Dendam Anak Jalanan

Dendam Anak Jalanan
Permintaan Maaf Herman


__ADS_3

Satria keluar dari rumah Dika dengan wajah yang muram. Dia kecewa, bahkan sangat kecewa. Segalanya serasa pupus.


Dia tidak menyangka kalo Dika juga akan kejam terhadapnya. yang ia harapkan adalah pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu, bukan malah menyiram dengan cacian. Tapi tidak apa-apa, Satria yakin, perlahan-lahan Dika akan kembali seperti dulu. Punya senyuman hangat untuk semua orang.


*****


Satria melintas di jalan raya dengan kecepatan sedang. Namun tiba-tiba dia mengerem mendadak karena melihat seseorang.


"Tata?" gumamnya tidak yakin. Kebetulan ia melihat seorang wanita dengan rambut terurai sedang berjalan didampingi dua pria berbadan besar. Ia tidak yakin sih itu Tata, karena gadis itu mengenakan masker putih yang menutupi setengah wajahnya. Tapi dari postur tubuh hingga mata gadis itu sangat mirip dengan Tata.


"Tidak mungkin Tata ada disini, pasti hanya mirip aja." Akhirnya Satria melanjutkan perjalanannya. Ia melesat lebih cepat dari sebelumnya.


Tak sampai tiga puluh menit, akhirnya motor Satria memasuki gerbang masuk kediaman keluarga Nugroho. Diparkirkannya benda beroda dua itu disamping mobilnya. Detik kemudian dia berjalan masuk kedalam rumah.


Saat ia masuk, ia melihat seorang wanita menangis di pojok. Meringkuk dalam kesedihan. Satria langsung cepat-cepat menemuinya.


"Mama kok nangis?" ujar Satria seraya berjongkok. Ia menatap Mamanya sendu.


Wanita itu mengangkat wajahnya. Sekarang penampilannya sangat berbeda. Bukan lagi wanita karir yang memiliki gaya keren yang wow, namun sudah menjadi wanita kurus yang tampak tidak terurus. Wanita itu adalah Cleopatra, wanita yang dulunya terkenal hebat dalam dunia bisnis.


"Mama kangen sama Hana," jawabnya agak lama. Rasa sendu tergambar jelas di dalam suaranya.


Satria terdiam. Ia tau betapa hancur perasaan mamanya saat ini. Pasti wanita ini ingin mengunjungi makam putrinya, tapi tidak bisa karena larangan dari Dika. Rasa sakitnya memang jelas tidak bisa terucapkan.


"Tolong antarin Mama ke makam adikmu, sayang.... Mama mau kesana..." Cleopatra bangkit perlahan. Air mata membahasi pipinya.


Satria tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dia ikut berdiri. Menatap wajah mamanya yang mulai mengerut. Tetap cantik, namun selalu murung.


"Mama ngga boleh pergi ke sana, mama dirumah aja..." ujar Satria.


"Tapi Mama mau..."


"Engga, Ma!" seraya mengatakan itu, Satria langsung memeluk tubuh mamanya.


"Hana udah tidur nyenyak, Ma. Mama ngga usah khawatir." Satria mengurai pelukannya sambil menghapus air mata yang tersangkut di pipi mamanya. "Sekarang Mama kekamar, ya. Minum obat, lalu tidur. Mama harus banyak istirahat."

__ADS_1


Satria menuntun Cleopatra masuk kedalam kamarnya. Memberinya obat tidur agar sang Mama tidur. Agar tidak terlalu banyak pikiran. Cukup sulit memang hari-hari yang dilewati Cleopatra, apalagi setelah kematian anak gadis satu-satunya di keluarga Nugroho. Ia seperti kehilangan setengah dari nyawanya.


Setelah memastikan sang Mama tidur, Satria pun keluar. Ia berjalan kearah dinding yang menjadi tempat tertempel nya sebuah foto yang berukuran sedang. Tidak terlalu tinggi ditempel, pokoknya Satria bisa menyentuh wajah yang menjadi objek difoto itu dengan leluasa.


"Hana, adik kakak yang paling baik, tidur yang nyenyak disana, ya.... percaya padaku, mereka semua akan menerima ganjaran yang setimpal. Maafin kakakmu ini, karena tidak cepat menyadari segalanya. Jangan khawatir, mama, papa, dan semua orang yang kau sayangi pasti akan bahagia. Tugasmu hanya tersenyum dari sana." Setelah mengucapkan kalimat itu, Satria kembali berjalan. Ia sempat meneteskan dua bulir air mata tepat dihadapan foto Hana.


Lalu ia naik keatas. Tempat dimana papanya sedang bekerja saat ini.


"Papa!" datang-datang ia langsung ngamuk.


Herman yang sedang duduk dihadapan laptop jelas kaget. Apalagi ditambah bantingan pintu yang kuat. Ia refleks mengumpat kejam. Namun setelah ia mengetahui putranya yang melakukan itu, mendadak ia merasa heran. Rasa kagetnya langsung sirna. Kini dirasuki perasaan aneh.


"Satria? Ada apa nak?" tanyanya setelah bisa mengontrol jantungnya. Ia berdiri dari duduknya.


"Aku benci sama Papa! Gara-gara Papa aku kehilangan adikku!" Satria mengatakan itu karena tidak bisa mengontrol emosinya.


Herman jelas bingung dengan perlakuan putranya yang berubah secara tiba-tiba. Ia tidak pernah tau kalo putranya punya sisi lain. Selama ini Satria tidak pernah seperti ini, ini yang pertama.


"Ada apa sebenarnya, nak? Apa yang membuatmu ngamuk seperti ini..."


"Kau masih menanyakan itu? Benar-benar menjijikkan!"


"Tenang... tenang dulu," ucap Herman sambil mendekati putranya. Ia menepuk-nepuk pundak Satria agar bisa memberi ketenangan.


"Jangan menyentuhku!" Satria langsung menepis tangan Papanya. "Kau belum cukup puas menghabisi nyawa adikku?"


Hah? Apa maksud Satria? Menghabisi nyawa Hana? Tidak mungkin! Hana kan putrinya Herman! Mana ada seorang ayah yang tega melakukan itu.


"Apa maksudmu?" tiba-tiba seluruh tubuh Herman bergetar.


"Hah! Kubilang kau membunuh adikku!" ujar Satria melengos.


Deg! Jantung Herman langsung mengombak. Suasana langsung mencekam.


"Aku tidak mengerti maksudmu sama sekali," Herman berusaha memahami, tapi tetap tidak bisa.

__ADS_1


"Lupakan saja! Toh tidak ada yang akan berubah jika aku menjelaskan padamu. Adikku tetap tidak bisa hidup kembali!" Satria hampir kejatuhan air mata sekali lagi, tapi dia masih bisa menahannya.


Sesaat suasana hening. Herman maupun Satria menutup mulutnya. Saling tenggelam dipikiran masing-masing.


"Oh iya, aku datang kesini untuk memberitahu pada anda, bahwa sebentar lagi, karir anda akan hancur! Dika sudah memberi saya ultimatum tentang hal itu. Dia bilang, perusahaan yang selanjutnya menjadi mangsanya adalah 'Clovis group'. Berhati-hatilah untuk kedepannya." Kata Satria. Ia membalikkan badan hendak meninggalkan Papanya.


"Tolong aku, nak." Herman mengucapkan kata 'tolong' untuk pertama kalinya. Sebelumnya dia tidak pernah mengatakan itu.


"Hah? Tolong?" Satria kembali menatap Papanya. "Tidak ada yang bisa menolong anda, Tuan!"


"Kau bisa, aku tau. Kau berteman baik dengannya, bujuk lah dia," mohon Herman sekali lagi.


"Bahkan jika itu benar, aku nggak akan melakukan kebodohan itu! Karena ini semua terjadi karena kesalahan anda! Dan, anda pantas menerimanya, " jelas Satria.


Herman menundukkan kepalanya. Ia tau itu. Dika ngga mungkin seperti ini kalo bukan karenanya.


Jika saja dulu dia tidak melakukan kebodohan semacam penghianatan, mungkin semuanya masih baik-baik saja sampai saat ini. Tapi semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa disesali.


"Papa tau semua yang dulu kulakukan adalah hal yang salah, Papa minta maaf untuk itu. Bisakah kau...."


"Minta maaf? Sejak kapan anda mau mengucapkan itu? Wahhh aku jadi merinding," sela Satria ditengah tengah permintaan maaf Papanya.


"Nak... tolong Papa... Akhir-akhir ini Dika sudah menyerap semua client Papa. Dia juga sering menyelip, jika terus begini, perusahaan Papa akan hancur." Herman seperti tidak peduli dengan ejekan putranya barusan. Tampak jelas dia masih egois sama seperti dulu.


"Oh, jadi anda sudah tau. Kenapa aku masih repot-repot memberitahu anda. Buang-buang waktu saja!"


"Nak... kumohon selamatkan Papa..." lihat, Herman yang dulunya sangat gengsian kini jadi tukang memohon-mohon.


Satria terkekeh menyeramkan. "Hah? Herman Nugroho sebodoh ini? Tapi baiklah, karena anda sudah memohon-mohon, maka aku akan memberitahu sedikit tips untuk selamat. Jadi, pergilah kerumah Dika, minta maaf padanya, dan akui segala kesalahan yang pernah anda perbuat. Kurasa dia akan memberi rasa kasihan pada anda. Setidaknya dia tidak akan membuat anda jadi gembel."


"Pergi kerumahnya?"


"Ya... Kenapa? Apa anda gengsi?" tanya Satria mengangkat satu alisnya.


"Bukan begitu..." jawab Herman.

__ADS_1


"Dulu, karena rasa gengsi anda juga yang membuat adikku harus berakhir menyedihkan! Dan sekarang, apa anda mau berakhir menyedihkan juga? Pikirkan baik-baik!" Satria kemudian meninggalkan Papanya. Tidak peduli dengan apapun yang ingin diucapkan pria itu. Ia udah malas mendengarnya.


Tinggallah Herman yang masih berfikir keras. Ia ingin tau apa maksud perkataan Satria tentang kematian Hana. Karena dia juga merasa ada sesuatu yang ganjil dari kematian putrinya itu.


__ADS_2