Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)

Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)
15. Teletubies


__ADS_3

Jangan lupa vote dan komen🌹


***


"Lun, kamu bawa kan uangnya?" tanya Kiara seraya mencolek lengan Luna yang saat ini berjalan bersamanya.


"Hmm, tau kan kenapa gue daritadi meluk-meluk tas gue kayak gini?" Kiara menggeleng tak mengerti. "Ya karena di dalam tas ini ada duit, Ra."


"Hooo, iya, iya. Nanti kita ngasi duitnya pas istirahat aja, ya. Biar nggak ada yang lihat."


"Iya."


Dari jauh, Kiara tak sengaja melihat Risa yang ternyata memilih jalan lain menuju kelas mereka. Ya, selain jalanan umum, jalan lain agar bisa sampai ke kelas mereka adalah jalanan di depan laboratorium IPA. Sedikit jauh jaraknya jika dibandingkan dengan jalan umum yang biasa dilalui para siswa, tetapi tidak sedikit juga siswa memilih untuk melewati jalan pintas itu. Mungkin karena terlalu malas berada di tengah keramaian?


"Risa!" panggil Kiara. Risa yang mendengar namanya dipanggil pun akhirnya menoleh. Ia pun segera melambaikan tangannya ke arah Kiara dan juga Luna.


Kiara dan Luna pun bergegas menghampiri Risa lalu berjalan bersama menuju kelas mereka.


Sesampainya di dalam kelas, ketiganya pun menaruh tas masing-masinh di atas meja. Kali ini tidak ada drama belum mengerjakan PR, karena tadi malam semua sudah mereka rampungkan. Sekali-kali jadi siswi teladan, masa yang mau dikenang nanti hanya sebagai status siswi yang selalu ngerjain PR di sekolah. Apa kata anak-anak mereka nanti?


***


Sesaat setelah bel istirahat berbunyi, baik Kiara, Luna dan juga Risa sama sekali tidak ada yang mau beranjak dari kursinya. Sementara siswa-siswi yang lain sudah buru-buru memasukkan buku beserta pulpen ke dalam tas masing-masing demi mengejar kursi kosong di kantin.


Melihat Kiara dan juga Luna tidak bergerak sama sekali dari tempat duduknya, Risa pun penasaran dan akhirnya menoleh. Jarang-jarang kedua sahabatnya itu tidak grasa grusu setelah mendengar bel istirahat.


"Kalian berdua nggak ke kantin?" tanya Risa dengan ekspresi aneh.


Kiara dan Luna menggeleng bersamaan. "Lo sendiri? Mau ke kantin nggak? Kalo lo mau kita ngikut," jawab Luna yang langsung disetujui oleh Kiara.


"Loh, kok tumben banget pengin ngikut gue? Gue kan bawa bekal. Nggak mau ah terlalu sering makan di kaantin. Itung-itung hemat juga, kan?" Risa mengambil kotak bekalnya lalu memamerkan pada Kiara dan juga Luna.


Kiara melotot tak terima. "Kok kamu nggak bilang-bilang pengin bawa bekal? Kan aku juga mau bawa!"


Risa tersenyum kecil melihat ekspresi Kiara yang sebal. Dia pun kembali merogoh ke dalam tas dan mengeluarkan dua kotak bekal lagi.


"Dih, bawa bekalnya banyaj banget lagi!" ujar Luna sewot.


Risa pun menyerahkan satu persatu kotak bekal itu di depan Kiara dan juga Luna. "Karena gue lupa ngasi tau kalo gue mau bawa bekal, jadi gue buatin tuh. Jangan pada ngomel lagi."


Kedua mata Kiara dan Luna berbinar senang. Dan tanpa banyak bicara lagi, keduanya pun membuka penutup kotak bekal itu dan melihat isinya.


"Wow! Ada sosis, sayur dan telurnya!" ujar Luna dengan semangat.


"Aku dapet ikan, sayur dan sosis, doooong! Ih, Risa tau banget deh kalau aku alergi telur," komentar Kiara.

__ADS_1


"Hm, iya, dong," timpal Risa berbangga diri.


"Eh, Ra! Jangan dimakan dulu!" teriak Luna saat melihat Kiara mulai mengambil sendok yang sudah disediakan oleh Risa.


Kiara memberenggut sebal. "Kenapa lagi sih, Lun. Aku udah laper banget ini."


"Tahan dulu bentar. Kita makannya di taman aja. Biar lebih mantuuuul!"


"Bener, bener! Ide yang bagus!"


Ketiganya pun akhirnya berdiri dengan kotak bekal di tangan masing-masing. Tidak lupa Luna sedikit menyenggol lengan Kiara untuk mengingatkan agar membawa tas yang berisi uang tabungannya.


Risa menatap aneh ke arah Luna dan juga Kiara yang saat ini tengah menyampirkan tasnya di bahu masing-masing. "Loh, kok pada bawa tas? Nanti dikira pengin bolos loh!"


"Nggak pa-pa. Pengin aja. Soalnya ada barang berharga di sini, Sa. Kalo nggak dibawa takut ilang," jawab Kiara dengan Luna yang mengangguk mengiyakan.


"Oh, gitu. Ya udah, yuk."


Sesampainya di taman, ketiganya mengambil posisi tepat di bawah pohon besar yang ada di sana. Beruntung di taman itu sedang tidak ada orang, jadi mereka bebas mau mengobrol apa saja.


"Eh, duduk sini, sini."


"Wah, nggak sabar nih gue pengin makan. Lapeeerrr."


Ketiganya pun mulai mencicipi bekal yang dibawa oleh Risa. Tak henti-hentinya Kiara dan Luna memuji masakan Risa. Tidak heran, karena bekal itu dibuat dengan penuh rasa terima kasih untuk kedua sahabatnya itu karena telah berhasil menenangka hatinya kemarin hingga detik ini. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada hatinya jika tidak memiliki mereka.


"Resepnya cuma dibumbui dengan cinta dan kasih sayang."


Luna mengerjapkan kedua matanya. "L-lo nggak lagi sedang jatuh cinta, kan? Kalo pun iya, siapa cowok itu? Kok lo nggak pernah bilang-bilang?"


Risa menggeleng seraya tersenyum lebar. Melihat tingkah Luna yang selalu berlebihan selalu sukses membuatnya takjub. "Hahaa, nggak. Lo salah. Gue nggak lagi jatuh cinta, kok. Gue cuma lagi seneng aja pas buatnya. Dan gue seneng karena milikin kalian berdua," jelas Risa yang langsung membuat suasana seketika menjadi haru.


"Ih, kok aku terharuuu." Kiara memeluk Risa dari samping dan diikuti pula oleh Luna. Saat tengah sibuk saling berpelukan, Kiara pun teringat dengan uang yang ada di tasnya. Segera ia melepas pelukan dan merongoh tas miliknya.


"Nih, buat kamu."


Risa mengerutkan keningnya melihat amplop cokelat yang disodorkan oleh Kiara. Dan tak lama, Luna pun ikut menyusul memberikan sebuah amplop cokelat.


"A-apa ini?" tanya Risa bingung.


"Ini ada sedikit bantuan dari kami berdua. Dan tolong, Sa. Jangan ditolak." Luna menarik tangan Risa dan menyerahkan amplop miliknya dan juga Kiara.


"Tapi, bentar. Ini ... apa? Maksud gue, bantuan?"


"Ini bantuan dari kami berdua untuk membayar cicilan buku paket kamu, Sa. Diterima ya walau sedikit. Kami harap semoga bisa membantu kamu."

__ADS_1


Risa tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya itu. Keduanya terlalu sulit untuk ditebak. Dia tidak menyangka, jika curhatannya kemarin akan ditanggapi dengan segera oleh mereka.


"Tapi ini–"


"Ssst! Nggak usah banyak ngomong. Ini diterima aja."


"Tapi ini kebanyakan, Lun."


"Nggak pa-pa. Kita kan teman, jadi harus saling bantu," timpal Kiara yang kembali memeluk Risa.


Tidak tahu harus bagaimana lagi, Risa pun membalas pelukan Kiara diikuti Luna yang juga merangkul keduanya.


"Makasih banget, ya, Lun, Ra. Gue nggak tau harus bagaimana lagi ngucapin terima kasihnya."


"Hehehe, bekal yang tadi udah impas, kok."


"Ahhahaha."


Saat tengah sibuk mengharu biru, tiba-tiba Bayu dan Bara tak sengaja melihat adegan mengharukan itu. Bara yang pada dasarnya memang senang mengganggu mereka pun memutuskan untuk mendatangi mereka.


"Bar, mau ke mana?" tanya Bayu heran karena jalan yang dituju Bara bukanlah jalan menuju kelas mereka.


"Bentar, Bay. Gue mau ke sono noh. Kayanya lagi seru tuh."


"Astaghfirullah, Bar. Nggak usah digangguin napa?"


"Udah lah, Bay. Ikut aja sini."


Mau tak mau Bayu pun akhirnya mengikuti Bara yang sudah lebih dulu menghampiri ketiga sahabat itu.


"Wuih, ada teletubies, nih. Eh, tapi ... PO-nya mana? Kok cuma bertiga?" tanya Bara tiba-tiba sehingga membuat Kiara, Luna dan Risa otomatis melepaskan pelukannya.


"Kakak Po-nya!" balas Luna dengan nada kesal karena merasa momen haru mereka telah diganggu.


"Oh? Ya udah sini kupeluk." Bara mendekat ke arah ketiganya, namun bukannya menyambut, mereka justru menghindar.


"Hih! Apaan sih!"


Ketiganya pun akhirnya berlari menghindar dari Bara yang mengganggu. Membuat Bara dan Bayu sukses terkekeh geli.


***


Apdet lagi. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, guys. Thankyou💕💕💕


 

__ADS_1


 


__ADS_2