
Jangan terlalu berharap kalau nggak mau sakit hati.
🌾 Kiara 🌾
•••
"Kiaraaaaaa!"
Kiara terlonjak kaget saat mendengar teriakan yang menggema di koridor kelas.
Dari jauh Kiara bisa melihat Luna yang berlari diikuti Risa di belakangnya. Kiara sampai mengerutkan keningnya bingung dengan kelakuan dua sahabatnya itu.
"Haaah haaah haaah. Ra, haaah. Itu... Haaah."
Kiara menepuk lengan Luna yang terlihat hampir kehabisan napas sehabis berlari.
"Aduh, tenang dong, Lun. Ada apa sih? Kok kayak dikejar setan gitu?" tanya Kiara menenangkan Luna. Sementara Risa sudah mendudukkan dirinya di lantai, tak peduli kalau roknya akan kotor atau tidak. Ia bahkan sudah menyandarkan punggungnya di dinding koridor.
"Ra, lo jangan kaget ya," ucap Luna setelah merasa napasnya sudah beraturan.
Kiara menghela napas kesal. "Iya, iya. Apaan sih? Pengin banget kamu liat aku mati penasaran."
Luna memegang kedua bahu Kiara lalu menatapnya dengan serius. Sebentar ia terdiam untuk memikirkan rangkaian kata yang tepat untuk memberitahu sahabatnya itu.
"Ra, gue denger gosip tadi kalo Kak Bayu..."
Kiara menajamkan pendengarannya saat mendengar nama Bayu disebut-sebut. Ia juga tak mengedipkan matanya karena terlampau serius ingin mendengar lanjutan cerita Luna yang masih menggantung.
"Kak Bayu itu, udah punya tunangan, Ra."
Kening Kiara mengerut dalam. "Hah? Masa sih, Lun?" tanya Kiara tak percaya. Kedua matanya bahkan sudah membulat karena kaget dengan ucapan Luna.
Kiara beralih menatap Risa yang masih terduduk lemas di dekat kaki Luna. Dia mengangguk membenarkan ucapan Luna. Diam-diam Kiara menghela napas gusar. Di dalam pikirannya berkecamuk berbagai macam pertanyaan terkait apa yang disampaikan Luna barusan.
"Oh," respon Kiara.
"What the? Cuma oh?'" tanya Luna dengan ekspresi terkejut. Siapa sangka, Kiara yang mengidolakan sosok Bayu ketika diberi tahu bahwa sang idola sudah punya tunangan, responnya hanya ber-oh ria. Benar-benar aneh bin ajaib.
"Ya terus, aku harus respon gimana?" tanya Kiara dengan tampang polosnya.
Luna mendengus kasar. "Ya minimal lo kudu heboh lah kayak gue sama Risa. Nah lo? Responnya datar gitu. Gue jadi nggak percaya kalo lo beneran ngidolain Kak Bayu."
Risa pun akhirnya berdiri setelah merasakan kedua kakinya sudah tidak mati rasa karena berlari maraton bersama Luna.
"Ngidolain seseorang boleh-boleh aja sih. Asal nggak ngeganggu privasinya, apalagi soal hubungannya," ujar Kiara pelan.
"Ini tuh nggak ngeganggu, Ra. Lo sebagai fans tuh harusnya... Ah pusing gue." Luna melemaskan kedua bahunya. Ya bayangkan saja, sudah berlari dengan heboh berdua dengan Risa di koridor sekolah, membawa kabar burung mengenai fans sahabat kamu dan responnya hanya 'oh?', itu benar-benar di luar nalar.
Risa menepuk bahu Luna. "Udah lah, Lun. Mungkin di mulutnya Kiara emang ngomong gitu, tapi siapa yang tau dalem hatinya gimana? Mungkin lagi sumpah serapah dia mah."
__ADS_1
Kiara tersenyum tipis dan membenarkan ucapan Risa di dalam hati. Sebenarnya hatinya sudah berdegup dengan sangat kencang saat Luna menyebut nama Bayu tadi, hanya saja ia berusaha untuk menahan rasa itu. Terlebih saat sahabatnya itu memberi kabar bahwa Bayu sudah memiliki tunangan. Hatinya kayak ada sakit-sakitnya gitu. Tapi kembali lagi pada kenyataan, karena kenyataan memang kadang tak sesuai harapan.
"Udah yuk. Kita ke kelas," ajak Risa saat melihat ekspresi wajah Kiara yang tak sinkron dengan ucapannya.
Luna pun akhirnya mengiyakan meski masih sedikit heran dengan ekspresi Kiara. Tapi ya sudah lah. Mungkin itu cara Kiara menenangkan hatinya yang gundah.
***
Bel pulang sekolah pun akhirnya berdering, membuat beberapa murid termasuk Kiara, Luna dan Risa segera bergegas memasukkan buku-buku serta pulpennya ke dalam tas masing-masing.
"Baik anak-anak, pelajarannya cukup sampai di sini dulu ya. Untuk PR-nya, silakan kerjakan halaman dua puluh empat. Ada pertanyaan?"
"Nggak ada, Bu,"
"Baik. Sampai jumpa minggu depan. Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh."
"Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Makasih, Bu."
"Iya, sama-sama."
Setelah bu Popy keluar, Kiara menyampirkan tasnya di bahu kiri seraya memegang buku paket di tangan kanannya.
"Pulang, yuk," ajak Kiara kepada Luna dan juga Risa.
"Iya bentar. Gue bales sms Abang gue dulu," jawab Risa sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Abang lo jemput? Wuih, calon imam gue tuh," cerocos Luna penuh semangat.
Luna mencibir mendengar ucapan Risa. "Yee, bukannya di-aminin. Dan tolonglah, kualifikasi jadi saudara ipar lo tuh ya jangan susah-susah amat lah, Ris."
Luna memang sempat bertemu dengan abang Risa. Waktu itu Luna mengantar Risa pulang ke rumahnya setelah pulang sekolah, dan kebetulan abang Risa juga dari toko untuk membeli sesuatu. Luna yang kebetulan bersitatap dengan abang Risa itu pun seketika merasakan ada gelenyar aneh merasuk di dadanya yang saat itu juga dia yakini sebagai 'cinta'. Namun, Luna harus extra hati-hati jika mau modus, karena abang Risa itu ternyata adalah anak pesantren yang tidak mudah di dekati.
"Udah, udah. Ke depan yuk. Keburu ujan nanti," ucap Kiara menengahi.
Luna terbahak. "Ra, lo sadar nggak sih? Sekarang tuh bukan musim ujan," Risa pun ikut menggeleng mendengar ucapan Kiara.
"Mohon dimaklumi lah, Lun. Kiara kan diem-diem lagi nanggung beban berat,"
"Hah?"
"Iya, kan Kak Bayu lagi digosipin punya tunangan. Makanya nggak heran lah kalo Kiara yang sebagai fans otaknya rada-rada koslet abis denger berita itu."
Kiara menghela napas pelan mendengar ucapan Risa. Ingin mengelak tapi ucapan sahabatnya itu ada benarnya juga. Jadi, ya sudahlah.
"Suka-suka kalian deh. Yuk ah."
"Yuk, Abang gue juga udah di depan."
"Yuk! Yuk!"
__ADS_1
***
Saat tengah asyik berbincang di tengah koridor kelas, tiba-tiba Luna menepuk lengan Kiara dan juga Risa dengan cukup keras. Risa dan Kiara sampai harus mengelus pelan lengannya yang tiba-tiba terasa seperti lebam karena pukulan Luna.
"Aduh, apaan sih, Lun?! Dari tadi rusuh bener. Sakit nih!" tegur Risa tak terima dengan perlakuan Luna.
"Wuih! Liat tuh, liat tuh Kak Bayu sama cewek," ujar Luna sambil menunjuk ke arah pinggir lapangan basket.
Kiara dan Risa pun otomatis melihat ke arah lapangan basket yang tak jauh dari keberadaan mereka sekarang. Di pinggir lapangan itu ada Bayu bersama dengan seorang perempuan. Perempuan itu terlihat tersenyum malu-malu pada Bayu.
"Siapa ya tuh cewek? Gue baru liat deh kayaknya," ujar Risa seraya mencoba mengingat-ingat sosok perempuan yang kini tengah bersama si ketua OSIS itu.
"Iya, Sa. Gue juga kayaknya baru liat deh. Tapi, ngomong-ngomong kok Kak Bayu mau berduaan sama cewek sih? Kan bukan mahram," celetuk Luna.
Risa mengangguk pelan menyetujui ucapan Luna. "Iya, mungkin karena udah nikah kali ya. Makanya udah berani deket-deketan gitu."
"Hush! Kalian berdua ini ya, udah cocok banget jadi saingannya Mak Lambe," tegur Kiara.
Luna mendelik ke arah Kiara. "Idih, nggak penasaran apa lo, Ra? Ini tuh Kak Bayu, Ra. Kak BAYU."
"Iya, terus?"
Luna menggeleng pelan. "Beneran, Ris. Kayaknya si Ara lagi kesambet sesuatu deh. Heran gue. Dari tadi responnya gitu mulu."
Kiara tersenyum tipis lalu melangkah meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Mau ke mana lo, Ra?"
"Pulang lah."
"Eh? Tungguin!"
***
Apdet hahah.😅
Pernah dengar atau baca hadis ini?
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia." - Ali bin Abi Thalib
Nah, untuk yang kadang tersakiti oleh harapannya yang nggak kesampean, kalian (dan aku) bisa belajar banyak dari hadisnya. Dan tentunya jangan menyerah apalagi sampai menyalahkan keadaan kamu hanya karena harapanmu nggak kesampean. Mungkin emang kadang nyesek nyesek gimanaa gitu ya, tapi ya emang gitu, percaya aja, Allah udah ngatur yang terbaik buat kita. 😌
Btw, Kiara itu emang ngefans sama Bayu, tapi sewajarnya aja kok. Nggak sampe yang ngestalk seharian sampai lupa diri dan waktu atau fangirling-an gitu atau apa sih tuh namanya? Hahah.
Kalo kalian sendiri gimana? Pernah ngestalk sampe seharian gitu nggak sih? Sampe lupa diri, lupa salat, lupa ngaji atau lupa-lupa yang lainnya?
Last, jangan lupa follow IG @windyharuno
P.s: cek typo
__ADS_1
Xoxo_
Windy Haruno