Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)

Cuma Ngefans, Kok! (SUDAH TERBIT)
16. Keluarga


__ADS_3

 


 


 


 


"Lun, udah di mana?"


"Gue singgah beli buah dulu, nih."


"Oh, iya. Sip sip. Tiati, ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Memanfaatkan hari libur hari ini, Kiara dan Luna memang memutuskan untuk menjenguk Mama Risa yang katanya sedang sakit. Entah sedang sakit apa, tapi dari penjelasan Risa tadi malam sepertinya sakitnya tidak terlalu parah. Tetapi, sebagai teman yang punya waktu luang, tentu hal itu tidak disia-siakan.


Kiara sudah siap lima belas menit yang lalu, dan kini sambil menunggu datangnya Luna, dia memilih menyibukkan diri bermain game di ponselnya.


"Kak Ara, lagi ngapain?" tanya Sasha yang kemudian duduk di samping Kiara seraya memerhatikan kakaknya itu bermain game.


"Main game," jawab Kiara singkat.


Sasha mengangguk pelan. Ia pun menempelkan tubuhnya pada lengan Kiara karena penasaran game seperti apa yang sedang dimainkan oleh kakaknya itu.


"Ih, sana-sana, Dek." Kiara mengenggol-nyenggol tubuh Sasha agar adiknya itu tidak terlalu menempel dengannya.


Sasha merenggut sebal. "Ih, kan Sasha pengin lihat, Kak."


"Iya, api jangan terlalu nempel, nanti Kakak kalah."


Mau tak mau Sasha pun sedikit menjauh, namun tetap memerhatikan game yang sedang dimainkan Kiara.


"Kak Ara, Sasha pengin main juga," ujar Sasha memegang lengan Kiara.


"Ra! Ada Luna tuh di depan."


"Eh? Iya, Bu." Kiara segera memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu beranjak dari posisinya. "Mainnya nanti, ya. Kakak mau ke rumah temen Kakak dulu. Bye."


Kiara menghampiri Luna dengan sedikit berlari kecil. Luna pun dengan sigap menyerahkan helm yang langsung dipakai oleh Kiara.


"Ibu, Ara pergi dulu, ya."

__ADS_1


"Iya, hati-hati. Jangan ngebut-ngebut ya, Nak Luna," pesan Jana–ibu Kiara pada Luna.


"Siap, Tante. Hehe."


Setelah Kiara naik di jok belakang, Luna pun men-starter dan mulai melajukan motornya menuju rumah Risa.


Tidak perlu memakan waktu yang lama, Luna dan Kiara akhirnya sampai di depan rumah Risa. Kiara pun turun dari jok belakang dan mulai melepas helmnya.


"Ra, lo pegang buahnya. Nanti jatoh nih."


Kiara segera mengambil bingkisan buah itu dan menunggu Luna yang sedang melepas helmnya. Sesekali Kiara juga melirik ke rumah Risa yang tampak sepi. Mungkin karena Risa sedang sibuk di dalam rumahnya, atau justru tidak ada orang? Ah, tidak mungkin. Karena semalam dia tidak mengatakan apa-apa pada Kiara maupun Luna.


"Lun, kok sepi, ya? Apa Risa lagi nggak di rumah?" tanya Kiara setelah Luna mencoba membuka pagar rumah Risa yang ternyata tidak dikunci.


"Nggak mungkin deh, Ra. Ini pagar rumahnya nggak dikunci, kok. Yuk, ah. Beri salam aja, kalau emang nggak dibuka ya udah. Berarti bukan rejeki dia makan buah itu."


Kiara mengangguk menyetujui ucapan Luna. Dan akhirnya mereka pun kini berdiri di depan pintu rumah Risa yang tertutup rapat. Setelah berdeham pelan, Luna pun memberanikan diri untuk memberi salam.


"Assalamu'alaikum, Risa~"


Merasa tidak ada jawaban, kembali Luna memberi salam dengan suara yang naik seoktaf.


"Assalamu'alaikum, Risa."


"Wa'alaikumussalam." Pintu terbuka dan menampilkan Risa dengan celemek yang melindungi pakaian bagian depannya. "Eh? Kalian? Kok nggak bilang-bilang dulu kalo udah otw?"


"Apaan nih?" tanya Risa seraya melirik bingkisan yang diberikan oleh Kiara.


"Buah. Buat nyokap lo. Bukan buat lo, ya," jawab Luna seraya tertawa pelan.


"Iya, iya. Masuk, gih."


Keduanya pun masuk dan mengedarkan pandangannya di penjuru ruangan itu. Ternyata sepi bukan hanya tampak dari luar saja, tetapi di dalam rumah pun terasa begitu sunyi seolah tak ada berpenghuni.


"Kok sepi sih, Sa. Bokap sama Nyokap lo mana? Gue mau ketemu, kali aja cocok jadi mertua," tanya Luna dengan nada bercanda setelah Risa kembali untuk menaruh buah di dalam kulkas.


"Sebenernya lu sukanya Abang gue atau Abang Kiara sih, Lun?" Risa terkekeh.


"Ya dua-duanya, tau deh jodohnya yang mana."


"Kak Bara!" jawab Risa dan Kiara bersamaan.


Luna bergidik ngeri. "Hih, apaan sih?! Pertanyaan gue noh belum lo jawab."

__ADS_1


"Oh, haha, iya. Papaku lagi nyari kerja. You know lah. Papa kan ngerasa nggak bisa juga kalo tinggal di rumah terus. Nggak nyaman juga rasanya kalo Mama terus nyindir Papa karena nggak kerja. Gue sendiri pusing dengernya. Dan Mama, ada di dalem. Di kamarnya," jelas Risa.


Luna dan Kiara mengangguk bersamaan. "Terus Abang lo?"


"Di pesantren."


"Dia nggak tahu masalah yang lo dan Bokap Nyokap lo hadapi?"


"Nggak. Kita nggak berani ngasi tau, apalagi sekarang kan dia lagi sibuk, mau ujian akhir."


Lagi, Luna mengangguk pelan. Permasalahan ekonomi memang salah satu permasalahan keluarga yang sangat sensitif, goyah sedikit bisa bikin rumah tangga rusak kalau tidak saling menguatkan. Dan Luna serta Kiara hanya bisa memberi support sebagai teman Risa.


"Kita mau ketemu Mama kamu, Ris."


"Oh? Iya, yuk."


Risa pun mengajak Kiara dan Luna ke kamar Mamanya karena Mama Risa saat ini belum bisa beranjak dari kasur. Rasa sakit di kepala karena tekanan darah naik membuat Mama Risa diharuskan untuk tidak melakukan hal-hal berat dulu.


"Ma, Risa masuk, ya. Ada Kiara dan Luna, nih."


Setelah mendapat izin, barulah Risa membuka pintu kamar di mana Mamanya terbaring lemah. Kiara dan Luna pun mengekor di belakangnya.


"Halo, Tante," sapa Kiara setelah mereka berada di samping ranjang milik Mama Risa.


"Hm, halo, Nak." Meski dengan lemah, Mama Risa tetap berusaha untuk menjawab sapaan Kiara. Ia bahkan meraih satu tangan Kiara dan juga tangan Luna. "Terima kasih ya, Nak sudah bantuin Tante dan Risa. Tante jadi malu." Setelah menerima bantuan dari Kiara dan Luna beberapa hari yang lalu, Risa memang memberitahu Mamanya. Mama Risa bahkan merasa terharu dengan kebaikan hati kedua sahabat anaknya itu.


"Nggak papa, Tante. Kami udah saling nganggep keluarga. Jadi harus saling bantu," ujar Kiara ikut membalas genggaman lemah Mam Risa.


"MaasyaAllah." Hanya itu respon Mama Risa. Saking kagumnya ia dengan perilaku sahabat Risa itu.


"Itu juga kalo Tante nggak keberatan mau jadiin aku keluarga beneran," tambah Luna.


"Luna!" tegur Risa dan Kiara bersamaan.


Perbincangan itu terus berlanjut hingga menjelang dhuhur. Dan satu hal yang Mama Risa sadari dari kehadiran Luna dan Kiara, bahwa seharusnya sebagai keluarga mereka saling memberikan dukungan, bukan malah saling menyalahkan.


***


Apdet~ ada yang nungguin? Hehehe


Sejauh ini, apa yang kalian dapat dari cerita ini? Bagi kesannya, dong😊😊😊


Terima kasih🙏

__ADS_1


 


 


__ADS_2