
Jangan lupa vote dan komentarnya🌹🌹
.
.
.
"Eh, ada apa sih rame-rame?"
Luna mendekat ke arah mading lalu menyusup maju di antara puluhan siswa yang mengerumuni papan pengumuman itu.
"Wuih, udah ada aja ya kandidat calon ketua OSIS?" gumam Luna takjub.
"Iya. Yah, sayang banget Kak Bayu harus tergantikan," tambah salah seorang siswi perempuan yang berdiri tepat di samping Luna. "Tapi Kak Bayu tetap tak tergantikan di hatiku."
Orang-orang yang mendengar ucapan perempuan itu pun berkoor 'Huuu' secara bersamaan. Luna sampai beranggapan bahwa si ketua OSIS ternyata luar biasa tenar. Bahkan di kalangan adik kelasnya.
Merasa sudah cukup melihat berita hari ini, Luna pun akhirnya memutuskan untuk pergi menemui Kiara dan Risa di kelas.
"Guys, guys. Gue ada info terhangat, nih!"
Risa dan Kiara yang tadinya sibuk bergosip ria akhirnya menoleh secara bersamaan.
"Ada apa, Lun?" tanya Kiara dengan tampang bingungnya.
"Itu, tadi gue kan lewat di deket mading. Di sana tuh rame banget. Gue penasaran, dong. Nah, pas gue lihat ternyata di mading ada info kandidat calon ketos!" jelas Luna dengan antusias. Kedua telapak tangannya bahkan mengepal di atas meja saking semangatnya.
Kedua mata Risa membulat karena terkejut. "Wih, bentar lagi Kak Bayu bakal jadi mantan ketos, nih."
"Iya, udah jadi mantan aja. Jadian aja belum. Iya kan, Ra?" tanya Luna dengan tatapan jahilnya.
Kiara mengatupkan bibirnya hingga membentuk garis lurus. "Ngomong apa sih, Lun? Ya wajar lah, kan Kak Bayu udah kelas tiga kan? Jadi dia emang harus digantikan, toh dia juga bakal sibuk ujian nasional kan nantinya."
Risa dan Luna saling lempar senyum, sementara Kiara sibuk memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Eh, ke mushollah, yuk," ajak Kiara.
Risa melirik ke arah jam yang tergantung di dinding, perlaham ia pun bangkit dan mengambil mukenah dari dalam tasnya.
"Yaudah, yuk."
"Bentar. Gue ambil mukenah dulu."
"Lo bawa mukenah kan, Ra? Jangan sampai kejadian saat lo mau minta mukenah ke Kak Bayu terulang lagi."
Luna cekikikan mendengar ucapan Risa, sementara Kiara hanya bisa menggeleng pelan. Sebenarnya ia pun merasa malu mengingat kejadian itu, tapi ya sudahlah. Toh, sudah terjadi juga, kan?
Ketiganya pun akhirnya berjalan beriringan menuju mushallah. Kalau biasanya mereka mengambil jalan di pinggir lapangan, kali ini mereka memilih berjalan di dekat gudang. Bukan karena tanpa sebab, sekarang di sana sedang ramai karena ada pertandingan sepak bola antar kelas. Baik Kiara, Luna dan Risa pun tak habis pikir, siang-siang bolong begini kenapa mereka bermain bola.
__ADS_1
Risa menyenggol lengan Kiara dan juga Luna. "Ih, lewat pinggir lapangan aja deh, Lun, Ra. Tuh, liat. Di depan banyak senior, pada ngerokok pula. Ish."
Di depan gudang memang selalu menjadi tempat nongkrong anak-anak berandal seperti mereka. Bahkan tidak jarang menjadi tempat bersembunyi untuk mereka yang ingin bolos.
"Eh, iya, ya. Putar balik aja deh," ucap Kiara menyetujui ucapan Risa.
Namun, di antara mereka bertiga hanya Luna lah yang menolak. "Aduh, tanggung banget deh. Kita tinggal lewat aja. Nggak usah digubris."
"Kalo kita digangguin gimana?"
"Nggak bakal. Kalau pun mereka gangguin, kita tinggal teriak aja. Gampang kan?"
Risa berdecak sebal dengan pemikiran simpel sahabatnya itu. "Ck! Lun, nggak semua kejadian di bumi ini berjalan sesuai dengan dugaan kita. Kita ya kudu waspada juga lah."
"Aduh, bukannya gitu, Neng geulis. Kita emang nggak tahu kejadian apa yang akan terjadi kalau kita lewat di depan mereka. Tapi kan jalanan di sekolah ini adalah hak semua siswa."
"Udah, udah. Ki-kita lewat saja. Udah keburu iqamah ntar. Intinya, jangan ada yang noleh atau gimana-gimana selagi kita jalan. Biarin aja mereka mau gimana, pokoknya kita budekin telinga selama lewat di sana. Oke?" jelas Kiara seraya berusaha meyakinkan dirinya.
"Oke. Bismillah."
Seraya menunduk sedikit, Kiara dan Risa berjalan seraya bergandengan tangan. Sementara Luna tetap menatap ke depan penuh keyakinan. Menurut prinsip Luna, lelaki yang melihat tatapan lemah perempuan bisa saja semakin enak menjadi sasaran empuk lelaki berandal. Tetapi, tak bisa dimungkiri, pikiran orang siapa yang tahu? Termasuk lelaki. Bisa saja mereka merasa semakin tertantang. Tapi, gaya Luna memanglah seperti itu. Meski pun perempuan, dia juga tetap harus terlihat tegas meski itu terlihat hanya dari tatapan.
"Wuih, tiga bidadari turun dari surga tuh, bro."
"Ckckck, maasyaAllah. Ajakin Abang dong, Neng."
"Suit suit. Hei, manis."
Tahaaaan tahaaan tahaaan, Lun. Jangan cari gara-gara. Inget, ada tiga nyawa yang jadi taruhannya kalo lo gegabah.
Dengan langkah dipercepat, akhirnya mereka bertiga bisa sampai di mushallah dengan keadaan selamat.
"Huhft, gila. Capek juga ya jalan cepat kayak gitu," keluh Risa masih ngos-ngosan.
"Hahaha, itung-itung olahraga."
Baru beberapa menit mereka rehat, tiba-tiba suara iqamah mengagetkan ketiganya.
"Eh, buruan deh kita wudhu."
Setelah berwudhu dengan kecepatan maksimal, Kiara, Luna dan Risa akhirnya terburu-buru memakai mukenah dan dengan segera menyambung shaf yang masih kosong.
Assalamu'alaikum warahmatullah.
Assalamu'alaikum warahmatullah
Setelah salam, mereka pun akhirnya bersalam-salaman dengan guru dan teman-teman yang kebetulan hadir di sana. Sebuah rutinitas ketika mereka selesai melaksanakan salat.
"Pak Didi ada kan?" tanya Luna seraya melipat mukenahnya.
__ADS_1
"Hm, tadi ada tuh. Kamu nggak lihat dia salat?" jawab Kiara ikut melipat mukenahnya.
"Nggak, gue terlalu khusyuk. Hih, ketahuan nggak khusyuk nih salatnya. Lirik siapa coba? Kak Bayu? Hihihi," goda Luna.
Kiara mendelik ke arah sahabatnya itu. Bisa-bisanya mereka berpikir sampai ke sana. "Ya nggak lah. Tadi sebelum salah aku emang lihat Pak Didi juga baru dateng. Bleww."
"Hmm iyain biar cepet. Haha."
"Yuk, ah. Buruan. Keburu Pak Didi duluan masuk ke kelas."
Ketiganya bergegas ikut mengantre keluar mushallah. Pasalnya, siswi yang lebih dulu keluar sedang sibuk memasang kembali kaos kaki dan juga sepatunya.
"Kamu kenapa?"
"Itu, sandalku hilang."
Risa menoleh mendengar keluhan itu, tak jauh, Risa bisa melihat Tiyas dan Bayu yang sedang mengobrol perihal sandal Tiyas yang hilang.
"Ya udah, ini pake sandal aku aja."
"Terus, kamu?"
"Gampang sih."
Kedua mata Risa melotot terkejut melihat tingkah gentel Bayu. Kemudian tanpa mengalihkan tatapannya dari Bayu dan juga Tiyas, ia menepuk pundak Kiara dan juga Luna.
"Guys, guys. Lo buruan deh nengok kesamping. Ada adegan roman picisan tuh."
Karena penasaran dengan kehebohan Risa, baik Kiara dan Luna pun akhirnya menoleh ke arah yang ditunjukkan. Dan benar saja. Mereka menemukan Bayu dan juga Tiyas yang sedang mengobrol dengan penuh senyuman.
"Gils gils gils! Kak Bayu kok bisa seromantis itu???? Gils gils gils!!!" jerit Luna tertahan.
"Hush! Jangan berisik, Lun. Nikmati ajalah adegan Kak Bayu bersama sepupunya itu," tegur Risa. "Iya, kan, Ra?"
"Hmm,"
"Cieee. Rasa-rasanya ada bau-bau gosong nih. Hihihi. Tenang, Ra. Nggak mungkin juga kan mereka bersama. Toh, mereka kan sepupuan," ujar Luna menenangkan.
"Siapa bilang, guys. Bahkaaaaan nih ye. Sepupu pun juga bisa dipupuk, loh. Mereka kan bukan mahram. Uhuy."
Entah mengapa, jantung Kiara seperti ada yang menusuk-nusuk mendengar ucapan Risa.
Apa ini yang namanya sakit tapi tak berdarah?
***
Apdet~
Yuhu, happy reading 💕
__ADS_1
P.s: cek typo