
Seorang gadis keluar dari bandara dengan gaya yang wow. Dia cantik banget. Persis kayak girlband Korea yang tersesat gitu. Dari awal kedatangannya saja sudah bisa menyedot perhatian banyak orang. Tampaknya dia bukan orang biasa.
Gadis itu menyeret sebuah koper berwarna hitam dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menenteng tas putih berkilau yang sudah pasti barang unlimited edition.
"Dia cantik banget.......," ujar beberapa orang yang menatapnya sedari tadi.
Ya, gadis itu memang luar biasa. Kulitnya putih bersih seperti susu, rambutnya hitam panjang, tingginya semapai, dan paling khas darinya adalah bentuk tubuhnya yang terlihat jelas dibawah balutan busananya. Ia mengenakan pakaian serba hitam, yang ditambahkan dengan jaket berwarna biru. Sangat sempurna untuk seorang gadis yang fashionable.
"Nona Brigitta Yamasaki?" seorang pria berbalut jas memanggil nama lengkap gadis itu.
"Ya?" jawab gadis itu bingung. Tentu ia heran ada yang tau nama lengkapnya. Sejenak ia menghentikan langkahnya. Menatap pria yang sudah berumur itu sebentar.
"Anda putrinya tuan Haruciyo Yamasaki, kan?" pria itu kembali bertanya.
"Iya, benar. Kamu siapa, ya?" balas Brigitta balik bertanya.
"Saya Dimas, nona."
Brigitta langsung ngeh. Wajah cantiknya tiba-tiba bersinar ketika mendengar nama pria itu adalah Dimas. Itu artinya pria inilah yang akan menjadi bodyguardnya selama ia tinggal di negara itu.
"Oh, pak Dimas toh," ujarnya girang sambil mendekat ke arah pria itu. "Jadi pak Dimas yang diwakilkan untuk menjemput saya?"
Dimas tersenyum sumringah seraya menjawab, "Iya, non. Tuan Haruciyo memilih saya. Jadi untuk kedepannya, anda bisa mengandalkan saya untuk apapun juga."
"Baiklah. Saya kira saya sudah tau betapa hebatnya bapak. Jadi saya tidak akan ragu untuk itu. Mohon kerjasamanya." Brigitta berucap semangat.
Dimas hanya mengangguk sebagai jawaban. Ada seulas senyum tipis yang terukir di bibirnya. Mulai sekarang, dia telah memegang tanggung jawab yang lebih besar karena harus mengurusi gadis cantik yang kerap disapa Tata itu. Sebelumnya dia adalah seorang pria yang merupakan tangan kanan dari Haruciyo. Semua usaha yang dimiliki keluarga Yamasaki yang ada di negara itu di kontrol olehnya. Dan sekarang, tambah satu aset berharga yang harus dia tangani.
"Sekarang kita mau kemana, pak?" tanya Tata. Ia mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam.
"Terserah non Tata. Saya hanya akan mengikut saja. Tapi jika ingin pulang, saya akan menghantarkan anda ke hotel." Jelas Dimas.
Tata merenung. "Aku tidak ingin kemana mana. Aku hanya ingin ke makam Hana."
"Baiklah, nona. Saya akan menghantarkan anda kesana," ujar Dimas dengan gaya yang tetap sama seperti sebelumnya.
__ADS_1
Tata mengangguk. Ia tau kalo papanya pasti sudah memberitahu semua kegundahan hatinya pada pria ini. Makanya dia langsung masuk ke mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri sedari tadi. Dengan sengaja dia meninggal kopernya. Membiarkan pria itu menggantikan tangannya untuk menyeret benda itu agar berpindah.
Selang beberapa saat setelah koper dimasukkan ke kursi belakang, pak Dimas masuk dan duduk di samping Tata. Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, Tata hanya banyakan diam. Dia hanya menjawab singkat jika Dimas menanyakan sesuatu. Dan setelah menempuh waktu sampai satu jam, akhirnya mereka sampai di suatu tempat. Di sana banyak sekali makam dengan bentuk yang hampir sama.
Ternyata mereka berdua sedang mengunjungi pemakaman umum. Dimas menepikan mobilnya dipinggir pemakaman tersebut. Cuaca terlihat bagus. Langit biru yang dihiasi awan tampak sedang berbahagia. Sinar matahari menyorot tajam hingga menerpa segalanya.
Dimas turun dari mobil dan berlari untuk membukakan pintu untuk nonanya. Dan setelah pintu terbuka, Tata keluar dengan kacamata hitam yang bertengger diwajahnya. Sepertinya dia ingin melindungi matanya dari sinar matahari yang tidak kompak dengan keinginannya.
"Dimana makamnya?" tanya Tata dengan nada angker.
"Ikuti saya, nona." Sahut Dimas melangkah masuk ke pemakaman. Ia berjalan melewati makam-makam lain yang berjejer rapi. Dan setelah berjalan sekitar dua puluh meter, akhirnya keduanya sampai di sebuah makam yang paling indah. Makam itu unik, bahkan sangat unik. Bunga-bunga bermekaran disekitar makam seolah makam itu adalah tempat yang tepat untuk melebarkan mahkota bunga.
Tata terpaku. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat siapa pemilik makam tersebut. Kacamata yang bertengger diwajahnya dibuka agar lebih jelas melihat.
"Hana Angela." Begitulah ia membaca pelan. Ia menyipitkan matanya untuk melihat gambar siapa yang terukir di batu nisan itu.
Tiba-tiba aliran listrik mengalir ditubuhnya. Ia langsung duduk terkulai disamping makam itu.
Air matanya tumpah. Tiba-tiba saja rasa sakit menusuk sampai tulang terdalamnya.
"Jadi Hana benar meninggal?" tidak tau pada siapa dia bertanya, namun pria yang bersamanya menjawab.
"Benar. Non Hana meninggal satu tahun yang lalu."
Mendengar ucapan Dimas Tata semakin sedih. Jujur saja, dia tidak pernah percaya akan kabar itu. Bahkan saat Papanya memberikan bukti berupa dokumentasi dia sama sekali tidak percaya. Ya, bahkan meski dulu ia melihat jasad Hana sekalipun, dia tidak akan percaya kalo sahabatnya itu sudah tiada.
Namun ternyata pada akhirnya dia bisa percaya. Dengan melihat makam itu, sudah jelas dia harus menerima kenyataan pahit ini. Hana meninggal. TITIK.
Suasana siang itu langsung berubah. Matahari yang tadinya memancarkan sinar yang menyengat tiba-tiba saja diselimuti awan mendung. Hari jadi kelam. Sepertinya ada sesuatu hal yang buruk yang akan terjadi.
"Han...." memegang batu nisan dengan perasaan yang sangat hancur. "Kenapa secepat ini? Kamu masih punya mimpi yang panjang, kenapa sih harus begini?"
Hening. Tidak ada jawaban. Bahkan kuburan itu seperti tidak peduli dengan pertanyaan pahit yang dilontarkannya.
"Hana.... kau orang yang sangat baik. Tidak adil banget kau berakhir seperti ini. Rasanya ada banyak hal yang tidak beres dalam kehidupanmu. Aku kasihan, tapi tidak tau harus melakukan apa." Air mata penuh penyesalan membanjiri pipi gadis itu.
__ADS_1
"Dua tahun lalu, saat aku datang ke kesini, kau bilang hidupmu sudah bahagia. Dengan kehadiran Dika, kau berujar bahwa itu keberuntungan. Namun, tahun lalu datang kabar kalo kau sudah menikah. Dan aku kaget karena ternyata bukan Dika nama prianya. Aku kecewa, Han.... kau tidak mengundangku di pesta pernikahanmu."
Pilu. Bahkan burung yang bertengger di pohon yang tidak jauh dari makam itu bisa merasakan kesedihan hati seorang Brigitta.
"Kau masih sempat bicara padaku. Mengatakan hal-hal konyol yang tidak masuk akal. Dan.... kau bilang aku harus menjaga Dika untukmu..... Dan tiga hari kemudian kabar kematianmu datang mengguncang ku. Sebenarnya apa yang terjadi padamu......" Tata memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Ada setumpuk penyesalan yang bergabung didalam jiwanya.
Pak Dimas ikut prihatin melihat keadaan Tata. Namun dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghibur majikan cantik nya itu. Hanya bisa menatap iba tanpa harus menghentikannya.
"Kau orang yang sangat baik. Dalam hidupmu kau sudah cukup berbuat banyak untukku. Dan sekarang, giliran ku untuk berbuat sesuatu untukmu juga. Maaf sayang, karena harus datang terlambat. Tapi aku benar-benar akan melakukan apapun demi menyanggupi permintaanmu. Kau bilang aku hanya perlu menjaga Dika, kan? Aku hanya perlu memperhatikan dia agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan. Percaya padaku, Han. Aku akan melakukannya untukmu. Jangan lagi menghawatirkan dia, aku disini untuk menjaganya." Tata bicara panjang lebar seraya terus menitikkan air mata tiada henti. Dia tidak sadar, bahwa kuburan itu hanya diam sedari tadi. Dan paling tidak mungkin makam itu mendengar semua perkataannya.
Tidak terasa mereka sudah menghabiskan waktu sampai dua jam di makam itu. Gadis cantik itu terus menangis sambil bergumam gumam lirih. Sedangkan pak Dimas terus berdiri ditempatnya dengan tangan yang bersembunyi di belakang. Ia terlihat sabar banget menunggu nonanya selesai.
Tak seberapa lama, akhirnya Tata bangkit. Dia terlihat lelah banget. Wajahnya yang begitu cantik tetap saja cantik walau rautnya kusut dan make up-nya hancur. Ya, meskipun penampilannya sudah tidak bagus lagi, tapi kesan sensual wanita itu tetap saja dapat ditangkap mata.
"Aku mau pulang!" ujar Tata agak kasar.
"Pulang kemana, non? Hotel atau apartemen?" tanya Dimas.
"Hotel aja deh. Aku mau istirahat." Tata berjalan meninggalkan pria itu. Langkahnya terlihat sangat lemah, sepertinya dia kehabisan tenaga. Maklumlah, menangis untuk waktu yang panjang juga kan membutuhkan tenaga yang banyak, apalagi kita menangis sambil bicara, huh! Asli semua tenaga seperti terkuras habis. Seolah kita melakukan perkejaan yang sangat berat.
Saat Tata berjalan, Dimas mengekor dari belakang. Namun tiba-tiba gadis itu berhenti, memutar badan hingga matanya bertemu dengan mata pak Dimas. Sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
"Tolong, sembunyikan keberadaan ku dari kak Satria. Jangan biarkan dia mengetahui jika aku tinggal di negara ini. Karena jika sampai itu terjadi, aku benar-benar tidak akan bisa menyelesaikan musiku." Mata indah milik Tata tiba-tiba berkaca-kaca saat mengatakan itu. Manik matanya terlihat memohon dengan tulus.
"Tapi nona, tuan Haruciyo menugaskan saya untuk menghantarkan anda ke rumah tuan Nugroho. Karena katanya....."
Belum sempat pak Dimas menyelesaikan kalimatnya, Tata langsung menyela, "soal papa aku yang ngurus. Pak Dimas hanya perlu mengikuti apapun yang saya katakan. Tolong saya kali ini pak..."
"Ta... Tapi...,"
"Saya mohon. Ini sangat penting bagi saya. Jika sampai Satria tau aku disini, dia pasti tidak akan membiarkanku. Tolonglah...." mohon Tata.
Cukup lama Dimas berfikir. Hingga akhirnya dia mengangguk tanda persetujuan.
Senyum Tata langsung mengembang. Dia senang ada yang mengerti dia.
"Makasih, pak... anda sangat baik sekali."
__ADS_1