
Argumen itu tidak pernah diselesaikan. 1 jam telah berlalu dan sebuah
pengumuman oleh sekolah dibuat agar murid meninggalkan ruang
pertemuan mereka yang ditunjukan. Murid dari Kelas A adalah orang
pertama yang pergi.
"Kau bebas melakukan apa yang kau inginkan"
Dengan begitu, mereka meninggalkan ruangan dan membanting pintu di
belakang mereka dengan keras, melemparkan ruangan kembali ke dalam
keheningan.
Meskipun Ichinose telah menolak strategi Katsuragi, pada akhirnya, tidak
ada diskusi di antara kami. Apakah dia masih menyembunyikan sesuatu?
Atau apakah dia benar-benar tidak memikirkan hal lain selain itu?
"yah, akan ada 5 diskusi lagi yang seperti ini, jadi mari kita selesaikan sampai
disini" Ichinose berkata dengan suara yang menyegarkan.
Pada dasarnya, sepertinya persetujuan yang telah kami capai adalah
meluangkan waktu untuk kami sendiri daripada berdiskusi untuk saat ini.
Setelah mengelolah sedikit informasi, Kelas D dan Kelas C pasti sedang
merasa kelelahan. Mungkin bukan gagasan yang buruk untuk membubarkan
kelompok ini sekarang.
"Aku akan kembali" Karuizawa segera mengatakan itu saat dia berdiri dan
berjalan pergi, tapi kakinya bergetar seolah dia sedang mati rasa.
Tapi dalam kepanikannya meninggalkan ruangan, Karuizawa secara tidak
sengaja menginjak kaki Manabe.
"Ow!" Manabe menjerit kesakitan.
"Ahh ... maaf, aku tidak bermaksud untuk..."
Karuizawa dengan lembut
meminta maaf sebelum segera meninggalkan ruangan.
"Apa ... apa-apaan?" Manabe berteriak kepada kami.
Dia terlihat marah baik dari rasa sakitnya dan juga dari sikap Karuizawa dan
kemudian menyerang kami. Dengan cepat aku mengalihkan pandanganku
untuk menghindari keterlibatan dan melarikan diri.
"Ayo pergi, aku ingin mendengar ini dari Hirata juga"
Karena kelas-kelas lain sudah mulai bergerak, sepertinya Yukimura juga
ingin membuat strategi untuk kelas kami. Sotomura berdiri untuk
menanggapi kalimat Yukimura. Pada akhirnya, hanya tiga dari Kelas B dan
Ibuki yang tertinggal di ruangan itu.
"Aku lapar lagi, apa menurutmu ada makanan untuk makan siang?" Tanya
Sotomura.
Tidak, tidak, kau adalah orang yang tidak normal di sini. Tubuh macam apa
yang dapat mencerna semua makanan yang sudah kau makan dalam satu
jam. Biasanya, kau akan gemuk jika kau makan sebanyak itu. Tapi aku ragu
nasehat tulus ku akan sampai ke hatinya.
"Hei Yukimura, apa kau memperhatikan Karuizawa bertingkah aneh?"
Aku bertanya pada Yukimura segera setelah kami meninggalkan ruangan.
Tapi Yukimura hanya membuat wajah aneh ke arahku sebagai balasannya.
"Dia selalu aneh" katanya dengan sungguh-sungguh.
Respons yang langsung, tapi bukan itu yang ingin aku dengar, itu hanya
perasaanku saja tapi ada sesuatu yang pasti tentang perilaku Karuizawa.
Sotomura sepertinya tidak melihat apa pun.
Aku menyalakan ponselku yang
telah aku matikan saat memasuki ruangan dan ada pesan dari Sakura.
Aku memeriksa isinya dan sepertinya dia ingin bertemu denganku jika aku
punya waktu.
"Waktu yang tepat"
Aku hanya berpikir untuk menghubungi Hirata dan Horikita untuk
__ADS_1
menanyakan bagaimana pertemuan mereka, tapi mungkin aku bisa
mengumpulkan lebih banyak informasi dari Sakura juga.
"Hmmmm ... kemana kita akan bertemu?"
Aku pikir tempat pertemuan yang sama seperti kemarin seharusnya tidak
masalah.
Saat aku mengirimkannya ke Sakura, aku langsung menerima balasan. Pasti
akan ada banyak murid saat ini tapi jika kami mengabaikannya mereka pasti
tidak akan ada yang memperhatikan kami juga. Sejak diskusi kelompok
pertama baru saja berakhir, kerumunan murid-murid yang marah
menunggu di depan lift.
Karena hanya sepuluh orang yang bisa naik lift pada satu waktu, akan lebih
efisien saat menggunakan tangga, aku pikir. Dan saat aku menuju ke lantai
bawah melalui tangga, ada pesan baru di ponselku.
"Itu sedikit ramai jadi aku akan menuju ke arah belakang kapal ... maaf"
"Ahh ... sepertinya Sakura tidak bisa menangani banyak orang"
Aku kemudian mengubah arah dan mulai menuju ke sana juga. Ini adalah
kapal yang penuh dengan segala macam fasilitas yang dibangun dengan
kemewahan, namun belakangnya memberi pemandangan laut yang luas dari
dek. Dengan demikian, pada saat ini, hanya ada sedikit murid di sana.
Sebenarnya, sepertinya tidak ada orang di sana saat ini yang memberikanku
monopoli atas keseluruhan wilayah.
Tapi bahkan dengan seluruh dek dimonopoli untuk kami gunakan, Sakura
masih bersembunyi di balik sebuah sudut dekat sebuah pilar dan
menungguku. Tidak sopan jika memanggilnya jadi aku menghampirinya.
"... aku ingin ... bagaimana dengan ini?"
Suara kecil yang kudengar datang darinya melalui angin, tapi aku tidak bisa
mendengarnya dengan baik.
“M-m-Maukah kau ... ke-ke-kencan.... m-m"
"Sakura, apa yang kau lakukan?"
Aku bertanya kepadanya pelan-pelan untuk tidak mengejutkannya.
"Toooooooooooooooooouuuu !!!" Teriak Sakura sambil sedikit melompat
Ini benar-benar mengejutkanku.
"S-s-s-s-s-sejak-k-k-kapan kau sampai di sini?"
"Aku baru saja sampai di sini" kataku padanya.
Kehati-hatiannya akan lingkungan hampir mengingatkanku kepada seekor
hewan kecil yang waspada. Tapi apa Sakura berbicara dengan teman
imajinernya atau hantu?
"Apa kau mendengarnya? Apa kau mendengar apa yang baru saja aku
katakan?"
"Setengahnya, tapi aku tidak tahu apa yang kau maksud dengan kata-kata
itu".
Sakura terlihat lega karena aku tidak mendengar apa yang dia katakan.
"Dan kenapa kau ingin menemuiku?" Aku bertanya.
"Eeehh .... itu .... yeah oh b-benar aku merasa cemas dengan ujiannya"
Dia kemudian mendorong selembar kertas ke arahku, dan saat aku
mengambilnya darinya dan melihatnya, di atasnya berisi daftar nama.
Kelas A: Sawada Yasumi, Shimizu Naoki, Nishi Haruka, Yoshida Kenta
Kelas B: Kobayashi Yume, Ninomiya Yui, Watanabe Kihito
Kelas C: Yuuki Yuuya, Nomura Yuuji, Yajima Mariko
Kelas D: Ike Kanji, Sakura Airi, Sudou Ken, Matsushita Chiaki
Kelihatannya Sakura ada di kelompok (Sapi). Terlihat sangat menakjubkan
berada di dalam kelompok ini. Laki-laki dalam kelompok itu adalah Sudou
dan Ike, laki-laki yang tidak mau bersimpati dengan nasib Sakura. Dan dalam
__ADS_1
ujian ini, seseorang terpaksa menghabiskan waktu dengan sesama anggota
kelompok dari kelas yang sama tidak memperdulikan apa pun. Jika saja aku
berada dalam kelompok yang sama dengan dia, aku bisa saja membantunya
dalam situasi ini, tidak banyak yang bisa aku lakukan saat ini.
Pada saatnya telah tiba bagi kelompok untuk berjuang bersama-sama,
mereka tidak bisa terpecah atau ragu-ragu. Aku bisa membantunya dengan
diam-diam menghubungi dia lewat telepon saat ujian berlangsung, tapi jika
aku menerapkan perilaku tidak wajar ini di tengah ujian, tiba-tiba aku akan
menarik perhatian pada diriku sendiri. Dan dalam ujian seperti ini, tindakan
seperti itu mungkin tidak berbeda dengan hidup dan mati.
"Kupikir akan lebih bagus lagi jika ada seseorang yang kau kenal dari kelas
lain, tapi kurasa tidak ada” Kataku.
Aku memikirkannya, tapi jika aku ingin membantunya, Ichinose dan Kanzaki
adalah satu-satunya yang dapat aku minta bantuan. Tapi karena Ichinose
sudah berada di kelompokku, akan sulit baginya untuk membantu juga.
Lagipula aku tidak bisa mempercayai sakura kepada Sudou dan Ike
"Maaf ... aku juga tidak punya teman" kataku padanya.
"Oh, tolong jangan minta maaf, aku juga sama sekali tidak punya teman" kata
Sakura padaku.
Ini menyedihkan, kami seperti dua orang saling bersaing untuk melihat
siapa yang bisa lebih menyedihkan.
Jadi, bukan berarti bangga dengan kurangnya seorang teman, aku beralih ke
topik yang berbeda.
"Omong-omong, aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu, Sakura"
kataku padanya.
"Eeh? aku? Apa?".
"Aku bertanya-tanya apa Yamauchi menghubungimu dengan cara apapun
sejak waktu diskusi berakhir," kataku padanya.
"Yamauchi-kun, tidak, apa ada yang salah?" dia bertanya.
"Aku mengerti"
Kembali ke pulau itu, untuk memanfaatkan Horikita, aku terpaksa
menggunakan Sakura terlebih dahulu. Untuk memanipulasi Yamauchi, aku
berjanji untuk memberikan email Sakura sebagai imbalan atas
kerjasamanya. Tentu saja, aku tidak berniat memberikan email untuk
Yamauchi tanpa persetujuan Sakura tapi aku belum memberi tahu Yamauchi
tentang hal ini. Aku khawatir dia mungkin sudah mendekati Sakura tapi itu
terlihat seperti aku sudah menghawatirkan sesuatu yang tidak ada.
"Selain itu, jika ada sesuatu dalam pikiranmu, hubungi aku saja" kataku
padanya.
"Apa itu tidak masalah?"
"Ya, pada akhirnya hanya itu yang bisa aku lakukan "
Meskipun aku hanya memberinya kalimat yang samar itu, mata Sakura
bersinar seperti anak yang tidak berdosa. Mungkin dia senang berinteraksi
denganku seperti ini.
"Aku pasti akan meneleponmu!" dia berseru kepadaku
“Tentu"
Berbeda dengan gambaran Sakura yang biasanya dia pasang, saat ini dia
terlihat penuh dengan kehidupan dan semangat. Sepertinya dia belajar
untuk menjadi lebih agresif dari hari ke hari.
Meski baru beberapa hari
berlalu sejak ujian di pulau. Sakura telah tumbuh menjadi cukup aneh.
Karena itu adalah tes yang gila dan berat, sepertinya hal itu berdampak
kepada seorang gadis SMA yang sedang tumbuh seperti Sakura. Dia tidak
berubah sama sekali, tetapi bahkan dalam situasi yang sulit seperti ini, dia
__ADS_1
masih belajar untuk tetap bersikap positif.