
"Bagaimana informasi tentang Dika?" Tata menatap seorang pria yang dia perintahkan mencari informasi tentang Dika.
"Maaf, Nona, sangat sulit mendapat informasi tentangnya. Saya sudah berusaha sekeras mungkin, tapi tetap aja tidak ada hasil. Informasi tentang tuan Dika dijaga sangat ketat, Nona." Pria itu menunduk, tentu merasa sangat bersalah.
"Jadi apa yang kau dapatkan tentang dia?"
"Hanya alamatnya saja, nona. Itupun saya sudah sangat bersusah payah mendapatkannya."
"Only that?"
"Ya, nona."
"Ya udah, beritahu dimana alamatnya, aku akan segera kesana."
****
Herman memasuki pekarangan rumah Dika. Ia memarkirkan mobilnya tepat di parkiran rumah itu.
Sejenak ia menghelai nafas. Ragu untuk keluar. Apalagi meminta maaf. Akan ditaruh dimana wajahnya kalo sampai meminta maaf pada pria yang dulunya bekas anak jalanan. Tapi saat ini kegengsian itu tidak berlaku. Karena kalo sampai dia tetap seperti dulu, otomatis dia akan hancur. Berakhir menjadi pria tua yang menyedihkan.
Dan akhirnya, jalan yang harus dipilih adalah keluar. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju pintu yang ternganga.
Dika sedang berada di kamarnya. Kebetulan sedang memandang ke arah halaman rumah. Wajah datarnya tiba-tiba berubah sinis saat ia melihat seseorang keluar dari mobil.
Dika langsung bangkit. Bergegas menuju ruang utama. Senyum sinis kini menghiasi bibirnya. Sepertinya sesuatu yang membahagiakan sedang berada diposisinya.
Saat sudah berada di ruang utama, ternyata pria tersebut belum masuk. Masih diproses oleh sekretaris Off diluar.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya sekertaris Off pada pria asing itu.
"Saya Herman Nugroho." jawabnya lemah.
"Oh. Apa tujuan anda datang kesini?"
"Saya ingin bertemu Dika."
"Apa anda sudah membuat janji terlebih dahulu pada beliau?"
"Belum."
"Berarti tidak bisa Tuan. Beliau tidak akan mau bertemu dengan siapapun."
"Tolonglah. Ini hal sangat mendesak," Herman memohon seraya mengatupkan kedua tangannya di dada.
Melihat itu, sekretaris Off tidak tega. Ia jadi berinisiatif bertanya terlebih dahulu pada Dika.
"Ya udah. Tunggu sebentar, Tuan." Langsung ia masuk kedalam.
"Suruh dia masuk!" perintah Dika. Bahkan sebelum sekretaris Off meminta izin. Hal tersebut tentu membuat gadis itu heran seheran herannya.
Tapi langsung aja gadis itu mengiakan. "Baik, Tuan." lalu kembali keluar untuk menemui pria tadi.
"Anda boleh masuk sekarang." Sekretaris Off tersenyum hangat pada Herman.
Pria itu langsung bergetar. Tiba-tiba ia teringat akan putrinya yang sudah tiada. Senyuman gadis ini mirip dengan senyuman putrinya. Manis sekali. Dan jika masih hidup, pasti dia akan seceria gadis ini. Tersenyum menyapanya setiap hari. Saat itulah, sesuatu yang sangat sakit menghujam dadanya.
"Sebelum saya masuk, bolehkah saya menanyakan sesuatu?" Herman menatap gadis itu penuh harap.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum kembali. "Jika bersangkutan dengan pekerjaan, saya dengan senang hati akan menjawab. Akan tetapi, jika tentang masalah pribadi, saya minta maaf, saya tidak bisa menjawab Tuan."
Herman menghelai nafas panjang kemudian bertanya. "Apa jabatanmu di rumah ini?" pria itu menanyakan hal bodoh. Padahal dia tau siapa gadis itu. Dulu ia menggunakannya sebagai alat untuk membuat Hana percaya bahwa Dika selingkuh. Ya, dia pernah membuat wajah gadis ini di undangan pernikahan yang sejatinya pernikahan tersebut tidak pernah ada.
"Saya sekretaris tuan Dika. Panggil saja sekretaris Off." Menjawab dengan suara yang lugas.
"Bagaimana kabar Dika saat ini? Apa dia baik-baik saja?" tanya Herman lagi.
"Maaf tuan, itu pertanyaan pribadi. Saya tidak punya hak menjawab seputar kehidupan pribadi tuan Dika. Saya menyesal tidak bisa menjawab tuan," gadis itu menunduk tanda penyesalan.
"Kalo begitu, apakah kamu tau tentang projek baru..."
"Maaf tuan, saya sudah bilang, jika menyangkut pertanyaan pribadi saya tidak akan menjawab. Kalo anda ngotot, silahkan keluar dari sini, gerbang terbuka lebar untuk anda!" tiba-tiba sekretaris Off berubah tegas. Garis wajahnya langsung menunjukkan bahwa dia sedang di mode marah.
Herman tersenyum kecil. "Kau pekerja yang profesional. Pantas Dika bisa berdiri sejauh ini."
Setelah mengucapkan itu, dia melangkah masuk kedalam. Langkah kakinya kecil dan lunglai. Menandakan bahwa dia tidak bersemangat masuk kedalam sana.
"Plokkkk...Plokkk..Plokkk.." suara tepuk tangan dari seseorang terdengar oleh Herman. Ia mencari-cari asal suara, ternyata dari arah tangga. Seorang pria tampan yang wow bertepuk tangan untuknya.
"Wah...lihat siapa yang datang mengunjungi rumah sampah! Seorang berlian?" ternyata orang itu adalah Dika. Pria itu berjalan mendekati Herman.
"Dika...." ujarnya patah.
"Wow... sejak kapan kamu sudi memanggil namaku? Biasanya kau memanggilku dengan sebutan anak jalanan. Ada apa ini?"
"Dika, saya datang untuk meminta maaf.." Herman langsung berterus-terang.
"Apa? Minta maaf? Aku tidak salah dengar, kan?"
"Tidak. Tolong maafkan saya.."
"Kumohon...saya benar-benar menyesal atas semua perbuatan saya di masa lalu."
"Meminta maaf lah dengan benar! Agar aku bisa mempertimbangkan seperti apa aku harus menghancurkan mu!" Dika menatap Herman dengan tatapan rendah.
Herman berfikir sejenak. Mungkin maksud Dika dia harus berlutut, sama seperti yang telah Dika lakukan dulu karena perintahnya.
Tiba-tiba dia berlutut tepat didepan Dika. "Maafkan saya Dika..."
"Panggil namaku yang sopan!"
"Maafkan saya tuan Dika yang terhormat. Tolong jangan hancurkan saya..."
"Hahahahahhah. Aku tidak mau! Bodoh sekali aku memaafkan mu!" Dika tertawa seram. Bahkan hantu pasti takut mendengar tawanya.
"Tolonglah tuan... saya tau semua yang saya lakukan dimasa lalu adalah hal yang salah... tapi saya mohon... jangan hancurkan saya..." Herman sampai mencium kaki Dika.
Dika menarik kakinya. "Katakan kamu sampah sekarang. Katakan kalo kita sudah bertukar posisi. Saya berlian, dan kamu adalah sampah! Katakan!"
Herman menurut. "Mulai sekarang, saya adalah sampah. Dan anda adalah berlian."
"Hahahahah... baguslah! Akhirnya kau mengakuinya sekarang." Dika merasa puas.
"Apa artinya anda sudah memaafkan saya?" Herman jadi merasa dimaafkan karena Dika terlihat senang.
"Tidak! Siapa yang mau memaafkanmu?" Dika mengangkat satu sudut bibirnya. "Jangan harap."
__ADS_1
Herman mengepalkan tangannya. Tapi ia melakukan itu karena takut, bukan karena dendam atau semacamnya.
"Katakan apa yang harus saya lakukan agar mendapat pengampunan dari anda,"
Dika berkedip. Ia sedikit menjauh dari Herman.
" Tidak ada. Sejak awal bertemu denganmu, sejujurnya aku nggak pernah suka melihatmu. Tapi dulu, karena Hana menyuruhku untuk menghormati kamu, maka dengan senang hati aku melakukannya. Tapi ternyata, kau benar-benar menjijikkan. Menyuruhku pergi, kemudian mematahkan ku. Okay, saat itu aku masih bisa menahan, karena Hana masih ada. Meski tidak bisa tidak membencimu. Tapi...tak lama kemudian kematian Hana terdengar olehku. Dan saat itulah, aku berikrar kalo aku bukan Dika jika tidak bisa menghancurkanmu." Dika menerawang jauh.
"Kau tau, aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya hidup di jalanan. Bagaimana sakitnya dihina dan caci orang. Dan, sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana perihnya melebarkan kedua tangan untuk meminta-minta. Agar perut yang hanya sejengkal itu bisa terisi. Rasa sakit, rasa perih, penderitaan, dan kehancuran menantimu saat ini. Kau hanya perlu menunggu beberapa waktu lagi. Dan semua itu akan terealisasi dengan sangat mudah," Dika memberikan gambaran yang langsung membuat Herman gemetaran.
"Jangan Tuan...kumohon...saya tidak mau seperti itu.."
Dika tidak mendengarkan permohonan Herman. Dia malah melanjutkan kalimatnya, "dan lihat saja, sampai saat itu tiba tidak akan ada yang berani menolong mu, bahkan Satria sekalipun! Kau akan hidup menyedihkan dijalanan hingga akhirnya kau memilih untuk mengakhiri hidupmu. Dan aku berhasil membunuhmu tanpa mengotori tanganku. Yang lebih menyenangkannya lagi, akhirnya dendam ku terbalaskan dengan sempurna."
Herman menangis mendengar hal itu. Kalo sampai itu terjadi, maka apa gunanya dia hidup saat ini. Mendingan dia mati aja sekarang, biar nggak usah merasakan rasa sakit seperti yang dikatakan Dika.
Tiba-tiba dia teringat pada Hana. Ya, Hana bisa ia pake untuk melunakkan hati Dika. Biasanya pria itu akan mati kutu jika dihadapkan dengan nama Hana Angela.
"Hana pasti akan sangat sedih jika tau anda jadi begini. Putriku itu pasti sangat berharap anda hidup lebih baik setelah kepergiannya..."
"Diam! Kau tidak punya hak menyebut nama itu. Dan...kau tidak perlu khawatir dia sedih atau tidak, karena dia akan selalu senang dengan apapun yang kulakukan!"
"Tapi..."
"Jika kau berfikir aku akan memaafkan mu karena Hana, maka itu adalah hal yang sangat konyol. Aku akan memaafkanmu jika kau sudah menjadi cangkang kosong. Kau dengar? SAAT KAU SUDAH MENJADI CANGKANG KOSONG. Saat dimana kau tidak punya siapapun dan apapun. Saat Dimana kau memilih untuk meninggalkan dunia ini. Maka saat itulah aku akan memaafkan mu, sampah!"
Herman semakin rapuh. Dia tau tidak ada kesempatan untuknya. Dia tidak bisa selamat lagi. Benar yang dikatakan Dika, dia hanya perlu menunggu sampai kehancuran itu tiba. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain itu.
"Dan tentang Hana, kau telah menghancurkan hidupnya. Orang tua sepertimu memang pantas dimusnahkan. Percayalah, jika saja dulu kau tidak menjebaknya dalam situasi sulit, dia pasti masih tersenyum bersamaku saat ini. Dan aku tidak akan berniat menghancurkan mu seperti ini. Tapi karena kebodohanmu yang menganggap kehormatan itu adalah segalanya, kini kau akan kehilangan segalanya. Kehilangan keluarga, kekuatan, kekayaan, bahkan kehormatan yang kau banggakan itu! Hingga akhirnya kau sadar, bahwa harga kehormatan tidaklah ada dibandingkan kasih sayang dan rasa menghargai!"
"Dan... akhirnya, segalanya akan berubah menjadi penyesalan. Saat itu, tidak ada yang bisa kau salahkan selain dirimu sendiri! Dan ketika kau sudah menjadi sampah dijalanan, aku akan datang untuk menertawakan mu. Kau mengerti?" senyum Dika terlukis sinis. Tapi Herman tidak melihat wajahnya. Pria itu hanya terus berlutut dengan kepala menunduk.
"Berarti, saya tidak punya kesempatan untuk mendapatkan maaf dari anda?" ujarnya menatap lantai. Bahkan lantai itupun mengasihaninya saat ini. Dia terlihat sangat menyedihkan.
"Sudah kubilang, kau akan mendapat maaf setelah kau berubah menjadi cangkang kosong. Dan ya, ada lain sih..."
"Apa?"
"Kalo Hana yang memintanya. Maksudku, jika Hana memintaku untuk memaafkan mu, maka dengan senang hati kata maaf kuberikan padamu. Dan... jika kau bisa menghidupkan Hana kembali. Hanya ketiga cara itu yang bisa kau lakukan agar aku mengurungkan niatku untuk menghancurkan mu. Oke?"
Tentu saja tidak ada yang masuk akal dari ketiga cara itu. Tidak mungkin Hana bisa hidup kembali, apalagi meminta pada Dika.
Dan yang paling mungkin terjadi adalah... menjalani hidup dengan perumpamaan cangkang kosong. Hah! Hidup menyedihkan akan segera dimulai.
Dika menatap Herman sekali lagi. "Pergilah dari sini! Aku tidak suka sampah masuk ke rumahku!" setelah mengatakan itu, Dika langsung menaiki tangga. Berlari kearah kamarnya.
Herman meneteskan air matanya sekali lagi. Tapi ini bukan karena kehancuran, tapi karena Hana. Kenapa semua orang menyalahkannya atas kematian putrinya? Apa sebenarnya yang dia lakukan?
Dan ternyata, ada pelayan yang mendengar perdebatan itu. Memang tidak ada yang berani merekam akan tetap mereka menjadi tau apa yang membuat Dika sedingin dan sedatar itu. Semua yang melihat ikut merasakan sakit yang dirasakan Dika. Rasanya sungguh perih.
Tidak jauh, sekretaris Off juga mendengar semua pembicaraan itu. Dia memang tidak pernah tahu masalah apa yang dihadapi Dika dimasa lalu. Tapi sekarang semuanya sudah terbongkar. Ternyata pria itu hidup menyedihkan dimasa lalu. Dan bisa berdiri sampai sekarang hanya karena api dendam.
Dan soal Herman, dia juga turut membenci pria itu. Meski tidak ada kesalahan yang diperbuat padanya, tapi rada benci itu tiba-tiba saja muncul. Entah kenapa ada sesuatu yang menjijikkan didalam diri pria paruh baya itu.
Sementara itu di kamar atas, tangis Dika pecah. Ia meringkuk di sudut kamar sambil memeluk sebuah foto. Foto seorang wanita yang memiliki senyuman manis.
"Katakan... Katakan sekali saja padaku.. kalo aku harus memaafkan papamu.. maka aku akan melakukan itu untukmu."
__ADS_1
"Aku selalu menuruti apapun yang kau mau, apapun yang kau katakan . Jadi mintalah kepadaku agar aku tidak menghancurkan papamu, maka aku akan berhenti. Bahkan aku akan membantunya bangkit lagi..."
Tidak ada jawaban. Kamar itu hening. Wanita yang dilukiskan tetap tersenyum. Sepertinya ia tidak sedih atas keperihan hati pria itu. Dialah Hana Angela.