
🌸🌸🌸
Kiara saat ini tengah sibuk menyelesaikan PR pendidikan kewarganegaraannya. Matanya terus terfokus pada tulisan dan buku paket yang ada di hadapannya. Ini yang ia suka dari pelajaran kewarganegaraaan, jawabannyaa selalu ada di buku, membuatnya tidak perlu larut dalam banyak buku dan ujung-ujungnya malah berakhir dengan pencarian jawaban di om gugel.
Saat tengah sibuk mencari jawaban atas soal-soalnya, tiba-tiba ponsel Kiara berdering.
"Assalamualaikum, halo?"
"Waalaikumussalam, Ra. Eh, lo lagi ngapain sih? Sampe nggak baca WA dari gue. Ngartis ya lo?"
"Hah?? Nggak kok, Lun. Ini aku lagi ngerjain PR kewarganegaraan. Kamu udah?"
"Ck, nanti ajalah itu gue lagi di mall nih sekarang. Yang gue mau bilang, lo cek deh WA gue."
"Ngapain di mall? Udah jam sembilan malam juga. Nggak dicariin kamu?"
"Aduh, Ra. Lo ini, gue ngomongnya apa, balesnya apa. Buru deh cek WA gue. Oke? Assalamualaikum, bye!"
Kiara mengerutkan keningnya saat tiba-tiba Luna memutuskan panggilannya. Tapi segera ia membuka aplikasi WA yang ada di ponselnya, pasalnya Luna terus meminta agar dia membaca pesan darinya.
"Awas saja ya, Lun kalau sampai isi WA-nya nggak penting," gumam Kiara pelan.
Kiara menyapukan ibu jari di atas layar LCD ponselnya dan memilih membuka pesan WA dari Luna. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah foto yang belum terunduh. Kiara memang sengaja mengatur agar pesan gambar yang masuk tidak langsung terunduh. Pasalnya kalau tidak diatur seperti itu, kadang saat Kiara membuka galery ponselnya, ia menemukan beberapa foto-foto aneh yang sudah pasti kiriman dari beberapa grup yang ada di WA-nya.
Sambil menunggu gambar itu selesai terunduh, Kiara mengambil satu potong wafer yang memang sengaja dibelinya sepulang sekolah tadi.
Saat tengah bersiap untuk memasukkan potongan terakhir ke dalam mulutnya, pergerakan Kiara terhenti. Foto yang dikirim Luna benar-benar membuatnya mati kutu. Di sana, di gambar itu terlihat Bayu yang tengah jalan berdua dengan seorang perempuan yang beberapa minggu lalu dikabarkan memang tengah dekat dengannya. Jarak antara keduanya di dalam foto itu memang bisa dibilang tidak terlalu dekat, tapi... mengetahui bahwa mereka berdua sedang jalan sedikit membuat hati Kiara merasa tercubit.
"Mereka berdua memang cocok sih," gumam Kiara pelan.
Saat tengah sibuk menatap foto itu, lagi-lagi Luna menelpon.
"Assalamualaikum, halo?"
"Waalaikumussalam, gimana? Lo udah liat kan, Ra?? Ya ampun nggak nyangka gue Kak Bayu sama cewek itu... Apa jangan-jangan bener lagi kalo cewek itu–"
__ADS_1
"Ssst, Lun. Jangan berandai-andai, nggak baik tau. Nanti jadi fitnah loh." Kiara menghela napas pelan. "Lagian, kalo emang beneran Kak Bayu udah sama tu cewek, yaa.. Nggak pa-pa."
"Ya Allah, Ra. Sori banget, gue lupa kalo lo udah coba pengin move on dari Kak Bayu. Uh, sori ya."
Iya, dan gara-gara kamu, Lun aku harus mulai move on dari awal lagi. "Iya, Lun. Gak pa-pa."
"Ya udin deh, gue hapus aja tuh chat gue. Anggep aja angin lalu. Be te we, semangat ya move on-nya! Go go go Kiara go!"
Kiara mendengus geli mendengar Luna memberinya semangat. "Haha, iya, iya. Udah ya, Lun. Mau lanjut ngerjain tugas nih, kamu juga jangan kelayapan terus!"
"Iya, kanjeng putri. Ini gue juga mau balik. Eh eh, bentar. Gue... Ah, nggak jadi deh, Ra. Besok aja! Bye, assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Alis Kiara terangkat tinggi saat Luna menggantungkan ucapannya. "Apa-apaan itu? Dasar si Luna."
Tak mau mengambil pusing dengan ucapan menggantung dari Luna. Kiara akhirnya kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya yang tinggal sedikit lagi.
🌸🌸🌸
Kiara menggenggam erat tali tasnya seraya berjalan lamat-lamat ke arah kelas. Saat tengah sibuk memerhatikan langkah kakinya, tiba-tiba Bara muncul di hadapan Kiara sambil menyelempang tas ranselnya di bahu kanannya. Langkah Kiara otomatis terhenti. Keningnya bahkan berkerut bingung karena kakak kelasnya itu tiba-tiba menghalangi jalannya.
"Si Cerewet ngomong apa sama kamu?" tanya Bara dengan nada mengintimidasi.
"Sahabat cerewet kamu itu, si Luna. Dia ngomong apa aja sama kamu? Maksudku, tadi malam, dia ngomong apa?"
Kiara sedikit memundurkan tubuhnya saat nada bicara Bara mulai naik seoktaf.
"Te-tenang dulu, Kak. Lu-Luna nggak ngomong apa-apa kok tadi malam."
"Kiara, jangan bohong. Tadi malam dia itu salah paham."
Lagi, kening Kiara mengerut dalam. "Sa-salah paham apa, Kak?"
"Jadi, yang dia lihat itu salah paham. Itu nggak seperti yang dia lihat."
"Bentar, bentar, Kak. Aku nggak ngerti maksud Kakak apa."
"Kiaraaaaa!!!!"
__ADS_1
Kiara dan Bara memalingkan wajahnya ke arah Luna yang terlihat berlari terbirit-birit ke arah mereka.
"Jangan huhft percaya sama huft dia, Ra huhft."
Kiara menepuk pelan bahu Luna untuk menenangkan. Sementara Luna sibuk mengatur napasnya yang memburu.
"Heh, cerewet. Ngomong apa lo sama Kiara?"
Saat napasnya mulai stabil, Luna menegakkan tubuhnya dan berkacak pinggang di hadapan Bara. Dengan tinggi tubuh Bara sekitar 180 senti meter, dan Luna yang tinggi tubuh hanya terpaut sebatas dada Bara. Mereka benar-benar terlihat seperti anak dan bapak yang sedang bertengkar.
"Nggak ada!" elak Luna tak mau kalah.
"Halah, jangan boong lo! Tadi malem gue liat lo nelpon setelah ngeliat Bayu kan? Jujur deh pasti lo nelpon Kiara, kan?"
Luna mendengus kasar. "Memangnya kenapa? Wajar dong gue nelpon sahabat gue. Dia kan ngefans sama Kak Bayu."
Kiara melotot ke arah Luna. "Eh, eh. Udah dong. Nggak enak nih diliatin orang."
"Diem!" sembur Luna dan Bara bersamaan, membuat Kiara sukses menutup bibirnya rapat-rapat.
"Heh, cebol cerewet. Lo itu salah paham sama apa yang lo liat. Tiyas tuh bukan apa-apanya Bayu."
"Idihhh, ngatain cebol lagi. Oohh, namanya Tiyas. Tiyas Mirasih? Terus dia apanya Kak Bayu? Calon istri?"
Bara menghela napas kasar. Menghadapi Luna ternyata tidak segampang yang dia pikirkan.
"Gue heran, kenapa ya gue bisa suka sama cewek bar-bar kayak dia," gumam Bara pelan.
"Ngomong apa lo? Hah?"
"Aduuuh plis, Lun, Kak Bara. Stop. Nanti kita diliatin guru, bisa gawat. Lagian, Lun. Kan Kak Bara udah jelasin jadi ya udah, ya. Kak Bara, maafin Luna ya, Kak. Hehe. Ya udah, kami pamit dulu."
Kiara menarik tangan Luna yang mulai memberontak. "Eh? Nggak bisa gitu dong, Ra. Dia pikir gue rabun deket apa? Mata gue tuh nggak salah. Kak Bayu jalan sama tu cewek. Suer deh."
"Iya, iya. Tadi malem kan kamu udah ngirim fotonya. Lagian aku juga udah ikhlas kok, Lun."
Luna akhirnya diam dan mau tak mau mengekor di belakang Kiara. Namun saat mereka berdua akan memasuki kelas, tiba-tiba kepala Luna terdorong pelan ke depan. Luna berbalik seraya memegang kepala bagian belakangnya. Dengan napas memburu, Luna menatap nyalang ke arah Bara.
"Apaan sih?!"
__ADS_1
"Tiyas itu sepupunya Bayu. Ngerti?" ujar Bara seraya melenggang pergi meninggalkan Luna yang mengerucutkan bibirnya tak terima. Sementara Kiara hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah lucu keduanya.
Oh, jadi hanya sepupu.