Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)

Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)
1. Aku fansmu, Kak!


__ADS_3

Cukup ngefans, nggak lebih!


-Kiara Ferinda-


***


Kiara Ferinda menatap pantulan dirinya di cermin, tak lupa ia


juga memperbaiki jilbabnya yang sedikit kusut. Hari ini, merupakan hari


pertamanya di SMA Gemilang, setelah mengikuti serangkaian kegiatan ospek yang


telah diadakan oleh sekolah itu selama seminggu. Tidak ada yang spesial selama


ia mengikuti ospek, sangat berbeda dari novel-novel yang sering dibacanya, jika


di novel-novel itu tokoh utama akan bertemu senior yang cakep dan kece badai, ia justru tidak mendapat


apa-apa selain materi perkenalan dari para guru yang ada di sekolah.


Merasa sudah siap, Kiara pun keluar untuk sarapan, tidak lupa ia


menyampirkan tas ranselnya di bahu kanan, sementara di tangan kanan dan kirinya


masing-masing terdapat ponsel dan dua buku paket untuk mata pelajaran hari ini.


Terlepas dari Kiara, di ruang makan sudah ada ibu, ayah, Indra, dan Sasha yang


terlihat mulai sibuk menyantap sarapannya.


"Pagi semuanyaaa...," sapa Kiara dengan semangat


menggebu.


"Ciyeee yang udah SMA. Udah punya senteran belom?"


tanya Indra dengan wajah menggoda.


Kiara mengerutkan keningnya bingung. "Senter? Apaan,


Bang?" tanyanya karena tidak mengerti dengan ucapan abangnya.


Indra mengibaskan tangannya. "Ya elah, dulu waktu Abang


baru masuk SMA udah punya senteran, cantik pula. Masa kamu nggak punya senteran


sih?"


"Ssst! Kalian ini. Apaan Bang senter-senteran?" tegur


Jana– sang ibu. "Percuma nyenter kalo sampai sekarang belum juga ada yang


jadi pendampingnya.


 


Ucapan Jana sukses membuat Indra bungkam. Sementara Kiara


tertawa kecil mendengar ucapan sang ibu, sambil tertawa tak lupa ia memeletkan


lidahnya ke arah Indra.


"Sasha juga udah punya senter, Bang!" ujar Sasha tak


kalah heboh. Ia sampai menggedor-gedor meja untuk meminta perhatian.


Mendengar ucapan Sasha, hampir saja empat orang–kecuali Sasha


itu menyemburkan makanan dan minuman yang ada di mulut masing-masing. Tedi–sang


Ayah dan Jana menepuk dadanya pelan, sedangkan Kiara dan Indra menatap Sasha


tak percaya.


"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Kiara, berusaha


memastikan bawa yang didengarnya itu benar adanya.


Tanpa mempedulikan keempatnya, Sasha mengunyah nasi goreng


dengan santai. "Aduh, Kak Ara ini. Sasha bilang, Sasha juga punya senteran


di sekolah." ulang Sasha dengan nada kesal.


"Nah, nah. Liat tuh, Bang. Pasti ini gara-gara Abang. Ya,


kan? Si Sasha yang masih SD gini udah main senter-senteran juga." Kali ini


Tedi menunjuk-nujuk ke arah Indra sambil ikut menimpali.


Indra mendelik tak terima karena tuduhan itu. "Lah? Kok


Indra, Yah?"


"Hush. Udah-udah. Adek, nggak boleh senter-senteran di


sekolah ya." ujar ibu mengingatkan dengan nada tegas. Dia harus memberi


peringatan kepada anak bungsunya itu agar tidak melakukan hal-hal yang aneh.


Sasha menatap ibunya dengan bingung. Ia pun menggaruk kepalanya


yang tertutupi jilbab. "Loh, kok nggak boleh sih, Bu? Sasha kan belinya


sama teman-teman Sasha di sekolah."


Lagi. Keempatnya memasang wajah bingung. Beli? Sama


teman-temannya? "Emang yang kamu maksud senter apaan, Dek?" tanya


Indra penasaran.


"Ya senter, Bang. Masa Abang nggak tau senter gimana. Yang


dipake sebagai lampu kalo lagi gelap. Kan di gudang sekolah Sasha gelap tuh,


dan kebetulan Sasha dan temen-temen Sasha kadang disuruh ke gudang untuk


ngambil cangkul. Jadi, kita kumpulin duit deh buat beli senter. Kadang Pak Tejo


juga pinjem senternya di kelas Sasha.”


Setelah mendengar penjelasan dari Sasha, barulah semuanya bisa


benapas dengan lega. Ternyata mereka hanya salah paham mengenai senter itu.


Lagipula, Sasha yang polos memang tak tahu jika senter yang dimaksud Indra


bukanlah senter benaran.


"Ooh, senter itu... maksud Abang senter itu senter


cew..."


"BANG!"


Indra menutup kedua telinganya saat ibu, ayah dan Kiara secara


bersamaan memperingatinya dengan nada yang sukses memekakkan telinga.


***


Kiara berlari-lari kecil menuju kelasnya–sepuluh IPS 2 yang


kebetulan terletak di lantai dua. Sesekali dia melirik arloji yang melingkar di


pergelangan tangannya. Sepuluh menit lagi jam pelajaran pertama dimulai.


Sekolah pun sudah terlihat sepi, bukan karena tidak adanya siswa, tapi karena


semua siswa sudah anteng di kelas masing-masing menunggu


datangnya guru.


Sedikit lagi Kiara akan mencapai anak tangga pertama, dengan


antusias ia pun segera berlari, namun saat akan menginjak anak tangga pertama,


tiba-tiba tubuhnya terhuyung kebelakang dan membuat Kiara harus meringis seraya


mengelus bokongnya yang sukses mendarat dengan mulus di lantai koridor.

__ADS_1


"Aduuhhh...," rintih Kiara sambil mengelus bokongnya


yang terasa sakit luar biasa.


"Kamu nggak papa?"


Awalnya Kiara ingin memaki, tapi suara berat itu berhasil


membuat Kiara mendongak dan menatap orang yang mungkin baru saja ia tabrak,


atau kah dia yang ditabrak? Ah, entahlah. Yang pasti saat ini bokongnya terasa


sangat nyeri. Dan saat Kiara melihat siapa orang yang menabrak atau ditabraknya


itu, seketika kedua matanya mengerjap dengan cepat.


MasyaAllah, ini siapa ya Allah. Cakep banget. Malaikat kah?.


Kiara yang tengah sibuk menatap keindahan ciptaan Allah itu


tiba-tiba tersadar saat tangan besar cowok itu melambai pelan di depan


wajahnya. Dengan begitu, Kiara pun tahu bahwa cowok yang ada di depannya itu


benaran nyata, bukan ilusi atau pun fatamorgana.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya.


Kiara tersentak. "Eh?"


Cowok itu menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban dari


Kiara. Sementara Kiara berusaha berdiri dan mengabaikan sedikit rasa sakit yang


mendera bokongnya. Pasalnya, ada yang lebih butuh diperhatikan dari pada rasa


sakit yang ia rasakan. Yaitu cowok cakep pake


banget yang ada di hadapannya


saat ini.


"Um, aku nggak pa-pa, kok...," ujar Kiara


terbata-bata. Wajar lah ya kalau dirinya salting alias salah tingkah, cowok


yang ada di hadapannya ini benar-benar sukses membuatnya pangling. Kiara yakin


bukan hanya dirinya, tetapi siswi-siswi di sekolah ini pun pasti berpendapat


yang sama terhadapnya.


Cowok itu mengangguk samar. "Ya udah, maaf ya. Masuk gih,


bentar lagi bel," ujar cowok itu dengan nada penuh peringatan. Ia pun


kemudian berlalu tanpa raut wajah yang menunjukkan ketertarikan kepada cewek


yang tadi ditabraknya. Sangat berbeda dengan Kiara, ia justru masih mematung,


namun sebelum cowok itu benar-benar menghilang dari hadapannya, dengan cepat ia


melirik name tag yang terpasang di dada kanannya.


Bayu Mahardika Ramadhan.


Bibir Kiara seketika membentuk huruf O, seolah mengatakan bahwa


'Ooo, namanya Bayu Mahardika Ramadhan'.


Terlepas dari cowok yang bernama Bayu itu, Kiara menepuk


jidatnya cukup keras –ia baru menyadari bahwa tiga menit lagi bel masuk


berbunyi. Waktu memang begitu cepat berlalu. Apalagi ketemu sama cowok cakep


kayak Bayu, jadi tambah lupa waktu deh. Eh?


***


Jam mata pelajaran pertama terlewatkan. Dan Kiara bersyukur,


karena dengan sangat kebetulan pak Joko tidak masuk, tapi jelas saja gurunya


berstatus siswa siswi baru, jadilah mereka sedikit patuh dan mulai mengerjakan


tugas yang diberikan. Dan setelah mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak


Joko, semua siswa-siswi itu mengisi waktu luangnya dengan bergosip ria.


Maklumlah, siswa baru.


"Ra, lo ngomong apa tadi? Gue nggak terlalu denger. Soalnya


gue fokus sama tugasnya pak Joko," tanya Luna dengan tampang bingung.


Kiara memang sejak tadi mengoceh panjang lebar, entahlah ...


yang sempat menyangkut di telinga Luna hanya kata 'cowok' yang sibuk Kiara


ceritakan, sementara Luna sedang sibuk mengerjakan tugas dari pak Joko.


"Oh, itu. Aku cerita, tadi itu aku ketemu sama cowok. Kasep


euy," ulang Kiara dengan penuh semangat.


Luna memutar kedua bola matanya. "Haduh, kalo kasep mah si


Reno juga kasep atuh."


"Yee, ini teh beda..."


"Mana teh-nya?"


"Yee, ini teh beda..."


"Mana teh-nya?"


"Ini teh be..."


Risa yang kebetulan duduk di depan Luna dan Kiara mengerang


frustasi. Ia lalu berbalik ke arah keduanya dengan tatapan kesal. "Aduhhh,


kalian berdua pada ngomongin apa sih? Kok bahas masalah teh?"


Kiara dan Luna saling tatap dan kemudian tertawa


kecil–mengabaikan pertanyaan Risa.


"Yeee ... ditanya malah cekikikan nggak jelas kayak Mbak


kunti," semprot Risa kesal.


"Aduh, maap deh, Ris. Tadi kita mah ngomongin cowok. Kata Ara


ada cowok kasep tadi."


Risa sedikit mendekatkan posisi duduknya ke arah Kiara dan Luna.


Kalau urusan cogan dia juga tentu tertarik. "Masa sih? Di mana?"


tanya Risa ikut antusias.


"Tadi, waktu baru dateng. Aku kan lari-lari gitu karena


takut telat, eh tau-tau pas mau naik tangga ada cowok yang nggak sengaja nabrak


aku. Daaaaan dia itu cakep bangetttttt, Rissss."


"Ya ampuuun. Kisah kamu klasik banget, Ra. Di novel-novel


mah banyak."


Kiara merenggut sebal. "Biarin, yang penting ketemunya sama


cowok kasep kayak si Bayu itu."


Luna mengernyitkan keningnya. Sepertinya dia mendengar nama


seseorang disebut-sebut oleh Kiara. "Siapa kamu bilang?"

__ADS_1


"Bayu. Bayu Mahardika Ramadhan." ulangnya.


Luna dan Risa refleks menepuk jidatnya masing-masing.


"KIARA. DIA ITU KETUA OSIS DI SEKOLAH INI!" ujarnya secara bersamaan.


Para siswa yang juga tengah bergosip pun menghentikan pembicaraan mereka dan


memilih menoleh pada ketiga gadis itu.


"Masa sih? Kok aku nggak tau?" tanya Kiara sambil


menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar tidak tahu jika orang


yang tadi tak sengaja ia tabrak adalah ketua OSIS di sekolah ini.


"Sebenarnya raga lo aja yang ikut OSPEK kemarin, jiwanya


entah pergi kemana."


Kiara mencibir. "Apa hubungannya, Ris?"


"Gini ya, Kiara. Kak Bayu itu kemarin ikut ngeospek kita


semua. Masa lo nggak merhatiin sih?"


"Abis dianya sibuk main hp," timpal Luna gemas.


"Kok kalian berdua nggak ngomong ke aku sih kalo ada


makhluk secakep Kak Bayu pas OSPEK kemarin? Dan lagi, Kak Bayu itu emang kelas


berapa?"


"Demi Spongebob dan rumah nanasnya. Kak Bayu itu udah


perkenalin diri pas ospek dimulai, Ra. Dan dia jelas-jelas bilang kelas IPA..


aduh lupa gue di IPA mana," jawab Risa yang mulai sedikit kesal dengan


kelemotan Kiara.


"Eh tapi denger-denger Kak Bayu itu tipikal cowok yang


dingin dan nggak banyak cengcong loh ...."


"Cengcong apaan, Lun?"


Luna berdecak sebal. Rasa-rasanya ia ingin menjitak kepala


sahabatnya itu. "Nggak banyak ngomong, Kiara. Ngomong lo mah bikin darah


gue mendidih."


"Loh, emang bisa darah mendidih?"


"Ya Gusti, Ra. Kayaknya lo harus kurang-kurangin makan


micin, deh. Saran gue yah."


Kiara mengangguk pelan. "Iya, nanti aku ngasi tau ke ibuku


biar kalo masaka micinnya sedikit dikurangi."


Risa dan Luna saling pandang, entah mengapa bicara sama Kiara


itu bisa menimbulkan migrain secara tiba-tiba. Sepertinya, setelah jam


pelajaran kedua Risa dan Luna harus ke kantin untuk membeli obat migrain.


"Terus... terus... selain kak Bayu nggak banyak cengcong


apa lagi, Lun?"


Luna tampak berpikir. Ujung jari telunjuknya berada di dagu,


sementara keningnya sedikit mengernyit. "Dia itu alim. Dan nggak suka


cewek lemot."


Sengaja Luna menekan kata lemot agar Kiara sadar dikit. Tapi


nyatanya, cewek penyuka warna ungu itu hanya mengangguk paham. "Aku banget


itu, Lun. Aku kan nggak lemot," ujar Kiara antusias "Ih, aku jadi


ngefans deh sama Kak Bayu!"


Risa dan Luna menggigit bibirnya menahan rasa kesal. Tiga tahun.


Tiga tahun akan mereka lalui kedepannya. Dan semoga Risa dan Luna tidak serta


merta tiba-tiba mengidap penyakit hipertensi.


***


Jam menunjukkan pukul sebelas lima puluh lima menit, yang


artinya sebentar lagi waktu salat dzuhur akan tiba. Risa, Luna dan Kiara sudah


berwudu terlebih dahulu, karena takut antre jadilah mereka datang ke mushollah


sekolah lebih awal dari pada yang lain. Di mushollah memang bukan hanya ada


mereka bertiga, sudah ada beberapa pengurus remaja masjid yang ternyata datang


lebih awal dari mereka bertiga.


Sambil menunggu waktu adzan tiba, ketiganya sibuk bergosip ria.


Menggosipkan banyak hal, termasuk hobi, kebiasaan di rumah dan masih banyak


lagi.


"SSSST! Kalian yang di sana, berisik."


Kiara, Luna dan Risa refleks saling tatap dan menutup mulut


masing-masing. Tak jauh dari ketiganya, berdiri sosok Bayu sang ketua OSIS yang


terlihat baru saja datang dan menginterupsi acara gosip Kiara dan dua orang


temannya itu.


"Huuuu, apa gue bilang, Ra. Lo liat sendiri kan, Kak Bayu


itu dingin-dingin nyeremin," ujar Luna bergidik, sementara Risa mengangguk


menyetujui.


"Aku mah tambah ngefans sama Kak Bayu. Ih, calon imam


banget mah dia. Hihihi," jawab Kiara dengan nada berbisik.


Suara adzan berkumandang. Risa, Kiara dan Luna pun terdiam.


Mendengar dengan saksama adzan yang merdu itu.


"Duileh, suaranya adem banget." ujar Kiara sambil


menutup kedua matanya.


"Itu yang adzan Kak Bayu," timpal Risa.


"Hah? Masa sih?" tanya Kiara dengan mata berbinar.


Risa mengangguk menjawab pertanyaan Kiara.


"Ah, aku fansmu, Kak Bayuuuu!" jerit Kiara tertahan.


***


A/N:


Hai, aku kembali dengan cerita baru. Hahaha.


Sebenarnya ngga baru-baru amat, sih.


Ngga usah panjang-panjang, ya, author note-nya.


Pokoknya, semoga suka :)

__ADS_1


Sampai jumpa di part selanjutnya.


__ADS_2