Dendam Anak Jalanan

Dendam Anak Jalanan
Ternyata Dika Berbeda


__ADS_3

Tata mematung menyaksikan kepergian sekretaris Off. Nafasnya tersengal, dia takut. Ternyata sifat Dika jauh berbeda dengan cerita Hana dimasa lalu.


Pria itu kejam, sangat kejam. Tata sampai tahan nafas dibuatnya.


Gadis itu menunduk, terpejam lalu menangis. Ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu sebelumnya. Biasanya dia dipuji dan disanjung sanjung. Ini awal yang menyakitkan.


"Ada apa nona?" seorang wanita menghampirinya.


Tata mengintip, mencoba melihat siapa yang berbicara. Ternyata pelayan yang membantunya tadi.


Tata membuka matanya, menegakkan kepala, menatap wanita itu sedih.


"Dika memarahiku." aduh nya.


Wanita itu tersenyum kecil. "Kita bicara dibelakang, yuk. Disini banyak pelayan, mereka bisa saja mengadukanmu pada sekretaris Off." Bisik wanita itu.


Tata menyapukan pandangan ke sekeliling. Benar, ada banyak pelayan dirumah itu. Dia baru menyadarinya. Berarti dari tadi semua menyaksikan adegan memalukan itu? Wah! Ini keterlaluan namanya.


Tak bisa berbuat apa, Tata hanya pasrah mengikuti wanita itu. Daripada dipertontonkan karena menangis, mending dia ngikut wanita itu. Lumayan juga dapat sedikit informasi.


"Duduklah, nona!" wanita itu menepuk kursi disampingnya. Kebetulan ada dua kursi menghadap taman.


Tata menurut. Duduk tepat di samping wanita itu.


"Kamu dari keluarga kaya, ya?" tanya wanita itu ditengah kelengangan yang terjadi.


Gadis itu menoleh, "Memangnya kenapa?"


"Bukan karena apa-apa sih, hanya saja semua hal tentangmu hampir menunjukkan bahwa kamu berasal dari keluarga berada. Contohnya saja tentang kopi tadi, biasanya hanya golongan kaya yang tidak tau cara membuat kopi. Terus tentang penampilanmu, rasanya tidak mungkin gadis secantik kamu mencari pekerjaan sebagai pelayan. Kenapa tidak model saja?" wanita itu menjelaskan kecurigaannya.


Tata tersenyum kecut. "Kenapa semua orang bisa menebak ku dengan mudah. Padahal aku sudah memakai pakaian pelayan seperti ini," mengeluh sambil menyentuh bajunya yang dominan putih.


"Jangan sedih seperti itu nona, kamu masih bisa memperbaikinya kok. Aku akan membantumu." Wanita itu tersenyum manis. "Sebelumnya, kenalkan namaku Sumitra." Mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


Tata langsung berseri menerima uluran itu. "Tata!"serunya bersemangat.


"Nama dan wajahnya sesuai. Sama-sama cantik."


"Makasih, nyonya Sumitra."


"Jangan panggil Nyonya, saya jadi merasa terhormat. Panggil sesukamu aja, asal jangan nyonya."


"Bagaimana kalo bik Sumi?" saran Tata.


"Lumayan. Tapi aku jadi teringat sama non Hana. Dia juga memanggilku demikian. Suka sedih kalo kebayang pada gadis malang itu,"


"Non Hana? Apa maksud bik Sumi, Hana Angela?"


Wanita itu mengangguk.


"Wah... berarti bibik dekat dengannya dong?"


"Bisa dibilang begitu." jawab bik Sumi.


"Kebetulan bik, saya datang kesini juga karena Hana. Dia itu sahabat karib aku. Sekarang aku jadi pelayan disini karena permintaannya." Tata tidak segan-segan memberitahu tentang itu. Dia pikir mereka sudah cukup dekat.


"Benarkah?" bik Sumi sepertinya tidak percaya.


"Iyaloh bik. Nama lengkap ku Brigitta Yamasaki. Tinggal di Jepang bersama Papa dan Mama. Tapi aku pernah tinggal disini, bersama Hana dan kak Satria, lumayan lama loh."


"Oh, jadi kamu yang namanya Brigitta. Non Hana pernah kok ceritain non Brigitta. Katanya nona pacarnya tuan ganteng itu, kan?" bik Sumi malah menggoda Tata.


Tata mengerutkan keningnya heran. "Tuan ganteng? Siapa bik?"


"Alla! Pura-pura ngga ngeh. Ituloh, kakak laki-lakinya non Hana. Saya lupa lagi namanya!"


"Kak Satria?" Tata membantu.


"Iyesss. Tuan Satria Nugroho. Itu pacarnya non Tata, kan?" goda bik Sumi sekali lagi.


"Astaga! Bukan kok, bik! Kami udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Udah lama end kok."


Bik Sumi menggaruk kepalanya. Kayaknya kurang mengerti tentang ucapan gadis itu barusan.


Tata memperhatikan wajah itu, masih cantik, hanya saja sudah dihiasi oleh keriput halus.


"Bibik bisa bantu aku, kan?" Tata meminta penuh harap.


"Bantu apa, non?" wanita itu bingung.


"Bantu aku untuk menjaga Dika. Aku ingin memenuhi permintaan Hana. Permintaan pertama dan terakhirnya. Bantu aku membuatnya tidur dengan nyenyak." Tata hampir menangis, pelupuk matanya sudah berair.

__ADS_1


"Tentu akan saya bantu nona. Semua yang bersangkutan dengan non Hana bukankah hal yang bisa saya abaikan. Dia gadis baik, dan telah menjadi satu-satunya temanku saat berada di kediaman Prasetyo. Akan ku korbankan segalanya untuknya. Demi membantunya tidur dengan nyenyak, seperti yang non katakan tadi." Bik Sumi ikut berikrar. Ia juga turut sedih atas nasib wanita itu.


"Astaga Hana.... lihat, ada begitu banyak orang yang menyayangimu. Tapi semua baru bertindak saat kau sudah pergi. Termasuk aku. maafkan aku besti." Tata meluncurkan air matanya. "Aku yakin, kau memaafkan kami semua. Karena begitulah dirimu. Selalu baik pada semua orang."


Entah pada siapa Tata bicara, intinya dia bergumam sendiri. Bahkan bik Sumi pun tidak bisa mendengar apa yang dia ucapkan


"Maaf nona, tapi bagaimana anda bisa sampai disini?" bik Sumi mencoba mencari topik.


" Karena Hana meneleponku satu tahun yang lalu. Dia minta tolong banget, agar aku bisa menjaga Dika untuknya. Tapi aku kira dia main-main, makanya aku nggak peduli. Bahkan saat kabar kematiannya datang, aku tetap tidak percaya. Karena sebelumnya dia masih bicara baik-baik padaku. Makanya aku masih sempat-sempatnya menyelesaikan studi ku. Dan ternyata, semua benar adanya... dia benar-benar tidak berada di bumi ini lagi. Hiks," gadis itu menangis. Ia menyesali kebodohannya.


"Tidak apa nona. Ingatlah, ketika kita kehilangan sesuatu di hidup ini, sebenarnya Tuhan sedang menguji seberapa kuat kita menghadapi cobaannya. Harusnya kita tetap bersyukur dan berdamai dengan keadaan."


"Matahari boleh tenggelam, tapi ia ingat untuk terbit lagi dihari esok. Semoga non Tata juga demikian. Sekarang bisa sedih tapi ingat, besok harus bahagia. Agar non Hana juga bahagia diatas sana."


Tata memaksakan senyumnya. Ia menghambur masuk ke pelukan wanita itu.


***


Mobil hitam yang dikendarai sekretaris Off berhenti di pintu gerbang kediaman Nugroho. Tak seberapa lama saat seseorang membukakan gerbang, ia melesat kedalam. Membuat suara derit yang tercipta dari gesekan ban mobil dengan paving blok. Beberapa orang yang melihatnya cukup takjub sambil menerka-nerka siapa sebenarnya pengendara hebat itu.


Dika keluar saat pintu dibukakan untuknya. Beberapa orang yang sedari tadi penasaran dengan sesosok pengemudi, terlupakan karena lebih suka memandangi wajah Dika meski dari jarak yang jauh.


Dimana-mana image nya itu loh yang membuat orang-orang tertarik. Dia seolah memiliki sesuatu dalam tubuhnya hingga semua orang penasaran dengan sesosok Dika. The real of lord. Sebutan baru baginya.


Sekretaris Off memilih menunggu di mobil saja. Dia bilang, kalo ada sesuatu yang harus dilakukan tinggal dihubungi aja. Soalnya dia agak takut untuk masuk kerumah itu.


Tanpa ba-bi-bu Dika langsung masuk kedalam rumah. Kebetulan pintunya terbuka lebar. Makanya ia bisa menembusnya dengan cepat. Tidak ada juga penjaga pintu seperti dirumahnya. Ya iyalah, orang dia jauh lebih kaya daripada Herman Nugroho. Huh! Kalah jauh malah.


Dika berhenti ditengah ruangan. Memasang senyum sinis saat matanya bertemu dengan Herman Nugroho yang sedang duduk diatas sofa.


"Tuan Dika?" ucapnya terkejut.


"Nak Dika?" tidak jauh, di samping Herman ada seorang wanita yang juga duduk sambil menyesap teh.


Kedua berdiri, melangkah mendekati Dika.


"Nak Dika, apa kabar?" Cleopatra langsung memeluk Dika. Memang kurang ajar sih, tapi Dika tidak protes.


"Saya baik-baik saja, Tante." Balasnya datar. Ia membiarkan wanita itu memeluknya.


Cleopatra melepaskan pelukannya. Sejenak menatap wajah Dika. Masih sama, tidak berubah meski sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu.


Mata Cleopatra langsung mengembun.


"Saya tahu anda tidak terlibat dalam kematian Hana. Jadi saya sangat berharap agar anda mengiklaskan nya."


Mata Dika beralih ke wajah Herman. "Dan untuk anda, Hana bilang, dia sudah memaafkan anda. Dengan demikian, saya juga sudah memaafkan anda. Dan soal ultimatum yang kemarin, saya rasa itu sudah berlalu. Saya tidak berniat menghancurkan anda lagi."


Herman bergetar mendengar itu. Entah kenapa dia semakin takut. Dia pikir Dika hanya bercanda saat ini-- mungkin saja Dika sedang menjebaknya saat ini. Mengatakan sudah memaafkannya padahal hanya permainan agar dia lebih mudah di jatuhkan.


"Lihat, betapa beruntungnya kalian memiliki putri sebaik itu. Tapi sangat disayangkan, kalian malah menjebaknya hingga berakhir menyedihkan. Disaat dia tidak dipedulikan siapapun, disaat dia dihianati habis-habisan, dia masih sempat mengatakan bahwa dia sudah memaafkan semuanya. Harusnya kalian menyadari itu..."


Cleopatra menunduk. Air matanya meluncur bebas mendengar ucapan Dika.


Sama dengan Cleopatra, Herman juga melakukan hal yang sama. Kepalanya menunduk sedalam-dalamnya. Ia tau, semua ini tidak akan terjadi apabila saja ia tidak melakukan kebodohan dimasa lalu.


"Hapus air mata anda, saya tidak ingin Hana sedih karena melihat anda menangis."


Setelah mengucapkan itu, Dika melanjutkan langkahnya untuk segera menemui Satria.


Saat dia hendak mendaki tangga, tiba-tiba kenangan pahit muncul dalam benaknya. Ia ingat, dulu Herman menghinanya habis-habisan ditempat dia berdiri sekarang. Ia tidak bisa melupakan bagaimana pria itu menyuruhnya berlutut dan mencampakkannya. Semua itu tidak mudah terhapus dari memorinya.


Tapi dia sudah berjanji untuk memaafkan pria itu. Biarlah semua kejadian pahit itu menjadi kenangan. Meski kenangan yang menyakitkan. Ini demi cintanya kepada Hana.


"Satria!" Dika tiba-tiba muncul seperti hantu dibelakang Satria.


Pria itu terkejut setengah mati. Apalagi saat tahu siapa yang memanggil namanya. Woah, double kaget.


"Dika?" semula pria itu sedang mengumpulkan beberapa bukti kekerasan yang didapatkan Hana. Tapi kini ia sudah mengehentikan aktifitasnya itu. Beralih ke Dika.


Dika santai banget. Dia berlagak seperti orang tanpa dosa yang baru datang langsung duduk ditepi ranjang milik Satria. Padahal jika dia mengingat perlakuannya pada Satria beberapa hari lalu, harusnya dia tidak berani walau hanya sekedar menyapa Satria lagi.


"Kamu lagi ngapain?" tanya Dika tanpa memperhatikan wajah kaget Satria.


"Harusnya aku yang bertanya, kamu ngapain kesini?"


Dika tidak menjawab. Ia malah sibuk menatap ke sekeliling kamar itu. "Kamarmu tidak berubah."


Satria semakin kesal saja. "Jika kau datang kesini untuk mengucapkan itu, maka kumohon dengan hormat, pergilah!" kini pria itu yang berubah tegas.


"Benaran?" lanjut Dika. "Bukankah kau butuh bantuan untuk mengungkap kematian Hana?" Dika berdiri, tersenyum sinis, ingin pergi sesuai perintah Satria.

__ADS_1


Seketika kakak Hana itu membatu. "Kau datang untuk itu?"


"Tadinya. Tapi kau sudah menyuruhku pergi, jadi sekarang niatnya mau pergi." balas Dika santai sambil melanjutkan langkahnya.


"Tunggu...!"


Dika berhenti tepat di bibir pintu. "Ada apa lagi?"


"Tolong bantu aku...." ujar Satria.


Dika tersenyum sinis sekali lagi. "Seharusnya aku yang mengatakan itu." ucapannya kembali melangkah mendekati Satria.


"Aku juga ingin mengungkap misteri itu." kata Dika datar seraya memperhatikan beberapa gambar yang sudah di print.


"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Dika saat melihat gambar sebuah penganiayaan terhadap Hana--sayang sekali hanya gambar.


"Dari pelayan dirumah Ivano. Aku membayar seorang pelayan dengan jumlah fantastis untuk mengambil gambar ini." Jawab Satria.


"Hanya gambar?" tanya Dika lagi. Ia menghitung ada enam lembar gambar dengan kejadian yang sama.


"Sayangnya, iya."


"Hah! Apa kau yakin bisa mengungkap misteri hanya dengan bukti ini?"


"Tidak sih. Tapi tidak ada bukti lain selain ini," lanjut Satria. "Eh, tapi tunggu dulu, apa kau juga tau tentang ini?"


Agak lama Dika menjawab. Sebelum akhirnya mengangguk. "Aku bahkan memiliki bukti yang sangat banyak. Rekaman, foto, bahkan saksi telah kumiliki. Seandainya aku mau, bukan hal yang sulit untuk memasukkan Ivano kedalam penjara."


"Benarkah?"


"Ya."


"Terus kenapa kau tidak lakukan saja? Tunggu apa lagi?" desak Satria geram.


"Bodoh!" cemooh Dika. "Kau pikir, cukup hanya dengan bukti dan saksi saja? Kau berkata seolah tidak tau siapa Ivano! Dia sangat berpengaruh. Seandainya kita memasukkan dia karena sejuta pelanggaran sekalipun, dia pasti akan terbebas dengan mudah. Ivano itu punya koneksi dimana-mana. Jadi masalah seperti ini bukan halangan untuknya."


Satria merenung. Benar juga kata Dika. Cukup sulit meringkus Ivano. Pria itu bisa melakukan segalanya. Termasuk menguasai seluruh kantor polisi yang ada.


"Jadi bagaimana sekarang?" tanya Satria.


"Kita harus menghancurkannya terlebih dahulu. Pilihan terbaik adalah, membuat dia kehilangan seluruh koneksinya. Agar ketika dia sudah dipenjara nanti, dia tidak bisa keluar lagi." Sahut Dika.


"Itu tidak mudah, Dika!"


"Aku tau. Tapi jika kita bersatu, aku yakin kita bisa. Pokoknya kita harus mengumpulkan yang lain. Andi, Doni dan yang lainnya."


"Yah... kurasa itu cukup masuk akal." Satria menatap Dika, tersenyum kecil.


"Dan aku punya alat untuk menembus keamanan perusahannya. Ini akan lebih mudah," Dika memberitahu dengan wajah serius.


"Apa itu?"


"Susi. Aku akan memperalatnya untuk menghancurkan Ivano." Jawab Dika tersenyum sinis.


"Susi? Sepupunya Ivano itu?" Satria memang tidak tau kelengkapan cerita hidup Ivano. Dan sampai sekarang dia tidak tahu bahwa Ivano sudah menikah sebelum menikah lagi dengan Hana.


"Astaga! Jadi kau belum tau? Apa yang kau ketahui hanya penyebab kematian Hana saja?" Dika jadi frustasi sendiri.


"Ya, emang apa lagi?"


"Ivano itu udah menikah. Sebenarnya Hana itu istri kedua. Nama istri pertamanya Susi."


"Apa?" Satria melotot. "Aku pernah bertemu dengannya. Tapi dia mengaku sebagai sepupunya Ivano."


"Kalo dia mengaku, yang ada dia dinobatkan sebagai manusia paling bodoh di dunia ini." Lanjut Dika.


"Benar juga, sih. Astaga.... ternyata Ivano punya segudang aib. Benar-benar memalukan!"


"Kau tau apa yang paling memalukan? Susi itu pernah jadi pacarku setelah dia menikah. Atau dengan kata lain, aku pernah dijadikan selingkuhannya. Dan aku baru tau itu setelah sekian lama," Dika juga ikut membeberkan ketololannya.


"Hah? Menjijikkan!" sambung Satria.


"Iya...makanya aku ingin membalas mereka berdua."


"Benar, kita harus menyiksa sebelum membusukkan mereka didalam penjara." Satria turut tersenyum sinis.


"Hmmm. Aku rasa kita bisa jadi partner kerja yang baik. Misi kita lumayan sulit. Aku akan memberikan jalan rencananya setelah yang lain berkumpul." Ujar Dika bersemangat.


Satria menatap Dika. "Yang lain? kau yakin mereka mau setelah semua yang kau lakukan pada mereka?" pria itu malah takut sendiri.


"Sebenarnya aku ragu sih. Tapi apa salahnya, sekalian mau minta maaf," jawab Dika datar.

__ADS_1


__ADS_2