CLASSROOM OF THE ELITE

CLASSROOM OF THE ELITE
13.VOLUME 4 Part 13


__ADS_3

Pada hari selang ujian, aku memilih untuk melakukan tindakan tertentu,


tetapi tiba-tiba aku dipanggil oleh Sakura dan oleh karena itu aku malah


memutuskan untuk mendengarkannya.


"Sepertinya ujian kelompok Sapi sudah berakhir," kataku.


"Yeah..."


Aku memeriksa pesan di ponselku yang dikirim ke Sakura juga ke semua


murid yang lainnya oleh sekolah. Itu tertulis,


"Ujian untuk kelompok (Sapi) telah berakhir. Anggota kelompok (Sapi) tidak


lagi diminta untuk mengikuti ujian. Pastikan untuk tidak mengganggu murid


lainnya"


Itu adalah jenis pesan yang sama yang dikirim setelah ujian kelompok


(Monyet) berakhir. Sakura menatapku dengan tetapan khawatir.


"Apa aku... melakukan kesalahan?"


"Bukan, bukan itu, itu berarti seseorang dari kelompok (Sapi) sudah


melaporkan ‘target’ ke sekolah"


Terlepas dari kasus yang terjadi berkat penangkapan Kouenji, mungkin


pengkhianatan menjadi semakin biasa di dalam ujian ini. Entah itu


'pengkhianatan yang pasti' atau 'pengkhianatan karena terburu-buru'.


"Omong-omong, Sakura. Apa kau adalah ‘target’ di kelompokmu atau apa itu


adalah orang lain?"


Saat aku bertanya kepadanya, Sakura menggelengkan kepalanya ke kanan


dan ke kiri untuk menyangkal hal tersebut.


"T-tidak, aku bukan ‘target’ tapi aku tidak yakin dengan Sudo-kun dan yang


lainnya..."


Bagi Sakura yang sudah menjadi bagian dari kelompok (Sapi) hanya dalam


dua hari, sepertinya dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di dalam situasi


seperti ini.


"Jangan terlalu dipikirkan, aku bahkan masih belum tahu ‘target' dari


kelompokku”


"Baiklah ... terima kasih Ayanokouji-kun, aku senang kau memberitahuku hal


itu"


"Bagaimana dengan situasi Kelas A? Dari rumor yang beredar sepertinya


mereka tidak berpartisipasi di dalam diskusi"


"Itu ... yeah, sama seperti yang orang lain katakan, mereka sama sekali tidak


berbicara"


Sepertinya Katsuragi benar-benar menjalankan strateginya ke semua


kelompok. Itu berarti kelompok yang menyebabkan kejadian ini mungkin


adalah Kelas C. Tetapi di dalam masalah ini, sebuah pertanyaan akan


muncul;


Ryuuen sudah mengabaikan peraturan yang ditetapkan oleh sekolah, tetapi


karena sekolah tidak mengumumkan secara aktif rincian dari ujian, tidak


mungkin untuk memastikan apakah aku benar atau tidak pada saat ini.


Itulah kenapa sulit untuk mengetahui aturan di balik ujian ini.


Jika aku salah menebak, aku akan berakhir dengan penghancuran diri


sendiri dan menerima kerugian besar tersebut.


Selain kelompok (Sapi), fakta bahwa kelompok lain belum menyelesaikan


ujian mereka berarti bahwa; bahkan Ryuuen pun masih belum mengetahui


jawabannya.


Setelah ujian yang misterius seperti ini selesai, tidak heran jika banyak


murid merasa tersesat.


"Jika ada sesuatu yang lain, jangan ragu untuk meminta saranku kapan saja"


"Terima kasih, Ayanokouji-kun, sampai jumpa"


Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada Sakura yang pergi sambil


mengayunkan tangan kecilnya dengan cepat dari satu sisi ke sisi yang lain,


sekarang aku menuju ke ruang paling bawah. Lalu aku turun ke tingkat yang


lebih rendah dari kapal di mana seseorang umumnya tidak akan pergi ke


sana.


Meskipun daerah tersebut dilarang untuk murid, namun tetap tidak terkunci


agar para kru bisa mengaksesnya. Daerah dimana ruang kendali berada,


meski mudah diakses, itu sama sekali bukanlah tempat yang populer bagi


orang-orang untuk didatangi.


Jika seseorang berteriak dengan suara yang keras, gema akan terbentuk,


karena tempat ini sebenarnya secara otomatis tidak akan ada orang-orang


yang datang ke tempat seperti itu.


Hanya ada dua pintu masuk dan keluar ke tempat ini termasuk yang umum.


Yang lainnya adalah pintu yang mengarah ke tangga darurat yang bahkan


kru tidak menggunakannya.


Dari debu yang berkumpul di pintu tersebut, aku mengatakan mereka sangat


banyak. Itu berarti aku bisa memantau situasi hanya dengan mengawasi satu


jalan yang sering digunakan.


Selanjutnya, lebih mudah bagiku karena sepertinya ponsel tidak


mendapatkan jaringanya di sini. Terkadang ada jaringan muncul di sini,


tetapi kebanyakan akan menjadi sangat sulit untuk mengirim pesan atau


chattingan dari sini apalagi membuat sebuah panggilan.


"Semua bagian sudah ada di tempat ini" gumamku.


Yang tersisa hanyalah menjalankan rencana selangkah demi selangkah


sehingga aku memutuskan untuk tidak akan membuat sebuah kesalahan.


Pertama, aku harus menghubungi Hirata, lalu memintanya memanggil


Karuizawa ke tempat ini. Untuk memastikan ada cukup waktu untuk


segalanya, aku harus menghubungi Karuizawa setidaknya satu jam lebih


cepat. Untuk itu, aku naik kembali ke lantai atas untuk melakukan panggilan.


Aku yakin dia akan berhati-hati setelah kejadian pembicaraan tadi malam,


tetapi jika Hirata memanggilnya lagi untuk berbicara sendirian dengan


Karuizawa, dia pasti akan menanggapinya.


Dia bilang dia akan putus dengan Hirata, tetapi jika dia benar-benar putus


dengannya, dialah satu-satunya orang yang akan menderita di situ. Selama


Manabe dan kelompoknya mengincar dia, bagi Karuizawa, keberadaan


Hirata itu sangatlah penting baginya agar bisa melanjutkan kehidupannya di


sekolah.


"Aku sudah meminta Karuizawa-san untuk berada di sana jam 4. Aku akan


mengirimkan alamat Manabe-san kepadamu sekarang"


Aku menerima pesan dari Hirata.


Seperti yang diharapkan, dia mendengarkan permintaanku dengan sangat


baik dan sudah berhasil memanggilnya ke sini. Sebagai bonus, Hirata bahkan


tahu alamat kontak Manabe dari kelas lain. Jika tidak, aku harus


menanggung risiko dengan meminta bantuan kepada Kushida sehingga hal


ini menghemat masalahku.


"Tapi aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Tolong jangan membuat


Karuizawa-san sedih”


Hirata menambahkan hal itu sebagai sebuah catatan di bawah pesan.


Jadi dia tidak ingin Karuizawa sedih, ya?


Jika dia tahu apa yang sebenarnya yang akan aku lakukan kepada Karuizawa,


aku yakin Hirata akan marah kepadaku, tetapi selama aku tidak mengalami


sebuah masalah, aku rasa itu akan baik-baik saja.


Dengan demikian, bahkan jika dia sedang beristirahat di sini sekarang,


selama dia tidak menyadari apapun setelah kejadian, itu tidak akan menjadi


masalah. Dengan menggunakan contoh yang ekstrem; bahkan jika kau


melakukan pembunuhan, selama bukti yang ada tidak mencukupi, kau akan


aman.


Kemudian dengan cepat aku melewati teks yang aku tulis beberapa saat


yang lalu dan mengirimkannya. Isinya adalah,


"Hei, apa kau punya waktu?"


Kalimat singkat seperti itu.


Sebagai aturan yang umum, aplikasi chat yang aku gunakan hanya bisa


digunakan satu akun per-ponsel. Tetapi ada sedikit celah dalam peraturan


tersebut. Dengan menciptakan akun jejaring sosial utama yang baru, kau


bisa membuat akun lain untukmu sendiri. Tentu saja, umumnya tidak ada


murid yang membagi dirinya di antara akun utama dan sub akun karena


tidak ada banyak keuntungan jika beralih di antara akun tersebut. Tetapi


dengan melakukan hal ini, aku bisa menghubungi pihak ketiga tanpa


identitasku.


Aku harus melanjutkannya dengan hati-hati dari sini. Selama aku tidak


melakukan kesalahan dalam proses ini, semuanya akan berjalan dengan


sempurna.


Meski pesannya berasal dari pengirim anonim, Manabe dengan cepat


membalasnya.


"Siapa kau?"


Tentu saja Manabe tidak mengenal si pengirim, menjawab pertanyaan


tersebut,


"Apa ada orang di sekitarmu saat ini?" Aku membalas.


"Tidak, aku sendirian ... siapa dirimu?"


"Jangan tunjukkan chat ini kepada siapapun, ini hanya untukmu"


"Aku bilang, Kau ini siapa?"


"Aku adalah orang sama sepertimu. Kita membenci orang yang sama,


katakan saja seperti itu”


Meski tanda 'baca' dengan cepat muncul, Manabe meluangkan waktunya


untuk membalas. Mungkin dia masih belum mengerti maksud dari kalimat


tersebut.


“Apa kau sudah salah orang?"


"Aku tidak membuat kesalahan, Manabe-san, aku menghubungimu untuk


memberitahumu tentang Karuizawa-san yang sangat kau benci. Aku pikir


aku bisa berkonsultasi denganmu mengenai situasi ini, Manabe-san"


"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, tolong berhenti mengirimkanku


pesan"


Dia terlihat berhati-hati, tidak mengerti apakah aku ini musuh atau bukan.


Reaksi yang wajar. Aku harus mengatasi kesalahpahaman ini terlebih


dahulu.


"Sebenarnya, sebagai teman sekelasnya, aku sudah menyimpan dendam


terhadap Karuizawa-san selama ini. Karena itulah aku pikir kita bisa bekerja


sama dan membalas dendam padanya. Karena aku adalah teman sekelasnya,


sangat sulit untuku membalaskan dendamku kepada Karuizawa-san secara


langsung karena itulah aku ingin bekerja sama denganmu"


"Aku tidak tahu apa yang sedang aku bicarakan, aku akan mengabaikanmu


saat ini juga"


Meskipun dia mewaspadaiku, kenyataannya dia masih belum memutuskan


hubungannya denganku adalah bukti betapa dia sangat membenci


Karuizawa. Sudah pasti ini berasal dari keinginannya untuk membalaskan


dendam temannya, Rika dan juga kebenciannya terhadap Karuizawa.


Dengan mudah aku bisa membuat kesimpulan dari fakta tersebut bahwa


Manabe menggunakan kekerasan untuk membawa Karuizawa ke tangga


darurat.


"Rika-chan masih takut kepada Karuizawa-san, apa kau mau tidak


membantunya sebagai teman? Wajah balas dendammu sangat kelihatan, kau


tahu? Tapi sebenarnya, kau tidak bisa melakukannya meski kau mau. Karena


setelah kejadian kemarin, Karuizawa-san menjadi waspada. Aku yakin dia


tidak akan pergi dari sisi Hirata-kun atau Machida-kun untuk sementara


waktu dan dia akan selalu bersama dengan teman wanitanya sehingga dia


bisa menang dengan sendirinya"


"Aku tidak butuh bantuanmu, aku hanya harus membawa Rika agar bisa


bertemu dengan Karuizawa-san. Kebenarannya akan terungkap"


"Aku ingin tahu apakah itu hal yang mudah, aku tidak berpikir dia akan


dengan mudah mengakui kesalahannya. Sebaliknya, itu akan menyulitkan Rika-chan jika Karuizawa-san menggunakan kata-kata tak berperasaan.Dia akan berakhir dengan melukai Rika-chan lebih jauh, tidak, bukan hanya itu


saja, jika dia menyimpan dendam, dia mungkin malah akan menggertak


Rika-chan lebih jauh lagi"


"... lalu apa yang harus aku lakukan? Apa kau ingin mengatakan jika ada jalan


lain?"


Keinginan Manabe untuk menyelesaikan ini dengan menggunakan sebuah


konflik dari kedua belah pihak yang berikutnya menjadi jelas.


"Itu dia, kau dan aku, kita bisa bekerja sama untuk memastikan kita bisa


membalas dendam kepadanya di tempat yang aman,"


"Dan jaminannya? kau terlihat seperti hanya berencana menjualku kepada


sekolah. Lagipula akun ini berbau seperti sub akun”


"Jika aku benar-benar menjualmu, jangan ragu untuk menunjukkan chat ini


kepada para guru, Manabe-san. Akun ini sudah terdaftar di telepon sekolah.


Dengan kata lain, aku mempertaruhkan identitasku untuk membalas


dendam kepada Karuizawa. Dengan begitu, akulah yang paling bertanggung


jawab disini, bukankah begitu?”


Aku yakin Manabe juga memahami hal ini dengan baik. Sekalipun ini adalah


sub akun, begitu kau menganalisisnya secara menyeluruh, identitas


seseorang di belakangnya bisa terungkap.


Jika itu terjadi, aku sebagai orang yang mendalangi rencana pembalasan ini,


akan menanggung hampir semua tanggung jawab dan pasti akan dihukum


dengan berat.


"Kalau begitu jika aku menunjukkan chat ini ke sekolah sekarang, apa yang


akan kau lakukan? Itu adalah akhir untukmu"


"Karena aku yakin Manabe-san bukanlah tipe orang yang melakukan hal


seperti itu, aku harus percaya agar bisa dipercayai"


"Aku mengerti apa yang ingin kau katakan, kurang lebih, setidaknya aku


akan mendengarmu"


Setelah itu aku mengulangi cerita yang sama kepadanya berkali-kali.


Tentang betapa aku membenci Karuizawa. Tentang bagaimana aku ingin


balas dendam kepadanya namun belum bisa karena merupakan seseorang


yang berada dalam posisi yang lemah. Dan bagaimana aku mendengar


Manabe dan teman-temannya bertengkar dengan Karuizawa. Aku sangat


memastikan untuk berperan sebagai korban.


"Begitu kita kembali ke darat, kontak dengan Karuizawa pasti akan menjadi


sulit. Karena asrama sekolah ditebari dengan kamera pengintai, meskipun


kau mencoba membawanya ke wilayah pribadi, akan ada mata yang


mengawasimu. Tempat ini, medan perang yang tidak memiliki jalan keluar


akan menjadi tempat yang sempurna untukmu."


Hal ini akan memastikan Manabe dan yang lainnya menyadari tempat ini,


hanya di kapal ini, tempat untuk mereka bisa membalas dendam mereka.


"Jadi ... usulan apa yang bisa kau lakukan?"


Manabe yang akhirnya berhasil terjebak oleh rencanaku, akhirnya mulai


mengajukan pertanyaan.


"Aku bisa menghubungi Karuizawa-san, setelah itu, kau bisa meluangkan


waktu untuk berbicara dengannya dan menyelesaikan masalah"


Dan dengan begitu, melalui chat, aku mengirimkannya peta ke lantai bawah


kapal.


"Karena panggilan ponsel tidak bisa masuk di sana, dia juga tidak bisa


meminta bantuan dan tidak ada yang akan pergi ke sana"


"Aku mengerti... jadi kau bisa menghubungi Karuizawa-san sebagai teman


sekelas?"


"Aku ingin kau memutuskan sekarang. Apa mau bekerja sama dengan


rencanaku atau tidak? Setelah aku menelponnya, kau bisa memutuskan


apakah kau ingin membalas dendammu atau tidak. Apa kau tidak masalah


dengan itu?"


Setelah itu, untuk waktu yang lama, meski ada tanda 'baca' yang muncul.


Tidak ada jawaban yang datang dari Manabe.


Kemudian, begitu jawabannya


datang, aku yakin aku akan berhasil.


Jika rencanaku untuk meyakinkannya melalui chat gagal, aku sudah


menyiapkan rencana lain di mana aku harus muncul di depan Manabe


sendiri melalui kontak langsung.


Tentu saja itu berbahaya. Karena aku sudah mengambil beberapa foto


Karuizawa yang diancam di tangga darurat, aku bisa memerasnya untuk


mengikuti rencanaku. Tetapi risikonya juga besar karena aku ingin


menghindari keberadaanku berdiri.


"Sekarang, biarkan aku melihat apa yang bisa kau lakukan, Manabe"


***


Terkadang, suara besi yang tergeser dengan keras bergema di lantai yang


gelap. Mungkin hal tersebut bisa terjadi kapan pun kapal merubah haluan


atau mungkin itu karena kapal sudah menabrak sesuatu. Meskipun begitu,

__ADS_1


tempat di mana hanya suara mesin yang bisa terdengar, perempuan tersebut


datang sendirian.


"Ada apa ini? Aku tidak bisa mengakses ponsel" gumamnya.


Masih ada sepuluh menit lagi sebelum waktu yang dijanjikan. Mungkin dia


datang lebih cepat supaya bisa menenangkan diri sebelum menemui Hirata.


Setelah menyadari bahwa ponsel akan tidak berguna, Karuizawa


mengantonginya lagi dengan ekspresi bosan dan bersandar di dinding.


Dan seiring berjalannya waktu, kesimpulan apa yang dia dapatkan dari ini?


Tetapi apa pun itu, sayangnya, Hirata tidak akan pernah menemuinya.


Saat jam menunjukan waktu 4 sore, satu-satunya pintu yang ada di lantai


tersebut terbuka dengan bunyi yang keras. Orang-orang yang muncul adalah


tiga kelompok perempuan dari Kelas C, para perempuan yang dipimpin oleh


Manabe. Dan satu lagi, seorang gadis yang memiliki aura yang mirip dengan


Sakura. Mungkin perempuan tersebut bernama Rika.


“Itu benar”


Teriak Manabe saat ia melangkah ke ruangan dan dengan cepat, dia


menemukan sosok Karuizawa. Tentu saja, Karuizawa juga melihat mereka.


"K-k-kenapa kau ada di sini?"


Karuizawa gemetar melihat sosok yang tak terduga dari orang-orang ini.


Tetapi di tempat yang sempit dengan tidak adanya jalan keluar, melarikan


diri akan menjadi sulit.


"Aku baru saja melihatmu memasuki tempat ini, yah, ini saat yang tepat, jadi


aku ingin mengenalkanmu. Perempuan ini adalah Rika, Karuizawa-san, apa


kau mengingat dia?" Tanya Manabe.


Dia kemudian menarik Rika yang bersembunyi di belakangnya ke depan dan


mereka berdua bertatap muka. Karuizawa mengalihkan pandangannya dan


berpura-pura tidak tahu, tetapi dari tingkah lakunya, jelas dia memang


mengingat orang itu.


"Hei Rika, orang yang mendorongmu sebelumnya adalah Karuizawa-san,


kan?"


"Ya... dia orangnya"


Setelah mendengar jawabannya, Manabe tersenyum senang dari lubuk


hatinya. Di sisi lain, Karuizawa yang menyadari situasi yang berbahaya mulai


menjadi cemas dan gugup. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah


menyaksikan kejadian menyedihkan yang akan segera terungkap di sini.


Bahkan jika Karuizawa menghadapi siksaan yang lebih parah dari yang


diperkirakan di sini, aku sama sekali tidak berniat menyelamatkannya di


tengah jalan.


"Minta maaflah kepada Rika"


"Hah, siapa yang mau minta maaf? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun"


"bertingkah keras di dalam situasi seperti ini, itu sangat mengesankan, tapi


kurang lebih aku mengerti"


"...... apa yang kau mengertikan?"


"Sikap yang aneh dan ketakutan. Karuizawa-san, kau adalah korban dari


bullying, bukan?"


"...."


Fakta bahwa dia sangat berusaha untuk menyembunyikannya diketahui


oleh orang yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.


"Aku benar, bukan? Aku tahu itu, aku memiliki perasaan seperti itu


tentangmu sejak awal"


"I-itu tidak benar ..."


Itu merupakan penyangkalan yang mengerikan, tetapi bahkan untuk aktor


yang terbaik, dia tidak akan bisa meyakinkan mereka.


Bukan berarti Manabe memiliki mata yang bagus untuk mengamati hal-hal


seperti itu, tetapi karena sebelumnya aku sudah menceritakan kepada


Manabe semua hal tentangnya. Karuizawa sudah diganggu dengan sangat


mengerikan sejak kecil dan dia mengalami trauma serius dari hal tersebut.


Tidak ada gunanya menyangkal hal ini kepada seseorang yang sudah


mengetahui kebenarannya.


"Jika kau berlutut dan mengemis sekarang, aku mungkin akan


memaafkanmu. Itulah yang harus kau lakukan, benarkan? Berlutut!”


"Aku-aku tidak akan melakukannya. Lagi pula, aku belum pernah melakukan


itu sebelumnya"


Dia mencoba melewati Manabe seolah ingin melarikan diri, tetapi Manabe


meraih rambut panjangnya dan mendorongnya kembali ke dinding,


membantingnya ke sana.


Setelah merasa nyaman dengan sebuah tempat untuk pembalasan dendam


yang sudah dipersiapkan untuknya, mengendalikan Manabe sudah pasti


tidak akan bekerja lagi. Apa yang kami sepakati di chat kami adalah agar dia


'bertemu' dengan Karuizawa.


Seharusnya dia ragu menggunakan kekerasan sebagai alat balas dendam,


Tetapi setelah bertemu langsung, semua tekanan yang harus ditahan di


dalam dirinya, bersamaan dengan harapan dari teman-teman di sekitarnya


untuk membalas Karuizawa, sudah pasti Manabe tidak akan puas kecuali


jika dia membuat Karuizawa menderita.


Itulah tujuanku.


Ada sebuah percobaan di tahun 1960-an yang dikenal dengan percobaan


‘Milgram’. Juga dikenal sebagai prcobaan ‘Eichmann’. melibatkan tes yang


melibatkan peran 'guru' dan peran 'murid' di tempat yang terisolasi.


Peran guru adalah memberikan kejutan listrik yang rendah kepada subjek


sampai rasa takut dan rasa sakit karena syok akan diingat oleh mereka.


Kemudian, orang yang diberi peran 'murid' akan dipisahkan dari 'guru'


melalui kaca dengan alat yang memungkinkan kejutan mengalir ke 'murid'


yang dipasangkan. Pengejutan kemudian akan dipercayakan kepada subjek


yang diberi peran sebagai 'guru'. Persiapan itu selesai untuk memulain


percobaan.


Kemudian, percobaan memberikan 'murid' serangkaian pertanyaan untuk


menjawab pertanyaan 'guru'. Untuk setiap jawaban 'murid' yang salah,


'guru' akan terus memberikan kejutan listrik dan dengan setiap kesalahan


juga akan menaikkan volume kejutan itu sendiri. Akhirnya, kejutan bisa naik


hingga 450 volt dimana itu cukup kuat yang akan berakibat fatal bagi


manusia.Di sisi lain, yang terlemah adalah 45 volt dan hanya berefek gatal ringan.


Namun, berbeda dengan pengetahuan ‘guru’, perangkat tersebut palsu dan


‘murid’ dibuat bertindak di dalam rasa sakit karena teriakan yang akan


terdengar dari lain.


Bahkan jika arus yang mengalir kepada subjek, pada awalnya tidak akan ada


banyak reaksi, walaupun setiap kali volumenya meningkat, rasa sakit


tersebut akan meningkat mulai dari jeritan, merintih, hingga akhirnya


terdiam.


Subjek yang diberi peran sebagai 'guru' tidak terancam oleh hal ini dan terus


menaikkan volumenya meski sudah tau bahwa pihak lawan sudah


menderita kesakitan.


Hampir 66% subjek dinaikan volumenya hingga ke titik di mana manusia


pasti akan terbunuh. Percobaan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa


'tergantung kepada keadaan, setiap orang mampu menunjukkan


kekejaman'.


"sakit, sakit, sakit! Lepaskan aku!"


Karuizawa menjerit kesakitan karena rambutnya ditarik, tetapi Manabe


hanya tertawa. Saat ini, daerah tertutup ini merupakan lantai kapal yang


lebih rendah.


Peran 'guru' sudah ditugaskan kepada Manabe dan peran 'murid' untuk


Karuizawa sesuai dengan percobaan. Aku sudah menyiapkan sebuah


panggung yang serupa dengan percobaan ‘Milgram’ sebisaku.


Umumnya, meski dengan kondisi seperti ini, itu tidak akan cukup, namun


mengingat sejarah di antara keduanya, hasil percobaan harus tetap terjadi


di sini.


Penderitaan dan rasa sakit yang dialami Karuizawa yang bersikap keras


beberapa waktu lalu, terasa lebih baik kepada mereka saat ini.


"Haah"


"Uwa ~ Shiho, kau menggunakan lututmu untuk menendangnya. Itu


berlebihan, kau tahu"


Manabe terus menggunakan lututnya untuk menyerang daerah sekitar perut


Karuizawa. Tentu saja, Manabe yang tidak biasa menendang seperti itu,memiliki gerakan yang lambat dan lemah dan ditendangnya seharusnya


Karuizawa adalah upah terbesar.


Dia terihat memiliki waktu dan berbisik kepada Rika yang sudah


menjauhkan diri dari mereka sampai sekarang.


"Rika, kau juga harus mencobanya”


"Aku-aku baik-baik saja..."


"Kami melakukan ini untukmu, kau tahu? Tidak apa-apa, lagipula tidak ada


yang melihat"


Rika terlihat menolak membalas dendam secara langsung, tapi daerah


tertutup ini tidak akan membiarkan hal tersebut.


‘Kau juga temanku, bukan?'


Jika sesuatu seperti itu harus diucapkan di sini, akan sulit baginya untuk


terus menolak. Jika kemarahan itu diarahkan kepadanya, dia akan menjadi


korban esok hari. Dia tidak mampu menyangkal bahwa dia mungkin akan


bertemu dengan mata yang sama dari Manabe suatu hari.


"Uuunn ... aku akan coba melakukannya"


Pechi.


Dengan suara kering dan ringan seperti itu, Rika menampar Karuizawa


dengan tamparan yang tidak menimbulkan rasa sakit.


"S-seperti ini?"


"Bukan seperti itu, kau harus membuatnya lebih kuat lagi, seperti ini"


Pakk!


Suara tinggi seperti itu terdengar saat Manabe menampar pipi Karuizawa


seperti itu. Menanggapi hal tersebut, Karuizawa terlihat menderita. Dan


seperti yang diinstruksikan, Rika perlahan mengulangi tamparannya.


Perlahan, kekuatan menamparnya terus meningkat.


"B-b-b-b-berhenti ..."


"Haha ... ini menyenangkan ... haha"


Terlihat seperti bukan Manabe. Dia akan menjadi orang yang lebih cocok


untuk percobaan ‘Milgram’. Karuizawa yang telah dihadapkan oleh sesuatu


kuat sampai sekarang, mulai menunjukkan rasa sakit.


"Kumohon... Maafkan aku ..."


Dia kemudian meminta maaf. Melihat sosok itu pasti bukan hal yang tidak


nyaman dan menyenangkan.


Dia terlihat tidak takut sama sekali, Rika mulai memukul dan menendang


dengan kuat. Terlebih, hal yang menarik adalah, tempat yang awalnya tidak


mereka sentuh, seperti di bawah seragam dan di bawah rambutnya, tempat-


tempat yang biasanya tidak dapat dilihat. Mereka mulai menargetkan


tempat-tempat seperti itu juga.



Karuizawa yang sudah terjatuh ketakutan, hanya meneteskan air mata saat


dia menyembunyikan wajahnya. Dan tidak ada yang menyadari, aku yang


sudah mengamati kejadian tersebut, bergerak tanpa mengeluarkan suara.


Lalu diam-diam membuka pintu tangga darurat agar tidak mengagetkan


Manabe dan yang lainnya.


Beberapa waktu yang akan datang, gangguan Manabe pasti akan terus


berlanjut. Tidak peduli apapun yang akan terjadi. Sekali sesuatu sudah


sangat hancur, itu akan menangkapmu ke masalah saat kau memperbaikinya Dengan tenang dan perlahan aku menutup pintu di belakangku saat jeritan Karuizawa terhalang oleh pintu dan tidak lama lagi tidak tidak terdengar.


***


Setelah aku memastikan bahwa kelompok Manabe sudah pergi, aku kembali


memasuki ruangan. Karuizawa mungkin mendengar pintu terbuka, tetapi


dia terus berjongkok di lantai dan menangis.


Mungkin rasa takutnya yang


luar biasa sudah mencegahnya untuk tidak memperhatikanku.


Jadi, ini adalah wajah yang sebenarnya dari pemimpin 'perempuan' yang


egois dan pantang menyerah?


Ini semua berkat saran yang aku berikan kepada Manabe. Seragam


Karuizawa dan kulit yang terpapar kurang lebih masih utuh. Jika


seragamnya robek atau seseorang memotong rambutnya, akan sulit menipu


orang lain. Sementara bullying sudah sering terjadi, keunikan sekolah ini


adalah membuat bullying lebih sulit dilakukan.


Jika seseorang sudah menemukan sesuatu yang harus dikhawatirkan,


pastinya itu adalah karena wajahnya menjadi sedikit merah oleh kekerasan


fisik; Besok hari itu akan mereda.


"Karuizawa"


Aku memanggil namanya. Dia mengangkat kepalanya dan akhirnya


melihatku.


"Wah, bagaimana ...?!"


Laki-laki yang tidak pernah terpikirkan akan melihatnya di sini, sudah


menyaksikan hal yang tidak ingin dilihat orang lain. Dia mulai menjadi panik.


Tetapi pengalaman itu terlalu traumatis baginya untuk berhenti menangis


sekaligus berpura-pura jika semuanya baik-baik saja.


Akhirnya aku akan berhenti menangis. Akhirnya aku akan tenang.


Sebelum dia melupakan hal yang sebelumnya, keinginan kecil dan sia-sia


darinya tidak akan terjadi.


Aku diam menunggu.


Setelah beberapa saat, Karuizawa yang terisak-isak perlahan beralih ke


sosok yang tenang.


Jika kau menempatkan 2 orang sendirian di daerah yang gelap dan terisolasi


seperti ini, mereka tidak bisa berbuat apapun, namun mampu merasa lebih


dekat secara mental. Hal ini akan bekerja bahkan jika 2 orang tersebut


umumnya saling membenci. Inilah yang manusia lakukan.


"Sudah tenang?"


"...Kurang lebih..."


Karuizawa menggunakan lengan bajunya untuk menyeka matanya yang


bengkak. Dia masih lumpuh dan tidak bisa bangkit kembali. Aku


mengulurkan tangan untuk membantunya, tapi dia tidak menggapainya.


"Dimana Hirata ......"


"Meskipun kalian berdua akan bertemu di sini, tapi aku yakin guru sedang


memanggilnya, aku bersama dia saat itu, jadi aku yang menggantikan dia."


Penjelasan ini seharusnya cukup untuk menjelaskan bagaimana semuanya


berakhir seperti ini.


Untuk saat ini aku tidak perlu memberi tahu yang sebenarnya. Hal pertama


yang harus di lakukan adalah membiarkan penjagaannya menurun dan


membuat celah di psikisnya.


"Jadi, kenapa kau menangis?"


"Ini karena Manabe dan kelompoknya.... aku tidak akan membiarkan mereka


lolos begitu saja."


Sepertinya dia mengingat apa yang baru saja terjadi kepadanya. Tubuh


Karuizawa mulai bergetar. Bahkan jika dia tidak ingin menunjukkan sisi


memalukan ini kepadaku, tetapi ketakutan yang menodai tubuhnya tidak


begitu mudah terlepaskan.


"Jangan beritahu siapapun jika aku menangis. Jika kau melakukannya, aku


tidak akan memaafkanmu"


Kelemahan Karuizawa adalah dia tidak bisa melaporkan apa yang terjadi


kepadanya ke sekolah. Jika kekerasan fisik yang dilakukan Manabe dan


kelompoknya kepada Karuizawa diketahui, maka sekolah tersebut ingin


mengetahui alasannya. Untuk melindungi status sosialnya, dia tidak bisa


membiarkan hal ini terjadi. Karena itulah sekarang dia berencana


menggunakan Hirata untuk membalas gadis-gadis tersebut.


"Kau tahu, untuk membalas mereka, bahkan orang sepertimu bisa


melakukannya. Pada dasarnya mereka hanyalah perempuan."


"Permintaan yang tidak masuk akal."


"Apa kau takut jika mereka akan membalasnya?"


"Dan kau mengklaim bahwa kau adalah seorang laki-laki...??"


"Itu sudah jelas jika dilihat dari kejadian Sudou bahwa ‘membalas’ itu tidak


akan menyelesaikan apapun, mata dibayar mata hanya akan menambah


sebuah masalah, terlebih itu akan membuat sekolah terlibat dan memulai


penyelidikan, itu bukan apa yang kau inginkan, bukan?"


"Jadi kau menyuruhku untuk melupakannya?"


Aku tahu bagaimana menjawabnya, tetapi aku memilih untuk tetap diam.

__ADS_1


"Seperti, mereka akan setuju, tidak, pasti mereka akan terus melakukan


segala macam cara kepadaku...."


Tubuh Karuizawa terus bergetar.


Itu benar, tidak ada jaminan bahwa Manabe akan berhenti dalam hal ini. Ada


lebih banyak cara melarikan diri begitu kami kembali ke sekolah, tetapi


Karuizawa tidak bisa terus bermain petak umpet dan mencari sisa waktunya


disini.


Pada saat yang sama, teman sekelas kami akan mulai memperhatikan


perubahan Karuizawa. Saat kedua belah pihak mendekat, Karuizawa tidak


punya tempat untuk melarikan diri.


Karuizawa menyadari hal ini dan sekarang menjadi sangat ingin


menghentikannya dan kecemasan seperti ini adalah apa yang telah aku incar


selama ini.


"Akan sangat memalukan jika semuanya kembali menjadi seperti semula,


aku merasa kasihan kepadamu mengenai hal ini."


"Ah ...... Apa yang kau katakan? Apa maksudmu?"


Karuizawa sedang mencoba untuk melihat seberapa banyak hal yang aku


ketahui. Aku melihat kelompok Manabe mengganggunya, tetapi seharusnya


aku tidak mengetahui masa lalunya. Jika aku benar-benar tidak tahu, maka


masa lalunya adalah sesuatu yang harus dia sembunyikan dariku.


"Apa yang aku maksud? Tepat seperti apa kalimat tersebut. Melawan segala


kesulitan, kau melarikan diri ke tempat yang terisolasi ini, dan bahkan


mendeklarasikan takhta dari pemimpin kelas D. Namun kenyataan bahwa


kau adalah korban bullying itu tidak berubah."


"Siapa, siapa yang kau sebut sebagai korban bullying!"


"Maksudku, Karuizawa!"


Aku meraih pergelangan tangan Karuizawa dan menyeretnya ke atas.


"Tunggu, apa yang kau lakukan!"


Aku mendorong Karuizawa ke dinding dan memaksanya menghadap ke


arahku.



"Kau disiksa oleh Manabe, bukankah begitu? Mereka menarik rambutmu,


menampar wajahmu, menendang payudara, pinggang, perut, dan begitulah


akhirnya kau terjatuh, sedih, dipermalukan, menyedihkan, terisak-isak."


"!?"


Meski dia tidak mau bertatap muka denganku, namun dia tidak bisa kabur.


Seakan kami menelan ludah karena ini, kami saling menatap satu sama lain.


Tidak ada kisah cinta yang terlibat di sini. Apa yang kami bagikan adalah


kegelapan itu sendiri.


"Sejak kecil kau sudah menjadi korban, Di SMP bullying tersebut terjadi


tanpa berhenti, bukankah ini alasan kenapa kau ingin menghentikannya?"


"Apa kau mendengarnya... dari Hirata?


"Aku tidak tahu apakah aku harus memberi tahumu ini atau tidak. Hirata


membayangkan dirinya sebagai teman yang dipercayai oleh semua orang.


Dia akan membantumu dan dia akan membantu orang lain. Bahkan jika kau


berhasil mengamankan tempatmu di kelas D dengan berpura-pura menjadi


pacarnya, dia tidak akan banyak berguna untukmu di dalam situasi seperti


ini. Dengan kata lain, sebagai parasit, dia bukan tuan rumah yang baik"


Karuizawa jauh lebih pintar dari penampilannya. Dia mengerti akan


kenetralan Hirata, jadi pada awalnya dia tidak akan melakukan hal yang


bodoh di dalam kelompok kelinci. Sayang sekali, untuk menunjukkan status


sosialnya, dia berkelahi dengan Rika dan dengan perluasan kelompoknya.


Ini menyebabkan dia tertuduh.


Dia tidak mungkin menunjukkan sisi lemahnya ini kepada seluruh


perempuan di kelas D.


"Kenapa kau.... Apa yang memberimu hak untukmu dengan pintar


menasehatiku!"


"Hakku? kau belum menyadarinya? Kau harus menyadari tempatmu.


Apakah kau tahu siapa orang yang ada di depanmu? Bukan Hirata, ini adalah


aku, aku yang mengetahui tahu masa lalumu, aku tahu tentang hubungan


palsu antara kau dan Hirata, aku yang tau bahwa Manabe secara fisik


menyerangmu dan yang bisa kau lakukan hanyalah berteriak tanpa henti.


Aku tahu semua itu."


Segalanya yang Karuizawa Kei tidak ingin orang lain ketahui. Aku, orang


luar, sekarang mengetahui semuanya.


"Dengan kata lain, jika kau terlalu banyak berbicara, aku bisa saja setiap saat


menyebarkan informasi ini."


Betapa kejamnya hal itu? Karuizawa harus mengetahuinya dengan baik.


"Jangan, jangan bercanda! Kau pikir kau siapa!"


"Seseorang yang tahu tentang dirimu yang sebenarnya, hanya itu, bukankah


ini yang kau sayangkan?"


Saat aku mendekatinya, Karuizawa memalingkan wajahnya untuk


menghindari tatapanku. Aku meraih pipinya dan memaksanya kembali ke


arahku. Dia sangat ingin menghindari pandanganku, tetapi kekuatan dari


laki-laki terlalu kuat untuk ditolaknya. Dia memejamkan mata, mencoba


untuk melarikan diri.


"Apa yang kau inginkan dariku, apa kau mengincar tubuhku?"


"Tubuhmu ya, itu bukan ide buruk."


Ujung jariku meluncur di paha Karuizawa. Kelembutan yang kurasakan


hampir tidak manusiawi. Kelembutan kulitnya sangat berbeda dari apa yang


aku tahu dan apa yang aku miliki.


"Tidak!!"


Dia berusaha keras untuk menjauh dariku. Aku menguatkan cengkeramanku


di pipinya dan membuatnya menatap mataku.


"Jangan menolak, jika kau melakukannya aku akan menceritakan semuanya


ke sekolah."


Perempuan ini, seperti kutukan, mengutuk tubuhnya menjadi kaku.


Marah, ngeri, takut, putus asa. Benar, seberapa banyak emosi yang dibawa


oleh Karuizawa?


Dia harus memperhatikan bahwa saat ini aku sudah benar-benar berbeda


dari kepribadian yang aku perlihatkan di dalam kehidupanku sehari-hari.


"Lebarkan kakimu."


Aku memerintahnya. Air mata Karuizawa mulai turun saat dia perlahan


melebarkannya.


Bahkan jika dia tahu dia akan diperkosa di sini, dia masih ingin melindungi


tempat yang dimilikinya sekarang.


Rasa sakit akibat bullyingnya sudah mulai terkendali, dan inilah buktinya.


Aku meletakkan tanganku di ikat pinggangku dan sengaja bermain dengan


gesper logam. Bahkan saat itu, Karuizawa tidak melarikan diri.


Dia berusaha mati-matian untuk menerima kenyataan yang baru ini. Dia


menatapku dengan mata yang kosong dan bergumam pada dirinya sendiri.


Aku benar jika Karuizawa Kei adalah alat yang bisa digunakan.


Tujuanku bukanlah tubuhnya. Aku mengancam dia untuk melihat seberapa


jauh dia akan melindungi apa yang dimilikinya.


Ini adalah pertaruhan yang berisiko bagi ku untuk mengungkapkan sifatku


yang sebenarnya. Jika Karuizawa melarikan diri dan melaporkanku, maka


posisi kami akan benar-benar terbalik. Tetapi perempuan ini tidak bisa


melakukannya.


Dia takut dengan masa lalunya lebih dari apa pun. Takut bahwa dia akan


kehilangan tempat yang dimilikinya. Untuk melindungi ini dia bahkan rela


menggunakan tubuhnya. Itu membuktikan seberapa banyak tempat ini


sangat berarti baginya.


"Aku tidak akan tunduk kepadamu.... Aku tidak akan diintimidasi olehmu....


kau hanya memegang kelemahanku dan menggunakanku! Kau adalah


******** yang hanya melakukan apapun yang kau inginkan dan memperkosaku!"


Karuizawa berteriak, seolah-olah dia mengeluarkan kemarahan mentahnya


kepada dunia.


"Tapi tidak masalah, ini bukan pertama kalinya aku menyerah kepada


kekuatan..."


Dia pura-pura tertawa. Karuizawa berbalik dan menatap mataku.


"Hahaha... Hei, apa kau tau? Jika ada kebenaran yang tidak berubah


diberikan, bagaimana reaksi manusia...?"


Dia gemetar dan memeluk dirinya sendiri. Dengan senyuman kosong dan


tumpul, dia jauh menatapku.


"Aku menyerah. Ya, aku sudah disiksa dan dilahap. Aku dibuat dengan mesin


yang bereaksi dengan dorongan. Aku bahkan tidak bisa mengumpulkan


keberanian untuk melawan. Aku tidak bisa melakukan hal yang lain. Yang


bisa aku lakukan hanyalah menerimanya.”


Ketika akhirnya dia memutuskan keputusan ini, Karuizawa mengangkat


roknya dan meletakkan tangannya di celana dalamnya.


Aku menggenggam pergelangan tangannya dan menahannya di dinding


kapal.


"Apa yang kau terima, di mana rasa sakit yang menyiksamu?"


"Apa ...... Tentu saja semua yang aku miliki, sepatuku dilempar, laci mejaku


penuh dengan bangkai binatang mati. Ketika aku pergi ke kamar kecil aku


disiram dengan air yang kotor. Seragamku ditulis dengan kata-kata seperti


'*******'. Rambutku ditarik, ditampar, ditendang begitu banyak sehingga


tidak bisa menghitungnya. Segala jenis bullying yang bisa kau bayangkan,


aku pernah mengalaminya. Yang ku katakan hanya seberapa. Mereka begitu


'lemah lembut' sehingga aku bisa tertawa, jadi kenapa kau tidak mulai


tertawa? Tertawalah kepadaku yang terus meludah dan diintimidasi"


Setelah mengalami semua ini, sangat mengesankan jika dia masih bisa


mengumpulkan keberaniannya dan terjun ke medan perang sekali lagi.


Intinya kuat dan inilah kenapa dia masih bisa berdiri dan masuk ke SMA ini.


Jadi inilah yang terjadi.


Tetapi... Ini masih belum cukup untuk menjelaskan beberapa hal yang aku


perhatikan.


"Apa itu satu-satunya siksaan yang kau alami?”


"Apa......"


"Apa yang kau katakan, apakah semuanya itu benar?".


Aku merasa masih ada sesuatu yang kritis yang menghancurkan hatinya.


Cara yang tidak normal untuk menunjukkan terornya tidak banyak


membantu tetapi malah membuatku berpikir bahwa ada sesuatu yang lain


dibaliknya.


Karuizawa menyembunyikan sesuatu yang senilai dengan menyerah


tubuhnya.


"Apa yang kau sembunyikan?"


"Ap, tidak ad....."


Sebagai contoh, Karuizawa berpaking dan melihat ke pinggang kirinya.


Aku memperhatikan hal tersebut dan membuat tanganku menyentuhnya.


"Be, berhenti!"


Teriakan kasarnya terpantul di dinding sekitarnya dan bergema di lorong


yang kosong.


Tetapi, kecurigaanku dikonfirmasi oleh teriakannya. Aku meraih


seragamnya dan menariknya ke atas. Di kulitnya yang indah ada bekas luka


yang jelek. Bekas luka yang hanya bisa disebabkan oleh pisau tajam yang


mengiris begitu dalam.


"Apakah ini kegelapanmu?"


"Fu, hu, huhu .....!"


Bekas luka ini bukan tindakan anak-anak yang saling menyiksa satu sama


lain.


Sebuah bekas luka yang dalam ini benar-benar membahayakan nyawanya.


Bahkan jika masa lalunya membawa beban yang seperti itu, dia tetap


memilih untuk berdiri.


Dalam beberapa hari terakhir aku mengamati perempuan bernama


Karuizawa Kei ini. Orang ini, untuk melindungi dirinya sendiri, dengan paksa


menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam kelompoknya. Bahkan jika dia


menerima penghinaan dari tindakannya, dia tetap ingin melindungi


statusnya.


"Keputusasaan datang dalam berbagai bentuk dan cara, tetapi apa yang kau


alami adalah, tidak salah lagi, keputusasaan."


Kegelapan Karuizawa, pupilnya, Mereka saling tumpang tindih dengannya.


Mereka yang memilih untuk membawa kegelapan mereka bersama mereka


tertarik dan kemudian, saling melahap satu sama lain dan akhirnya, mereka


yang membawa kegelapan, akan menyelimuti kegelapan yang lainnya


dengan diri mereka sendiri.


"Ap, apa... kau..!"


Jika orang ini ditahan oleh masa lalunya, maka yang harus aku lakukan


adalah melepaskannya secara paksa dari ikatannya.


Bahkan jika aku tidak mengenalnya secara mendalam, tetapi aku bisa


merasakan kegelapan yang dimilikinya.


Itu benar... Dunia ini memiliki sesuatu hal yang lebih banyak yang belum


pernah dialami oleh Karuizawa. Di tempat yang lebih dalam, kegelapan yang


lebih keji pun berakar.


"Aku bisa menjanjikan satu hal dan mulai sekarang aku akan melindungimu


dari intimidasi. Aku jauh lebih bisa diandalkan daripada Hirata dan


Machida."


"Apa maksudmu, kau bisa menghentikan Manabe dan kelompoknya ......?"


"Apa yang harus aku lakukan sekarang adalah memutuskan seberapa


banyak yang bisa dipercaya dari kata-kataku. Anak kecil yang ramah mudah


meledak, tapi nyala api yang lebih besar akan memiliki efek sebaliknya. Pada


akhirnya, api akan berubah menjadi sesuatu yang hembusan angin tidak bisa


memadamkannya. Kau akan bertindak atas namaku dan aku akan bertindak


atas namamu. Emosimu tidak boleh dan tidak akan ikut bermain di sini. Apa


kau setuju dengan hubungan ini? "


"Pertama, kita akan hilangkan kekhawatiranmu.” Kataku dan mengangkat


ponselku.


"Aku punya cara untuk menghentikan tindakan Manabe."


Lalu, aku menyalakan layar ponselku.


Di ponselku ada foto Karuizawa yang diserang oleh kelompok Manabe.


"Ini..."


"Jika aku mengirimkan ini kepada mereka, mereka harus


mempertimbangkan kembali untuk melakukan hal lebih banyak kepadamu. Jika mereka masih memutuskan untuk mengejarmu dengan menyebarkan


rumor, ini akan memberiku amunisi yang baik untuk ikut campur"


Sedangkan untuk Manabe dan kelompoknya, insiden khusus ini seharusnya


bisa menenangkan kemarahan mereka. Tak perlu melangkah lebih jauh jika


ingin menempatkan mereka ke posisi yang tidak menguntungkan.


Aku melepaskan pipinya, lalu dengan nada tanpa emosi yang aku berkata


padanya.


"Aku hanya mencari seseorang untuk membantuku, aku harap di masa


depan, kau akan menjadi bantuanku saat aku membutuhkan."


"Apa, bantuanku? Apa yang kau ingin aku lakukan.."


"Jika situasi saat ini masih berlanjut, kelas D tidak akan pernah menyalip


kelas A. Sementara itu kemampuan individu anggota kelas D cukup bagus,


tetapi kita sangat kekurangan kohesi, kita seperti pasir pantai, namun jika


kau bisa mengendalikan anak perempuan untukku, situasi ini secara


bertahap akan berubah menjadi lebih baik dan itu membuatmu, makhluk


yang lebih berharga dari Horikita yang tahu bagaimana cara bertarung


sendirian.”


"Kau, apa yang kau lakukan..."


Dia pasti berpikir bahwa aku hanyalah orang normal yang biasa, jadi


melihatku di pernyataan ini akan membuat pergerakannya terlihat. Tetapi


aku tidak akan menjelaskan tentang diriku. Mengurangi kata-kata, lebih


mengerikanan dan semakin sedikit dia menolak.


"Langkah pertama dari kerja sama kita adalah memimpin kelompok kita


meraih kemenangan di ujian ini."


"Kemenangan? Tapi bagaimana-"


"Karena kau-, bukankah begitu?"


Ketika dia mendengarkan kata kuncinya, Karuizawa melebarkan matanya


dan menatapku.


Seolah kebenarannya bergema di dalam pupil, pikiran dan matanya. Aku


menyampaikan kebenaran itu kepadanya.


Karuizawa terlihat sedikit bingung, tetapi mungkin memang seperti itu.

__ADS_1


Karena parasit hanya bisa hidup dengan menempelkan dirinya ke tumbuhan lain dan sekarang Karuizawa mengikutiku, tuan rumah yang baru. Hidupnya


sekarang tidak akan bisa bergerak maju tanpa diriku.


__ADS_2