Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)

Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)
12. Cukup sampai di sini


__ADS_3

"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah."


Kiara mengusap pelan wajahnya seusai salam, ia melirik orang di sampingnya yang tadi masbuk, ternyata Luna. Tadinya ia dan Risa memang ke musallah lebih dulu karena Luna katanya harus ke toilet.


Usai berdoa, Kiara, Risa dan beberapa guru serta murid yang lainnya memutuskan tetap tinggal sebentar untuk mendengar ceramah singkat. Setiap sehabis salat guru agama di sekolah itu memang kadang menyempatkan diri untuk memberikan ceramah kepada murid-muridnya, tak terkecuali guru-guru yang sudah menyempatkan untuk hadir.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Alhamdulilahi rabbil 'alamin, Was sholatu wassalamu 'ala, Asyrofil ambiyaa iwal mursalin,


Sayyidina wa maulana Muhammadin, Wa 'alaa 'alihi wa shohbihi ajmain. Ama ba'du. Hari ini, saya akan membahas tentang fenomena masa kini, yaitu pacaran. Bagi remaja masa kini mungkin berpacaran adalah suatu hal yang wajar, hal yang biasa saja bahkan suatu hal yang wajib. Karena menurut beberapa remaja sekarang tanpa aktivitas pacaran di masa muda seolah-olah menjadi hambar, gitu kan? Hayoo, ngaku. Hmm hmm. Bahkan ada juga yang merasa bahwa jomlo itu adalah suatu aib yang memalukan, kalau nggak pacaran dianggap nggak laku, dan berbagai tindak bully-an verbal lainnya."


Bara yang sedari tadi penasaran pun akhirnya mengacungkan tangan. "Tapi kan kita cinta, Pak. Masa mau dipendem. Gak baik, Pak."


Luna mencibir pelan mendengar pertanyaan Bara. Sementara yang lain mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Bara.


"Iya, Pak. Gimana itu? Kita kan udah cinta," seru yang lain.


"Baik, baik. Dicintai dan mencintai itu sudah fitrah manusia, karena memang Allah berikan rasa itu dalam artian cinta kepada kita sebagai sebuah anugrah. Seperti yang dituliskan di dalam al-qur'an surah ar-rum ayat 21 yang artinya; "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."


"Kenapa sih pacaran itu dilarang di dalam islam, Pak? kan kita pacaran nggak ngapa-ngapain, terus kita pacaran juga biar saling mengenal, kita juga kadang cuma saling ngasi motivasi biar rajin belajar, yaa kayak gitu-gitu lah, Pak. Gak aneh-aneh kayak yang orang bilang," ujar salah satu siswa yang lain.


Pak Akmal tersenyum tipis lalu melanjutkan ceramahnya. "Sebelum lanjut mari kita dengar firman Allah Subhanahuwataala dalam surah Al-israa' ayat 32 berikut, "Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk." Di ayat itu Allah perintahkan kepada kita "Janganlah kalian mendekati zina", dengar? Allah menggunakan kata "mendekati" bukan melakukan, padahal kan bisa saja perintahnya "Janganlah kalian melakukan zina". Mungkin awalnya kalian mau pacaran memang tidak ada niatan sama sekali untuk bermaksiat atau berbuat zina, tapi tentu saja setan tidak akan tinggal diam untuk menjerumuskan kalian dalam maksiat."


"Jadi gimana dong, Pak. Masa kita pendem? Gimana kalo kita ditikung temen sendiri?"


"Wah, wah. Pada antusias ya dengan tema hari ini. Hm, baiklah. Jika kalian belum siap dan mampu menikah, maka isilah waktu kalian dengan hal-hal yang positif, seperti beribadah pada Allah, belajar memperbaiki diri dan aktivitas-aktivitas kebaikan lainnya."


"Lah, kok menikah, Pak?"


"Karena hanya pernikahan yang dapat menghindarkan kita dari perbuatan zina."


"Yaaah, bisa-bisa kita diejek jadi jomlo ngenes dong, Pak."


"Gak pa-pa. Bagi kalian yang masih sendiri, sudah seharusnya kalian menjaga diri dari perbuatan maksiat dan tentunya juga dari hal-hal yang akan mendekatkan diri kepada perbuatan zina. Gak pa-pa kalian dibilang jomlo ngenes, mending dibilang ngenes di dunia, dibanding ngenes di akhirat. Ya kan?"


"Umm iya sih, Pak."


"Jadi, sekolah dulu yang bener ya. Fokus perbaiki diri, insyaAllah nanti Allah datangkan pasangan terbaik buat kalian," tandas Pak Akmal. "Baik, sampai di sini dulu ceramah singkat dari saya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumussalam warahmatullah wabarakatuh."


***

__ADS_1


Risa menyenggol lengan Luna yang sedang melipat mukenahnya.


"Hm. Kenapa, Ris?" tanya Luna seraya masih fokus melipat mukenahnya.


"Lo denger kan tadi ceramahnya Pak Akmal? Nggak boleh pacaran."


"Iyaaaa, gue denger kok. Emang kenapa?"


"Gue pikir lo pacaran sama Kak Bara."


Luna menghentikan aktivitasnya, menatap Risa dan Kiara yang sudah menatapnya penasaran.


"Lo ngomong apa? Gue? Pacaran sama Kak Bara? Hahaha, lucu lo. Denger gosip murahan dari mana sih lo berdua?"


"Ya kan kirain. Soalnya dari cerita Kiara tadi, kayaknya kalian berdua abis jalan berdua."


Luna mengernyitkan keningnya. "Hah? Jalan? Kapan deh, Ra? Lo gosip sembarangan nih."


Kiara menggeleng pelan. "Nggak kok, Lun. I-itu cuma anggapan kita aja."


"Hmm, hati-hati loh, fitnah. Hahaha. Nggak, kok. Soal yang kemarin Kak Bara liat gue nelpon Kiara itu cuma kebetulan. Kak Bara kayaknya jalan bareng Kak Bayu sama sepupunya itu. Makanya dia liat gue kemarin. Nggak taunya, dia itu peka banget sama lingkungan, termasuk saat gue ngintilin mereka. Hehehe," jelas Luna.


Risa dan Kiara mengangguk paham. "Hmm. Gitu, ya. Ya udah deh. Bodo. Yang penting kita udah tau yang pasti lo nggak ada hubungan sama Kak Bara."


"Heh, heh, heh. Kebiasaan ya kalian gosipin orang."


"Loh, kok..."


"Kenapa? Kaget karena lagi lagi ketahuan gosipin gue?"


Luna mencibir pelan. "Ge-er banget elah."


"Udah sana. Minggir, ini kita mau nyapu," ujar Bara seraya mengarahkan sapu ke arah kaki ketiganya.


"Aduh duh duh. Kak Bara rese!" teriak Risa tak terima.


"Udah, udah, Bar," ucap Bayu melerai. "Kalian minggir dulu ya. Kita mau bersih-bersih."


"Eh? Iya, Kak Bayu. Maap ya," ujar Risa seraya menarik lengan Kiara yang masih mematung.


"Ululuh, andai aja semua cowok kayak Kak Bayu," sindir Luna.


"Apa lu cebol? Nyindir?"


"Idih, kesindir. Iyuh."

__ADS_1


"Udah, yuk. Kalian kalo berantem sampe kiamat pun kayaknya ngga bakal berenti," sela Risa ikut menarik Luna. "Maap ya Kak Bayu, Kak Bara. Kami permisi."


***


Selama di perjalanan menuju kelas, Luna terus berceloteh mengenai Bara yang selalu membuatnya kesal, sementara Risa hanya menanggapi sekenanya saja.


Risa yang melihat tingkah aneh Kiara yang sedari tadi diam pun mulai menyikut Luna.


"Liat tuh, Lun. Yang akhir-akhir ini suka diem-dieman."


"Duh duh, lagi mikirin apa sih neng Kiara?"


Kiara tersenyum kecil. "Nggak pa-pa. Cuma lagi mikirin ceramah Pak Akmal tadi. Hehehhe."


"Widih, pikirannya masih di sana. Ada apa emangnya? Kayaknya membekas banget deh ceramah Pak Akmal tadi."


"Hm, aku cuma mikir aja. Kalo yang dibilang Pak Akmal tadi itu ada benernya juga. Hehe."


"Hmm, jangan-jangan sebelum lo denger ceramah Pak Akmal, lo mau ngajak Kak Bayu pacaran! Iya? Ya ampun, Ra! Pikiranmu!" tebak Luna asal.


"Nggak gitu, Lun. Ya ampun, ada-ada aja kamu. Aku cuma mikir bahwa emang pacaran itu buat apa sih? Terlebih di saat umur kita masih baru beranjak remaja. Buang-buang waktu banget gak sih?"


"Hmm, bener juga sih. Hahaha. Tapi coba lo ngomong gitu di depan orang yang lagi kasmaran. Nggak mempan, Ra."


"Hm, gitu ya? Kok bisa?"


"Ya gitu deh, godaan setan kalo kata Pak Akmal. Bahkan *** ayam bisa berbau coklat asal lo tau."


"Hah? Kok gitu?"


"The power of syaiton, Ra."


Kiara dan Risa menggeleng pelan mendengar ucapan Luna. "Ada-ada aja kamu, Lun."


"Eh, tapi. Gue masih penasaran. Ra, lo beneran udah nggak ada rasa lagi ama Kak Bayu? Bukan rasa sih, lebih tepatnya, apa ya? Kayak... umm, lo udah nggak pengen deket lagi gitu sama Kak Bayu? Lo nggak sadar apa kalo Kak Bayu tadi liatin lo terus?"


"Hmm, mungkin emang cukup sampai di sini aja sih, Lun. Aku nggak mau lagi ngejar-ngejar atau semacamnya. Malu atuh. Nanti yang ada aku dibilang ganjen lagi. Nggak ah."


"Gue ngedukung keputusan lo, Ra. Lagian kalo cewek ngejar cowok itu emang terkesan gimanaa gitu ya. Yaa emang sih nggak salah, cuma keliatan aneh aja. Apalagi kalo si Kiara, wuih, keliatan banget kalo lagi kesemsem sama Kak Bayu. Mukanya jujur banget, gak tau sembunyi-sembunyiin perasaan."


Luna terbahak mendengar penuturan Risa, sementara Kiara hanya terkekeh pelan.


Setidaknya aku punya mereka. Yang sering ngingetin di saat salah dan merangkul di saat sedih.


Untuk hatiku, biarlah menjadi urusanku dengan Allah.

__ADS_1


***


Sudah apdet, jangan lupa vote dan komennya ya💕💕


__ADS_2