Dendam Anak Jalanan

Dendam Anak Jalanan
Permintaan Tata


__ADS_3

Hari masih pagi, gadis cantik yang bernama Brigitta itu sudah berdandan cantik layaknya seorang gadis primadona. Tidak pagi, tidak siang, tidak malam, gadis itu selalu saja terlihat sangat menawan.


Ia tersenyum pada seorang supir pribadi yang menunggunya sejak tadi diluar apartemen.


"Pagi nona..." sapa supir itu datar.


"Pagi juga, pak Dimas." Balasnya. "Kita langsung cuss aja, pak!" Meluncur masuk kedalam mobil yang pintunya ternganga sedari tadi.


"Langsung kerumah Dika ya, pak!" kata gadis yang ternyata adalah Brigitta-- kerap disapa Tata.


"Oke, nona." pria itu lantas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Ngomong-ngomong, anda mau ngapain kesana?" tanya Dimas antusias.


"Ada deh. Rahasia!" jawab Tata langsung.


"Nona jangan macam-macam dengannya, dia pria yang kejam. Kudengar dia manusia es yang tidak mengenal belas kasihan." kata pria itu sambil menyetir penuh hati-hati.


"Ah, itu hanya bualan saja, pak... tenang aja."


"Tapi nona..."


"Pak, tidak perlu menghawatirkan aku, semua akan baik-baik saja kok..."


Pria setengah baya itu hanya tersenyum kecil sebagai balasan.


***


"Daaaaaa pak Dimas..." Tata melambai saat pria itu telah menurunkannya didepan pagar sebuah rumah besar.


Pria itu menglakson sekali sebagai jawaban. Hingga akhirnya mobil yang dia kemudikan menghilang dibalik tikungan.


Tata menghelai nafas panjang, kini sudah membalik tubuhnya, bersiap untuk masuk menembus gerbang hitam yang berdiri kokoh dihadapannya.


Gadis itu mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam. Pukul 09.30, begitulah jam memberitahu. Ternyata sudah limapuluh menit lamanya mereka menghabiskan waktu diperjalanan. Tidak terasa banget.


Tata akhirnya memilih masuk. Tapi ia tidak beruntung karena seseorang mencegahnya.


"Maaf, anda siapa?" seorang pria berwajah sangar menanyainya.


Tata langsung takut. Pasalnya wajah pria itu terlihat menyeramkan sekali. Persis kayak preman dipasaran. Menakutkan!


"Sa-saya Tata." Ucapnya gugup.

__ADS_1


"Ada keperluan apa datang kesini?" tanya pria itu datar.


"Sa-saya..." belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, seseorang datang menghampiri keduanya.


"Hei ada apa ini? " ternyata Richard yang datang.


Pria itu langsung memberi hormat lalu berkata, "dia datang tiba-tiba Tuan, saya tidak tahu apa tujuannya."


Ricard menoleh ke arah Tata. Sejenak meneliti siapa gadis cantik itu. "Ada apa, nak?" tanyanya lembut.


Tata tersenyum kecil. "Saya ingin membicarakan hal penting, Tuan." jawabnya lirih.


"Dengan Dika?"


"Tidak. Dengan anda,"


Kening Ricard yang memang sudah berkerut karena usia kini bertambah karena mendengar ucapan gadis itu. "Saya?" tanyanya heran.


"Iya, Tuan."


"Kalo begitu masuklah, kita bisa bicara didalam." kata Ricard sambil melangkah masuk.


"Terimakasih, Tuan." Balas Tata seraya mengikuti langkah pria tua itu. Akhirnya ia bisa masuk ke sana.


Mendengar itu Ricard juga turut berhenti. Membalik badan, menatap gadis itu, lalu menjawab, "Bantuan apa?"


Tata mulai memasang wajah sendunya. "Saya sangat membutuhkan perkejaan, Tuan. Nenek saya sakit-sakitan dikampung. Belum lagi kedua adik saya harus membayar uang sekolah. Bisakah anda memberikan saya pekerjaan?"


Richard mengerjapkan matanya berulang. Menurutnya gadis ini berbohong. Tapi ia tidak langsung protes.


"Maaf, nak, tapi saya tidak punya lapangan pekerjaan apapun untukmu. Saya hanya pria tua yang menumpang hidup di rumah anak saya. Jadi bukan saya pemilik perusahaan atau apapun itu. Jadi maafkan saya sekali lagi," Ricard berusaha menjelaskan dengan lembut.


"Saya mohon, Tuan. Saya sangat membutuhkan pekerjaan dirumah ini. Apapun itu saya mau. Jadi pelayan juga nggak masalah. Asalkan saya bisa bekerja disini. Tolonglah..." Tata membuat ekspresi menyedihkan, berharap pria itu akan iba.


"Tapi nak..."


"Tolonglah tuan...kalo sampai saya tidak membayar uang RS, nenek saya akan dipulangkan kerumah. Apa anda tega?"


Ricard menggaruk kepalanya. Sebenarnya dia agak heran juga dengan gadis cantik ini. Gayanya elite banget loh, persis kayak anak dari keluarga bersosial tinggi. Lihat aja bajunya yang jelas-jelas bermerek Gucci, belum lagi jam tangan dan semua benda-benda yang ada ditubuh nya adalah barang branded. Dan mengatakan berasal dari kampung yang ingin mencari bantuan? Wah, orang bodoh juga nggak bakalan percaya.


Tapi meskipun demikian, Ricard mempercayainya walau separuh. Apalagi saat gadis itu menekankan kalimat 'Apa anda tega?' hatinya langsung tergerak.


"Nak..."

__ADS_1


"Tuan, kumohon..." Tata mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Percayalah, dia nggak pernah melakukan itu sebelumnya.


Ricard tersenyum kecil. "Baiklah. Kau bisa bekerja disini. Tapi maaf, hanya bisa menjadi pelayan."


"Benarkah?" mata indah milik Tata langsung berseri. Bibir merahnya terkembang indah. "Makasih, Tuan... makasih banget..."


Tata langsung meraih tangan pria itu, menciumnya sebagai tanda terimakasih.


"Ngomong-ngomong kamu berasal dari kampung mana?" tanya Ricard disela-sela rasa terimakasih gadis itu.


"Hmm..." gadis itu berfikir keras, tentu karena dia berbohong. Ia tidak tau satupun nama kampung, karena sejatinya dia nggak pernah tinggal di kampung. "Kampung jengkol runtuh, Tuan." Menjawab asal-asalan-- tentu nama kampung seperti itu tidak ada.


"Hah? Itu disebelah mana? Saya tidak pernah mendengarnya sebelumnya," Richard jadi bingung.


"Sebelah Utara Tokyo, tuan." ujar gadis itu keceplosan. "Eh, maksudku di negara ini kok, tuan."


"Hah?" dia semakin dirundung kebingungan.


"Udahlah tuan, anda tidak akan mengerti kalo ku jelaskan, mending kita sudahi aja. Beritahu saja apa yang harus saya lakukan dirumah ini..."


Ricard setuju. Memang tidak ada gunanya mereka membahas itu. Soalnya dia nggak bakalan ngeh soal kampung gadis itu. Namanya saja kampung jengkol runtuh. Aneh!


"Eh, tapi namamu siapa?" Ricard baru menyadari bahwa mereka masih belum berkenalan.


"Tata." Jawabnya mengulurkan tangan.


"Oh, nama yang cantik. Sama cantik dengan orangnya." Ricard tersenyum ceria. Berlanjut dengan mengenalkan dirinya. "Ricard, ayahnya Dika."


"Senang bertemu dengan anda, tuan Ricard."


"Senang bertemu denganmu juga, Tata gadis cantik." balas pria itu dengan senyuman lebar. "eh, tapi, pakaian mu merek Gucci loh. Apa ini asli?" Ricard menunjukkan cardigan Gucci yang dikenakan gadis itu.


"Hahahaha. Tentu saja ini kawe-kawean tuan. Tidak mungkin asli. Saya mana mampu beli merek seperti itu. Kalo saya punya uang, lebih baik saya membawa nenek saya berobat."


Sejak kapan aku bisa lancar berbohong seperti ini? Hehehehe, ternyata aku punya bakat terpendam. Lumayan juga.


"Oh. Iya juga, sih."


"Kalo begitu, ikuti saya Tata. Saya akan mengantarkan anda ke ruangan kepala pelayan. Dia yang akan menugaskan apa saja yang akan kau kerjakan kedepannya. Juga tentang apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dirumah ini."


Tata tersenyum ceria. "Baik, bos!" ujarnya sambil mengangkat tangan kanannya, memberi hormat pada pria itu.


"Semoga kau senang tinggal disini."

__ADS_1


"Tentu saja, Tuan."


__ADS_2