
Jangan lupa vote dan komentarnya💕
-----------
"Assalamu'alaikuuuuuum," teriak Luna diikuti Kiara di belakangnya. Hari ini mereka berdua memang berangkat bersama. Rutinitas Luna setiap hari. Kalau bukan berangkat bersama Kiara, pasti dia berangkat bersama Risa. Tapi tak jarang pun Luna juga berangkat sendiri jika Indra–Kakak Kiara dan Alif–Kakak Risa menyempatkan diri untuk mengantar adik masing-masing.
"Eh? Neng Risa. Tumben banget dah dateng awal. Kesambet apa, Neng?" tanya Luna sambil menaruh tasnya di atas meja. Hal itu tentu disetujui oleh Kiara, jarang-jarang Risa datang lebih awal seperti sekarang ini. Biasanya, Kiara lah pemecah rekor siswa yang datang paling cepat.
Risa tersenyum tipis menanggapi ucapan Luna. Sementara Kiara yang lewat tepat di samping Risa tidak sengaja melihat ada lebam tipis di sudut bibir Risa.
Kok sudut bibir Risa lebam? Apa dia habis jatuh?
Kiara bisa saja bertanya, tapi diurungkan. Menurutnya, Risa tidak mungkin tinggal diam. Pasti nanti dia juga cerita. Tinggal tunggu waktunya saja.
"Guys, kemarin gue lihat kandidat ketua OSIS dan wakilnya, loh! Udah pada liat belom?" tanya Luna seraya mengeluarkan pulpen dan buku ekonominya.
Kiara yang tadinya sibuk mengutak atik hp pun akhirnya penasaran. Dia sama sekali tidak tahu menahu mengenai pemilihan ketua OSIS beserta wakilnya. Wajar saja, sejak masuk di SMA Gemilang, bisa dihitung jari berapa kali Kiara mengunjungi mading sekolah. Berbeda dengan Luna dan Risa yang rajin mengecek info-info baru apa saja yang ada di sana.
"Wah, siapa aja kandidatnya?"
"Kak Kevin, Kak Rima dan Kak Satya," jawab Luna.
Melihat Risa tidak menggubris obrolannya dengan Luna, Kiara pun berinisiatif untuk memancingnya.
"Ris, kalau kamu nanti mau milih siapa?" tanya Kiara seraya mencolek bahu Risa.
Risa pun menoleh dengan sedikit kaku. Sedikit-sedikit menoleh ke depan lalu ke belakang lagi seperti sedang menghindari sesuatu.
Ada apa sih dengan Risa? Kok dia hari ini aneh banget?
"I-itu, um. Masih bingung mau milih yang mana."
Luna menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak pelan. "Ckckck. Kan belom ada penyampaian visi misi, Ra. Ya jelas Risa belom tau lah mau pilih yang mana. Bener kan, Ris?" Risa mengangguk samar. "Kecuali gue, dong. Gue mah bakal milih Kak Satya si manis dari kelas sebelas IPA empat."
"Loh, kok gitu? Katanya belum ada visi misi."
"Oya, doooong. Aku milih Kak Satya kan karena dia manieeeesssst. Manis kayak es teh kesukaanku di kantin," ujar Luna sambil cekikikan.
Kiara tertawa pelan. Namun kedua matanya tak lepas dari gerak gerik Risa.
"Eh, ke kantin, yuk. Aku mau beli roti, nih. Laper, tadi Luna cepet banget datengnya sampai aku sarapannya cuma dikit," ajak Kiara.
__ADS_1
"Bentar, bentar. Dikit lagi." Luna buru-buru menyelesaikan tugasnya yang semalam belum selesai. Tapi beruntungnya, dia sudah melipat kertas di mana jawaban dari soal-soal itu berada. "Oke. Udah. Cusss!"
"Sa, yuk," ajak Luna saat melihat Risa sama sekali tidak menunjukkan pergerakan. "Nggak mau ikut lo?"
Risa menggeleng pelan. "Nggak deh, Lun. Kalian aja."
"Atau, lo mau nitip aja?" Risa menggeleng.
Luna tentu tidak bisa memaksa, maka dari itu dia pun menggaet lengan Kiara yang masih mematung menatap Risa dengan tatapan khawatir.
"Dia nggak mau ikut," ucap Luna memberitahu Kiara. Maka, tidak ada alasan lagi untuk Kiara menunggu Risa bergabung bersama mereka pagi ini.
Saat tengah berjalan menyusuri koridor menuju kantin, Kiara berinisiatif untuk bertanya pada Luna. Apakah kekhawatirannya pada Risa juga dirasakan oleh sahabatnya itu?
"Lun," panggil Kiara.
"Hm?"
"Um, kamu nggak lihat ada yang aneh dengan Risa?" tanyanya ragu.
Kening Luna mengernyit. "Aneh? Nggak tuh. Emang kenapa?"
"Kamu nggak lihat ada lebam tipis di sudut bibirnya Risa? Terus, seperti kata kamu kan tadi. Risa tumben banget dateng cepet. Dan, dia juga nolak untuk pergi ke kantin bareng kita. Terus, respon dia terkait pemilihan ketos juga nggak seantusias biasanya. Ya, kan?"
"Ya ampun, Lun. Serius. Coba kamu perhatiin, deh. Aku kan jadi khawatir."
"Ya udah. Balik ke kantin aku tanyain. Dia kan tipikal penyembunyi perasaan yang ulung." Kiara mengangguk menyetujui.
***
Segera setelah memesan tiga bungkus roti sandwich isi cokelat dan susu UHT tiga kotak, Luna dan Kiara pun kembali ke kelas. Dalam otak Luna, dia sudah menyusun pertanyaan-pertanyaan pamungkas untuk membuat Risa buka suara.
Sesaat setelah sampai di kelas, Luna pun menyerahkan sekotak susu UHT dan sebungkus roti di depan Risa.
"Makan tuh, biar kuat menghadapi kenyataan," ucap Luna mengambil posisi tepat di hadapan Risa, sementara Kiara duduk tepat di sebelahnya.
"Loh, gue kan nggak nitip, Lun."
"Nggak pa-pa, Sa. Dimakan aja," ucap Kiara sambil membuka bungkus rotinya.
Risa tersenyum tipis lalu mengambil roti itu. Kebetulan dia tadi tidak sempat sarapan karena langsung ke sekolah. Lagipula, tidak memungkinkan juga ia sarapan di saat sedang menghadapi masalah dengan mamanya.
__ADS_1
Luna memperhatika gerak gerik Risa, sebenarnya tidak ada yang aneh. Namun, lebam yang diucapkan Kiara benar adanya.
"Eh, Sa. Sudut bibir lo kenapa? Kok lebam?" tanya Luna basa basi.
Risa tentu saja langsung gelagapan. Sudah berusaha ditutupi dengan foundasion, ternyata masih saja kelihatan.
"Eh? Um, ini ... ini nggak papa, kok. Tadi gue cuma abis jatuh aja."
"Kok gue nyium bau-bau kebohongan, ya?"
Risa menggeleng keras berusaha menampik kecurigaan Luna padanya. Namun, bukan Luna namanya kalau tidak bisa membuat orang lain jujur.
Luna menggenggam tangan Risa yang sedikit gemetaran. Ia bahkan sampai berpikir bahwa yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Risa yang kemarin. Risa yang ceria dan cerewet. Dan sebagai sahabat, tentu hal itu membuat Luna dan Kiara tak bisa begitu saja menutup mata dan telinga.
"Sa, kita ini sahabat, kan?" Risa mengangguk. "Kalau gitu, jangan gini, dong. Gue tau lo pasti nyembunyiin sesuatu. Iya, kan?" tanya Luna mempererat genggamannya.
Kiara ikut menggenggam tangan Risa yang dingin. "Nggak papa, Sa. Kalau kamu belum mau cerita. Kami siap kok dengerin kapan pun kamu mau."
Risa tentu saja merasa terharu. Di saat terpuruknya masih ada yang mau peduli. Maka tanpa keraguan lagi, ia membalas genggaman sahabatnya.
"Lun, Ra. Sebenernya gue ada masalah di rumah." Risa menghela napas pelan lalu berusaha untuk melanjutkan ceritanya. "Mama. Mama akhir-akhir ini sering mukul gie. Dia nggak terima Lun, Ra kalau Papa di PHK dari kantornya. Mama yang dulunya serba berkecukupan mulai melampiaskan kemarahan dan kekesalannya sama gue. Sementara Papa udah nggak tau mau ngapain lagi. Gue ... gue jadi bingung harus ngapain juga," cerita Risa dengan napas sedikit tersengal. "Belum lagi, Mama dipusingin sama cicilan buku-buku gue yang belum lunas dan cicilan Mama yang lain. Gue bener-bener nggak tahu harus ngapain, Lun, Ra." Wajah Risa memerah karena berusaha menahan kesedihannya. Matanya bahkan berkaca-kaca. "Aduh, maaf banget ya, gue sampai kelepasan gini."
Luna berdeham pelan. "Nggak pa-pa. Ini yang kita butuhin sebagai teman. Kejujuran. Kan dengan begitu, kita bisa bantu lo dan nggak tinggal diem aja," ucap Luna menenangkan. "Lo tenang aja. Soal cicilan buku-buku lo, gue bakal bantu. Gue masih ada tabungan kok di rumah."
"Eh? Jangan, Lun. Nggak usah," tolak Risa. Jujur saja, ia merasa tidak enak sudah merepotkan sahabatnya itu.
Kiara menepuk lengan Risa. "Jangan ditolak dong Sa kalo ada yang mau bantuin. Apalagi ini temen sendiri. Jangan sungkan. Eh, aku juga masih ada tabungan, jadi kalau ada yang kurang aku bisa tambahin."
Risa tentu merasa tidak enak, apalagi kedua sahabatnya itu sudah terang-terangan akan menggunakan uanng tabungan mereka. Tapi, percuma juga menolak. Mereka berdua pasti punya cara lain agar ia mau menerima pemberiannya itu.
"Lagipula nih, ya, Sa. Siapa tau kalo gue bantu lo, lo mau ngerestui gue sama Kakak lo bersanding di pelaminan nanti." Ketiganya pun tertawa lepas mendengar ucapan Luna.
Setidaknya, ada alasan membuat yang sedih untuk tersenyum. Meskipun konyol, tak masalah. Itu lah sahabat.
***
Fiuuuh, akhirnya bisa apdet. Heehe~
Ada yang nungguin nggak, nih?😁
Di sini ada yang punya sahabat, kan? Kalau iya, ceritain dong hal konyol apa yang pernah kamu lakuin bareng sahabatmu.
__ADS_1
Kalau sahabatmu itu punya akun MT jangan lupa di-tag. Biar sama-sama ingat kalau pernah gila bareng😄