
Happy Reading!
***
Hari ini meskipun Prilly disibukan dengan pekerjaannya, tetapi pikirannya masih tentang Ali dan Delin--anaknya.
"Yaudah lah, apa boleh buat? Kalau emang udah ditakdirkan Ali tau semua--gak boleh lagi ngelak, kesian juga sama Delin" Gumam Prilly lalu menggeleng kan kepalanya dan melanjutkan pekerjaannya.
***
"Paman ganteng?" Tanya Delin saat baru saja keluar sekolah dan mendapati Ali didepan gerbang dengan masih memakai pakaian kantornya.
Delin menoleh memastikan bahwa orang yang ia panggil 'paman ganteng' memang orangnya--sapa tau ia salah orangkan?

Ali baru saja pulang dari kantor lebih cepat agar bisa bertemu Delin--anak dari Prilly yang mungkin juga anaknya. Ia sudah menyelidiki siapa yang tinggal dirumah tadi, dan ia tau semuanya.
Delin anak dari Prilly yang dikabarkan sudah cerai dengan suaminya dan tinggal dengan sahabat nya. Kalau tidak salah namanya Mila--dan Ali ingat bahwa Mila itu yang menjemput Delin kemarin.
"Paman ganteng? Siapa?" Tanya Ali tetapi jari telunjuk miliknya mengarah pada dirinya sendiri.
"Iya paman!" Tunjuk Delin seraya tersenyum girang, Ali pun terkekeh--ia memang ganteng, pujinya sendiri dalam hati.
Ali pun langsung menggandeng tangan Delin dan membawa ke bangku yang kosong untuk duduk.
"Loh paman ngapain disini? Jemput Aunty Kaia ya? Ohiya! Kata Mommy paman itu pacarnya Aunty Kaia, emang bener paman?" Tanya Delin beruntun membuat Ali menggaruk tekuknya yang tak gatal. Apa-apaan? Yakali pacaran sama kakak sendiri, batin Ali menggerutu--Prilly memang seenaknya.
"Paman! Kok ngacangin Delin?" Panggil Delin seraya cemberut.
Ali pun terkekeh, "paman mau jalan-jalan aja kebetulan lewat gitu jadi mampir, paman bukan pacarnya Kaia kok" Jawab Ali seadanya.
"Terus?" Tanya Delin penasaran.
"Eh? Yaaa--gak ada terus-terusnya" Jawab Ali binggung, mau jawab apaan coba?
"Ish paman! Maksud Delin itu--jadi paman siapanya Aunty?" Tanya Delin lagi dan Ali pun mengangguk paham.
"Kaia itu kakaknya paman!" Jawab Ali membuat Delin mengangkat kedua alisnya.
"Masa?" Tanya Delin lagi masih tak percaya.
"Iyaaaa, ohiya--mana Mommy kamu? Kok belum jemput?" Tanya Ali mengalihkan pembicaraan. Bosan--masa bahas Kaia mulu.
"Bentar lagi Mommy pasti datang" Ucap Delin seraya melihat-lihat sekitarnya. Ali pun hanya mengangguk.
"Eh Delin!" Panggil seorang anak kecil perempuan membuat Delin menoleh cepat.
"Kenapa?" Tanya Delin melihat teman sekelasnya memanggilnya.
"Sini dulu" Ucap teman sekelasnya itu membuat Delin berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Paman--Delin kesana dulu" Pamit Delin seraya menunjuk arah kanan dimana ada sekumpulan teman-teman sekelasnya, memang tak jauh dari tempat ia duduk.
Ali pun hanya mengangguk mengiyakan, mungkin masalah PR atau yang lainnya. Delin pun langsung berjalan mendekati teman-teman nya.
Dari kejauhan--tepatnya sebelah kiri Ali, Prilly baru saja turun dari taksi dan melihat anaknya mendekati teman-temannya--dan Prilly juga melihat dibangku tak jauh dari sana ada Ali duduk.
Ia pun menghela nafas dan langsung berjalan menghampiri.
"Kenapa?" Tanya Delin melihat teman-teman perempuan dan laki-laki nya menatap ia sengit.
"Katanya kamu gak punya Daddy, terus itu siapa?" Tanya anak perempuan yang memanggilnya seraya menunjuk Ali yang duduk memperhatikan mereka. Ali yang ditunjuk pun mengangkat kedua alisnya heran, begitu juga Prilly yang sudah dekat disana berhenti berjalan karena mendengar perkataan teman anaknya karna emang sedikit keras--sementara ia lihat Delin pun menundukkan kepalanya.
"Kalau itu Daddy aku kenapa?" Tanya Delin seraya mengangkat kepalanya.
"Gak cocok, kamu kan cocoknya gak punya Daddy" Sahut salah satu anak laki-laki disana.
Prilly yang mendengar nya pun sakit, sebegitunya kah anaknya ini jika tidak mempunyai ayah?
"Kenapa begitu? Itu hak aku punya daddy apa engga..aku aja gak pernah ikut campur urusan kalian--kenapa kalian malah ikut campur urusan Delin?" Tanya Delin marah, ia bukan anak cenggeng yang sedikit ditindas akan langsung menangis. Ia sudah biasa ditindas masalah daddynya.
"Huh...kata mommy aku ya--mommy kamu itu murahan" Ucap anak perempuan yang dari tadi diam dengan sinis.
Ali dan Prilly pun masing-masing kaget atas ucapan anak seumuran mereka. Mungkin orangtuanya kurang memperhatikan dalam mendidik anak.
Ali pun langsung berdiri dan menghampiri Delin, Prilly pun hanya diam melihat apa yang akan dilakukan Ali--apakah Ali sudah tau semuanya?
"Maaf adik-adik, sebelumnya Paman mau kasih tau--kalian masih kecil..jangan ngomong begitu lagi yaa, lagian jika Delin punya Daddy apa gak itu gak mempengaruhi kalian juga kan?" Ucap Ali lembut, ini anak-anak yang belum ngerti apa-apa. Ia harus sabar.
"Iyaa--paman Daddynya Delin" Ucap Ali lalu langsung menggandeng tangan Delin, ucapan Ali membuat Delin menoleh lalu tersenyum sementara Prilly hanya diam terpaku.
Karna kalah, mereka pun pergi dengan kesal.
"Makasih paman!" Ucap Delin tersenyum girang, baru kali ini ia dibela seorang laki-laki, karna biasanya hanya Mommynya atau Aunty Mila yang membelanya disekolahnya sebelumnya. Tetapi setelah itu ia akan tetap di bully karna tidak ada Daddy yang membelanya, dan kali ini ia yakin jika besok-besok ia tak akan dibully lagi. Semoga.
Ali pun berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Delin, ia pun terkekeh lalu mengacak-acak rambut Delin.
Prilly pun menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekat.
"Ekhm!" Batuk Prilly membuat Ali dan Delin menoleh serentak.
"Prilly?!"
"Mommy?!" Delin pun langsung memeluk kaki Prilly girang, sementara Ali berdiri dari jongkok-nya.
"Maaf udah ngerepotin" Ucap Prilly tetapi ia masih tidak ingin melihat wajah Ali--maka dari itu ia hanya melihat kebawah mendapati Delin tersenyum manis padanya.
"Ngerepotin banget sih sebenarnya, tapi gak apa-apa" Ucap Ali ngasal.
Prilly pun langsung menatapnya sengit.
"Kalau gak ikhlas gak usah nolong anak gue!" Ucap Prilly sinis, Ali pun menggaruk tekuknya yang tak gatal, sementara Delin hanya diam karna tak paham mengapa Mommy-nya tiba-tiba marah pada paman ganteng-nya.
__ADS_1
"Mommy! Ini paman ganteng yang Delin ceritakan, ganteng kan Mom?" Tanya Delin girang seraya menunjuk Ali.
"Gak, biasa aja" Jawab Prilly sinis, Ali pun mendelik tak suka.
"Yaahh, kalau menurut Delin sih ganteng--tapi Mom kata paman dia bukan pacarnya Aunty Kaia loh" Jelas Delin masih tak putus asa.
"Terus?"
"Yaa--sapa tau kalau Mommy suka kan pamannya bisa jadi Daddy Delin gituu" Ucap Delin tersenyum manis, Prilly pun melongo kenapa anaknya ini bisa berbicara seperti itu?
"Hah? Yakali cuman gara-gara ganteng.." Gumam Prilly tetapi masih dapat didengar kedua orang itu.
"Bisa kok Delin, Paman jadi Daddy Delin!" Ucap Ali membuat Delin berloncat kegirangan.
"Yeay! Delin punya Daddy!" Pekiknya membuat Prilly menatap Ali tajam.
"Enak aja, gak-gak" Tolak Prilly kesal, ia langsung menggandeng tangan kiri Delin untuk pergi dari sana. Tetapi Ali lebih sigap menggandeng tangan kanan Delin untuk menahan anaknya itu.
Untungnya belum sempat terjadi aksi tarik-tarikan---Kaia datang dari arah belakang.
"Wah ada tontonan rebutan anak ini" Ucap Kaia membuat mereka bertiga menoleh kearah belakang, Delin pun langsung melepas tangan Prilly dan Ali untuk berlari kearah Kaia.
"Auntyyy!" Pekiknya seraya memeluk kedua kaki Kaia.
"Kenapa sayang?" Tanya Kaia seraya mengelus rambut Delin.
"Mommy sama Paman rebutin Delin" Adu Delin membuat Kaia menggelengkan kepalanya.
"Udah-udah, mending Delin pulang sama Aunty yuk?" Ajak Kaia dan langsung diangguki Delin.
"Eh gak usah Kai, Delin sama Aku aja" Ucap Prilly menolak lalu langsung menghampiri anaknya dan menggandeng nya.
"Yaudah sama kakak aja Pril sekalian, kan tadi berangkat sama kakak" Ucap Kaia dan langsung diangguki Prilly, benar juga.
"Eh, Delin sama gue aja!" Ucap Ali berjalan menghampiri mereka dengan tangan disaku jasnya.
"Gak!" Tolak Prilly tegas.
"Delin mau ya?" Tanya Ali lembut, Delin pun binggung dibuat ketiga orang dewasa didepannya ini.
"Ali! Lo bisa gak sih gak usah maksa?" Tanya Kaia kesal, Ali pun mendelik tak suka.
"Seterah gue dong! Lagian lo juga termasuk ikut nyembunyiin Delin dari gue" Ucap Ali sinis, Kaia pun menghembuskan nafasnya kasar.
"Oohh jadi nama paman itu Ali?" Tanya Delin yang hanya bisa menangkap nama paman ganteng nya saja dari sekian banyak yang mereka bicarakan.
Ali pun hanya mengangguk seraya tersenyum. Anaknya ini memang menggemaskan.
"Yaudah lo ikutin mobil gue aja dari belakang, kita bicara dirumah Mila aja biar lebih enak" Ucap Kaia membuat keputusan, lagian gak enak disini debat karna masih banyak orang.
Ali pun hanya mengangguk menyetujui, yang penting ia harus bisa bersama Prilly dan Delin lagi.
__ADS_1
***