CLASSROOM OF THE ELITE

CLASSROOM OF THE ELITE
5.VOLUME 4 Part 5


__ADS_3

"Maaf membuatmu menunggu Geppu, geppu, jika kau memakan tiga


makanan berat untuk makan siang, kau pasti akan kenyang. Aku sedang


berpikir untuk diet, tapi sepertinya gagal"


Sotomura menghampiriku sambil menggusap perutnya yang membengkak


karena semua makanan yang telah dia makan sebelumnya. Ini merupakan


penyampaian gambaran yang sama sekali berbeda dari seseorang yang


mengaku ingin melakukan diet. Dia datang ke lokasiku dan Yukimura yang


sedang menunggu di depan.


"Sangat merepotkan ketika ujian sudah dimulai, aku baru saja ingin makan"


"Apa itu ‘saat ini aku tidak bisa menggunakan kekuatan penuhku'?"


"... Aku sudah lama ingin mengatakannya sampai sekarang, tapi tidak


bisakah kau tidak memotongnya dengan cara berbicara yang aneh?"


Tentu saja, dari sudut pandang seseorang yang tidak begitu mengerti


Sotomura, perkataannya mungkin terlihat seperti mantra. Tapi kau hanya


perlu terbiasa, kurasa.


Sebaliknya, terkadang berbicara dengan cara yang tidak biasa seperti itu


bisa menjadi menarik. Tapi jika aku berbicara sekarang, aku mungkin akan


menimbulkan kemarahan Yukimura, sehingga aku membiarkannya


melanjutkan caciannya.


"Pofu ~ Apa kau tidak menyukai caraku berbicara? Lalu, Seperti apa yang


akan cocok untukmu, Yukimura-dono?"


"Berbicaralah dengan normal"


"Baiklah, mulai sekarang dan seterusnya aku akan menjadi seorang yang


lemah, protagonis kuat, aku biasanya tidak memiliki motivasi untuk


melakukan apapun tapi kenyataannya, aku memiliki kekuatan yang mampu


menghancurkan dunia yang layak menamaiku Cheat-kun. Seperti tren saat


ini"


Yukimura, setelah menyerah pada keyakinan Sotomura, mulai berjalan di


depan kami. Karena kami sedikit terlambat, kami mulai berjalan lebih cepat


menuju tujuan kami.


"Ayanokouji, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu, jawablah aku"


Dia berbicara dengan nada yang sesuai dengan karakter tipe protagonis.


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Aku penasaran, apa jenis dialek favoritmu? karena kau pasti akan senang


jika seorang pahlawan wanita imut berbicara dalam dialek seperti itu"


Cara dia mengatakan itu sendiri terdengar keren, tapi isi dialognya selalu


sama seperti dia.


"Tidak ... tidak ada dialek khusus yang aku suka"


Sejak aku lahir dan besar di Tokyo, tidak mungkin aku tahu tentang dialek


semacam itu.


"Apa kau belum memiliki kesempatan pada pengalaman dialek 'moe'?"


Berapa banyak murid di sekolah ini yang menurutnya memiliki sifat dialek


semacam itu? Aku bisa saja menutup mulutnya sekarang tapi sampai kami


mencapai ruang pertemuan yang ditunjuk, kurasa aku bisa membuang


waktu untuk beberapa saat dengan berbicara dengannya.


"Apa kau memiliki dialek favorit?" Aku bertanya kepadanya.


"Tentu saja, aku akan memberitahumu melalui sistem pemeringkatanku


sendiri untuk dialek. Di tempat ketiga adalah dialek Kansai, memberikan


kesan yang tegas namun kasar. Tempat kedua adalah dialek indah di tengah


salju, dialek Hokkaido. Penggunaan dialek di dunia 2D juga meluas sehingga


ini adalah dialek moe yang lebih mematikan”


Aku mengatakan bahwa aku ingin membuang waktu dengan berbicara


dengannya, tapi tidak ada yang masuk akal bagiku, tapi sebelum aku bisa


membalas dengan suatu cara, Sotomura mulai bersiul dengan meniru suara


aneh yang terdengar seperti 'doururururururu'.


"Nomor satu dalam peringkat dialekku pastilah dialek yang loli untuk Onee-


san semuanya digunakan dengan cara yang multifungsi, dialek Hakata.


Dikatakan sebagai dialek utama dengan berbagai macam dialek yang


populer. Ketiga dialek ini adalah yang 3 terbaik"


sayangnya, aku tidak bisa mengerti apa yang ingin dia katakan kepadaku


meskipun aku menyadari bahwa dia cukup bersemangat dengan topik ini,


tapi setidaknya ini berhasil membuang waktu untuk beberapa saat.


Saat kami menyelesaikan pembicaraan, kami sampai di depan ruang


pertemuan yang ditunjukan dengan nama kelompok kami (Kelinci) yang


ditulis di atas papan di depannya, di lantai 2.


Karena ujian sudah dimulai, murid-murid memadati koridor dan


memberikanku perasaan klaustrofobia.


(T/N: Klaustrofobia adalah sebuah penyakit


ketakutan terhadap tempat-tempat sempit dan terjebak.)


"Waktu bermainan sudah berakhir kemarin. Mulai sekarang dan seterusnya,


berharap mampu berjuang untuk dirimu sendiri dan untuk kelasmu"


Yukimura terutama mengarahkan kata-kata itu kepada Sotomura, tapi aku


juga mengangguk kepadanya sebagai persetujuan.


"Haaa... tidak peduli berapa kali aku melihatnya, ini adalah kelompok


menyedihkan yang aku miliki"


Pernyataan itu datang dari salah satu gadis yang memasuki ruangan,


menatap kami dan mendesah. Dia adalah salah satu gadis cantik di Kelas D


(meski sedikit mencolok). Karuizawa Kei.


Termasuk dia, 11 orang saat ini


berada di dalam ruangan duduk di kursi yang disusun dalam formasi


melingkar. Mengingat jumlah kursi yang masih tersisa kosong, aku pikir


mungkin kamilah yang terakhir datang. Aku tidak mampu mengidentifikasi


mereka dari daftar saja tapi, ada beberapa murid selain Ichinose dan Ibuki


di ruangan yang aku kenal.


Ada seorang murid laki-laki dari Kelas A yang mendekatiku selama ujian di


pulau yang mengusulkan sebuah aliansi untuk menyabotase Kelas D. Tapi


aku tidak mengenali sebagian besar murid laki-laki dan perempuan lainnya


di ruangan itu. Sepertinya kami yang merupakan saingan beberapa waktu


yang lalu akan dipaksa untuk bekerja sama dalam ujian ini.


Tentu saja bukan hanya kelas kami, tapi kelas-kelas lain yang juga merasa


bingung dan canggung dengan susunan mendadak ini. Kami memilih untuk


duduk di kursi karena berdiri akan membuat kami semakin terlihat


menonjol.


Murid-murid hampir secara alami duduk berkelompok berdasarkan kelas


mereka, tapi Karuizawa dan Ibuki keduanya duduk lebih jauh dari lingkaran


murid hampir seolah-olah mereka berdua terisolasi dari kelompok tersebut.


"Hmm ... ada apa?"


"Apa kau kau memperhatikan sesuatu, Ayanokouji?"


"... tidak, bukan apa-apa"


Kupikir Karuizawa akan menghadapi Ibuki saat dia melihatnya. Lagi pula, itu


adalah Ibuki Mio di depan kami yang bertanggung jawab atas pencurian


celana dalamnya di ujian pulau. Kupikir dia akan segera membalas dendam,


tapi mungkin Karuizawa lebih dewasa dari yang aku pikirkan, atau apakah


dia sudah selesai dengan balas dendamnya? Bagaimanapun, fakta bahwa


Karuizawa bahkan tidak terlihat kecewa itu tidak wajar.


Tapi sebelum aku bisa menyuarakan pertanyaan itu, sebuah pengumuman


datang dari speaker yang terpasang di ruangan kapal.


"Mulai detik ini dan seterusnya, kita akan memulai dengan diskusi kelompok


pertama"


Hanya pengumuman singkat itu, tapi karena tidak ada satu kelompok pun


dari kelas yang berbeda yang saling mengenal dengan baik, tidak ada yang


mau berinisiatif memulai diskusi.


Dengan demikian, udara yang canggung menghampiri ruangan. Kemudian,


gadis bernama Ichinose Honami melangkah dengan senyum bercahaya


setelah memastikan bahwa tidak ada orang lain yang akan mengambil


langkah inisiatif untuk berbicara.


"Aku mengenal sebagian besar orang di sini, tapi menurutku, sesuai dengan


instruksi sekolah, kita harus mengenalkan diri terlebih dahulu. Karena ada


juga seseorang yang mungkin belum mengenal satu sama lain"


Dia berbicara kepada kelompok tersebut. Ini jelas tidak mudah untuk


menjadi pemimpin kelompok yang seperti ini, seseorang harus bisa


menginspirasi murid, beberapa di antaranya bahkan mungkin berasal dari


kelas yang berlawanan dan membimbing mereka bersama-sama menjadi


satu untuk menyelesaikan ujian.


Tapi Ichinose tidak terlihat bahwa dia tidak tidak menyukainya, faktanya,


dia terlihat bersenang-senang memimpin kelompok tersebut. Beberapa


murid dari Kelas A tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya kepada dia


secara tak terduga mengambil kepemimpinan.


"Aku tidak berpikir bahwa itu dibutuhkan. Sekolah hanya mengatakannya


sebagai formalitas... Hanya seseorang yang ingin memperkenalkan diri


merekalah yang harus melakukannya"


Itu adalah Machida yang mengatakan hal itu kepada Ichinose.


"Jika Machida-kun tidak ingin melakukannya, maka aku pasti tidak bisa


memaksamu untuk melakukannya. Tapi mungkin ada perekam yang


tersembunyi di suatu tempat di ruangan ini. Jika kita secara terang-terangan


tidak mematuhi instruksi dari sekolah, mungkin tidak hanya kau saja, tapi


seluruh kelompok yang akan dihukum, kau tahu? "


Ichinose dengan cepat membalas ke Machida. Pada dasarnya, bersikap egois


di sini mungkin menghabiskan biaya semua kelompok. Memperlakukannya


seperti itu, dia membuat pria bernama Machida dari Kelas A tidak bisa


berbuat apa-apa, tetapi menerima alasan miliknya.


Dia kemudian memulai perkenalan diri dengan mengenalkan dirinya


sendiri. Aku mengingat kembali hari ketika pertama bersekolah dan


bagaimana aku mengacaukan perkenalan diriku saat itu. Tapi ketika


giliranku untuk memperkenalkan diri kepada kelompok tersebut, itu


akhirnya menjadi perkenalan yang sama, membosankan dan monoton


seperti hari itu.


"Yaa ~ ho Ayanokouji-kun, Sepertinya kita berada dalam kelompok yang


sama. Mari kita berdamai"


Ichinose memanggilku dengan suara ramah dan menghibur saat aku


kembali ke tempat dudukku. Begitu semua perkenalan diri berakhir dan


selesai, Ichinose sekali lagi melangkah untuk berbicara.


"Jadi, kita telah melakukannya seperti yang diinstruksikan sekolah.


Bagaimana kau ingin melanjutkannya dari sekarang? Jika ada di antara


kalian yang keberatan dengan aku yang menjadi pemimpinnya, maukah


kalian memberitauku?".


Ichinose berbicara dengan nada seolah bertanya apakah ada yang ingin


mengambil posisi kepemimpinan darinya. Tentu saja, mengatakannya


dengan cara seperti itu memastikan bahwa tidak ada yang akan merebut


posisi kepemimpinan darinya. Mungkin ada murid di antara kami yang tidak


puas dengan cara Ichinose melakukan banyak hal, namun karena takut


kemungkinan bahwa tanggung jawab kepemimpinan akan diberikan pada


mereka, tidak ada yang akan berbicara sekarang.


"Karena tidak ada yang mau mengambil posisi pemimpin, bisakah aku


melanjutkan? Pertama, aku yakin kita harus mendiskusikan aspek-aspek


ujian yang belum banyak dimengerti oleh orang lain atau pertanyaan dan


masalah lain yang mungkin kalian hadapi, jika tidak, situasi ambigu akan


berlanjut terus seperti ini"


Tidak ada perlawanan dari kelompok tersebut atas sarannya dan tidak ada


suara atau kalimat yang diajukan untuk melawannya. Hal seperti itu sering


terjadi ketika orang asing berkumpul bersama sebagai satu kelompok dan


fakta bahwa seseorang dapat bertindak tanpa rasa takut akan perlawanan


semacam itu adalah tanda seorang pemimpin sejati. Ichinose lalu


meletakkan tangannya di pinggulnya dan tersenyum tegas.


"Aku ingin meminta sesuatu kepada semua orang di sini dan aku akan


meminta semua orang beramsumsi bahwa tidak ada satu pun yang


merupakan ‘target’ di sini. Aku ingin bertanya apakah semua orang di sini


ingin bekerja sama untuk menyelesaikan ujian ini melalui hasil pertama?


Aku ingin bertanya kepada kalian apakah kalian semua menganggap ini


sebagai tindakan terbaik atau tidak?" Ichinose bertanya kepada kami.


"Hah? Apa maksudmu? Bukankah itu sudah jelas?"


Karuizawalah yang menjawab pertanyaannya. Dia bertindak seperti yang


dia sudah mengerti dari pada dia yang tidak mengerti. Tetapi dalam situasi seperti ini, orang pertama yang berbicara tentang pikiran mereka dapat


memutuskan tempat mereka dalam susunan kelompok, apakah itu superior


atau inferior.


Yukimura dan seorang gadis dari Kelas C bernama Manabe juga sepertinya


menyadari hal ini, membalas dengan sikap yang sama jika disesuaikan


dengan Karuizawa. Tentu saja, jika memungkinkan, masuk akal bila setiap


orang di sini ingin membidik hasil pertama yang mungkin terjadi.


Seolah setuju dengan pernyataan Ichinose, salah satu murid laki-laki dari


Kelas B mengangkat tangannya. Jika aku tidak salah ingat, nama yang dia


berikan selama pengenalan dirinya adalah Hamaguchi Tetsuya.


"Aku setuju dengan dia, tentu saja, bekerja sama satu sama lain sebagai


sebuah kelompok adalah tindakan nyata di sini,"


Itu bukan pertanyaan yang buruk untuk memulai diskusi, aku harus


mengakuinya. Sepertinya beberapa murid belum menyadarinya, namun


dengan mengajukan pertanyaan yang kelihatan santai dan jelas seperti ini,


mungkin saja untuk membedakan siapa yang bukan "target" sambil


mendorong sikap positif di antara anggota kelompok.


Jika seseorang memainkannya dengan benar, mereka bahkan mungkin bisa


mempersempit daftar orang yang dicurigai sebagai "target" pada tahap ini.


Mungkin masih sulit untuk memutuskan hitam atau putih dengan pasti


menggunakan pertanyaan ini.


Ichinose yang mengajukan pertanyaan.


Karuizaw yang pertama menjawabnya.


Lalu Yukimura dan Manabe yang menindaklanjuti jawaban Karuizawa.


Dan Hamaguchi dari Kelas B.


Tidak mengherankan jika "target" ada di antara mereka dan dengan berani


menjawab pertanyaan tersebut tanpa ada yang kalah.


Aku mengikuti mereka agar tidak merusak suasana yang mereka miliki saat


ini.


"Kita adalah satu kelompok dan poin pribadi kita semua rendah sekarang,


aku ingin bekerja sama jika memungkinkan. Bagaimana denganmu,


Sotomura?" Aku bertanya.


Sotomura yang sekarang perutnya terlihat sakit karena makan terlalu


banyak, menggosok perutnya saat aku memanggilnya tiba-tiba,


menyebabkan bahunya melompat kaget.


"Tentu saja, aku juga akan bekerja sama karena aku mendapatkan poin dari


melakukan hal itu juga" jawabnya.


Sepertinya Sotomura masih berusaha untuk tetap bersikap tenang,


karakternya yang misterius dan yang mengamati kami semua adalah murid


Kelas A yang hanya terdiri dari murid laki-laki.


Mereka dengan tenang mengamati kami untuk melihat arah diskusi


kelompok yang akan diambil.


"Ichinose, pertanyaan itu tidak adil bukan? Jika kau bukan ‘target’ dengan


mengatakan hal itu, kau berhasil mengumpulkan keseluruhan kelompok


menjadi satu melawan ‘target’ dan tidak ada seseorang yang secara terang-


terangan tidak setuju denganmu dan menyatakan diri mereka sebagai


pengkhianat setelah pernyataanmu. Hampir seperti kau melukiskan bahwa


"target" itu adalah sesuatu yang buruk karena tidak mau berbicara, aku


yakin ini adalah pertanyaan yang sangat tidak pantas yang kau tanyakan


kepada kami "


Itu adalah Machida yang mengatakannya kepada Ichinose dengan nada


tegas.


Dia terlihat sangat berbeda dengan murid Kelas D dan Kelas C yang


mengikuti arus dan setuju dengan Ichinose. Sepertinya ini adalah sebuah


interogasi dan dia sedang memperhatikan dan mengkritik kata-kata


Ichinose. Hamaguchi yang telah mendengar keluhan Machida, menjawabnya


dengan tenang,


"Bukankah ini pertanyaan yang masuk akal untuk ujian semacam ini?


Ichinose-san tidak menggunakan ancaman apa pun untuk memaksa kita


untuk bekerja sama atau membocorkan informasi, jika kau tidak


menginginkannya, untuk semua yang harus kau lakukan adalah tetap diam”

__ADS_1


Hamaguchi dengan cepat menghentikan kritikan Kelas A terhadap Ichinose.


Sepertinya perang sipil telah terjadi di antara kelompok tersebut, Machida


sama sekali tidak terkejut dengan pembalasan Hamaguchi, hampir seolah-


olah dia sudah menduga ini akan terjadi.


"Memang, kami memiliki hak untuk tetap diam. Dan begitulah, itulah yang


aku dan sisa Kelas A akan lakukan, tetap diam"


Machida terus terang menolak tawaran Ichinose untuk bekerja sama dan


murid Kelas A yang tersisa mengikuti jejaknya. Mengikuti jejak mereka


setelahnya, sisa murid yang belum menjawab juga memilih untuk tetap


diam.


"Mungkin aku datang terlalu cepat dengan pertanyaan seperti itu"


Menanggapi penolakan tak terduga ini, Ichinose tersenyum pahit.


"Tidak, Ichinose-san. Pertanyaanmu masuk akal, tapi aku pikir


kekhawatiran mereka sedikit lebih kuat dari perkiraan kita. Katakan padaku,


Machida-kun. Pertanyaan seperti apa yang menurutmu akan menjadi


pertimbangan yang sesuai? Kita bisa membicarakan makanan favorit kami


dan hobi kami, tapi aku ragu ujian akan mencakup hal-hal semacam itu, itu


berarti kau tidak punya apa-apa untuk diajukan kepada kelompok kecuali


kesunyianmu" Hamaguchi memberi tahu Machida.


"Tidak ada hal lain yang diajukan? Tidak ada hal yang seperti itu" Machida


mencoba untuk merespon


"Aku sendiri tidak tahu apa yang dimaksudkan Ichinose-san dengan


pertanyaan itu, tapi dalam ujian ini, aku tahu bahwa diskusi antara murid


sangat penting. Jika kau masih menolak untuk tetap diam, kami tidak punya


pilihan lain selain terus melanjutkan diskusi kami tanpa Kelas A di


dalamnya. Paling tidak, kau bisa membantu kami menentukan topik apa


yang harus kita diskusikan”


Hamaguchi benar, persis seperti yang dia katakan, hanya dengan tetap diam


kau tidak akan bisa lebih dekat untuk menemukan "target" atau


menyelesaikan ujian. Machida juga harus tahu hal ini, meski dia


menyilangkan lengannya dan tetap diam. Melihat situasi saat gerbang kastil


tertutup rapat, Ichinose mencoba menerobos.


"Kalau begitu, meski ragu, aku pikir kita harus memutuskan pemimpin


dengan suara mayoritas. Tidak diragukan lagi akan ada kecurigaan kepada seseorang yang menolak menjawab pertanyaan dan kita dapat mendeteksi


‘target’ nanti. Apa kalian tidak masalah dengan itu?”


Ichinose menerobos benteng yang dikenal sebagai Kelas A dengan kata-kata


itu. Horikita juga berpikir sama dengan Ichinose, tapi perbedaan di antara


mereka adalah Ichinose dengan mudah bisa mengumpulkan orang-orang di


sekitarnya ke sisinya.


Untuk melawan peperangan saat menerima persetujuan orang-orang di


sekitarmu, dia membuat kehadiran yang sangat kuat dalam situasi ini. Terus


terang, Ichinose sudah memegang suara terbanyak di tangannya saat dia


mengambil inisiatif dalam diskusi.


Sejauh yang bisa aku katakan, tidak ada orang lain di sekolah yang mampu


melakukan hal yang sama seperti dia. Katsuragi dan Ryuuen tidak bisa


melakukan apa yang dia lakukan. Hirata dan Kushida juga tidak bisa


melakukannya.


"... Apa kau mengancamku?"


"Jangan salah paham, kami hanya ingin membicarakan sesuatu dengan


kalian semua. Kau bebas menentukan sendiri apa yang ingin kau diskusikan


dan apa yang tidak ingin kau diskusikan, tapi aku ingin orang-orang


berpartisipasi dalam diskusi di tahap ini, karena ini adalah persyaratan yang


dibutuhkan dalam ujian ini "


Machida sepertinya tidak mengerti kata-katanya dan mulai bergumam pada


dirinya sendiri dengan aneh


"Ujian ini, bisakah ini benar-benar diselesaikan hanya dengan berbicara?


Apa kau benar-benar berpikir kita akan mencari tahu ‘target’ hanya dengan


berbicara satu sama lain? Atau apa kau akan menurunkan kepalamu dan


memohon kepada mereka untuk mengungkapkan diri mereka sendiri?"


Machida akhirnya memberitahu Ichinose.


Aku mengerti, sepertinya jalan Kelas A terhadap ujian ini sudah diputuskan,


namun jalan ini sepertinya bukan jalan yang dibuat Machida. Kurasa aku


mulai melihat seorang laki-laki sedang berakting di belakang Machida.


"Jadi, adakah cara lain?"


Ichinose bertanya kepada Machida, dengan penuh percaya diri dalam


pendekatannya. Tapi tentu saja, ini adalah sesuatu yang Kelas A sudah


perkirakan apa yang dia tanyakan.


"... Ya, ada cara untuk menyelesaikan ujian dengan mudah dan pasti"


Salah satu murid dari Kelas A tiba-tiba angkat bicara. Baik Ichinose maupun


Hamaguchi tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka atas hal ini.


"... bisakah kau menjelaskan strategimu kepada kami?" dia bertanya pada


mereka


"Tentu, kita adalah 'kelompok', jadi wajar untuk berbagi informasi semacam


itu"


Machida, tidak, seluruh Kelas A datang dengan strategi yang sangat


sederhana.


"Strategi yang kami dapatkan adalah ... untuk tidak berbicara sama sekali


dari awal ujian sampai selesai,"


Dia mengatakannya cukup keras kepada kami, duduk di sela-sela diskusi,


untuk mendengarnya juga. Sepertinya Karuizawa dan Sotomura juga


mengerti maksudnya.


"yah, itu rencana yang cukup unik, tapi bagaimana kau mengusulkan untuk


menyelesaikan ujian tanpa diskusi sama sekali Atau apa kau menyarankan


agar identitas ‘target’ tetap tersembunyi sampai akhir?"


Dari pada Ichinose, Hamaguchi lah yang memotong dan berbicara.


"Memang, jalan pintas sebenarnya untuk menyelesaikan ujian ini seefisien


mungkin adalah melakukannya tanpa saling berbicara sama sekali." Machida


menjawab.


"Aku tidak percaya ini, ini mulai membuat kami berpikir bahwa ‘target’


adalah murid kelas A dan tindakan ini diambil untuk membantu melindungi


identitas mereka saat berbagi informasi di antara teman sekelasmu saja."


Tentu saja, jika ‘target’ itu sudah ada di kelasmu, tidak perlu berbicara


dengan orang lain atau berpartisipasi dalam diskusi apa pun. Tidak bisa


dipungkiri bahwa Hamaguchi akan mencurigai mereka setelah itu. Bukan


hanya Hamaguchi, tapi mau bagaimana lagi jika semua orang mencurigai


mereka setelah itu.


"Tidak, tidak masalah dari kelas mana ‘target’ itu berasal, jika kita tidak


saling berbicara, kita bisa menang, itulah strategi yang Katsuragi-san buat


untuk kami"


"Katsuragi-kun?... aku mengerti"


Ichinose sepertinya juga mengerti saat dia mendengar nama Katsuragi


disebutkan. Machida kemudian berbalik ke arah Yukimura yang sepertinya


tidak mengerti penjelasannya, dan mulai menjelaskan strateginya.


"Hanya ada empat kemungkinan hasil dalam ujian ini, aku yakin kau sudah


memberi pengarahan pada mereka semua. Menurutmu, apa yang sebaiknya


kita hindari dalam ujian ini?"


Machida tiba-tiba berbalik menuju Karuizawa dan mengajukan pertanyaan


kepadanya.


"Ehhh ... hasilnya di mana seseorang memperhitungkan identitas ‘target’ dan


mengkhianati kelompok itu?"


"Tepatnya, saat pengkhianat muncul, kita kalah sebagai sebuah kelompok.


Apakah pengkhianat menjawab dengan benar atau tidak benar, kedua cara


tersebut menyebabkan kerugian. Tetapi, berpikir sebaliknya, bagaimana


dengan kemungkinan hasil yang lain?"


Machida melihat ke arah Yukimura


untuk sebuah jawaban.


"Hasil lain yang mungkin? Hasil dimana hasil negatif tidak terjadi?"


"Benar, tidak ada kerugian dalam salah satu dari dua kemungkinan hasil


yang mungkin terjadi. Poin kelas tidak akan naik atau turun drastis dan di


samping itu kita juga mendapatkan sejumlah besar poin pribadi. Satu-


satunya pecundang dalam skenario ini adalah sekolah. Tidak perlu mencari


"target". Dengan berdiskusi di antara kita sendiri, kita hanya akan saling


tempat dan membuat kesalahan”


"Kami menyadari betapa kuatnya strategi ini sampai batas tertentu, selama


kita tidak tahu termasuk kelas mana yang menjadi ‘target ‘, selalu ada


kemungkinan bahwa jarak poin antara kelas dapat melebar lebih jauh.


‘target’ dimiliki oleh kelas tertentu dan akhirnya mendukung kelas tersebut,


mengatakan bahwa kelas dapat memperoleh jutaan poin dalam bentuk poin pribadi. Meskipun poin kelas itu sendiri tidak akan terpengaruh, aku yakin


semua orang memahami dampaknya. Poin pribadi bisa dibuat untuk kelas."


Hamaguchi benar, poin pribadi juga sangat berguna. Seseorang dapat


membeli nilai ujian misalnya, atau bahkan mengubah kelas tergantung pada


bagaimana seseorang memilih untuk menggunakannya. Hamaguchi benar


dalam mengasumsikan bahwa "target" dapat memilih untuk menyokong


kelas mereka dengan menggunakan poin pribadi tersebut dengan cara


seperti itu.


Tapi argumen ini tidak akan berhasil melawan Kelas A, lagipula, Katsuragi


pasti sudah menyadari "trik" yang tersembunyi dalam ujian ini. Sebaliknya,


mereka tidak akan dengan berani mengusulkan strategi ini kepada kami.


"Pikirkanlah dengan saksama, sekolah pasti tidak akan memberi kelas


keuntungan yang tidak adil dalam ujian seperti ini. Intinya mereka


menekankan sikap netral mereka sebelum ujian dimulai saat pengarahan.


Tentu saja tidak dapat disangkal, kenyataan bahwa hanya ada satu ‘target’ di


setiap kelompok, tapi itu tidak penting, yang penting adalah setiap kelas


memiliki kesempatan yang 'setara' untuk memiliki ‘target’. Tidak dapat


disangkal kenyataan bahwa dalam ujian ini, Kelas A dan Kelas D akan


dimulai dengan garis start yang sama "kata Machida.


Bagi mereka yang mengacuhkan strategi Katsuragi, mereka secara alami


akan bersikeras bahwa tidak akan ada diskusi dan memungkinkan poin


dibagikan secara merata di antara kelas-kelas terlepas dari kelas mana yang


merupakan "target"


Tetapi Hamaguchi menanggapi saran tak terduga Class A segera.


"Aku akui sekolah memastikan setiap kelas dimulai bersama-sama dalam


keadilan dan jika kau mengambil kata-kata mereka untuk itu, tentu saja kau


melatih pemikiran yang tidak salah. Tetapi, kita belum bisa memastikan


fakta itu lagi".


Itu adalah kebenaran yang sulit, tapi Hamaguchi melakukan yang terbaik


untuk menyuarakannya. Sekolah pasti akan berusaha menghindari


prisangka dengan tidak menugaskan "target" di kelas tertentu. Itu akan


mudah ditebak siapa saja


"Aku yakin kau juga mengerti, tapi dengan saling berbicara satu sama lain


sekarang, kita hanya akan menciptakan kecurigaan dan keraguan dan dapat


menyebabkan kerusakan dalam hubungan kelompok kita. Memang ada


kemungkinan kau akan menemukan ‘target’ seperti ini, tapi kau juga


menjalankan risiko pengkhianat yang muncul dan menyebabkan kelompok


tersebut menderita demi kepentingan mereka sendiri. " Machida


melanjutkan.


"Kau benar, bukan hal yang buruk jika kita semua mendapatkan keuntungan


selagi sekolah kalah dalam prosesnya" kata Ichinose saat dia menerima


strategi Katsuragi yang dibuat untuk ujian itu.


Machida menatap kami dengan wajah yang sepertinya mengatakan bahwa


dialah yang mengajukan tindakan logis, tapi sepertinya Ichinose tidak mau


menerima strategi mereka dengan baik.


"Tetapi untuk menjalankan strategi seperti itu akan menjadi sulit, bahkan


mungkin lebih sulit daripada jika kita hanya berbicara satu sama lain. Aku


tidak akan berbicara, aku tidak akan ragu dan aku tidak akan mengkhianati,


kecuali setiap murid di sini bisa mematuhi hal itu. Strategi seperti itu tidak


ada gunanya. Semenjak sekolah ini sudah mendapat jaminan anonimitas


bagi para murid, saling percaya satu sama lain juga menjadi persoalan. Akan


lebih bagus lagi jika poinnya bisa dibagi sama rata dengan kita semua di


akhir, tapi bukankah ada risiko seseorang melanggar kepercayaan itu dan


mengambil poin untuk diri mereka sendiri juga? "


Dalam hal ini, satu murid dalam satu kelas akan mendapatkan poin untuk


dirinya sendiri sambil menyembunyikannya dari anggota kelas lainnya. Itu


memang akan membawa suasana canggung.


Sepertinya rencana Katsuragi adalah menonjol kepada pertahanan, hampir


seperti membangun penghalang bagi kelompok tersebut. Itulah strateginya.


Mendapatkan kerja sama dari semua orang dalam kelompok pasti akan sulit,


tapi strateginya sendiri hanya membutuhkan seseorang untuk tidak


berbicara sama sekali, sebuah taktik sederhana yang dapat diikuti setiap


orang dengan mudah. Ini hampir bisa dikatakan sebagai strategi yang


menjungkirbalikkan rencana sekolah dan membuat perdebatan ujian sejak


awal.


"Apa ini baik-baik saja? aku tidak melihat ada masalah dalam hal ini. Begitu


ujian selesai, kita bisa saling berbicara di kelas kita dan berbagi poin dari


ujian"


Kepekaan Sotomura sepertinya juga diberikan oleh murid dari Kelas C,


karena gadis bernama Manabe juga menyetujuinya.


"Aku juga setuju, selama kita bisa berbagi poin setelah ujian selesai, itu tidak


masalah. Lebih baik daripada menjalankan risiko pengkhianat yang muncul


dan menyabotase kelompok, tidak realistis juga untuk mencoba dan mencari


tahu ‘target’ hanya dengan berbicara satu sama lain "


Yukimura sepertinya berpikir keras saat mengatakan itu, tapi bahkan dia


tidak mengajukan keberatan terhadap strategi tersebut. Merasa bahwa


perlawanan telah mereda, Machida sedikit tertawa.


"Aku mengerti, memang seperti yang Machida-kun katakan, masalahnya


bisa diatasi setelah ujian di tiap kelas, hmm?"


Ichinose mengatakan dengan kedua tangannya disilangkan saat dia melihat


kelasnya sendiri, lalu ke Kelas D dan Kelas C.


"Aku ingin mendapatkan persetujuan dari kelompok, apa tidak masalah? Jika


kau setuju dengan strateginya, tolong angkat tanganmu" katanya kemudian.


Yukimura dan Sotomura dari Kelas D serta beberapa murid dari Kelas C


goyah saat itu, tapi setelah beberapa saat, meski berhamburan, mereka


mengangkat tangan.


"Ibuki-san, bagaimana denganmu? Mungkin kita juga bisa mendengar


pendapatmu?" Ichinose kemudian bertanya pada Ibuki.


"Aku sama sekali tidak punya pendapat, lagipula tidak ada yang terjadi


sekarang, jadi terus lanjutkan seperti yang kau mau"


Sepertinya Ibuki tidak mau memberikan apapun pada tahap ini. Dia jelas


berbeda dari tiga murid lainnya dari Kelas C.


Karena Manabe dan yang lainnya tidak kaget dengan hal itu, sepertinya ini


adalah sikap yang biasa dari Ibuki.


"Aku mengrti, itulah tanggapanmu. Bagaimana dengan Karuizawa-san?"


"yang benar saja... aku sangat kesal dengan keseluruhan ini, apakah kita


mendapatkan poin, atau aku mendapatkan poin adalah masalah yang


berbeda? bukan berarti kita akan mendapatkan jaminan poin dengan cara


saling berbicara, kan? ... Aku hanya berpikir ujian ini cepat selesai sehingga


aku bisa kembali bersenag-senang”


Meskipun Karuizawa hanya mengatakan apa yang ada di pikirannya,


sepertinya kata-katanya juga berpantul kepada beberapa murid lainnya.


"Lalu bagaimana dengan Hamaguchi-kun?"


"Kami akan meninggalkan keputusan kami kepada Ichinose-san" dia cepat


membalasnya.


Sepertinya kepercayaan terhadap Ichinose dari kelasnya tidak tergoyahkan


karena dua murid lainnya dari Kelas B juga mengangguk setuju.


"Terima kasih, lalu terakhir, bagaimana dengan Ayanokouji-kun?"


Ichinose kemudian berbalik untuk bertanya kepadaku yang merupakan


orang terakhir yang belum memberi pendapat mereka.


"Aku pikir strategi itu tidak masalah, selain itu, lagipula mayoritas sudah


sepakat dengan itu dan aku adalah tipe orang yang buruk dalam berbicara"


Aku mengatakan itu demi strategi Katsuragi. Tapi... bukan berarti dia akan


menerima strategi yang diusulkan Katsuragi dengan patuh.


Atau lebih tepatnya, jika mereka hanya perlu menunduk dan menerima


arusnya di sini, masa depan Kelas B akan menjadi sesuatu yang gelap karena

__ADS_1


dalam strategi Katsuragi, ada unsur yang sulit disepakati.


"Sudah diputuskan" Machida berbicara.


"Tunggu, Machida-kun... Bukannya strategi Katsuragi-kun adalah hal yang


bagus, tidak perlu meragukan siapa pun, mencari siapapun atau menyakiti


siapa pun. Aku bisa mengerti kenapa semua orang ingin mengikuti strategi


ini. Sulit untuk melihat adanya kekurangan dalam strategi ini, tapi jika kau


memikirkannya dengan hati-hati, bukankah itu karena kau berasal dari


Kelas A sehingga kau bisa mengajukan strategi seperti itu? Ada kekurangan


yang tidak dapat kita lihat tersembunyi dalam strategi ini. “


Ichinose membuat jawaban bagus yang hampir terlihat seperti kapal selam


yang tenggelam dan tiba-tiba muncul dari laut dengan percikan.


"Yang tersembunyi? Apa itu?"


Yukimura bertanya pada Ichinose dengan suara yang sepertinya tidak


memikirkannya sejauh itu.


"Memang, dengan asumsi setiap kelas memiliki kesempatan yang sama


untuk memiliki ‘target’ yang ditugaskan kepadanya, tidak berbicara satu


sama lain adalah cara terbaik untuk mendapatkan banyak poin bagi kita


semua. Hanya ada keuntungan dari strategi ini dalam hal itu. Namun, ini


akan menjadi tidak adil bagi kelas rendah untuk membiarkan kesempatan


ini begitu saja, "jelasnya.


"I-itu! ...."


"Kami masih belum tahu berapa banyak ujian khusus yang akan terjadi


sebelum kelulusan dan perbedaan yang saat ini dimiliki Kelas A dari kelas


lain sangat luar biasa. Strategi kerja sama dengan kelas lainnya juga terbawa


selama ujian di pulau itu. Dengan kata lain, setiap kali ada ujian, Kelas A akan


terus menggunakan strategi ini sehingga posisi akhir kelas tidak berubah


sampai kelulusan "Ichinose menjelaskan.


Wajah Yukimura langsung menegang kepada penjelasan itu, seolah


bertanya-tanya bagaimana dia tidak memperhatikan hal yang begitu


sederhana. Machida telah mengemukakan rencananya dengan sangat cerdik


sehingga perhatian setiap orang terfokus hanya pada menghindari


"kerugian" sehingga mereka tidak mempertimbangkan hal lain. Itulah


sebabnya bahkan Yukimura pun cepat menerimanya tanpa


mempertimbangkan hasil jangka panjangnya.


"Bahkan jika kita benar-benar bisa mendapatkan poin dengan cara ini, aku


tidak bisa mengabaikan kesempatan berharga seperti itu" Ichinose


menyimpulkan.


"Sepertinya Ichinose-san sudah membuat keputusannya, kami akan


mengikuti jejaknya" kata Hamaguchi.


"Tunggu sebentar, Ichinose, aku tahu apa yang ingin kau katakan, tapi jika


kita bertindak sesuai dengan rencanamu, hanya ada satu hasil yang mungkin


terjadi. Tetapi bahkan jika kita semua bekerja sama, semua kelas akan


mendapatkan jumlah poin yang sama. Hasil yang kau inginkan tidak akan


terjadi atau apa kau mencoba untuk mengetahui ‘target’ melalui diskusi dan


Kelas B akan mengkhianati kita untuk mendapatkan semua poin dalam satu


pukulan? Kau dengan sengaja bertanya kepada semua orang apakah mereka


menginginkan hasil pertama sekarang, tapi aku tidak berpikir kau bisa


dipercaya " Ucap Machida.


"Kau mengatakan bahwa jarak antara kelas tidak akan berubah dengan baik,


tapi itu salah. Lihatlah jumlah murid dari masing-masing kelas. 4 dari Kelas


D dan C. 3 dari A dan B. Kemanapun nilai poin dari masing-masing kelas akan


diterima akan berubah dan perbedaan juga bisa berubah, benarkan?"


“Memang, tapi apa kau dan Kelas B dengan jumlah yang lebih sedikit


menerima hasil ini? Apa kau cukup baik untuk mengorbankan kedudukan


kelasmu untuk membantu kelas bawah meningkat?" Machida bertanya pada


Ichinose.


"Jika tidak, Kelas A pasti akan mendapatkan keuntungan dari strategi saat


ini. Akan sangat merepotkan jika ‘target’ itu ada di Kelas A”


Tentu saja, jika "target" tidak ada di Kelas A maka Ichonose tidak perlu


bersikap agresif. Namun, selama ada kemungkinan seperti itu, dia akan


berisikeras dengan kepastian dari pembicaraan.


"Aku juga setuju dengan Ichinose-san, kita tidak bisa membiarkan Kelas A


memimpin dengan strategi seperti ini" Hamaguchi menindaklanjuti.


Aku terkesan saat pertama kali mendengar strategi dari kelompok Katsuragi


tapi sekarang Ichinose dan Hamaguchi telah membuktikannya, sekarang


terdengar lebih seperti gertakan daripada yang lainnya. Sesuatu yang


direncanakan saat mereka diberi pengarahan tentang sifat ujian.


Kurasa itu hanya karena dia mengetahui rencana Kelas A sehingga dia bisa


melawan argumen mereka seperti ini. Bahkan para murid yang dulu


mendukung strategi mereka mungkin sekarang bersikap netral atau bahkan


mungkin berdiri di pihak Ichinose.


Medan perang kini telah berubah menjadi Kelas B yang dipimpin oleh


Ichinose dan Class A yang dipimpin oleh Machida sementara D dan C adalah


kelas yang diperebutkan oleh mereka dan dapat bergoyang ke kedua sisi.


Dan sekarang air pasang akan berpaling dari Kelas B.


"Begitu, kau juga telah membuat keputusanmu. Ingatlah bahwa kami dari


Kelas A telah membuat pilihan kami. Entah apa pun alasannya, kami tidak


akan berbicara dengan kalian. Selanjutnya kalian semua bebas untuk


mendiskusikan apapun yang kalian inginkan di antara kalian sendiri"


Machida akhirnya berkata dan dengan begitu, ketiga murid Kelas A pindah


ke sudut ruangan dengan diam. Sepertinya mereka akan menghabiskan sisa


waktu yang disediakan dengan cara seperti itu.


Aku yakin murid Kelas A di kelompok yang lainnya juga melakukan hal yang


sama seperti sekarang. Dengan melakukan ini, jika "target" itu muncul dari


Kelas A, akan sangat sulit untuk menemukannya.


"jadi, apa yang harus kita lakukan?" Ichinose menghadapi tiga kelas yang


tersisa dan bertanya.


"Aku benci menjadi orang yang dikecualikan oleh kalian semua, tapi jika itu


keputusan kelasmu, mau bagaimana lagi. Jika kalian ingin bergabung dalam


diskusi kami, tolong katakan kapan saja"


Ichinose mengarahkan kata-kata


itu ke Kelas A.


Ichinose melakukan yang terbaik untuk mengarahkan Kelas A seperti itu,


tapi sepertinya mereka sudah memutuskan. Kelas A tetap diam dan tidak


menjawab sama sekali.


"Bukankah tidak mungkin menemukan ‘target’ tanpa kerja sama dengan


Kelas A?"


Yukimura yang menanyakan pertanyaan itu seolah-olah sedang mengadu


kepada Ichinose. Sikapnya sekarang benar-benar berbeda dengan beberapa


waktu yang lalu ketika dia bersiap untuk mengikuti strategi Kelas A yang


lebih mudah, tapi kurasa Yukimura ingin mempertahankan Kelas D sebagai


peserta aktif dalam diskusi.


"Ya, jika ‘target’ ada di Kelas A, akan sedikit sulit untuk menentukannya.


Tetapi aku akan mengatakan bahwa kemungkinan yang menguntungkan


kita adalah 3 banding 1. Bahkan jika kita tidak mengetahui ‘siapa’, jika kita


tau ‘di mana’ setidaknya itu akan lebih mudah bagi kita, bukankah begitu? "


Ichinose sepertinya tidak ingin mengetahui dengan benar ‘siapa targetnya’


sebanyak dia ingin mengetahui dari mana kelas mereka, terutama jika


mereka berada di Kelas A.


"Mau bagaimana lagi jika mereka menolak untuk berbicara, dan jika ‘target’


itu ada di salah satu dari tiga kelas yang tersisa, aku akan memperlakukan


mereka dengan mengerikan. Tetapi jika ‘targetnya’ ada di Kelas A, aku ingin


untuk mendiskusikan apa yang harus kita lakukan setelah itu"


Ichinose menyerang dengan berani melawan strategi Katsuragi dengan


membentuk aliansi antara tiga kelas yang tersisa.


"... aku masih tidak bisa mempercayaimu"


Yukimura yang berbicara menentang Ichinose sekarang. Manabe dari kelas


C sepertinya juga setuju dengan Yukimura.


"Bahkan jika ‘target’ ada di Kelas A, bukankah sulit mengidentifikasi


mereka?"


"Aku pikir kita tidak perlu memikirkan sejauh ini, sekarang, mempersempit


kelas yang menjadi sasaran ‘target’ seharusnya cukup, bukan?" Balasan


Ichinose


Jika kau melihatnya dari sudut pandang ‘target’, gagasan tentang ketiga kelas


yang bergabung untuk menemukan mereka akan terasa sangat mengerikan.


"Ini hanya pendapatku di awal diskusi. Jika kita melanjutkan diskusi kita,


pasti ide yang lebih baik akan muncul, maksudku, ujian baru saja dimulai.


Kita bisa meluangkan waktu untuk menentukan ide yang akan digunakan


atau tidak" Ichinose melanjutkan.


Untuk memulainya, tidak ada yang bisa membantah gagasan Machida atau


gagasan Ichinose karena tidak ada yang menawarkan hal lain. Seperti kata


Hamaguchi, tidak adil jika menolak rencana mereka tanpa harus


menawarkan yang lebih baik.


Untuk saat ini, aku seharusnya tidak perlu terburu-buru tanpa terlebih


dahulu memastikan bagaimana yang lain akan bertindak. Lagipula, orang


dengan kemampuan komunikasi rendah cenderung terseret arus dalam


situasi seperti ini.


"Kau adalah Karuizawa-san, bukan? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan


kepadamu"


gadis dari Kelas C bernama Manabe memanggil Karuizawa. Karuizawa


sendiri sepertinya tidak mengharapkan namanya dipanggil di sini dan dia


cepat-cepat berpaling dari panggilannya.


"Apa?"


"Mungkin hanya kesalahpahamanku saja, tapi selama liburan musim panas,


apa kau bertengkar dengan Rika?" dia bertanya.


"Hah? Apa maksudnya? Siapa Rika?" Karuizawa bertanya.


"Dia dari kelas kami yang memakai kacamata. Dia mengikat rambutnya


seperti dango. Kau tidak mengingat dia?" Jawab Manabe padanya.


"Bukan aku, Kau sudah salah orang"


Karuizawa menyikatnya seolah tidak ada hubungannya dengan dia dan


melirik ke arah ponselnya. Tapi kalimat Manabe berikutnya menyebabkan


perubahan ekspresi pada Karuizawa.


"Bukankah itu aneh? Kami mendengar cerita yang berbeda, Koruizawa dari


Kelas D menggertak Rika kami, dia mengantri di kafe dan kau mendorongnya


keluar dari barisan" kata Manabe.


"... Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan, apa kau memiliki masalah


denganku?" Balasan Karuizawa


"Tidak juga, hanya memastikan jika itu benar, aku ingin kau meminta maaf


kepada Rika. Rika adalah tipe yang akan tetap diam mengenai hal-hal seperti


ini, jadi ini tugas kami sebagai teman sekelasnya untuk membela dia," kata


Manabe.


Sepertinya bukan hanya kelas kami, Karuizawa juga memiliki reputasi


sebagai pembuat onar di kelas lain. Aku mengalihkan pandangan dari


mereka. Bagaimanapun, bahkan Kelas C bisa merasa sakit dengan sebuah


masalah. Karuizawa juga mencoba untuk mengabaikan mereka tapi


sepertinya itu membuat Manabe marah.


Manabe kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera ke


arah Karuizawa.


"Kalau begitu, kau tidak akan keberatan jika aku memastikannya lagi kepada


Rika, bukan? Jika kau tidak melakukan apapun, maka kau pasti tidak masalah


dengan hal ini, bukan?"


Dan pada saat itu, Karuizawa tiba-tiba berdiri dan meraih ponsel dari tangan


Manabe. Dia menggunakan sedikit kekuatan saat ponsel itu melayang di


udara dan terjatuh ke lantai dengan suara yang keras.


"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Manabe pada Karuizawa.


"Itu hakku, jangan mengambil fotoku tanpa seizinku, aku sudah bilang kalau


aku tidak melakukannya!"


Pihak kedua membantah tuduhan orang pertama dan saat argumen mereka


memanas, Ichinose menatap mereka seolah mencoba untuk membedakan


siapa yang benar dan siapa yang salah.


"Apa yang akan kau lakukan jika ponselku rusak?"


"Apa? Katakan saja pada sekolah dan buatkan untukmu yang baru!"


Karuizawa menjawab dengan tajam kepada Manabe.


"... ada beberapa foto berharga di ponsel itu"


kata Manabu saat dia


mengangkat ponselnya dan menatap Karuizawa dengan mata menyimpan


dendam.


Dua murid lain dari Kelas C mendukung Manabe dengan berdiri di depan


Karuizawa seolah ingin mengintimidasinya.


"Apa ..... apa kau mencoba mengatakan bahwa aku adalah orang yang jahat


di sini?"


"Jika kau benar-benar tidak bersalah, kenapa kau begitu angkuh? Biarkan


aku mengambil fotomu" kata Manabe kepada Karuizawa.


"Aku .... tidak mau"


Aku berharap Karuizawa merespons dengan kekuatan yang lebih besar lagi,


tapi dia terdengar sangat lemah atau lebih tepatnya, meski dia berusaha


terdengar keras, aku bisa mendengar ketakutan dalam suaranya. Mungkin


itu hanya imajinasiku.


"Apa kau tidak mencoba menyembunyikan tindakanmu?"


Manabe mengunci kamera kepada Karuizawa seolah-olah secara paksa


berusaha memotretnya. Gadis-gadis dari Kelas C menyaksikan hal yang


ketahuan ini sambil tertawa keras seolah menikmatinya. Hanya murid Kelas


C yang terakhir, Ibuki, mengambil sikap yang berbeda dan tidak ikut terlibat.


Dia menatap Manabe seolah merasa jijik tapi tidak menghentikannya.


"Ini sangat bodoh" kata Ibuki.


"Bodoh? Apa maksudnya? Ini tidak ada hubungannya denganmu, Ibuki-san,


kau bukan teman Rika" kata Manabe pada Ibuki.


"Itu benar, aku tidak punya kepentingan dalam hal ini, jadi aku hanya


mengamati" kata Ibuki dengan kedua tangannya disilangkan saat dia


mengalihkan pandangan dari tempat kejadian.


Manabe sepertinya tidak menyukai sikap Ibuki terhadapnya, tapi bukannya


menghadapi Ibuki, dia mulai menaikkan suaranya melawan Karuizawa. Itu


mungkin karena ada tingkatan yang didefinisikan secara pasti di Kelas C


dimana Ibuki berada di atas Manabe.


"Bagaimanapun, aku akan mengambil fotomu" kata Manabe akhirnya.


"Tidak! ... tolong katakan sesuatu untuk menghentikannya"


Karuizawa menatap Machida dari Kelas A dan memohon pertolongannya.


"Manabe, jika Karuizawa keberatan, maka berhentilah" Machida kemudian


berbicara.


"I-ini tidak ada hubungannya denganmu, Machida-kun"


"Tidak masalah, dari apa yang sudah aku dengar sepertinya kau yang salah,


Manabe. Jika Karuizawa menolak membiarkan fotonya diambil, salah jika


kau secara paksa melakukan hal tersebut. Akan jauh lebih baik jika kau


berbicara dengan temanmu sendiri untuk mengkonfirmasi ceritamu"


Machida menegur Manabe.


Tentu saja Machida berada di jalur yang benar jika apa yang dia katakan itu


benar. Tapi memotret seseorang yang melawan kemauan mereka adalah


pelanggaran sopan santun. Manabe juga mengakui fakta ini saat ia


mengundurkan diri saat berhadapan dengan argumen tersebut meski


sepertinya ia tidak merasa puas bila berhenti di sini.


"H-hentikan tuduhan aneh itu, yang benar saja dan terima kasih, Machida-


kun" Karuizawa menatap Machida dengan hormat dan berterima kasih


padanya.


Meskipun dia berasal dari Kelas A, Bukan berarti dia benar-benar tidak


memiliki perasaan. Takemoto dan murid-murid yang lain sepertinya tidak


tertarik sama sekali.


"... aku hanya melakukan hal yang benar" Machida membalas ke Karuizawa


dengan sedikit hembusan napas.


Mungkin ini adalah awal dari sebuah cinta baru untuk Machida dan


Karuizawa? Tapi Karuizawa sudah memiliki pacar bernama Hirata jadi ada


sedikit masalah di sana. Tapi sepertinya konflik antara Kelas C dan


Karuizawa akan menjadi sebuah masalah ke depannya.


...

__ADS_1


__ADS_2