Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)

Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)
7. Belajar Menjauh


__ADS_3

Mengetahui bahwa Bayu sedang dekat dengan seorang perempuan membuat hati Kiara sedikit merasa minder. Bagaimana tidak, laki-laki yang ternyata diidam-idamkannya itu sudah dekat dengan perempuan lain.


Ra, mulai sekarang, lo harus kondisiin hati lo. Jaga sikap. Jaga pandangan juga.


Kiara menghela napas pelan. Mulai hari ini ia harus belajar untuk menjauh sejauh-jauhnya dari orang yang bernama Bayu. Seperti niatnya kemarin-kemarin. Semoga niat ini dilancarkan agar tak ada lagi hati yang berharap.


"Selamat pagi, Kiara. Apa kabar?" tanya Luna dengan nada riang. Perempuan itu kemudian menaruh tasnya di atas meja tepat di samping meja Kiara.


"Baik," jawab Kiara sekenanya.


"Kalo... hati kamu?"


Kiara mendelik tajam ke arah Luna. Maksudnya apa coba?


Bukannya takut, Luna justru terbahak melihat respon sahabatnya itu.


"Idih, tatapannya sewot amat, Neng. Gue kan cuma nanya."


Tak menghiraukan ucapan Luna, Kiara mengambil buku paket bahasa indonesianya dan mulai membaca ulang materi yang akan dipelajarinya saat jam pertama nanti.


"Assalamualaikum, ya ukhti," sapa Risa.


"Waalaikumussalam, ya ukhti," balas Luna.


Risa menatap Kiara yang hanya diam tak menjawab salamnya. "Idih, ni anak. Orang salam tuh kudu dijawab," sewot Risa tak terima salamnya dicueki.


"Waalaikumussalam," balas Kiara singkat.


Risa menaikkan sebelah alisnya heran melihat tingkah judes Kiara. "Dia kenapa sih, Lun? Judes amat."


Luna mengangkat kedua bahunya. "Nggak tau, tadi gue cuma nanya apa kabar, eh dia malah sewot gitu."


"Ada apa sih, Ra. Cerita dong. Kali aja kita nggak bisa bantu."


"Bisa bantu, Risa," kata Luna mengoreksi.


Risa tertawa pelan. Sementara Kiara tetap dengan wajah datarnya.


"Lagi PMS ya, Ra?"


Kiara menutup buku paketnya lalu menatap Risa dengan tatapan lesu. "Iya, aku lagi dalam mode PMS. Perjuangan Merelakan Sang idaman."


Risa dan Luna sukses melotot ke arah Kiara setelah mengetahui alasan di balik sikap aneh sang sahabat. Ternyata ini perkara hati.


"Apa-apaan itu? Sejak kapan seorang Kiara jadi Ratu galau kayak gini? Bener-bener gak bisa dipercaya."


Kiara menelungkupkan kepalanya di atas kedua lengannya yang ditekuk di atas meja. "Sejak aku melihat Kak Bayu bersama dengan perempuan lain."


Risa menutup mulutnya menahan tawa. "What the! Jangan bilang karena soal kemarin. Yang pas kita liat Kak Bayu lagi sama cewek itu?"


"Udah ah. Nggak usah diperjelas kali."

__ADS_1


"Ya ampuuuun." Risa menepuk jidatnya pelan. Sementara Luna sudah mati-matian berusaha menahan tawanya. Lucu saja melihat sahabatnya itu lesu dikarenakan cowok.


"Ehem, Ara! Dicariin sama Ketos tuh."


Kiara, Luna dan Risa mendongak bersamaan, menatap Galang sang Bendahara kelas dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa nyariin aku?"


Galang menggedikkan kedua bahunya. "Nggak tau. Dia cuma bilang pengin ketemu sama lo."


"Di mana?"


"Di depan tuh."


"Oh yaudah. Makasih ya, Lang."


Galang mengangguk singkat lalu berlalu dari hadapan ketiganya.


"Buset, kirain lo punya utang sama bendahara kelas, Ra," ujar Luna dramatis.


"Ternyata malah dicariin sama sang idaman hatiiii," sambung Risa.


Kiara mendengus pelan. Dalam hati jantungnya berdebar kencang.


Kenapa Kak Bayu nyariin aku ya? Aku kan nggak punya utang sama dia.


Kiara tersadar saat Luna tiba-tiba menyenggol pelan lengannya. "Buru, keburu Kak Bayunya pergi."


"Fighting!"


Memang terkesan lebay kedua sahabatnya itu, tapi Kiara sangat butuh support itu di saat-saat seperti sekarang ini.


Di dalam hati, Kiara terus merapalkan doa keselamatan dari rasa mengagumi dan rasa agar tetap teguh dengan pendiriannya untuk tetap menjauh dari Bayu. Tapi kenapa, di saat ia ingin menjauh, semesta seolah berkonspirasi mendekatkan keduanya.


Dari dekat, Kiara bisa melihat Bayu yang tengah bersandar pada tiang di depan kelas sambil membuka lembaran-lembaran buku yang entah buku apa itu.


"Ehem, Kak," panggil Kiara canggung.


Bayu yang tersadar akan kehadiran Kiara pun menegakkan tubuhnya. "Hai."


"Ha-hai, Kak."


Kiara meremas pelan rok-nya, sejujurnya ia bingung harus bagaimana. Pasalnya, Bayu juga seolah bingung mau menyapaika apa. Jadilah suasananya menjadi hening seperti rumah kosong yang tak berpenghuni.


"Ada apa ya, Kak?"


"Oh iya. Ini ada buku paket dari Bu Suzana. Katanya ini buku kamu."


Kiara mengingat-ingat saat bu Suzana meminjam buku sejarahnya. Oh iya, sudah satu minggu yang lalu. Dan hampir saja ia lupa. Jadi bu Suzana waktu itu memang sempat meminjam buku paketnya karena katanya, buku paket milik Kiara adalah keluaran terbaru. Jadilah Kiara meminjamkannya.


"Oh iya, Kak. Makasih ya. Dan maaf karena udah ngerepotin."

__ADS_1


Bayu mengangguk pelan. "Bu Suzana bilang terima kasih. Beliau nggak sempat ngasi langsung ke kamu karena kemarin dia berangkat umroh."


"Oh gitu, ya. Sekali lagi makasih ya, Kak."


"Iya, sama-sama."


"Ka-kalo gitu aku masuk dulu ya, Kak."


"Iya."


Kiara berbalik sambil memainkan lembaran-lembaran bukunya salah tingkah.


"Dia bukan siapa-siapa."


Kiara menghentikan langkahnya lalu berbalik. Namun yang didapatinya hanyalah Bayu yang melangkah menjauh hingga menghilang di ujung koridor kelas.


"Kak Bayu tadi ngomong apa ya? Atau cuma perasaanku aja?" gumam Kiara.


Tak mau ambil pusing, Kiara melangkah memasuki kelasnya masih dengan debaran yang sama.


"Ciyeee yang abis ketemuan," goda Luna.


"Uhuk, uhuk."


Kiara meletakkan buku paketnya di atas meja. "Nggak kok, Kak Bayu balikin ini. Dari Bu Suzana."


"Eh, bentar-bentar. Gue mau nanya, kali aja kalian salah satu fansnya Bu Suzana. Jadi gini, entahlah apa cuma gue aja yang ngerasa tiba-tiba merinding kalo denger nama Bu Suzana atau kalian juga ngerasa?" tanya Luna dengan nada pelan.


"Ya ampun, Lun. Kirain lo mau bilang apa. Udah ah, balik lagi ke kak Bayu. Terus? Gimana?"


"Ya nggak gimana-mana. Cuma ngasi buku ini terus udah."


"Udah? Gitu doang?" Kiara mengangguk pelan. "Kirain dia nge-khitbah lo gitu."


"Mana bisa. Masih SMA juga. Belom siap lahir batin. Lagian, aku juga udah mau belajar ngejauh."


"Eh? Eh? Bentar. Kok lo nyerah gitu sih. Sebelum janur kuning belum melengkung, lo masih bisa nikung. Tapi nikungnya yang berkelas, nikungnya di sepertiga malam."


Kiara tersenyum lembut. Segeser-gesernya otak sahabatnya itu, tetap saja mereka teman-teman terbaik yang dia miliki sejauh ini.


***


Aa' Bayu update😄


Tinggalin jejak guys...❤️


P.s: cek typo


 


 

__ADS_1


__ADS_2