CYCELLS

CYCELLS
GARIS 2?


__ADS_3

"Soal itu nanti aja kita bahas, gue mau nunjukin sesuatu yang lebih penting dulu sekarang" ucap Sean sambil membuka laptopnya.


"Apa bang?"


Sean segera mengarahkan layar laptopnya kepada Farel dan memutar video di malam itu.


"Leon?"


"Iya, Leon yang jadi dalang dari semua ini" jelas Sean


"Dia kenapa gituin gue sama Cycell?"


"Gatau juga, masih gue cari tau"


Cycell bangkit dari duduknya dan mendekati Farel dan memeluknya erat.


"Maafin gue udah nyalahin lo atas semua ini. Gue kira lo yang ngejebak gue, ternyata gue salah"


Farel pun segera membalas pelukan itu dan mengelus rambut Cycell


"Gapapa cantik, bukan salah lo kok. Wajar aja kalau lo marah"


"Jadi kalian mau gimana kedepannya?" tanya Sean kepada mereka


"Gue bakal tanggung jawab" jawab Farel


"Oke, tolong tepatin janji lo ke adek gue ya. Gue titip dia ke elo karena gue percaya lo bisa jaga dia"


"Iya bang, percayain semua ke gue"


Sean merasa sedikit tenang setelah semua kejadian ini sudah terpecahkan. Kini ia ingin mengambil waktu sendirian terlebih dahulu.


"Gue tinggal dulu ya. Kalian kalau mau pendekatan silahkan"


Sean segera pergi ke kamarnya dan meninggalkan Cycell dengan Farel.


Kini canggung pun menyerang mereka. Cycell sendiri masih malu untuk memulai percakapan, sementara Farel bingung harus mulai dari mana.


"Gimana kalau gue coba buat lo nyaman dulu sama gue?" tawar Farel


"Boleh juga"


"Kalau nyaman kita lanjut terus ya. Gue bakal nebus kesalahan gue dengan ngasih yang terbaik buat lo"

__ADS_1


"Gue juga bakal berusaha buat nerima lo Rel. Makasih ya untuk semuanya" ucap Cycell dengan tulus


"Sama sama"


_____________


Beberapa hari kemudian


Cycell POV


Sejujurnya akhir akhir ini gue ngerasa aneh dengan diri gue. Perut gue rasanya seperti di aduk aduk dan kepala gue pusing. Gue juga selalu pengen makan yang aneh aneh dan mual kalau lihat daging dagingan.


Gue takut.


Gue takut hal yang gue takutin terjadi. Tapi gue berusaha positif dan menjalakan hari hari gue seperti biasa. Tetapi makin lama, gejolak di perut gue makin jadi dan buat gue ngerasa mual banget.


Karena udah beberapa hari gue ngalamin hal aneh gini, gue mutusin buat ke apotek. Sesampainya disana, gue beli 5 testpack dengan merek yang berbeda agar lebih akurat saat dipakai.


Setelah sampai dirumah, gue dengan cepat langsung masuk ke kamar dan pake testpack tersebut. Tak lama kemudian, hasil dari testpack itu sudah keluar.


Bak disambar petir di siang bolong, Cycell menangis melihat hasil tersebut.


"Garis 2"


Cycell tak berhenti menangis dan berpikir untuk menggurkan saja bayi ini.


Karena tangisan Cycell cukup besar membuat Sean panik dan segera menghampiri adiknya.


"Dek lo kenapa?"


Cycell yang melihat abangnya tersebut langsung lari memeluknya. Ia menunjukan 5 testpack dengan garis 2 kepada abangnya.


"Dek? Icell hamil?"


"Iya bang, Icell mau gugurin"


"Jangan gila dek, bayi itu gaada salah sama lo" Sean marah dengan keputusan adiknya.


"Gimanapun bayi itu hasil perbuatan kalian. Kalian harus tanggung jawab, bukan menggugurkan bayi yang gapunya salah sama kalian"


"Icell bingung bang harus gimana, Icell gamau Farel tau soal ini"


"Kenapa dek?"

__ADS_1


"Icell belum percaya sama Farel sepenuhnya, mending dirahasiain dulu aja sampe waktunya tepat"


"Kalau itu mau adek, abang turutin" ucap Sean sambil menenangkan adiknya itu.


"Ayo kita ke rumah sakit buat cek baby nya"


"Ayo bang"


Cycell dan Sean segera bersiap siap menuju rumah sakit.


Di rumah sakit


"Silahkan ibu berbaring ke atas ranjang ya" ucap dokter tersebut.


Cycell menuju ke atas ranjang dan menidurkan dirinya disana. Dokter membuka sedikit baju Cycell dan menaruh gel di perutnya.


Dingin, itu yang dirasakan Cycell saat ini. Setelah itu dokter pun memulai USG nya.


"Itu baby nya" ucap dokter sambil menunjuk ke arah monitor.


Cycell yang melihat bayinya tiba tiba merasa sedikit senang dan terharu.


"Anak gue" gumamnya


Setelah USG selesai, ia dan Sean disuruh duduk untuk mendengarkan penjelasan dari dokter.


"Usia kandungannya sudah 2 mingguan. Mohon menjaga kesenatan dan pola makannya ya dikarenakan usia janin masih sangat rentan" jelas dokter tersebut


"Baik dok, apakah ada lagi yang harus saya lakukan?"


"Cukup istirahat yang cukup dan jangan rerlalu banyak melakukan pekerjaan yang melelahkan. Obat dan vitaminnya udah saya tulis di resep ini, mohon ditebus nanti"


"Terima kasih dokter" jawab Sean sambil mengiring Cycell keluar dari ruang tersebut.


Sembari menunggu obatnya selesai, Cycell memikirkan nasibnya di sekolah.


"Bang, sekolah Icell gimana nanti kalau perut Icell udah mulai gede?"


"Nanti abang urus semua itu. Adek jangan terlalu khawatir soal itu, abang bakal lakuin yang terbaik"


"Oke bang, makasih ya". Cycell percaya bahwa abangnya pasti akan menemukan jalan yang terbaik untuk kehidupannua. Ia hanya bingung cara memberitahukan semua ini kepada Farel. Apakah saat Farel tau ia akan menerima bayi ini? Atau justru menolaknya mentah mentah? Memikirkannya saja membuat kepala Cycell pusing. Karena terlalu lelah, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Kebetulan obatnya sudah selesai dan Cycell bisa pulang saat ini.


Sebelum pulang, Sean memutuskan untuk mampir ke minimarket di dekat rumah. Ia dan Cycell membeli beberapa kotak susu ibu hamil dan perlengkapan lainnya. Setelah sekiranya semua yang dibutuhkan ada, mereka segera membayar belanjaan tersebut ke kasir dan pulang ke rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2