarkan kemampuan mereka saat ini,antara aku dan Ayanokouji-kun di sini, hanya satu dari kita yang bisa


mencapai cita-cita mereka dengan pindah ke puncak. Aah, meskipun ada


juga kasus dimana tidak satu pun dari cita-cita kita yang akan terwujud"


Dengan kata lain, meski kita duduk di sini dan berbicara seperti teman, pada


akhirnya hanya ada satu kelas yang bisa menjadi pemenangnya. Tiga kelas


yang tersisa tidak akan dibagi ke dalam penghargaan tersebut.


"Apa kau pernah mendengar? ada juga pengecualian terhadap peraturan


tersebut"


"Hmm? Apa itu dimana individu mengumpulkan 20 juta poin?"


"Yup. Sepertinya tidak ada yang bisa mencapai sesuatu seperti itu di dalam


sejarah sekolah, tetapi ada Ultra C yang seperti itu juga" jawab Ichinose.


"Ya, ya, jika kita memperhitungkannya juga, mungkin saja kita berdua bisa


lulus dari kelas A" kata Ichinose.


"Masalahnya adalah apa kau bisa menghemat 20 juta poin atau tidak sejak


awal, bahkan jika kau menghemat poin di dalam ujian, sistem sudah


ditetapkan sehingga tidak akan mampu mencapai 20 juta" jawabku.


Jika kita hanya melihat ujian khusus ini, tergantung kepada tindakanmu


selama itu. Sangat mungkin untuk menerima sejumlah besar poin dan hanya


ada dua ujian yang sudah dilakukan sejauh ini. Dari titik ini dan seterusnya,


mungkin saja jumlah poin yang bisa diterima diperkecil dan bagi mereka


karena sudah dimakan oleh denda yang besar.


"Aku pikir itu benar. Jika kau mulai menabung poinmu, dengan hanya


mencapai setengah dari jumlah itu, kau pasti sudah menimbulkan


kecurigaan," kata Ichinose.


"Itu benar. Khususnya di situasi keuangan di Kelas D, sangat mengerikan,


meski Horikita melakukan yang terbaik untuk kami, poin yang didapat dari


pulau tak berpenghuni masih jauh. Tidak, mungkin saja kami kehilangan


poin di Ujian ini, Ichinose, apa kau menyimpan poin? Menurutku, kau bukan


tipe yang bekerja keras untuk mendapatkan poin”


"Ummm... Aku bertanya-tanya, aku tidak tahu dengan orang yang lainnya,


Aku pikir terkadang aku menggunakan poin dan terkadang menyimpannya


juga. Meski aku di Kelas B, aku masih belum memiliki banyak poin. Kau tahu”


Menanggapi pertanyaanku, Ichinose membalas dengan nada yang sangat


alami tanpa indikasi bahwa dia menyembunyikan sesuatu yang bisa dinilai


hanya dari perilakunya.


"Ayanokouji-kun"


"Hmm?"


Kemudia, Ichinose tiba-tiba menutup jarak denganku dan berbalik


menghadapku sambil menatap wajahku.


"Sepertinya kau sudah melihatnya, saat itu"


Mata indah yang terlihat seperti mengisapku dengan melihatku tanpa


melepaskannya. Sepertinya Ichinose jauh lebih pintar dari yang aku


pikirkan, dia melihat rencanaku.


"... maaf, saat kau menggunakan ponselmu tadi, kebetulan aku melihat


layarnya. Aku penasaran dan hanya ingin bertanya kepadamu" jawabku.


"Ahaha... bukan berarti aku menyalahkanmu karena itu. Tentu saja itu poin


yang besar, bukan?"


Itu benar. Bahkan sebelum akhir semester satu, Ichinose sudah


mengumpulkan sejumlah besar poin. Bahkan jika aku menyimpan setiap


poin yang diberikan kepadaku setiap bulan tanpa menggunakan satu poin


pun, aku tetap tidak bisa menghemat sebanyak itu.


"Jangan khawatir, aku belum memberitahu orang lain, ada kemungkinan aku


salah, aku tidak akan menyelidikinya lebih lanjut," kataku padanya.


Bahkan jika aku menyelidiki, aku ragu aku akan bisa mendapatkan jawaban


yang memuaskan.


"Apa kau bisa menemukan cara untuk menang?" Aku bertanya.


"Ummm ... kurasa seperti itu, kurasa aku sudah menemukan petunjuk"


Kupikir tidak mungkin dia menjawab dengan jujur, tapi apa itu karena


kepercayaan dirinya, Ichinose menjawab dengan nada santai. Sepertinya


Ichinose adalah tipe yang bertindak berdasarkan keyakinannya tanpa


membuang waktu.


"Kalau begitu pertarungan ini... itu akan menjadi pertarungan untuk melihat


apakah A akan menang atau B akan berakhir"


"Aku tidak akan tahu sampai tirai sudah dijatuhkan (berakhir). Kemenangan


yang aku bidik adalah..."


Tetapi sebelum dia bisa menyelesaikannya, seiring waktu diskusi kelompok


mulai mendekat, anggota kelompok mulai muncul satu per satu. Murid Kelas


A adalah orang pertama yang datang, bagaimanapun, tanpa banyak bertukar


sapaan dengan kami, mereka hanya mengambil tempat duduk mereka.


"Apa? Kau sudah di sini, Ayanokouji?"


"Bersama dengan Ichinose-dono, kalian berdua saja. Pertemuan rahasia apa


yang sedang kau rencanakan di sini?"


Baik Yukimura maupun Sotomura menyerangku secara sepihak dengan


pertanyaan-pertanyaan tersebut saat mereka memasuki ruangan bersama-


sama. Aku tidak bisa menuliskan kecemasan dan depresi di wajah mereka,


jadi mungkin mereka sudah menyerah kepada kemenangan pada saat ini. Di


sisi lain, murid Kelas B terlihat hampir tenang.


"Ini yang terakhir, ya? Apa kau sudah menemukan petunjuk?"


Hamaguchi bertanya kepadaku setelah diam-diam menunggu diskusi


kelompok dimulai dengan serius.


"Jujur saja, aku belum punya ide, kami sama sekali belum bisa membangun


pembicaraan yang layak"


Aku memang mengatakannya, tapi aku sudah menjalankan strategi yang


sudah aku rencanakan sejak awal ujian. Dengan menggunakan pesan yang


dikirim sekolah ke ponsel kami, "target" tersebut berhasil disamarkan.


"Target" kelompok (naga) adalah Kushida, tapi apa yang terjadi jika


misalnya, Kushida dan Horikita menukar ponsel mereka. Saat melihat ponsel


itu, siapa pun akan menduga Horikita sebagai "target"


Dan jika ada pengkhianat yang mengetahui fakta ini, dengan mengirimkan


nama Horikita sebagai "target", mereka akan membuat kesalahan dan


kemenangan akan tercapai seperti itu.


"Selamat malam, ayo kita jalani"


Setelah sempat mengatakannya, Ichinose kembali bersikap dan tersenyum


seperti biasa. Tetapi masih terlalu cepat, karena masih belum ada yang tahu


apa yang anggota lain sembunyikan dan rencanakan.


Selain itu, jika setiap orang fokus pada masalah yang ada, akan semakin sulit


menyamarkan "target" itu sendiri. Aku sudah menunggu Ichinose untuk


terus berbicara lebih cepat, tapi aku memutuskan untuk membiarkanya


sekarang.


"Jika semua orang tidak masalah dengan itu..."


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan"


Anehnya, aku dan Hamaguchi mengucapkan kata-kata itu pada saat


bersamaan.


"Maaf, tolong teruskan Ayanokouji-kun"


"Tidak... Apapun itu, kau duluan, aku baik-baik saja”


Aku tidak pernah mengharapkan kebetulan ini saat ini. Sebuah kebetulan


yang mengerikan. Rencanaku sendiri tidak memiliki kekurangan, tapi jika


masalah tak terduga seperti ini terjadi, efek dari rencanaku mungkin


menjadi tidak stabil.


Kurasa aku bisa mendengarkan apa yang Hamaguchi katakan sebelum


waktunya aku berbicara dan mencoba lagi. Sebagai tanggapan terhadapku


yang telah memikirkan hal tersebut, Hamaguchi menghancurkan harapanku


dengan cara yang tidak terduga.


“Lalu, dengan seizinmu selama tiga hari terakhir, aku terus memikirkan cara


terbaik untuk mencapai hasil yang pertama"


Hamaguchi kemudian mulai menceritakan rencananya kepada anggota


kelompok kelinci yang lain. Anehnya, isi usulannya sangat mirip dengan


strategi yang sudah aku rencanakan.


"Dan akhirnya aku hanya menemukan satu kesimpulan, bahwa


memungkinkan untuk seluruh kelompok mencapai hasil pertama dan


sebuah cara untuk membuatnya mungkin" Hamaguchi melanjutkan.


"Apa itu benar, Hamaguchi?"


Sambil menatap Yukimura dan yang lainnya yang telah melepaskan semua


harapan mereka, secercah harapan sudah kembali.


"Tentu saja, ini ide yang aku dapatkan setelah mendengarkan semua orang


di sini, termasuk Ichinose-san dan Machida-kun" kata Hamaguchi.


"Luar biasa. Tidak mungkin hasil pertama bisa dicapai melalui pembicaraan


itu sendiri"


Seseorang yang keberatan dengan usulan naif dan mimpi seperti ini tentu


saja adalah Machida.


"Lebih baik kita medengarkannya terlebih dulu. Hamaguchi-kun bukan tipe


yang bisa berbicara sebelum berpikir"


Ichinose menindaklanjuti Hamaguchi dan membuat lingkungan yang tenang


untuk berdiskusi.


"Sekarang aku akan melanjutkan dengan menunjukkan semua ponselku.


Tentu saja, ada pesan yang dikirimkan kepadaku oleh sekolah. Aku yakin


kalian pasti mengerti apa yang aku dapatkan karena dilarang memalsukan


atau mengubah pesan dari sekolah dengan cara apapun, tidak ada risiko


menipu dengan cara ini. Itulah kenapa ini adalah hal yang sederhana, hanya


dengan saling menunjukkan kiriman kita, kita bisa menemukan siapa ‘target’


itu, itulah cara yang aku lakukan untuk menemukan kebenaran”


"Ini bodoh, siapa yang akan menunjukkan pesan mereka seperti ini? Kami


masih belum tahu bahwa seseorang tidak akan mengkhianati kami saat kami


menunjukkan pesan kami, tidak ada orang yang mau mengikuti rencana ini."


Menanggapi rencana ini, siapa pun bisa memikirkannya, tapi tidak ada yang


mau setuju, tentu saja sang penonton, Machida ternganga keheranan.


"Tentu saja, karena mereka tahu ada kemungkinan pengkhianatan, ‘target’


tidak akan menunjukkan pesan di ponsel mereka. Tapi melihat dari sudut


pandang orang-orang yang bukan ‘target’, ada sedikit risiko dalam


menunjukkan pesan. Ujian akan segera berakhir, jika kita tidak melakukan


langkah kita sekarang, kita tidak akan menang. Jika kelas bekerja sama untuk


melindungi ‘target’, tidak satu pun dari mereka akan menunjukkan pesan


mereka. Dengan cara ini, mengepung ‘target’ sangat mungkin”


"Bahkan jika kau tahu identitas ‘target’ atau kelas yang menjadi milik


mereka, jika seseorang mengkhianati kita, masalahnya tidak akan


terselesaikan. Apa kau berencana memainkan permainan di mana seseorang


akan lebih cepat mengkhianati kemenangan?"


Dengan menggunakan strategi ini, memang mungkin untuk mengetahui


identitas "target". Tapi hanya itu yang bisa dilakukan. Pada akhirnya, bukan


berarti semua orang akan bermain dengan adil satu sama lain dan


menjawabnya dengan benar.


"Kalau begitu, tolong tutup mulutmu. Pada akhirnya semuanya menjadi


lebih baik jika Machida-kun tidak ikut berpartisipasi"


kepada sikap yang tidak mau membantu dari orang lain dan melanjutkan


untuk menunjukan pesan diponselnya.


"Aku setuju dengan ide Hamaguchi-kun, aku akan menunjukkannya juga


milikku"


Dan Beppu dari Kelas B yang sama juga mengikutinya.


Sepertinya ini bukan kejadian yang acak dan terpencil melainkan strategi


Ichinose yang tidak beralasan. Perkembangannya sama dengan strategi yang


sudah aku rencanakan. Tapi, aku tidak tahu sejauh mana mereka


memikirkan hal ini. Tetapi jika mereka berpikir semua orang dengan patuh


akan mempercayai kata-kata itu dan menunjukkan pesan di ponsel mereka,


itu akan menjadi sebuah tindakan yang gegabah...


"Aku pikir ini ide yang bagus. Aku tidak keberatan untuk menunjukkan


ponselku juga"


Ichinose sekali lagi tersenyum seolah setuju untuk mengikuti rencana


Hamaguchi. Mencocokkan dengan tindakan yang lain, Ichinose juga meraih


saku kanan roknya untuk mengeluarkan ponselnya.


"Aku sudah lama merenungkan ini untuk waktu yang lama, tapi akhirnya aku


mengerti sekarang setelah mendengar apa yang Hamaguchi-kun katakan.


Maaf aku menyimpan ini sampai sekarang tapi ..."


dan dengan kata-kata yang penuh arti tersebut, Ichinose mengeluarkan


ponselnya.


Sekarang aku memutuskan untuk menyerang sebelum Ichinose bisa


menyelesaikan strateginya.


"Apa kau serius, Ichinose? Jika kau berani bertaruh, maka aku akan


membawamu ke penawaran itu"



Sebelum Ichinose bisa mengungkapkan isi pesannya, aku menawari


ponselku sendiri. Tetapi ini bukan ponsel miliku, melainkan yang aku tukar


dengan orang tertentu.


"Ayanokouji-kun ... apa kau tidak masalah dengan itu?"


"Ya, setelah mendengarkan Hamaguchi, aku pikir tidak ada cara lain selain


ini. Karena aku sangat payah dalam berkomunikasi, satu-satunya yang bisa


aku lakukan adalah menunjukkan kebenarannya, jadi itulah yang akan aku


lakukan"


"Tunggu Ayanokouji, aku keberatan. Tidak mungkin strategi tumpul


semacam ini bisa berjalan dengan lancar"


Yukimura dengan putus asa berusaha menghentikanku, tapi aku


mengabaikan kata-katanya dan menunjukkan pesanku.


Dengan begitu, aku membuktikan bahwa aku bukanlah "target". Dan


sejumlah besar air telah terkumpul di bendungan tak terlihat ini. Bahkan jika


sebuah lubang berukuran 1 sentimeter harus dibuka, bendungan pasti akan


runtuh dan berubah menjadi arus yang besar. Tindakan ini merupakan


pemicu untuk membuka lubang tersebut.


"Hmm... sepertinya Ayanokouji-kun bukan ‘target’. Baiklah. Kalau begitu aku


akan menunjukkan milikku juga"


Sekarang siapa yang akan menindaklanjutinya? Dari antara kerumunan


yang besar, orang-orang yang masih menertawakan strategi Hamaguchi,


seorang perempuan menyuarakan persetujuan dan menyetujuinya. Dia


adalah orang yang paling tidak diharapkan.


Ibuki Mio.


“Apa kau gila? Tidak ada keuntungan bagi kita dengan melakukan ini"


Dia adalah Manabe yang keberatan dengan tindakan berisiko Ibuki.


Tapi kata-kata yang Ibuki katakan adalah tanggapan yang benar, alasan yang


bagus.


"Orang-orang yang bukan ‘target’ mereka sendiri maupun termasuk ke kelas


yang sama dengan ‘target’, tidak ada keuntungan dalam mempertahankan


status tersebut. Kelas B juga mengerti bahwa jika kita tidak melakukan apa-


apa, kita tidak akan pernah mengejar ketinggalan dengan kelas di atas kita.


Itulah sebabnya mereka menunjukkan ponsel mereka dan aku memikirkan


hal yang sama seperti mereka, itu saja, "kata Ibuki.


"Tapi itu..."


"Atau mungkin, kau adalah ‘target’ ?"


Ibuki mengatakan hal itu pada Manabe yang seharusnya menjadi sekutunya,


dengan cara yang berlawanan seperti musuh.


"T-tidak t-itu ..."


"Kalau begitu kau juga bisa menunjukkannya, ponselmu itu"


Di satu sisi, kata-katanya bisa dianggap sebagai ancaman terhadap


sekutunya sendiri, seolah mereka akhirnya mengerti, Manabe dan yang


lainnya juga mengeluarkan ponsel mereka. Perburuan untuk "target" sedang


berlangsung. Karuizawa juga mengeluarkan ponselnya dengan tali pengikat


di atasnya dan menyerahkannya di depan semua orang.


"Karuizawa, kau juga ikut dengan Ayanokouji? Apa kau juga akan mengikuti


strategi ini?" Yukimura bertanya.


"Aku hanya melakukan ini untuk diriku sendiri, karena aku ingin poin


pribadi juga" jawab Karuizawa.


Pesan dari sekolah mengatakan bahwa dia juga bukan "target". Karuizawa


juga dianggap aman.


"... ehhh apa yang harus kulakukan?" Sotomura bergumam.


"Pikirkan sendiri, Sotomura, ini bukan hal wajib tapi bersifat sukarela, kau


tahu"


"Uuuu... aku pikir aku bisa mengatasinya”


Di dalam situasi dimana banyak murid telah bergabung, karena dinilai tidak


ada pilihan yang lain, Sotomura juga bergerak untuk menunjukkan


ponselnya. Namun, sebelum dia sempat melakukan itu, Yukimura dengan


cepat menghentikannya.


"...apa kau benar-benar berpikir bahwa ini adalah tindakan yang benar?"


"Sejak beberapa waktu yang lalu, kenapa kau tidak ikut? Apa mungkin kau


adalah ‘target’?"


Menanggapi Yukimura yang sangat menentang strategi tersebut, Ibuki


membantahnya dengan pertanyaan itu.


Pada saat itu, semua orang bisa melihat ekspresi Yukimura mengeras.


"Uwa ... kau serius?"


“Yukimura bukan ‘target’, awalnya aku dengar seperti itu"


Aku cepat menindaklanjutinya. Tetapi tawa spontan datang dari beberapa


murid.


"Apa kau benar-benar mengharapkan kami untuk mempercayai kata-


katamu begitu saja? Kau mungkin sedang berbohong"


Manabe mengatakan bahwa sekilas meragukan Yukimura sebagai fakta


sebenarnya.


Tentu saja, terus menyangkal bahwa dia adalah "target" di sini hanya akan


mengundang kecurigaan lebih lanjut kepadanya. Dia harus tahu itu juga.


Tapi aku belum bisa membuat langkah di sini. Karena Yukimura adalah ---


"Masih terlalu cepat untuk menarik kesimpulan, karena Yukimura-kun juga


punya poin"


Ichinose yang telah menyaksikan serangkaian kejadian yang berkembang,


mengatakan hal itu saat dia sekali lagi mengeluarkan ponsel dari saku


kirinya.


"Aku sedikit terjebak di dalam arus, tapi aku juga ingin menunjukkan


ponselku"


katanya saat dia sekali lagi membuktikan bahwa dia bukan "target"


kelompok tersebut.


"Tunggu, Ichinose. Sebelumnya, kau bilang ada sesuatu yang ingin kau


sampaikan kepada kami. Kau bilang, kau akan selalu diam tentang hal itu


sepanjang waktu"


Karena dia tidak melupakan pernyataan itu, Machida menekan pertanyaan


itu kepadanya.


"Itu hanyalah fakta bahwa aku juga selalu memiliki pemikiran yang sama


juga, itu saja"


"... pemikiran yang sama?"


"Aku mengatakan gagasan yang sama, tapi sebagai pemimpin Kelas B, aku


hanya menyesal karena sudah dikalahkan oleh Hamaguchi-kun"


Bagaimanapun, sepertinya semua orang selain Kelas A dan Yukimura sudah


membuktikan diri mereka kepada kelompok bahwa mereka bukanlah


"target"


"........."


Semua murid di sini tidak begitu sadar karena tidak mengerti makna di balik


keheningan Yukimura. Machida dan murid-murid lain dari Kelas A juga, pada


suatu titik telah mendekati Yukimura untuk menatapnya.


".....baiklah aku mengerti, akan kutunjukkan kepadamu. aku hanya harus


menunjukkannya, kan?"


Tidak lagi mampu menahan tekanan teman-teman yang diarahkan padanya,


Yukimura menyerah dan mengeluarkan ponselnya juga.


"Tapi sebelum aku melakukannya, aku ingin kalian berjanji satu hal"


katanya.


"Janji? Apa maksudmu dengan itu, Yukimura-kun?"


"Tidak ada seorang pun di sini yang akan menjadi pengkhianat. Semua orang


di sini, terutama Kelas A, aku ingin kalian mengambil ponselmu dan


menempatkannya di tempat yang bisa aku lihat. Tidak, semua juga. Semua


orang meletakkan ponsel kalian di tempat yang bisa aku lihat" kata


Yukimura.


Dia sudah mengarahkan pernyataan itu kepada perwakilan kelompok di sini,


Machida, tetapi Machida menjawabnya dengan nada yang tidak terpuji.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Apa maksudmu?"


"Persis seperti apa yang aku katakan. Tidak ada yang lebih dan tidak ada


yang kurang"


"Baiklah, kalau itu hanya menempatkan mereka di sana"


Mendekati Yukimura, semua murid dari Kelas A mengeluarkan ponsel


mereka dan meletakkannya di depan dia. Setelah memastikan fakta tersebut,


tanpa ada keraguan di ekspresinya, Yukimura bergerak. Yukimura


mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menyalakan layarnya, lalu


memasukkan kata sandi 6 digit yang dibutuhkan dan masuk ke ponselnya.


Kemudian dia membuka pesan yang dikirim kepadanya dari sekolah dan


mengangkat layar secara langsung agar dilihat semua orang.


"... aku minta maaf karena berbohong kepadamu, Ayanokouji ..."


Yukimura meminta maaf saat membuka pesan yang dikirim dari sekolah.


Yang paling terkejut setelah melihat kalimat yang tertulis dalam surat, itu


tentu saja adalah anggota Kelas D.


"Aku adalah targetnya ..." kata Yukimura.


Di layar ada pesan yang berbeda dari apa yang orang lain terima.


"A-apa Y-Yukimura-dono adalah ‘target’ selama ini?"


Sotomura menatapnya dengan tatapan heran. Ini juga berarti bahwa kami


sudah begitu saja melepaskan 500.000 poin yang seharusnya diberikan


kepada Kelas D. Namun, Yukimura adalah orang yang aku tukarkan

__ADS_1


ponselnya secara rahasia.


"Jika aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini, aku akan berbicara sejak


awal" kata Yukimura.


Karuizawa juga terlihat terkejut dari lubuk hatinya dan ekspresinya


menunjukkan kegelisahan. Melihat pemandangan dari kedua orang yang


tidak akan pernah memikirkan Yukimura sebagai "target", itu hal masuk


akal.


Machida kemudian berdiri dan mengintip pesan diponsel Yukimura sekali


lagi.


"Sepertinya pesan itu sungguhan, semua pesan pribadi lainnya sepertinya


juga milik Yukimura tanpa ada keraguan"


kata Machida setelah memeriksanya bahkan chat pribadi Yukimura tanpa


izin.


Menuju Machida yang mendekati situasi dengan curiga, Ichinose mencoba


menjelaskan situasinya dengan tenang.


"Tidak mungkin itu palsu, bagaimanapun juga, kau tahu peraturan yang


ditetapkan sekolah. Mengenai pesan yang dikirim oleh sekolah tentang ujian,


menyalin surat dan memindahkannya dengan sengaja itu dilarang. Pesan


dikirim dari alamat sekolah, kemungkinan palsu itu nol, "kata Ichinose.


Tepatnya, dari awal, memalsukan informasi di dalam ujian ini dengan jelas


dilarang. Karena hukuman yang dikenal sebagai pengusiran menanti orang-orang yang melanggar peraturan, segala sesuatu yang diletakkan di sini


tidak lain hanyalah kebenaran.


Bahkan jika seseorang mengatasi rintangan ini dengan terbohong di sini,


masalah masih akan menunggu mereka setelah ujian berakhir, maka


hasilnya akan sama saja.


"Artinya itu adalah Yukimura-kun” Manabe mengangguk setuju.


Yang penting di sini adalah kondisi pesan Yukimura yang pada akhirnya


akan ditunjukan. Apakah seseorang yang memegang ponsel tersebut


memang pemiliknya atau bukan... tidak ada hubungannya. Dengan kata lain,


membuat keputusan apakah orang yang dimaksud adalah pemilik ponsel


atau bukan adalah tugas yang sangat sulit.


Khusus bagi murid yang berjaga-jaga selama ujian, memikirkan bahwa


seseorang mungkin sudah menukarkan ponsel mereka dengan orang lain


bukanlah dugaan yang tiba-tiba. Namun, dengan santai memasukkan


password 6 digit dan membuka kunci ponsel di depannya membuat


semuanya berbeda.


Tidak mungkin murid bisa mengetahui password murid yang lain. Mereka


pasti akan menarik kesimpulan seperti itu hampir secara tidak sadar dengan


mengasumsikan hal seperti itu jika itu adalah ponsel mereka. Ini tidak


berakar kepada penalaran melainkan sebuah prasangka yang telah tertanam


dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun.


"Maafkan aku Yukimura-kun... aku memikirkan ini sebagai upaya terakhir ..."


"Tidak, aku pikir ini hal yang benar untuk dilakukan, entah bagaimana aku


mencoba menjauh dari ini, tapi itu salah, aku yakin Ayanokouji dan


Sotomura, dan juga Karuizawa akan merasa ini adalah hal yang benar" jawab


Yukimura.


Dengan berkata demikian, dia membuat dirinya terlihat seperti orang yang


mencoba mengamankan poin dengan aman hanya untuk dirinya sendiri.


"... dengan ini semua orang harus tahu jika ‘targetnya’ adalah aku, Jadi kalian


seharusnya sudah sampai pada sebuah jawaban" lanjutnya.


Itu benar, dengan menyelesaikan ujian bersama semua orang, seluruh


kelompok bisa mendapatkan 500.000 poin. Hasil pertama yang sepertinya


tak bisa diraih pada awalnya bisa didapat sekarang.


Ichinose menganggukkan kepala sekali lagi dengan kekuatan lebih dari


sebelumnya, dia memohon kepada Kelas A.


"Tolong, jangan sia-siakan keberanian Yukimura-kun, tolong kerja sama


dengan kami, jangan mengkhianati kami"


"Kami hanya mengikuti instruksi Katsuragi-san sejak awal, kami tidak akan


melakukan apapun dengan sendirinya" jawab Machida kepada Ichinose.


Dia memang mengatakan itu, tapi sebelum ujian selesai, akan ada waktu


dimana kami pasti harus dibubar sebagai sebuah kelompok. Sebelum ujian


berakhir, untuk waktu yang kosong selama 30 menit, kami harus percaya


tidak hanya kepada teman sekelas kami tapi juga kepada murid kelas lain.


"Aku ingin percaya ... tidak, aku percaya kepada semua orang ..."


Yukimura mengatakan seolah-olah itu adalah sebuah keinginan dan setiap


kelas menerima hal yang sama. aku bertanya-tanya apakah murid yang


sudah menghabiskan waktu bersama-sama selama beberapa hari terakhir


mendapatkan sesuatu yang menyerupai persahabatan?


Aku ingin tahu apakah mereka akan menerima perasaan Yukimura, dan bisa


bekerjasama untuk meraih kemenangan? Tidak, hal seperti itu tidak


mungkin. Aku yakin dengan hal ini, seseorang pasti akan menjadi


pengkhianat.


Dan jika demikian, kami dari Kelas D yang sudah mengganti ponsel kami satu


sama lain pasti akan menang.


Yukimura pastinya yakin akan hal itu. Dia pasti sudah berusaha menahan


diri untuk tidak tertawa terbahak-bahak. Namun, kesenangan yang pasti


dirasakannya menguap, saat ponsel Yukimura dipegangnya tiba-tiba


berdering dan bergema di dalam ruangan.


Yukimura adalah orang yang paling terkejut dibanding orang lain dengan


panggilan masuk. Sambil terburu-buru menarik ponsel dari meja, dia


tersandung dan melepaskan ponsel dari tangannya. Secara kebetulan,


dengan layar di sisi kanan atas, terlempar tepat di depan kami. Karena dalam


mode diam, getaran tersebut dikirim melalui meja karena terus bergetar.


(T/N: Mungkin yang bergema dan berbunyi itu suara getarannya?


)


Nama pemanggilnya adalah --- 'Ichinose'.


Dia sambil memegang ponsel sampai ke telinganya, menatap Yukimura, lalu


dengan mata serius,


"Apa yang kau lakukan, Ichinose? Tidak ada gunanya menelpon Yukimura


pada saat seperti ini"


Machida berkata sambil menatap Ichinose dengan wajah tercengang. Setelah


menciptakan situasi dimana hanya aku dan Yukimura yang bisa mengerti


maknanya, Ichinose diam-diam mengakhiri panggilannya.


"Sekolah tersebut mengatakan bahwa 'mengubah atau menyalin pesan'


dilarang, oleh karena itu kami percaya pesan di depan mata kami tidak


diragukan lagi kebenarannya. Sudah pasti, tapi tidak ada peraturan yang


mengatakan bahwa kau tidak bisa menipu seseorang dengan ponsel itu


sendiri. kau mengerti maksudnya?"


Ichinose mengatakan sambil mengangkat ponsel yang jatuh dan


mengembalikannya ke Yukimura, tapi bagiku.


"Orang yang memiliki ponsel dengan pesan ‘target’ yang tertulis di atasnya,


bukan begitu, Ayanokouji-kun? Karena baru saja, aku tidak menelpon


Yukimura-kun, tapi Ayanokouji-kun"


Aku menukar nomor kontakku dengan Ichinose beberapa waktu yang lalu.


Itu sebabnya dia tahu nomorku. Tidak, kalaupun dia tidak tahu, dia pasti


sudah melakukan penulusuran untuk mengetahui nomor teleponku.


"T-tapi bukankah aneh? Yukimura bisa membuka kata sandi ponsel di depan


mata kita. Aku juga sudah memeriksa pesan dan history pribadinya di depan


mata semua orang," kata Machida.


"Itu dipalsukan, dia bisa dengan mudah mengetahui kata sandinya hanya


dengan menanyakannya kepada Ayanokouji-kun sebelumnya. terlebih,


semua history panggilan, pesan dan bahkan aplikasi bisa dipalsukan meski


membuat cukup banyak usaha yang harus dilakukan untuk itu" jawab


Ichinose.


Setelah mendengarnya, Machida mengubah ekspresinya dan dengan cepat


meraih ponsel yang sudah dikembalikan kepadaku.


"Seseorang tidak bisa berbohong begitu mudah, kau tahu, apalagi saat


tujuannya sudah di depan mata, mereka pasti akan menjadi cemas dan pembukaan akan menampakkan diri mereka. Yukimura-kun berbohong dan


karena itulah gerak-gerik dan sikapnya terlihat berbeda dari biasanya dan


terlihat mencurigakan." Kata Ichinose, setelah benar-benar melihat melalui


usahaku untuk berkamuflase.


Setelah mendengar kesimpulannya, wajah Yukimura menjadi pucat. Tidak,


itu memang sangat meragukan bahkan ketika dia sudah mendengar


semuanya.


"Kami juga sudah memikirkannya untuk beberapa saat, jika ‘target’ itu ada


di kelas kami, selalu ada pilihan untuk mengganti ponsel dengan mereka.


Dengan menggunakan kata sandi untuk melepaskan diri sebagai ‘target’ juga


merupakan salah satu dari hal yang kami pikirkan "kata Ichinose.


Sepertinya, strategi yang aku hadapi sudah dipikirkan oleh Ichinose dan


yang lainnya.


"Tapi kau tahu, ada kelemahan di dalam strategi itu, fakta bahwa ada nomor


telepon, bahkan jika kau bisa dengan sempurna meniru history dan


aplikasimu, kau tidak bisa melakukan apapun dengan nomormu. Sekali, aku


dan Hamaguchi-kun pernah mencoba menukar kartu SIM kami, kartu SIM


berikan kepada kami terkunci ke terminal khusus kami, jadi biarpun kami


menukarnya, kami tidak bisa membuat kartu SIM kami tertukar. Itu berarti


jika kau sudah menukar kartumu juga, aku tidak akan bisa menghubungimu.


Tidak masalah siapa yang mengganti ponsel dengan siapa, segera setelah


aku menghubungi nomor itu, aku bisa dengan mudah mencari tahu siapa


pemilik sebenarnya. Jika aku tidak melakukan ini, Pada akhirnya aku tidak


akan datang dengan rencana untuk mengungkapkan siapa pemilik ponsel


ini”


Dengan kata lain, Ichinose dan yang lainnya hanya menggunakan taktik


paksa semacam ini untuk melihat melalui kebohongan. Fakta bahwa


Hamaguchi tiba-tiba memulai topik ini juga, secara alami merupakan bagian


dari rencana mereka. Jadi inilah saat dimana Yukimura dan aku yang sudah


menukar ponsel kami terungkap.


"Mudahnya bertukar ponsel dan memanipulasi history sudah berjalan


dengan baik sejauh ini, tapi kau pasti tidak pernah berpikir akan


menggunakan fakta bahwa kartu SIM terkunci pada terminal dan


memeriksanya, bukan?" Ichinose mengatakannya.


Fuuuu ~ dia lalu menghembuskan napas. Pada saat itu, pengumuman bahwa


waktu diskusi selama 1 jam berakhir dalam lima menit datang.


Kami diperintahkan untuk membubarkan kelompok tersebut dalam waktu


lima menit dan segera kembali ke kamar masing-masing.


"*******!"


Teriakan Yukimura itu datang dari dalam hatinya. Itu adalah jeritan jujur


dan tulus tanpa ada kebohongan di baliknya.


"Sayang sekali, Yukimura, meski itu adalah percobaan yang bagus" Machida


dan yang lainnya mengatakan sambil menyeringai dan tertawa.


Mereka mengatakan itu kepada Yukimura yang sepenuhnya ketahuan,


memastikan untuk benar-benar dipermalukan.


Mereka juga melihatku, orang yang mereka yakini sebagai pemimpin


strategi ini. Bahkan dengan Yukimura yang cemas dan Kelas D, dan kelas C


dan A yang terkejut pasti ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan,


namun peraturan tersebut saat ini melarang kami untuk mendiskusikannya


lebih jauh.


"Bagaimanapun, kita sudah menentukan bahwa Ayanokouji-kun adalah


‘target’. Machida-kun, berjanjilah kepadaku bahwa kita akan membidik hasil


pertama bersama-sama tanpa mengkhianati siapapun" Ichinose bertanya


kepada Machida.


"Tentu saja, percayalah kepadaku, ayo pergi"


Setelah dipanggil oleh teman mereka, ketiga murid Kelas A adalah yang


tercepat pergi dari ruangan.


"Seseorang yang percaya akan selamat, kau tahu. Aku tidak akan pernah


mengkhianatimu karena itulah aku juga inginkan dari Kelas C untuk


melakukan hal yang sama. Kau hanya harus tahan selama 30 menit" Ichinose


mengatakan kepada murid Kelas C.


Manabe dan yang lainnya hanya mengangguk setuju. Yukimura melirik ke


ponsel yang kupegang di tanganku.


"Aku bodoh karena mengikuti rencanamu, ini yang terburuk," katanya.


Dan kemudian satu demi satu, semua orang meninggalkan ruangan,


meninggalkanku dan Ichinose sendirian.


"Sekarang kita harus percaya kepada semua orang," katanya.


"Iya... aku pikir begitu"


"Ayanokouji-kun, kau cukup tenang, Apa kau tidak khawatir?"


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain percaya kepada yang lain pada


akhirnya... Aku akan kembali ke kamarku"



Tidak ada lagi yang bisa didapatkan meski aku tinggal di sini lebih lama lagi.


"Hei, tunggu sebentar"


Ichinose menghentikanku dengan meletakkan tangannya di bahuku.


Pada saat itu aku merasakan bahwa ruang di antara kami akan segera


menjadi tegang.


"Siapa yang membuat rencana untuk menukarkan ponsel?"


"Tentu saja, itu adalah Horikita" jawabku.


"Aku mengerti, tolong beritahu kepada Horikita-san, rencananya sukses


besar”


"sukses besar? Apa yang kau maksud untuk mengatakan kegagalan besar?


Itu adalah kekalahan yang dahsyat dan kehancuran. Pada akhirnya kau


berhasil mengetahuinya"


"Ahahahaha, kau tidak berharap kita memikirkan rencana yang sama,


benarkan?"


"Maaf, karena berbohong kepadamu seperti itu, bahkan setelah aku


menyetujui sebuah aliansi denganmu. Apakah kau marah kepadaku?"


"Tentu saja tidak, kami juga memulai rencana kami sendiri tanpa


sepengetahuanmu, jadi kita sama"


"Aku mengerti, aku yakin Horikita juga akan lega mendengarnya," kataku


padanya.


Setelah mengatakan hal itu, aku meraih ponselku dan pergi untuk


meninggalkan ruangan.


"Waa, tunggu, tunggu, bagian yang penting belum berakhir" dia


menghentikanku lagi.


"Bagian yang penting?"


"Mou--- kau payah dalam berurusan dengan orang lain, Ayanokouji-kun.


Kartu SIM yang kami berikan terkunci di terminal mereka, Tapi ada cara


untuk melepaskan kunci itu... aku bertanya kepada Hoshinomiya-sensei


untuk memeriksanya tapi, sepertinya dengan cukup banyak poin, kau bisa langsung membuka kunci terminalnya. Itulah yang dia katakan kepadaku


"kata Ichinose.


Chiri.


Pada saat itu, aku merasakan arus listrik mengalir melalui bagian belakang


kepalaku.


"Jawaban yang muncul setelah jawaban salah diperlihatkan, kebanyakan


orang akan menganggapnya sebagai kebenaran. Setelah Yukimura-kun yang


memecahkan kata kunci untuk membuka kunci ponsel, ternyata bukan


‘target’. terungkap, kebenaran bahwa Ayanokouji-kun adalah ‘target’ yang


sudah membesarkan kepalanya. Dan dengan fakta bahwa kartu SIM disegel,


Tidak ada yang akan mencurigai orang lain selain Ayanokouji-kun sekarang.


Tapi itu sendiri adalah perangkap yang sebenarnya. Strategi menukar tidak


sempurna, tapi itu adalah kebohongan karena strategi itu sangat efektif, tapi


tentu saja kau harus membuat jebakan berlapis ganda untuknya. Jika


perangkap ini disusun, kebenaran akan selamanya dikuburkan di dalam


kegelapan. Tidak akan ada lagi cara untuk memastikan siapa "target"


sebenarnya dengan kepastian 100% "Ichinose melanjutkan.


Ichinose, dia melihat rencana di balik rencana tersebut. Dia menyadari


kebenaran yang telah aku sembunyikan bahkan dari Yukimura. Pertama,


dasar pemikirannya adalah bahwa aku bukan "target". Tapi aku mendekati


Yukimura dengan menyamar menjadi "target".


Sebagai bukti, aku sudah


menggunakan ponsel "target" yang sebenarnya untuk melakukan kontak


dengannya. Tapi "target" sebenarnya dan pemilik ponsel itu adalah


Karuizawa. Dia menyembunyikan fakta itu dengan sangat baik.


Satu-satunya orang yang dia beritahukan fakta itu adalah Hirata. Hirata juga


menyimpan kebenaran yang tersembunyi itu dariku dan Yukimura yang


sudah menjadi anggota kelompok yang sama pada awalnya. Karena itulah


dia pura-pura tidak tahu apa-apa saat kami membicarakan tentang "target".


Tapi setelah aku mengetahui tentang masa lalu Karuizawa dan Hirata, dia


bercerita tentang identitas Karuizawa sebagai "target". Dan setelah aku


menggunakan Manabe untuk menggertak Karuizawa, aku menggunakan


situasi itu untuk menukarkan ponsel kami.


Tentu saja memanipulasi pesan dan riwayat yang sama seperti yang aku


lakukan dengan Yukimura. Lalu aku melepas kunci kartu SIM menggunakan


poin. Prosedur ini tidak ilegal dan bisa dilakukan dengan mudah di penjual


ecer massal sebagai layanan gratis. Ini mungkin sebuah kapal, tapi selama ujian ini mengharuskan penggunaan ponsel, sebuah tempat sudah disiapkan di mana murid dapat memperbaiki atau mengganti ponsel mereka jika


terjadi kerusakan.


Itu sebabnya, saat menggunakan ponsel Karuizawa, aku juga bisa


mentransfer nomornya. Selanjutnya, sejak saat itu dan seterusnya, aku


sudah menukar ponsel itu dengan Yukimura. Tentu saja, aku hanya


mengatakan kepadanya bahwa itu adalah 'ponselku' dan Yukimura sudah


mempercayaiku. Jika kebenaran itu di keluarkan, dia pasti akan menjadi


jengkel dan kesal kepadaku.


Jika dia adalah orang yang sederhana, mereka tidak akan pernah


memperhatikan Yukimura dan aku sudah bertukar ponsel. Jika itu adalah


orang yang cerdas, mereka akan memperhatikan pertukaran itu dan


menuduhku sebagai "target" yang sebenarnya. Tapi mereka tidak akan


pernah sampai pada kesimpulan bahwa Karuizawa adalah "target"


sebenarnya. Itu adalah rencana penukaran ponsel yang pernah aku lakukan.


"Jika Kelas D tidak memiliki ‘target’ di dalamnya, apa yang akan kau


lakukan?" Ichinose bertanya padaku.


"Sama sepertimu, aku sudah mencoba untuk mencari tahu siapa ‘target’ di


antara kelas-kelas tersebut, mukar ponsel dengan mereka dan melewati


diriku sebagai ‘target’ yang sebenarnya”


Jika "target" sebenarnya keluar setelah itu dan menunjukkan tipuan,


pencarian akan berhasil dan jika misalnya mereka percaya bahwa Ichinose


adalah "target" sebenarnya, pengkhianat tersebut pasti akan salah dan ujian


akan berakhir. Di dalam situasi yang terakhir, tidak ada poin yang diberikan


ke Kelas B dan mungkin saja untuk mengurangi kesenjangan poin antara


beberapa kelas.


"Jadi itu sudah keluar, ya?"


Ichinose kemudian mulai menarik keluar ponsel dari kiri dan kanan


kantungnya. Salah satunya adalah "target" dari Kelas B dari kelompok lain,


salah satunya dari murid lain yang bukan "target" dari kelompok lain.


"Omong-omong, ini hanya prediksiku tapi jika kau beralih dari arus diskusi


hari ini ---"


Ichinose kemudian dengan cepat menulis pesan di ponselnya.


"Identitas ‘target’ adalah Karuizawa Kei-san. Benarkan?"


Setelah menulis itu, dia menunjukkanku layar ponsel. Itulah pesan


'pengkhianat' yang akan dia kirim ke sekolah sekarang. Tapi sebelum


sesuatu bisa terjadi, ponselku dan Ichinose, keduanya berdering pada saat


bersamaan.


"Ujian untuk kelompok (kelinci) sekarang telah berakhir. Mohon tunggu


pengumuman hasil"


"Aaah ... seseorang mengkhianati kita pada akhirnya, yah, entah itu Kelas A


atau C, mungkin salah satunya" katanya.


"Kenapa kau mencurigai Karuizawa?" Tanyaku padanya.


"Alasan yang sama dengan Yukimura-kun, karena dia juga bertingkah


berbeda dari biasanya. Dia biasanya tidak peduli dengan Ayanokouji-kun,


tapi dia sudah sering melihatmu dan dia sudah melihat wajahmu lebih dari


yang seharusnya. Tapi itu bukan bukti yang nyata bahwa Karuizawa-san


adalah ‘target’, jadi bagaimanapun juga aku tidak akan mengirim pesan itu"


Sepertiya rencana yang telah aku bangun, sepenuhnya sudah dilihat oleh


Ichinose.


"Kenapa kau tidak memberi tahu siapa pun tentang itu? Dengan begitu,


kebohongan itu akan terungkap"


Ichinose hanya tertawa. Senyumnya saat ini benar-benar sungguhan dan


mendalam yang paling dalam dan paling asli yang pernah aku lihat.


"Itu sudah jelas, bukan? A atau C, jika salah satu dari mereka salah, itu masih


merupakan nilai tambah bagi kita. Sejak awal, aku tidak bermaksud


menyelesaikannya bersama-sama dengan setiap orang melalui hasil 1 atau


mengkhianati setiap orang melalui hasil 3. Saat ‘target’ tidak ada di Kelas B,


aku selalu bermaksud membiarkan kelas lain mengkhianati kita dengan


sengaja. Aku pikir pengkhianat kali ini berasal dari Kelas A "katanya.


"Machida, ya?"


"Tidak, tidak, itu adalah Morishige-kun, dia dari faksi Sakayanagi-san,


mungkin dia tidak mau patuh mematuhi faksi Katsuragi. Mungkin dia berpikir bahwa lebih baik mengkhianati dan mengambil poin saja, apa itu mungkin?”


Sambil tertawa dengan aneh, dia membelakangiku.


"Ayanokouji-kun, secara tidak terduga kau menakjubkan. Pembicaraan yang


baru saja kau lakukan bersamaku, dibuat pada saat itu juga, bukan?"


"Jika kau ingin memuji, pujilah Horikita. Dia hanya memberiku beberapa


situasi dugaan dan aku mematuhi perintahnya"


Sepertinya aku harus mengevaluasi kembali orang yang dikenal sebagai


Ichinose Honami ini. Dia benar-benar berhasil menghindari pengambilan


risiko dan pada saat bersamaan merancang strategi untuk keluar sebagai


pemenang. Aku tidak punya hak untuk mengeluh.


"aku akan pergi, gawat jika kita akhirnya melanggar peraturan"


Tapi seperti yang dikatakan Ichinose, ponsel kami memainkan nada yang


unik secara bersamaan dan bukan hanya sekali atau dua kali, tapi empat kali


berturut-turut dalam waktu singkat.


"A-Apa artinya ini?"

__ADS_1


Ichinose terlihat benar-benar terkejut dari lubuk hatinya, saat kami berdua


menatap layar ponsel kami.


__ADS_2