
SELAMAT HARI RAYA IDULADHA SEMUANYA :)
.
.
.
"Lun, dapet salam tuh." Risa menaruh buku paket Sosiologinya di atas meja.
"Hah? Apa lo bilang?" tanya Luna seraya melepas satu earphone dari telinganya.
"Lo dapet salam dari Kak Bara," ujar Risa memperjelas.
Kening Luna mengernyit bingung. "Kak Bara? Yang mana tuh?" Luna mem-pause lagu yang didengarnya lalu fokus pada Risa.
"Itu loh, temen Kak Bayu yang gayanya slengean."
"Yang pake anting di telinga kayak cewek itu?" tanya Luna heboh. Risa mengangguk membenarkan.
"Ya ampun, ogah gue. Ya Allah."
Risa terkekeh pelan. "Heh, yang ada kalo orang salam tuh dibales. Minimal balesnya waalaikumussalam gitu."
"Tapi gue ogah kalo sama dia, ih! Dia tuh orangnya sok-sokan banget tauk. Hiih. Sok cakep."
Risa menggeleng pelan. "Yaudah sih. Gue cuma nyampein aja ke lo."
Luna mengetuk pelan mejanya menggunakan jemarinya. "Ris, lain kali lo acuhin aja tuh makhluk astral. Oke? Nggak mau tau gue," pintah Luna penuh penekanan.
"Emang Kak Bara kenapa sih? Segitunya lo kesal sama dia."
"Nggak papa. Cuma kesel aja liat gaya sok-sokannya dia. Berasa paling cakep apa di sekolahan. Noh, Kak Bayu yang cakepnya nggak ketolong bisa biasa aja."
"Hush hush. Pada ngomongin apa sih? Kayaknya seru amat." Kiara menyerahkan roti sandwich pada Luna dan Risa yang langsung diterima oleh keduanya dengan mata berbinar.
"Itu, si Luna dapet salam dari Kak Bara," jawab Risa sekenanya.
"Hah? Kak Bara? Yang mana tuh?"
"Yang kata Luna sok cakep itu."
Kiara menggaruk pelan kepalanya yang tertutup hijab. Otaknya yang lemot berusaha mengenali ciri-ciri 'sok cakep' yang disebut Risa.
"Yang mana sih? Otakku failed kalo ciri-ciri yang disebutin cuma 'sok cakep'."
Luna berdehem pelan. "Otak lo emang selalu failed kok. Nggak heran."
Kiara melotot ke arah Luna sementara Risa sudah terbahak mendengar ucapan ceplas ceplos dari Luna.
__ADS_1
"Hahahh. Itu loh, Ra. Temennya Kak Bayu yang pake anting."
Kiara menjentikkan jemarinya. "Oh tau! Yang pinter itu kan, ya?"
Risa dan Luna saling tatap beberapa menit, lalu mengangkat bahu masing-masing tak mau tahu dengan spekulasi-spekulasi Kiara tentang sosok Bara.
Kalau kata Luna. Biarkan otak Kiara berkembang dengan sendirinya.
***
Adzan di mushollah sekolah mulai berkumandang, Kiara bersama Luna dan Risa pun bersiap-siap untuk melaksanakan salat dhuhur.
"Ra, mukenah lo mana?" tanya Risa saat melihat Kiara tidak memegang mukenah seperti biasanya.
"Lupa bawa," jawab Kiara singkat.
"Gak papa. Di ruangan kecil yang ada di mushollah kan ada mukenahnya tuh."
Risa dan Kiara mengangguk menyetujui ucapan Luna. Sembari menunggu yang lain antri untuk berwudhu, Kiara meminta Luna dan Risa untuk menemaninya mengambil mukenah di ruangan yang terletak tepat di samping tempat khusus untuk imam salat.
Luna menyenggol lengan Kiara yang masih bergeming ragu. "Buru elah. Ini bentar lagi mau iqamah. Kita wudhu aja belom."
"Bentar dulu, Lun. Di ruangan itu kayaknya banyak anak cowoknya. Aku kan malu kalo musti masuk ke sana," ujar Kiara seraya meremas jemarinya pelan.
"Ya ampun, lo tinggal ambil. Nggak usah hirauin mereka lah."
Mau tak mau akhirnya Kiara mengekor di belakang Risa. Saat sudah berada di depan pintu ruangan kecil khusus untuk menyimpan karpet dan perlengkapan salat itu, baik Risa mau pun Kiara mendengar ada beberapa suara anak lelaki yang sedang membahas mata pelajaran yang entah apa itu.
"Duh, Ris. Aku malu. Mereka lagi rame di dalem. Udah ah, aku pinjem mukenah kamu aja," keluh Kiara.
"Udah telanjur di sini juga, Raaaa. Buru, ih."
Kiara berusaha menarik tangan Risa agar segera berlalu dari sana, namun belum sempat kaki mereka melangkah, seseorang keluar dari ruangan itu karena merasa ada ribut-ribut meski kedengaran samar-samar.
"Mau minta mukenah ya, Dek?" tanyanya.
"I-iya, Kak."
"Siapa, Bar?" Bayu ikut keluar setelah mendengar perbincangan antara Bara dengan seseorang.
"Ini, Bay. Ada yang minta mukenah," jawabnya.
"Oh."
Kiara meremas jemari Risa salah tingkah. Ia tidak menyangka jika ada Bayu di dalam ruangan itu. Atau otaknya saja yang lemot mencerna situasi dan kondisi? Karena seharusnya ia sadar lebih awal bahwa selain Bara dan teman-temannya yang lain, Bayu juga termasuk murid yang sering nongkrong di mushollah sekolah.
"Emang udah siap dihalalin, Dek?"
"Hah?" Kening Kiara mengerut, bingung dengan arah pembicaraan kakak kelasnya itu.
__ADS_1
Bara tersenyum tipis. "Kan biasanya cewek dikasi seperangkat alat salat dibayar tunai, Dek. Ya kan, Bay?" tanya Bara seraya menyenggol pelan lengan Bayu.
"Hemm."
Kedua pipi Kiara sukses memerah. Apa-apaan itu? Bisa-bisanya Bara menyangkutpautkan mukenah yang ingin dipinjam dengan seperangkat alat salat dibayar tunai, kan Kiara jadi baper. Kalau mau diperhatikan, bukan hanya Kiara sih. Tapi Risa yang notabene ada di tempat itu juga merasakan kebaperan yang sama.
"Jadi?"
Kiara mendongak menatap Bayu dan Bara bergantian. "Jadi apa, Kak?" tanya
"Jadi kamu udah siap dihalalin apa belom, Dek?" Bara menahan senyumnya melihat Kiara semakin salah tingkah. "Becanda, becanda. Salting gitu. Hehe. Ngomong-ngomong, temen kamu yang satu mana?"
"Y-yang mana, Kak?"
"Itu, si cerewet Luna."
"Oh, haha. Dia di sana, Kak. Di deket tempat wudhu."
Bara mengangguk. "Salamku udah disampein belum?"
"Udah, Kak. Katanya Kakak bagusnya diacuhin aja," ujar Risa jujur.
Bara melototkan kedua matanya. "Apa-apaan itu? Bilang ke dia, dia nggak bisa ngacuhin calon jodohnya," kata Bara tak terima.
"Iya, Kak. Nanti kusampein."
"Gimana? Mau dikasi seperangkat alat salat sama Bayu, nggak?"
"MAU, KAK!" Kiara menutup mulut menggunakan kedua tangannya saat sadar apa yang diucapkannya terlalu frontal.
"Wuih, Bay. Segerakan!" timpal Bara seraya terkekeh geli melihat Kiara yang salah tingkah. Sementara Bayu hanya tersenyum tipis menanggapi.
"Eh? Maksud aku... aku mau ambil mukenah, Kak!" elak Kiara.
Risa menepuk pelan jidatnya. "Ya Allah, tolong karuniakan sahabatku ini otak yang nggak lemot, ya Allah."
***
Wkwkwk, Kiara si lemot. Bikin kepala migrain tiba-tiba kalo ngomong sama dia. 😅 tapi lucuuuuu, jujur aja, aku sendiri tiap nulis adegan Kiara itu kadang suka senyum-senyum gak jelas. 😄
Btw, apakah kalian ikut berkurban tahun ini? Atau bukannya kurban sapi, kalian justru kurban perasaan? Uhuk
Cusss, tinggalin jejak guys❤️
IG: windyharuno
__ADS_1