
Farel yang mendapatkan info tentang keberadaan rumah sakit Cycell dari Sean pun segera menjenguknya ke rumah sakit.
Ya, setelah berpikir panjang akhirnya Sean memutuskan untuk memberitahu Farel tentang rumah sakit yang ditempati Cycell. Sean sudah memperingati dokter untuk tidak keceplosan tentang kehamilan Cycell saat ada oranglain.
"Cycell dimana bang?" tanya Farel
"Dia masih belum sadar. Dokter suruh jangan ganggu dulu sampe dia sadar"
"Engga boleh masuk bang?"
"Sebaiknya jangan dulu kata dokter. Kita terpaksa liat dari pintu doang"
Farel segera berjalan menuju pintu. Disana ia melihat Cycell terbaring lemah dan tak berdaya.
"Maafin aku belum bisa jagain kamu dengan baik" ucapnya dalam hati. Farel menangis melihat keadaan wanita yang ia cintai itu. Sean yang melihat hal tersebut segera menepuk nepuk bahu Farel.
"Semua bakal baik baik aja kok" hibur Sean.
Farel kembali melayangkan pandangannya ke arah Cycell. Tiba tiba ia melihat pergerakan kecil Cycell.
"Bang lo liat, tangan Cycell mulai gerak". Sean segera melihat ke arah Cycell dan memanggil dokter. Dokter dengan sigap pun langsung datang dan memeriksa keadaan Cycell.
"Dia udah sadar dan kalian boleh masuk untuk menjenguknya. Tapi mohon jangan terlalu banyak bertanya atau mengajaknya berbicara karena ia masih sangat lemah" jelas sang dokter. Farel dan Sean segera masuk ke dalam dan berdiri di dekat Cycell.
"Adek sayang, maafin abang belum bisa jagain adek" ucap Sean sambil memeluk kepala Cycell.
"Sayang, maafin aku ya aku engga nemenin kamu sampe ke WC. Lain kali aku bakal temenin kamu kemana pun kamu pergi" Farel menunduk dan menangis.
"Abang, Farel, kalian jangan sedih. Icell engga kenapa napa kok. Icell cuman sakit sedikit kok, bentar lagi juga sembuh" ucap Cycell sambil menenangkan keduanya.
"Kamu ga liat pipi kamu biru semua sayang? Mulut kamu sampe berdarah banyak"
"Aku panik banget liat kamu sampe begini. Aku sayang kamu Cycell, mangkanya aku merasa bersalah banget liat kamu gini. Aku engga becus buat jagain cewek yang aku sayang" ucapnya sendu.
"Engga Farel, ini bukan salah kamu. Salah aku juga yang engga bisa jaga diri aku dengan baik. Ini juga karena Reena yang terlalu obsessed sama kamu"
__ADS_1
"Sumpah, cewe itu pengen abang tonjok. Untung cewe, kalau cowo dah abang abisin nyawa dia"
"Serem amat lo bang"
"Icell haus"
Farel yang mendengar hal tersebut dengan cepat langsung memberikan segelas air dan sedotan.
"Kamu laper ga sayang?"
"Iya, aku laper banget"
"Nih aku bawain kamu bubur". Untungnya sebelum ke rumah sakit Farel menyempatkan diri untuk membeli bubur terlebih dahulu.
Farel segera membuka bungkus bubur tersebut dan mengambil sendoknya. Ia pun duduk di sebelah ranjang Cycell. Ia mulai menyuapi Cycell dengan telaten. Cycell benar benar seperti bayi saat ini.
Sean yang merasa seperti seekor nyamuk dengan segera pamit keluar. Ia sadar diri dan tidak mau mengganggu keromantisan kedua orang tersebut.
"Jomblo gini amat dah"
"Aaaaaa" Cycell memakannya sambil tak berhenti tersenyum melihat Farel.
"Pinter banget cewe aku, udah habis makannya. Sekarang kamu harus minum banyak banyak". Cycell mengangguk dan segera minum segelas air yang diberikan Farel.
"Makasih Farel udah nyuapin aku"
"Ga perlu terima kasih sayang, udah tugas aku kok" ucapnya sambil mengusap kepalanya. Walau sudah cukup sering mendapatkan perlakuan manis dari Farel, entah mengapa Cycell tetap salting. Pipinya kini memerah seperti biasanya dan hal itu membuat Farel sangat gemas. Tapi sayangnya saat ini pipi tersebut tidak dapat dicubit karena sedang bengkak. Jadi ia hanya mengelus ngelus pipinya saja.
"Sekarang kamu istirahat lagi ya biar cepet sehat. Selamat tidur sayangku" ucap Farel sambil menyelimuti Cycell.
"Iya Farel, kepalaku masih agak pusing. Aku tidur dulu ya. Nanti kamu kesini lagi kan?" tanya Cycell dengan puppy eyes nya.
"Iya kok. Aku mau pulang bentar buat ganti pakaian sama naruh barang barangku"
"Okey Farel, hati hati dijalan ya"
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya"
Seperginya Farel, Sean masuk ke dalam ruangan Cycell.
"Abang, bayi Icell engga kenapa kenapa kan?" tanya nya cemas. Sedari tadi ia takut bayinya akan kenapa napa tetapi mengingat Farel tidak mengetahui hal ini, ia pun urung untuk bertanya kepada Sean.
"Keponakan abang aman kok, tapi dia lemah dek. Icell harus banyak banyak istirahat dulu ya buat beberapa bulan ini"
"Siap laksanakan kapten"
"Abang, Icell tidur dulu ya soalnya kepala Icell masih pusing" izin Cycell
"Tidurlah dek"
"Abang tetep disini kan buat jagain Cycell? Abang jangan tinggalin Cycell sendiri ya di ruangan ini. Cycell takut banget bang" ucapnya lirih sambil mengeluarkan sedikit air mata.
Cycell sedikit trauma karena di bully habis habisan oleh Reena. Cycell sangat takut dan terkena panic attack. Hal ini membuat Cycell lebih susah untuk mengontrol dirinya ketika ia panik.
"Engga adek. Abang disini terus kok buat jagain Icell. Icell jangan takut ya, disini aman kok ada abang. Abang gaakan biarin Icell di apa apain sama oranglain lagi" hibur Sean sambil mengelus kepala Cycell.
"Makasih ya bang" Cycell tersenyum kemudian berusaha untuk tidur.
Sementara itu Sean duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan mengetik pesan kepada anak buahnya.
"Tolong lo lanjutin laporan gue tentang Reena ke kepala sekolah. Kalau bisa gue maunya dia dikeluarkan dari sekolah gue biar adek gue ga di bully lagi"
Setelah mengirim pesan tersebut, Sean merebahkan dirinya juga di sofa tersebut.
"Gue gaakan maafin lo dasar cewe sialan. Liat aja balesan gue" ucap Sean dalam hati sambil tersenyum miring.
Satu lagi hal yang Sean pikirkan saat ini. Ia memikirkan tentang keponakannya itu. Jika Reena tidak dikeluarkan dari sekolah dan masih berkeliaraan disana akan membahayakan nyawa sang bayi. Tak hanya si bayi, Cycell pun juga terancam. Ia tak ingin hal seperti ini terulang kembali. Hati Sean sangat sakit ketika melihat adiknya berlumuran darah dan mukanya penuh dengan bekas biru.
"Mama, papa, maafin Sean gabisa jagain adek Sean. Sean benar benar ceroboh karena udah engga mantau Cycell di sekolah".
Sean juga memutuskan untuk memperketat keamanan adiknya. Ia mengirimkan pesan kepada beberapa anak buahnya untuk menjaga Cycell dari kejauhan. Sean tidak mau Cycell mengetahui hal ini dan merasa risih. Oleh karena itu, pilihan terbaik untuknya adalah memperketat keamanan adiknya walau dari jauh.
__ADS_1
Sean juga akan menyuruh Farel untuk memutuskan semua hal yang berhubungan dengan Reena. Ketika Reena mulai mendekat, ia ingin Farel segera memarahinya habis habisan dan membentaknya agar gadis tersebut ketakutan.