
Pada hari selang ujian, aku memilih untuk melakukan tindakan tertentu,
tetapi tiba-tiba aku dipanggil oleh Sakura dan oleh karena itu aku malah
memutuskan untuk mendengarkannya.
"Sepertinya ujian kelompok Sapi sudah berakhir," kataku.
"Yeah..."
Aku memeriksa pesan di ponselku yang dikirim ke Sakura juga ke semua
murid yang lainnya oleh sekolah. Itu tertulis,
"Ujian untuk kelompok (Sapi) telah berakhir. Anggota kelompok (Sapi) tidak
lagi diminta untuk mengikuti ujian. Pastikan untuk tidak mengganggu murid
lainnya"
Itu adalah jenis pesan yang sama yang dikirim setelah ujian kelompok
(Monyet) berakhir. Sakura menatapku dengan tetapan khawatir.
"Apa aku... melakukan kesalahan?"
"Bukan, bukan itu, itu berarti seseorang dari kelompok (Sapi) sudah
melaporkan ‘target’ ke sekolah"
Terlepas dari kasus yang terjadi berkat penangkapan Kouenji, mungkin
pengkhianatan menjadi semakin biasa di dalam ujian ini. Entah itu
'pengkhianatan yang pasti' atau 'pengkhianatan karena terburu-buru'.
"Omong-omong, Sakura. Apa kau adalah ‘target’ di kelompokmu atau apa itu
adalah orang lain?"
Saat aku bertanya kepadanya, Sakura menggelengkan kepalanya ke kanan
dan ke kiri untuk menyangkal hal tersebut.
"T-tidak, aku bukan ‘target’ tapi aku tidak yakin dengan Sudo-kun dan yang
lainnya..."
Bagi Sakura yang sudah menjadi bagian dari kelompok (Sapi) hanya dalam
dua hari, sepertinya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di dalam situasi
seperti ini.
"Jangan terlalu dipikirkan, aku bahkan masih belum tahu ‘target' dari
kelompokku”
"Baiklah ... terima kasih Ayanokouji-kun, aku senang kau memberitahuku hal
itu"
"Bagaimana dengan situasi Kelas A? Dari rumor yang beredar sepertinya
mereka tidak berpartisipasi di dalam diskusi"
"Itu ... yeah, sama seperti yang orang lain katakan, mereka sama sekali tidak
berbicara"
Sepertinya Katsuragi benar-benar menjalankan strateginya ke semua
kelompok. Itu berarti kelompok yang menyebabkan kejadian ini mungkin
adalah Kelas C. Tetapi di dalam masalah ini, sebuah pertanyaan akan
muncul;
Ryuuen sudah mengabaikan peraturan yang ditetapkan oleh sekolah, tetapi
karena sekolah tidak mengumumkan secara aktif rincian dari ujian, tidak
mungkin untuk memastikan apakah aku benar atau tidak pada saat ini.
Itulah kenapa sulit untuk mengetahui aturan di balik ujian ini.
Jika aku salah menebak, aku akan berakhir dengan penghancuran diri
sendiri dan menerima kerugian besar tersebut.
Selain kelompok (Sapi), fakta bahwa kelompok lain belum menyelesaikan
ujian mereka berarti bahwa; bahkan Ryuuen pun masih belum mengetahui
jawabannya.
Setelah ujian yang misterius seperti ini selesai, tidak heran jika banyak
murid merasa tersesat.
"Jika ada sesuatu yang lain, jangan ragu untuk meminta saranku kapan saja"
"Terima kasih, Ayanokouji-kun, sampai jumpa"
Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Sakura yang pergi sambil
mengayunkan tangan kecilnya dengan cepat dari satu sisi ke sisi yang lain,
sekarang aku menuju ke ruang paling bawah. Lalu aku turun ke tingkat yang
lebih rendah dari kapal di mana seseorang umumnya tidak akan pergi ke
sana.
Meskipun daerah tersebut dilarang untuk murid, namun tetap tidak terkunci
agar para kru bisa mengaksesnya. Daerah dimana ruang kendali berada,
meski mudah diakses, itu sama sekali bukanlah tempat yang populer bagi
orang-orang untuk didatangi.
Jika seseorang berteriak dengan suara yang keras, gema akan terbentuk,
karena tempat ini sebenarnya secara otomatis tidak akan ada orang-orang
yang datang ke tempat seperti itu.
Hanya ada dua pintu masuk dan keluar ke tempat ini termasuk yang umum.
Yang lainnya adalah pintu yang mengarah ke tangga darurat yang bahkan
kru tidak menggunakannya.
Dari debu yang berkumpul di pintu tersebut, aku mengatakan mereka sangat
banyak. Itu berarti aku bisa memantau situasi hanya dengan mengawasi satu
jalan yang sering digunakan.
Selanjutnya, lebih mudah bagiku karena sepertinya ponsel tidak
mendapatkan jaringanya di sini. Terkadang ada jaringan muncul di sini,
tetapi kebanyakan akan menjadi sangat sulit untuk mengirim pesan atau
chattingan dari sini apalagi membuat sebuah panggilan.
"Semua bagian sudah ada di tempat ini" gumamku.
Yang tersisa hanyalah menjalankan rencana selangkah demi selangkah
sehingga aku memutuskan untuk tidak akan membuat sebuah kesalahan.
Pertama, aku harus menghubungi Hirata, lalu memintanya memanggil
Karuizawa ke tempat ini. Untuk memastikan ada cukup waktu untuk
segalanya, aku harus menghubungi Karuizawa setidaknya satu jam lebih
cepat. Untuk itu, aku naik kembali ke lantai atas untuk melakukan panggilan.
Aku yakin dia akan berhati-hati setelah kejadian pembicaraan tadi malam,
tetapi jika Hirata memanggilnya lagi untuk berbicara sendirian dengan
Karuizawa, dia pasti akan menanggapinya.
Dia bilang dia akan putus dengan Hirata, tetapi jika dia benar-benar putus
dengannya, dialah satu-satunya orang yang akan menderita di situ. Selama
Manabe dan kelompoknya mengincar dia, bagi Karuizawa, keberadaan
Hirata itu sangatlah penting baginya agar bisa melanjutkan kehidupannya di
sekolah.
"Aku sudah meminta Karuizawa-san untuk berada di sana jam 4. Aku akan
mengirimkan alamat Manabe-san kepadamu sekarang"
Aku menerima pesan dari Hirata.
Seperti yang diharapkan, dia mendengarkan permintaanku dengan sangat
baik dan sudah berhasil memanggilnya ke sini. Sebagai bonus, Hirata bahkan
tahu alamat kontak Manabe dari kelas lain. Jika tidak, aku harus
menanggung risiko dengan meminta bantuan kepada Kushida sehingga hal
ini menghemat masalahku.
"Tapi aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Tolong jangan membuat
Karuizawa-san sedih”
Hirata menambahkan hal itu sebagai sebuah catatan di bawah pesan.
Jadi dia tidak ingin Karuizawa sedih, ya?
Jika dia tahu apa yang sebenarnya yang akan aku lakukan kepada Karuizawa,
aku yakin Hirata akan marah kepadaku, tetapi selama aku tidak mengalami
sebuah masalah, aku rasa itu akan baik-baik saja.
Dengan demikian, bahkan jika dia sedang beristirahat di sini sekarang,
selama dia tidak menyadari apapun setelah kejadian, itu tidak akan menjadi
masalah. Dengan menggunakan contoh yang ekstrem; bahkan jika kau
melakukan pembunuhan, selama bukti yang ada tidak mencukupi, kau akan
aman.
Kemudian dengan cepat aku melewati teks yang aku tulis beberapa saat
yang lalu dan mengirimkannya. Isinya adalah,
"Hei, apa kau punya waktu?"
Kalimat singkat seperti itu.
Sebagai aturan yang umum, aplikasi chat yang aku gunakan hanya bisa
digunakan satu akun per-ponsel. Tetapi ada sedikit celah dalam peraturan
tersebut. Dengan menciptakan akun jejaring sosial utama yang baru, kau
bisa membuat akun lain untukmu sendiri. Tentu saja, umumnya tidak ada
murid yang membagi dirinya di antara akun utama dan sub akun karena
tidak ada banyak keuntungan jika beralih di antara akun tersebut. Tetapi
dengan melakukan hal ini, aku bisa menghubungi pihak ketiga tanpa
identitasku.
Aku harus melanjutkannya dengan hati-hati dari sini. Selama aku tidak
melakukan kesalahan dalam proses ini, semuanya akan berjalan dengan
sempurna.
Meski pesannya berasal dari pengirim anonim, Manabe dengan cepat
membalasnya.
"Siapa kau?"
Tentu saja Manabe tidak mengenal si pengirim, menjawab pertanyaan
tersebut,
"Apa ada orang di sekitarmu saat ini?" Aku membalas.
"Tidak, aku sendirian ... siapa dirimu?"
"Jangan tunjukkan chat ini kepada siapapun, ini hanya untukmu"
"Aku bilang, Kau ini siapa?"
"Aku adalah orang sama sepertimu. Kita membenci orang yang sama,
katakan saja seperti itu”
Meski tanda 'baca' dengan cepat muncul, Manabe meluangkan waktunya
untuk membalas. Mungkin dia masih belum mengerti maksud dari kalimat
tersebut.
“Apa kau sudah salah orang?"
"Aku tidak membuat kesalahan, Manabe-san, aku menghubungimu untuk
memberitahumu tentang Karuizawa-san yang sangat kau benci. Aku pikir
aku bisa berkonsultasi denganmu mengenai situasi ini, Manabe-san"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tolong berhenti mengirimkanku
pesan"
Dia terlihat berhati-hati, tidak mengerti apakah aku ini musuh atau bukan.
Reaksi yang wajar. Aku harus mengatasi kesalahpahaman ini terlebih
dahulu.
"Sebenarnya, sebagai teman sekelasnya, aku sudah menyimpan dendam
terhadap Karuizawa-san selama ini. Karena itulah aku pikir kita bisa bekerja
sama dan membalas dendam padanya. Karena aku adalah teman sekelasnya,
sangat sulit untuku membalaskan dendamku kepada Karuizawa-san secara
langsung karena itulah aku ingin bekerja sama denganmu"
"Aku tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan, aku akan mengabaikanmu
saat ini juga"
Meskipun dia mewaspadaiku, kenyataannya dia masih belum memutuskan
hubungannya denganku adalah bukti betapa dia sangat membenci
Karuizawa. Sudah pasti ini berasal dari keinginannya untuk membalaskan
dendam temannya, Rika dan juga kebenciannya terhadap Karuizawa.
Dengan mudah aku bisa membuat kesimpulan dari fakta tersebut bahwa
Manabe menggunakan kekerasan untuk membawa Karuizawa ke tangga
darurat.
"Rika-chan masih takut kepada Karuizawa-san, apa kau mau tidak
membantunya sebagai teman? Wajah balas dendammu sangat kelihatan, kau
tahu? Tapi sebenarnya, kau tidak bisa melakukannya meski kau mau. Karena
setelah kejadian kemarin, Karuizawa-san menjadi waspada. Aku yakin dia
tidak akan pergi dari sisi Hirata-kun atau Machida-kun untuk sementara
waktu dan dia akan selalu bersama dengan teman wanitanya sehingga dia
bisa menang dengan sendirinya"
"Aku tidak butuh bantuanmu, aku hanya harus membawa Rika agar bisa
bertemu dengan Karuizawa-san. Kebenarannya akan terungkap"
"Aku ingin tahu apakah itu hal yang mudah, aku tidak berpikir dia akan
dengan mudah mengakui kesalahannya. Sebaliknya, itu akan menyulitkan Rika-chan jika Karuizawa-san menggunakan kata-kata tak berperasaan.Dia akan berakhir dengan melukai Rika-chan lebih jauh, tidak, bukan hanya itu
saja, jika dia menyimpan dendam, dia mungkin malah akan menggertak
Rika-chan lebih jauh lagi"
"... lalu apa yang harus aku lakukan? Apa kau ingin mengatakan jika ada jalan
lain?"
Keinginan Manabe untuk menyelesaikan ini dengan menggunakan sebuah
konflik dari kedua belah pihak yang berikutnya menjadi jelas.
"Itu dia, kau dan aku, kita bisa bekerja sama untuk memastikan kita bisa
membalas dendam kepadanya di tempat yang aman,"
"Dan jaminannya? kau terlihat seperti hanya berencana menjualku kepada
sekolah. Lagipula akun ini berbau seperti sub akun”
"Jika aku benar-benar menjualmu, jangan ragu untuk menunjukkan chat ini
kepada para guru, Manabe-san. Akun ini sudah terdaftar di telepon sekolah.
Dengan kata lain, aku mempertaruhkan identitasku untuk membalas
dendam kepada Karuizawa. Dengan begitu, akulah yang paling bertanggung
jawab disini, bukankah begitu?”
Aku yakin Manabe juga memahami hal ini dengan baik. Sekalipun ini adalah
sub akun, begitu kau menganalisisnya secara menyeluruh, identitas
seseorang di belakangnya bisa terungkap.
Jika itu terjadi, aku sebagai orang yang mendalangi rencana pembalasan ini,
akan menanggung hampir semua tanggung jawab dan pasti akan dihukum
dengan berat.
"Kalau begitu jika aku menunjukkan chat ini ke sekolah sekarang, apa yang
akan kau lakukan? Itu adalah akhir untukmu"
"Karena aku yakin Manabe-san bukanlah tipe orang yang melakukan hal
seperti itu, aku harus percaya agar bisa dipercayai"
"Aku mengerti apa yang ingin kau katakan, kurang lebih, setidaknya aku
akan mendengarmu"
Setelah itu aku mengulangi cerita yang sama kepadanya berkali-kali.
Tentang betapa aku membenci Karuizawa. Tentang bagaimana aku ingin
balas dendam kepadanya namun belum bisa karena merupakan seseorang
yang berada dalam posisi yang lemah. Dan bagaimana aku mendengar
Manabe dan teman-temannya bertengkar dengan Karuizawa. Aku sangat
memastikan untuk berperan sebagai korban.
"Begitu kita kembali ke darat, kontak dengan Karuizawa pasti akan menjadi
sulit. Karena asrama sekolah ditebari dengan kamera pengintai, meskipun
kau mencoba membawanya ke wilayah pribadi, akan ada mata yang
mengawasimu. Tempat ini, medan perang yang tidak memiliki jalan keluar
akan menjadi tempat yang sempurna untukmu."
Hal ini akan memastikan Manabe dan yang lainnya menyadari tempat ini,
hanya di kapal ini, tempat untuk mereka bisa membalas dendam mereka.
"Jadi ... usulan apa yang bisa kau lakukan?"
Manabe yang akhirnya berhasil terjebak oleh rencanaku, akhirnya mulai
mengajukan pertanyaan.
"Aku bisa menghubungi Karuizawa-san, setelah itu, kau bisa meluangkan
waktu untuk berbicara dengannya dan menyelesaikan masalah"
Dan dengan begitu, melalui chat, aku mengirimkannya peta ke lantai bawah
kapal.
"Karena panggilan ponsel tidak bisa masuk di sana, dia juga tidak bisa
meminta bantuan dan tidak ada yang akan pergi ke sana"
"Aku mengerti... jadi kau bisa menghubungi Karuizawa-san sebagai teman
sekelas?"
"Aku ingin kau memutuskan sekarang. Apa mau bekerja sama dengan
rencanaku atau tidak? Setelah aku menelponnya, kau bisa memutuskan
apakah kau ingin membalas dendammu atau tidak. Apa kau tidak masalah
dengan itu?"
Setelah itu, untuk waktu yang lama, meski ada tanda 'baca' yang muncul.
Tidak ada jawaban yang datang dari Manabe.
Kemudian, begitu jawabannya
datang, aku yakin aku akan berhasil.
Jika rencanaku untuk meyakinkannya melalui chat gagal, aku sudah
menyiapkan rencana lain di mana aku harus muncul di depan Manabe
sendiri melalui kontak langsung.
Tentu saja itu berbahaya. Karena aku sudah mengambil beberapa foto
Karuizawa yang diancam di tangga darurat, aku bisa memerasnya untuk
mengikuti rencanaku. Tetapi risikonya juga besar karena aku ingin
menghindari keberadaanku berdiri.
"Sekarang, biarkan aku melihat apa yang bisa kau lakukan, Manabe"
***
Terkadang, suara besi yang tergeser dengan keras bergema di lantai yang
gelap. Mungkin hal tersebut bisa terjadi kapan pun kapal merubah haluan
atau mungkin itu karena kapal sudah menabrak sesuatu. Meskipun begitu,
__ADS_1
tempat di mana hanya suara mesin yang bisa terdengar, perempuan tersebut
datang sendirian.
"Ada apa ini? Aku tidak bisa mengakses ponsel" gumamnya.
Masih ada sepuluh menit lagi sebelum waktu yang dijanjikan. Mungkin dia
datang lebih cepat supaya bisa menenangkan diri sebelum menemui Hirata.
Setelah menyadari bahwa ponsel akan tidak berguna, Karuizawa
mengantonginya lagi dengan ekspresi bosan dan bersandar di dinding.
Dan seiring berjalannya waktu, kesimpulan apa yang dia dapatkan dari ini?
Tetapi apa pun itu, sayangnya, Hirata tidak akan pernah menemuinya.
Saat jam menunjukan waktu 4 sore, satu-satunya pintu yang ada di lantai
tersebut terbuka dengan bunyi yang keras. Orang-orang yang muncul adalah
tiga kelompok perempuan dari Kelas C, para perempuan yang dipimpin oleh
Manabe. Dan satu lagi, seorang gadis yang memiliki aura yang mirip dengan
Sakura. Mungkin perempuan tersebut bernama Rika.
“Itu benar”
Teriak Manabe saat ia melangkah ke ruangan dan dengan cepat, dia
menemukan sosok Karuizawa. Tentu saja, Karuizawa juga melihat mereka.
"K-k-kenapa kau ada di sini?"
Karuizawa gemetar melihat sosok yang tak terduga dari orang-orang ini.
Tetapi di tempat yang sempit dengan tidak adanya jalan keluar, melarikan
diri akan menjadi sulit.
"Aku baru saja melihatmu memasuki tempat ini, yah, ini saat yang tepat, jadi
aku ingin mengenalkanmu. Perempuan ini adalah Rika, Karuizawa-san, apa
kau mengingat dia?" Tanya Manabe.
Dia kemudian menarik Rika yang bersembunyi di belakangnya ke depan dan
mereka berdua bertatap muka. Karuizawa mengalihkan pandangannya dan
berpura-pura tidak tahu, tetapi dari tingkah lakunya, jelas dia memang
mengingat orang itu.
"Hei Rika, orang yang mendorongmu sebelumnya adalah Karuizawa-san,
kan?"
"Ya... dia orangnya"
Setelah mendengar jawabannya, Manabe tersenyum senang dari lubuk
hatinya. Di sisi lain, Karuizawa yang menyadari situasi yang berbahaya mulai
menjadi cemas dan gugup. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah
menyaksikan kejadian menyedihkan yang akan segera terungkap di sini.
Bahkan jika Karuizawa menghadapi siksaan yang lebih parah dari yang
diperkirakan di sini, aku sama sekali tidak berniat menyelamatkannya di
tengah jalan.
"Minta maaflah kepada Rika"
"Hah, siapa yang mau minta maaf? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun"
"bertingkah keras di dalam situasi seperti ini, itu sangat mengesankan, tapi
kurang lebih aku mengerti"
"...... apa yang kau mengertikan?"
"Sikap yang aneh dan ketakutan. Karuizawa-san, kau adalah korban dari
bullying, bukan?"
"...."
Fakta bahwa dia sangat berusaha untuk menyembunyikannya diketahui
oleh orang yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
"Aku benar, bukan? Aku tahu itu, aku memiliki perasaan seperti itu
tentangmu sejak awal"
"I-itu tidak benar ..."
Itu merupakan penyangkalan yang mengerikan, tetapi bahkan untuk aktor
yang terbaik, dia tidak akan bisa meyakinkan mereka.
Bukan berarti Manabe memiliki mata yang bagus untuk mengamati hal-hal
seperti itu, tetapi karena sebelumnya aku sudah menceritakan kepada
Manabe semua hal tentangnya. Karuizawa sudah diganggu dengan sangat
mengerikan sejak kecil dan dia mengalami trauma serius dari hal tersebut.
Tidak ada gunanya menyangkal hal ini kepada seseorang yang sudah
mengetahui kebenarannya.
"Jika kau berlutut dan mengemis sekarang, aku mungkin akan
memaafkanmu. Itulah yang harus kau lakukan, benarkan? Berlutut!”
"Aku-aku tidak akan melakukannya. Lagi pula, aku belum pernah melakukan
itu sebelumnya"
Dia mencoba melewati Manabe seolah ingin melarikan diri, tetapi Manabe
meraih rambut panjangnya dan mendorongnya kembali ke dinding,
membantingnya ke sana.
Setelah merasa nyaman dengan sebuah tempat untuk pembalasan dendam
yang sudah dipersiapkan untuknya, mengendalikan Manabe sudah pasti
tidak akan bekerja lagi. Apa yang kami sepakati di chat kami adalah agar dia
'bertemu' dengan Karuizawa.
Seharusnya dia ragu menggunakan kekerasan sebagai alat balas dendam,
Tetapi setelah bertemu langsung, semua tekanan yang harus ditahan di
dalam dirinya, bersamaan dengan harapan dari teman-teman di sekitarnya
untuk membalas Karuizawa, sudah pasti Manabe tidak akan puas kecuali
jika dia membuat Karuizawa menderita.
Itulah tujuanku.
Ada sebuah percobaan di tahun 1960-an yang dikenal dengan percobaan
‘Milgram’. Juga dikenal sebagai prcobaan ‘Eichmann’. melibatkan tes yang
melibatkan peran 'guru' dan peran 'murid' di tempat yang terisolasi.
Peran guru adalah memberikan kejutan listrik yang rendah kepada subjek
sampai rasa takut dan rasa sakit karena syok akan diingat oleh mereka.
Kemudian, orang yang diberi peran 'murid' akan dipisahkan dari 'guru'
melalui kaca dengan alat yang memungkinkan kejutan mengalir ke 'murid'
yang dipasangkan. Pengejutan kemudian akan dipercayakan kepada subjek
yang diberi peran sebagai 'guru'. Persiapan itu selesai untuk memulain
percobaan.
Kemudian, percobaan memberikan 'murid' serangkaian pertanyaan untuk
menjawab pertanyaan 'guru'. Untuk setiap jawaban 'murid' yang salah,
'guru' akan terus memberikan kejutan listrik dan dengan setiap kesalahan
juga akan menaikkan volume kejutan itu sendiri. Akhirnya, kejutan bisa naik
hingga 450 volt dimana itu cukup kuat yang akan berakibat fatal bagi
manusia.Di sisi lain, yang terlemah adalah 45 volt dan hanya berefek gatal ringan.
Namun, berbeda dengan pengetahuan ‘guru’, perangkat tersebut palsu dan
‘murid’ dibuat bertindak di dalam rasa sakit karena teriakan yang akan
terdengar dari lain.
Bahkan jika arus yang mengalir kepada subjek, pada awalnya tidak akan ada
banyak reaksi, walaupun setiap kali volumenya meningkat, rasa sakit
tersebut akan meningkat mulai dari jeritan, merintih, hingga akhirnya
terdiam.
Subjek yang diberi peran sebagai 'guru' tidak terancam oleh hal ini dan terus
menaikkan volumenya meski sudah tau bahwa pihak lawan sudah
menderita kesakitan.
Hampir 66% subjek dinaikan volumenya hingga ke titik di mana manusia
pasti akan terbunuh. Percobaan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa
'tergantung kepada keadaan, setiap orang mampu menunjukkan
kekejaman'.
"sakit, sakit, sakit! Lepaskan aku!"
Karuizawa menjerit kesakitan karena rambutnya ditarik, tetapi Manabe
hanya tertawa. Saat ini, daerah tertutup ini merupakan lantai kapal yang
lebih rendah.
Peran 'guru' sudah ditugaskan kepada Manabe dan peran 'murid' untuk
Karuizawa sesuai dengan percobaan. Aku sudah menyiapkan sebuah
panggung yang serupa dengan percobaan ‘Milgram’ sebisaku.
Umumnya, meski dengan kondisi seperti ini, itu tidak akan cukup, namun
mengingat sejarah di antara keduanya, hasil percobaan harus tetap terjadi
di sini.
Penderitaan dan rasa sakit yang dialami Karuizawa yang bersikap keras
beberapa waktu lalu, terasa lebih baik kepada mereka saat ini.
"Haah"
"Uwa ~ Shiho, kau menggunakan lututmu untuk menendangnya. Itu
berlebihan, kau tahu"
Manabe terus menggunakan lututnya untuk menyerang daerah sekitar perut
Karuizawa. Tentu saja, Manabe yang tidak biasa menendang seperti itu,memiliki gerakan yang lambat dan lemah dan ditendangnya seharusnya
Karuizawa adalah upah terbesar.
Dia terihat memiliki waktu dan berbisik kepada Rika yang sudah
menjauhkan diri dari mereka sampai sekarang.
"Rika, kau juga harus mencobanya”
"Aku-aku baik-baik saja..."
"Kami melakukan ini untukmu, kau tahu? Tidak apa-apa, lagipula tidak ada
yang melihat"
Rika terlihat menolak membalas dendam secara langsung, tapi daerah
tertutup ini tidak akan membiarkan hal tersebut.
‘Kau juga temanku, bukan?'
Jika sesuatu seperti itu harus diucapkan di sini, akan sulit baginya untuk
terus menolak. Jika kemarahan itu diarahkan kepadanya, dia akan menjadi
korban esok hari. Dia tidak mampu menyangkal bahwa dia mungkin akan
bertemu dengan mata yang sama dari Manabe suatu hari.
"Uuunn ... aku akan coba melakukannya"
Pechi.
Dengan suara kering dan ringan seperti itu, Rika menampar Karuizawa
dengan tamparan yang tidak menimbulkan rasa sakit.
"S-seperti ini?"
"Bukan seperti itu, kau harus membuatnya lebih kuat lagi, seperti ini"
Pakk!
Suara tinggi seperti itu terdengar saat Manabe menampar pipi Karuizawa
seperti itu. Menanggapi hal tersebut, Karuizawa terlihat menderita. Dan
seperti yang diinstruksikan, Rika perlahan mengulangi tamparannya.
Perlahan, kekuatan menamparnya terus meningkat.
"B-b-b-b-berhenti ..."
"Haha ... ini menyenangkan ... haha"
Terlihat seperti bukan Manabe. Dia akan menjadi orang yang lebih cocok
untuk percobaan ‘Milgram’. Karuizawa yang telah dihadapkan oleh sesuatu
kuat sampai sekarang, mulai menunjukkan rasa sakit.
"Kumohon... Maafkan aku ..."
Dia kemudian meminta maaf. Melihat sosok itu pasti bukan hal yang tidak
nyaman dan menyenangkan.
Dia terlihat tidak takut sama sekali, Rika mulai memukul dan menendang
dengan kuat. Terlebih, hal yang menarik adalah, tempat yang awalnya tidak
mereka sentuh, seperti di bawah seragam dan di bawah rambutnya, tempat-
tempat yang biasanya tidak dapat dilihat. Mereka mulai menargetkan
tempat-tempat seperti itu juga.
Karuizawa yang sudah terjatuh ketakutan, hanya meneteskan air mata saat
dia menyembunyikan wajahnya. Dan tidak ada yang menyadari, aku yang
sudah mengamati kejadian tersebut, bergerak tanpa mengeluarkan suara.
Lalu diam-diam membuka pintu tangga darurat agar tidak mengagetkan
Manabe dan yang lainnya.
Beberapa waktu yang akan datang, gangguan Manabe pasti akan terus
berlanjut. Tidak peduli apapun yang akan terjadi. Sekali sesuatu sudah
sangat hancur, itu akan menangkapmu ke masalah saat kau memperbaikinya Dengan tenang dan perlahan aku menutup pintu di belakangku saat jeritan Karuizawa terhalang oleh pintu dan tidak lama lagi tidak tidak terdengar.
***
Setelah aku memastikan bahwa kelompok Manabe sudah pergi, aku kembali
memasuki ruangan. Karuizawa mungkin mendengar pintu terbuka, tetapi
dia terus berjongkok di lantai dan menangis.
Mungkin rasa takutnya yang
luar biasa sudah mencegahnya untuk tidak memperhatikanku.
Jadi, ini adalah wajah yang sebenarnya dari pemimpin 'perempuan' yang
egois dan pantang menyerah?
Ini semua berkat saran yang aku berikan kepada Manabe. Seragam
Karuizawa dan kulit yang terpapar kurang lebih masih utuh. Jika
seragamnya robek atau seseorang memotong rambutnya, akan sulit menipu
orang lain. Sementara bullying sudah sering terjadi, keunikan sekolah ini
adalah membuat bullying lebih sulit dilakukan.
Jika seseorang sudah menemukan sesuatu yang harus dikhawatirkan,
pastinya itu adalah karena wajahnya menjadi sedikit merah oleh kekerasan
fisik; Besok hari itu akan mereda.
"Karuizawa"
Aku memanggil namanya. Dia mengangkat kepalanya dan akhirnya
melihatku.
"Wah, bagaimana ...?!"
Laki-laki yang tidak pernah terpikirkan akan melihatnya di sini, sudah
menyaksikan hal yang tidak ingin dilihat orang lain. Dia mulai menjadi panik.
Tetapi pengalaman itu terlalu traumatis baginya untuk berhenti menangis
sekaligus berpura-pura jika semuanya baik-baik saja.
Akhirnya aku akan berhenti menangis. Akhirnya aku akan tenang.
Sebelum dia melupakan hal yang sebelumnya, keinginan kecil dan sia-sia
darinya tidak akan terjadi.
Aku diam menunggu.
Setelah beberapa saat, Karuizawa yang terisak-isak perlahan beralih ke
sosok yang tenang.
Jika kau menempatkan 2 orang sendirian di daerah yang gelap dan terisolasi
seperti ini, mereka tidak bisa berbuat apapun, namun mampu merasa lebih
dekat secara mental. Hal ini akan bekerja bahkan jika 2 orang tersebut
umumnya saling membenci. Inilah yang manusia lakukan.
"Sudah tenang?"
"...Kurang lebih..."
Karuizawa menggunakan lengan bajunya untuk menyeka matanya yang
bengkak. Dia masih lumpuh dan tidak bisa bangkit kembali. Aku
mengulurkan tangan untuk membantunya, tapi dia tidak menggapainya.
"Dimana Hirata ......"
"Meskipun kalian berdua akan bertemu di sini, tapi aku yakin guru sedang
memanggilnya, aku bersama dia saat itu, jadi aku yang menggantikan dia."
Penjelasan ini seharusnya cukup untuk menjelaskan bagaimana semuanya
berakhir seperti ini.
Untuk saat ini aku tidak perlu memberi tahu yang sebenarnya. Hal pertama
yang harus di lakukan adalah membiarkan penjagaannya menurun dan
membuat celah di psikisnya.
"Jadi, kenapa kau menangis?"
"Ini karena Manabe dan kelompoknya.... aku tidak akan membiarkan mereka
lolos begitu saja."
Sepertinya dia mengingat apa yang baru saja terjadi kepadanya. Tubuh
Karuizawa mulai bergetar. Bahkan jika dia tidak ingin menunjukkan sisi
memalukan ini kepadaku, tetapi ketakutan yang menodai tubuhnya tidak
begitu mudah terlepaskan.
"Jangan beritahu siapapun jika aku menangis. Jika kau melakukannya, aku
tidak akan memaafkanmu"
Kelemahan Karuizawa adalah dia tidak bisa melaporkan apa yang terjadi
kepadanya ke sekolah. Jika kekerasan fisik yang dilakukan Manabe dan
kelompoknya kepada Karuizawa diketahui, maka sekolah tersebut ingin
mengetahui alasannya. Untuk melindungi status sosialnya, dia tidak bisa
membiarkan hal ini terjadi. Karena itulah sekarang dia berencana
menggunakan Hirata untuk membalas gadis-gadis tersebut.
"Kau tahu, untuk membalas mereka, bahkan orang sepertimu bisa
melakukannya. Pada dasarnya mereka hanyalah perempuan."
"Permintaan yang tidak masuk akal."
"Apa kau takut jika mereka akan membalasnya?"
"Dan kau mengklaim bahwa kau adalah seorang laki-laki...??"
"Itu sudah jelas jika dilihat dari kejadian Sudou bahwa ‘membalas’ itu tidak
akan menyelesaikan apapun, mata dibayar mata hanya akan menambah
sebuah masalah, terlebih itu akan membuat sekolah terlibat dan memulai
penyelidikan, itu bukan apa yang kau inginkan, bukan?"
"Jadi kau menyuruhku untuk melupakannya?"
Aku tahu bagaimana menjawabnya, tetapi aku memilih untuk tetap diam.
__ADS_1
"Seperti, mereka akan setuju, tidak, pasti mereka akan terus melakukan
segala macam cara kepadaku...."
Tubuh Karuizawa terus bergetar.
Itu benar, tidak ada jaminan bahwa Manabe akan berhenti dalam hal ini. Ada
lebih banyak cara melarikan diri begitu kami kembali ke sekolah, tetapi
Karuizawa tidak bisa terus bermain petak umpet dan mencari sisa waktunya
disini.
Pada saat yang sama, teman sekelas kami akan mulai memperhatikan
perubahan Karuizawa. Saat kedua belah pihak mendekat, Karuizawa tidak
punya tempat untuk melarikan diri.
Karuizawa menyadari hal ini dan sekarang menjadi sangat ingin
menghentikannya dan kecemasan seperti ini adalah apa yang telah aku incar
selama ini.
"Akan sangat memalukan jika semuanya kembali menjadi seperti semula,
aku merasa kasihan kepadamu mengenai hal ini."
"Ah ...... Apa yang kau katakan? Apa maksudmu?"
Karuizawa sedang mencoba untuk melihat seberapa banyak hal yang aku
ketahui. Aku melihat kelompok Manabe mengganggunya, tetapi seharusnya
aku tidak mengetahui masa lalunya. Jika aku benar-benar tidak tahu, maka
masa lalunya adalah sesuatu yang harus dia sembunyikan dariku.
"Apa yang aku maksud? Tepat seperti apa kalimat tersebut. Melawan segala
kesulitan, kau melarikan diri ke tempat yang terisolasi ini, dan bahkan
mendeklarasikan takhta dari pemimpin kelas D. Namun kenyataan bahwa
kau adalah korban bullying itu tidak berubah."
"Siapa, siapa yang kau sebut sebagai korban bullying!"
"Maksudku, Karuizawa!"
Aku meraih pergelangan tangan Karuizawa dan menyeretnya ke atas.
"Tunggu, apa yang kau lakukan!"
Aku mendorong Karuizawa ke dinding dan memaksanya menghadap ke
arahku.
"Kau disiksa oleh Manabe, bukankah begitu? Mereka menarik rambutmu,
menampar wajahmu, menendang payudara, pinggang, perut, dan begitulah
akhirnya kau terjatuh, sedih, dipermalukan, menyedihkan, terisak-isak."
"!?"
Meski dia tidak mau bertatap muka denganku, namun dia tidak bisa kabur.
Seakan kami menelan ludah karena ini, kami saling menatap satu sama lain.
Tidak ada kisah cinta yang terlibat di sini. Apa yang kami bagikan adalah
kegelapan itu sendiri.
"Sejak kecil kau sudah menjadi korban, Di SMP bullying tersebut terjadi
tanpa berhenti, bukankah ini alasan kenapa kau ingin menghentikannya?"
"Apa kau mendengarnya... dari Hirata?
"Aku tidak tahu apakah aku harus memberi tahumu ini atau tidak. Hirata
membayangkan dirinya sebagai teman yang dipercayai oleh semua orang.
Dia akan membantumu dan dia akan membantu orang lain. Bahkan jika kau
berhasil mengamankan tempatmu di kelas D dengan berpura-pura menjadi
pacarnya, dia tidak akan banyak berguna untukmu di dalam situasi seperti
ini. Dengan kata lain, sebagai parasit, dia bukan tuan rumah yang baik"
Karuizawa jauh lebih pintar dari penampilannya. Dia mengerti akan
kenetralan Hirata, jadi pada awalnya dia tidak akan melakukan hal yang
bodoh di dalam kelompok kelinci. Sayang sekali, untuk menunjukkan status
sosialnya, dia berkelahi dengan Rika dan dengan perluasan kelompoknya.
Ini menyebabkan dia tertuduh.
Dia tidak mungkin menunjukkan sisi lemahnya ini kepada seluruh
perempuan di kelas D.
"Kenapa kau.... Apa yang memberimu hak untukmu dengan pintar
menasehatiku!"
"Hakku? kau belum menyadarinya? Kau harus menyadari tempatmu.
Apakah kau tahu siapa orang yang ada di depanmu? Bukan Hirata, ini adalah
aku, aku yang mengetahui tahu masa lalumu, aku tahu tentang hubungan
palsu antara kau dan Hirata, aku yang tau bahwa Manabe secara fisik
menyerangmu dan yang bisa kau lakukan hanyalah berteriak tanpa henti.
Aku tahu semua itu."
Segalanya yang Karuizawa Kei tidak ingin orang lain ketahui. Aku, orang
luar, sekarang mengetahui semuanya.
"Dengan kata lain, jika kau terlalu banyak berbicara, aku bisa saja setiap saat
menyebarkan informasi ini."
Betapa kejamnya hal itu? Karuizawa harus mengetahuinya dengan baik.
"Jangan, jangan bercanda! Kau pikir kau siapa!"
"Seseorang yang tahu tentang dirimu yang sebenarnya, hanya itu, bukankah
ini yang kau sayangkan?"
Saat aku mendekatinya, Karuizawa memalingkan wajahnya untuk
menghindari tatapanku. Aku meraih pipinya dan memaksanya kembali ke
arahku. Dia sangat ingin menghindari pandanganku, tetapi kekuatan dari
laki-laki terlalu kuat untuk ditolaknya. Dia memejamkan mata, mencoba
untuk melarikan diri.
"Apa yang kau inginkan dariku, apa kau mengincar tubuhku?"
"Tubuhmu ya, itu bukan ide buruk."
Ujung jariku meluncur di paha Karuizawa. Kelembutan yang kurasakan
hampir tidak manusiawi. Kelembutan kulitnya sangat berbeda dari apa yang
aku tahu dan apa yang aku miliki.
"Tidak!!"
Dia berusaha keras untuk menjauh dariku. Aku menguatkan cengkeramanku
di pipinya dan membuatnya menatap mataku.
"Jangan menolak, jika kau melakukannya aku akan menceritakan semuanya
ke sekolah."
Perempuan ini, seperti kutukan, mengutuk tubuhnya menjadi kaku.
Marah, ngeri, takut, putus asa. Benar, seberapa banyak emosi yang dibawa
oleh Karuizawa?
Dia harus memperhatikan bahwa saat ini aku sudah benar-benar berbeda
dari kepribadian yang aku perlihatkan di dalam kehidupanku sehari-hari.
"Lebarkan kakimu."
Aku memerintahnya. Air mata Karuizawa mulai turun saat dia perlahan
melebarkannya.
Bahkan jika dia tahu dia akan diperkosa di sini, dia masih ingin melindungi
tempat yang dimilikinya sekarang.
Rasa sakit akibat bullyingnya sudah mulai terkendali, dan inilah buktinya.
Aku meletakkan tanganku di ikat pinggangku dan sengaja bermain dengan
gesper logam. Bahkan saat itu, Karuizawa tidak melarikan diri.
Dia berusaha mati-matian untuk menerima kenyataan yang baru ini. Dia
menatapku dengan mata yang kosong dan bergumam pada dirinya sendiri.
Aku benar jika Karuizawa Kei adalah alat yang bisa digunakan.
Tujuanku bukanlah tubuhnya. Aku mengancam dia untuk melihat seberapa
jauh dia akan melindungi apa yang dimilikinya.
Ini adalah pertaruhan yang berisiko bagi ku untuk mengungkapkan sifatku
yang sebenarnya. Jika Karuizawa melarikan diri dan melaporkanku, maka
posisi kami akan benar-benar terbalik. Tetapi perempuan ini tidak bisa
melakukannya.
Dia takut dengan masa lalunya lebih dari apa pun. Takut bahwa dia akan
kehilangan tempat yang dimilikinya. Untuk melindungi ini dia bahkan rela
menggunakan tubuhnya. Itu membuktikan seberapa banyak tempat ini
sangat berarti baginya.
"Aku tidak akan tunduk kepadamu.... Aku tidak akan diintimidasi olehmu....
kau hanya memegang kelemahanku dan menggunakanku! Kau adalah
******** yang hanya melakukan apapun yang kau inginkan dan memperkosaku!"
Karuizawa berteriak, seolah-olah dia mengeluarkan kemarahan mentahnya
kepada dunia.
"Tapi tidak masalah, ini bukan pertama kalinya aku menyerah kepada
kekuatan..."
Dia pura-pura tertawa. Karuizawa berbalik dan menatap mataku.
"Hahaha... Hei, apa kau tau? Jika ada kebenaran yang tidak berubah
diberikan, bagaimana reaksi manusia...?"
Dia gemetar dan memeluk dirinya sendiri. Dengan senyuman kosong dan
tumpul, dia jauh menatapku.
"Aku menyerah. Ya, aku sudah disiksa dan dilahap. Aku dibuat dengan mesin
yang bereaksi dengan dorongan. Aku bahkan tidak bisa mengumpulkan
keberanian untuk melawan. Aku tidak bisa melakukan hal yang lain. Yang
bisa aku lakukan hanyalah menerimanya.”
Ketika akhirnya dia memutuskan keputusan ini, Karuizawa mengangkat
roknya dan meletakkan tangannya di celana dalamnya.
Aku menggenggam pergelangan tangannya dan menahannya di dinding
kapal.
"Apa yang kau terima, di mana rasa sakit yang menyiksamu?"
"Apa ...... Tentu saja semua yang aku miliki, sepatuku dilempar, laci mejaku
penuh dengan bangkai binatang mati. Ketika aku pergi ke kamar kecil aku
disiram dengan air yang kotor. Seragamku ditulis dengan kata-kata seperti
'*******'. Rambutku ditarik, ditampar, ditendang begitu banyak sehingga
tidak bisa menghitungnya. Segala jenis bullying yang bisa kau bayangkan,
aku pernah mengalaminya. Yang ku katakan hanya seberapa. Mereka begitu
'lemah lembut' sehingga aku bisa tertawa, jadi kenapa kau tidak mulai
tertawa? Tertawalah kepadaku yang terus meludah dan diintimidasi"
Setelah mengalami semua ini, sangat mengesankan jika dia masih bisa
mengumpulkan keberaniannya dan terjun ke medan perang sekali lagi.
Intinya kuat dan inilah kenapa dia masih bisa berdiri dan masuk ke SMA ini.
Jadi inilah yang terjadi.
Tetapi... Ini masih belum cukup untuk menjelaskan beberapa hal yang aku
perhatikan.
"Apa itu satu-satunya siksaan yang kau alami?”
"Apa......"
"Apa yang kau katakan, apakah semuanya itu benar?".
Aku merasa masih ada sesuatu yang kritis yang menghancurkan hatinya.
Cara yang tidak normal untuk menunjukkan terornya tidak banyak
membantu tetapi malah membuatku berpikir bahwa ada sesuatu yang lain
dibaliknya.
Karuizawa menyembunyikan sesuatu yang senilai dengan menyerah
tubuhnya.
"Apa yang kau sembunyikan?"
"Ap, tidak ad....."
Sebagai contoh, Karuizawa berpaking dan melihat ke pinggang kirinya.
Aku memperhatikan hal tersebut dan membuat tanganku menyentuhnya.
"Be, berhenti!"
Teriakan kasarnya terpantul di dinding sekitarnya dan bergema di lorong
yang kosong.
Tetapi, kecurigaanku dikonfirmasi oleh teriakannya. Aku meraih
seragamnya dan menariknya ke atas. Di kulitnya yang indah ada bekas luka
yang jelek. Bekas luka yang hanya bisa disebabkan oleh pisau tajam yang
mengiris begitu dalam.
"Apakah ini kegelapanmu?"
"Fu, hu, huhu .....!"
Bekas luka ini bukan tindakan anak-anak yang saling menyiksa satu sama
lain.
Sebuah bekas luka yang dalam ini benar-benar membahayakan nyawanya.
Bahkan jika masa lalunya membawa beban yang seperti itu, dia tetap
memilih untuk berdiri.
Dalam beberapa hari terakhir aku mengamati perempuan bernama
Karuizawa Kei ini. Orang ini, untuk melindungi dirinya sendiri, dengan paksa
menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam kelompoknya. Bahkan jika dia
menerima penghinaan dari tindakannya, dia tetap ingin melindungi
statusnya.
"Keputusasaan datang dalam berbagai bentuk dan cara, tetapi apa yang kau
alami adalah, tidak salah lagi, keputusasaan."
Kegelapan Karuizawa, pupilnya, Mereka saling tumpang tindih dengannya.
Mereka yang memilih untuk membawa kegelapan mereka bersama mereka
tertarik dan kemudian, saling melahap satu sama lain dan akhirnya, mereka
yang membawa kegelapan, akan menyelimuti kegelapan yang lainnya
dengan diri mereka sendiri.
"Ap, apa... kau..!"
Jika orang ini ditahan oleh masa lalunya, maka yang harus aku lakukan
adalah melepaskannya secara paksa dari ikatannya.
Bahkan jika aku tidak mengenalnya secara mendalam, tetapi aku bisa
merasakan kegelapan yang dimilikinya.
Itu benar... Dunia ini memiliki sesuatu hal yang lebih banyak yang belum
pernah dialami oleh Karuizawa. Di tempat yang lebih dalam, kegelapan yang
lebih keji pun berakar.
"Aku bisa menjanjikan satu hal dan mulai sekarang aku akan melindungimu
dari intimidasi. Aku jauh lebih bisa diandalkan daripada Hirata dan
Machida."
"Apa maksudmu, kau bisa menghentikan Manabe dan kelompoknya ......?"
"Apa yang harus aku lakukan sekarang adalah memutuskan seberapa
banyak yang bisa dipercaya dari kata-kataku. Anak kecil yang ramah mudah
meledak, tapi nyala api yang lebih besar akan memiliki efek sebaliknya. Pada
akhirnya, api akan berubah menjadi sesuatu yang hembusan angin tidak bisa
memadamkannya. Kau akan bertindak atas namaku dan aku akan bertindak
atas namamu. Emosimu tidak boleh dan tidak akan ikut bermain di sini. Apa
kau setuju dengan hubungan ini? "
"Pertama, kita akan hilangkan kekhawatiranmu.” Kataku dan mengangkat
ponselku.
"Aku punya cara untuk menghentikan tindakan Manabe."
Lalu, aku menyalakan layar ponselku.
Di ponselku ada foto Karuizawa yang diserang oleh kelompok Manabe.
"Ini..."
"Jika aku mengirimkan ini kepada mereka, mereka harus
mempertimbangkan kembali untuk melakukan hal lebih banyak kepadamu. Jika mereka masih memutuskan untuk mengejarmu dengan menyebarkan
rumor, ini akan memberiku amunisi yang baik untuk ikut campur"
Sedangkan untuk Manabe dan kelompoknya, insiden khusus ini seharusnya
bisa menenangkan kemarahan mereka. Tak perlu melangkah lebih jauh jika
ingin menempatkan mereka ke posisi yang tidak menguntungkan.
Aku melepaskan pipinya, lalu dengan nada tanpa emosi yang aku berkata
padanya.
"Aku hanya mencari seseorang untuk membantuku, aku harap di masa
depan, kau akan menjadi bantuanku saat aku membutuhkan."
"Apa, bantuanku? Apa yang kau ingin aku lakukan.."
"Jika situasi saat ini masih berlanjut, kelas D tidak akan pernah menyalip
kelas A. Sementara itu kemampuan individu anggota kelas D cukup bagus,
tetapi kita sangat kekurangan kohesi, kita seperti pasir pantai, namun jika
kau bisa mengendalikan anak perempuan untukku, situasi ini secara
bertahap akan berubah menjadi lebih baik dan itu membuatmu, makhluk
yang lebih berharga dari Horikita yang tahu bagaimana cara bertarung
sendirian.”
"Kau, apa yang kau lakukan..."
Dia pasti berpikir bahwa aku hanyalah orang normal yang biasa, jadi
melihatku di pernyataan ini akan membuat pergerakannya terlihat. Tetapi
aku tidak akan menjelaskan tentang diriku. Mengurangi kata-kata, lebih
mengerikanan dan semakin sedikit dia menolak.
"Langkah pertama dari kerja sama kita adalah memimpin kelompok kita
meraih kemenangan di ujian ini."
"Kemenangan? Tapi bagaimana-"
"Karena kau-, bukankah begitu?"
Ketika dia mendengarkan kata kuncinya, Karuizawa melebarkan matanya
dan menatapku.
Seolah kebenarannya bergema di dalam pupil, pikiran dan matanya. Aku
menyampaikan kebenaran itu kepadanya.
Karuizawa terlihat sedikit bingung, tetapi mungkin memang seperti itu.
__ADS_1
Karena parasit hanya bisa hidup dengan menempelkan dirinya ke tumbuhan lain dan sekarang Karuizawa mengikutiku, tuan rumah yang baru. Hidupnya
sekarang tidak akan bisa bergerak maju tanpa diriku.