
Dika meninggalkan rumah Satria setelah dia membocorkan rencananya untuk ke depan. Baginya, yang terpenting saat ini adalah mengupas tuntas kasus pembunuhan Hana. Tidak peduli seberapa banyak energi yang akan dia buang demi memberikan keadilan pada seseorang yang tidak bernyawa. Baginya, dunia akan cerah kembali saat Hana bisa menutup mata dengan damai. Dan gadis itu akan damai setelah kasus kematiannya dibersihkan. Dika akan memberikan yang terbaik untuk wanita malang itu.
"Atur pertemuan ku dengan Susi!" perintah Dika secara tiba-tiba.
Sekretaris Off yang sedang fokus menyetir mau tidak mau mengiyakan. Meski sebenarnya ini berat untuknya. Tapi mau gimana lagi, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan tunduk kepada Dika. Dia akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh pria itu. Sejak pertama kali bertemu dengan Dika, dan sejak pertama kali pria itu menerimanya sebagai gadis malang, dia sudah meneguhkan hati untuk setia pada Dika. Baginya, pria itu adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki.
Dika memang bukan orang yang pengertian. Terlebih setelah kematian Hana. Tapi bagi Sekretaris Off, Dika adalah orang terbaik. Lebih dari siapapun. Meskipun, dia manusia yang paling disiksa.
"Bagaimana perasaan Anda, Tuan?" tanya Sekretaris Off dengan suara yang pelan namun ketegasannya dapat dirasakan oleh siapapun yang mendengar.
"Kenapa menanyakan sesuatu yang sudah jelas kau ketahui?" bukannya menjawab, Dika malah balik bertanya.
"Bukan begitu, Tuan... saya takut perasaan Anda memburuk setelah bertemu dengan kedua orang tua dari Nona Hana."
__ADS_1
Dika terdiam. Dia menatap lurus ke depan. "Sekretaris Off, selama Hana belum tidur dengan damai, perasaanku akan tetap buruk. Ingat itu!"
Gadis itu tersenyum kecil. Itu jawaban yang lumayan, pikirnya. Setidaknya Dika sudah tau bagaimana perasaannya. Biasanya pria itu akan menjawab bahwa perasannya sudah mati. Jadi, bukankah ini sesuatu yang pantas untuk disyukuri?
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah. Hari sudah malam. Jadi Dika memutuskan akan menemui Susi besok saja. Dia harus istirahat. Dan yang terpenting harus mengumpulkan energi untuk esok hari. Karena mulai hari ini dia akan merancang sebuah rencana yang siap memekarkan kembali apa yang sudah layu. Sebuah keadilan untuk wanita yang dia cintai. Ini berat. Tapi dia harus kuat. Demi menemukan sesuatu yang sudah hilang tanpa jejak.
Dika ditemani oleh sekretaris Off naik ke kamarnya. Gadis itu membersikan tempat tidur Dika terlebih dahulu lalu menyiapkan setelan pakaian tidur untuk tuannya. Setelah itu, dia mengantarkannya ke ke dekat kamar mandi.
Sebentar dia beristirahat di atas sofa. Lalu semenit kemudian kembali disibukkan dengan berbagai kegiatan seperti membereskan buku-buku Dika sampai membersikan debu dengan alat elektronik. Persis seperti pembantu rumah tangga. Dia harus rela menjelma menjadi seseorang yang multifungsi. Demi janjinya di masa lalu.
"Anda mau secangkir kopi?" tanya Sekretaris Off setelah pria itu duduk di atas sofa di kamarnya.
"Tidak." jawab pria itu singkat.
__ADS_1
"Baiklah, kalo demikian, saya izin pamit Tuan, saya masih punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." kata Sekretaris Off sopan dibarengi senyuman tipis.
"Hmmm."
Mendengar itu Sekretaris Off langsung bergegas menuju pintu keluar. Dia masih harus mengurus pertemuan Dika dengan Susi. Sebenarnya ini berat banget, tapi biar bagaimanapun dia harus melakukannya agar Dika tidak kecewa padanya. Meskipun dia harus rela tidak tidur satu malam ini.
Sementara itu, di sebuah kamar yang kecil dan sempit di rumah Dika, seorang gadis tengah marah marah tidak jelas.
"Aduhh! Kok kamarnya kecil banget! Pengap lagi!" omel gadis itu.
"Ini mah kamar untuk bayi! Bahkan baby Alona tidak akan mau tidur di kamar sekecil ini!" gadis itu bersungut tiada henti sambil mengerutkan keningnya. Terlihat jelas ketidaknyamanan di wajahnya.
Padahal, kamar itu tidaklah sekecil yang dia lontarkan. Ada ranjang yang bisa ditiduri oleh dua orang. Ada lemari serta meja rias. Bahkan kamar itu termasuk mewah untuk diberikan kepada seorang pembantu yang tidak bisa ngapa-ngapain. Sekedar membuatkan secangkir kopi pun tidak becus. Seharusnya dia tidak punya hak buat ngomel seperti itu.
__ADS_1
Dia menghela nafas panjang. Dihempaskannya tubuh ke atas kasur. Mulai termenung dan memikirkan segala hal yang sudah terjadi. Ah, dia ingin kembali ke rumahnya. Dia ingin tidur di kamar mewahnya. Bisa makan di meja keluarga seperti sebelumnya. Tapi... dia belum melakukan apapun untuk Dika. Sepertinya dia harus menyusun rencana bagaimana dan apa yang harus dia lakukan untuk pria itu mulai sekarang. Tapi sejujurnya dia bingung karena Dika kelihatannya tidak tersentuh sama sekali. Dan kelihatannya tidak akan ada yang berani mendekatinya. Lalu jika demikian apa gunanya Tata di sana?
"Ya, setidaknya aku harus merasakan rasanya jadi pembantu sampai bulan depan. Kalo sampai saat itu Dika baik-baik aja, artinya aku akan ke rumah kak Satria dan kembali ke asalku. Ya, lebih baik aku istirahat hari ini."