
Halo semua... hari ini aku up banyak. Jangan lupa like, komen dan vote ya❤️
Dika menatap surat itu. Hatinya terasa tercabik. Keseluruhan isi surat itu telah menyuruhnya untuk mengehentikan segalanya--- Balas dendam, mengakhiri hidup dan menghancurkan orang lain. Dia tidak bisa melanjutkan itu lagi.
Pria itu memegang dadanya yang terasa perih. Ini sangat sulit dia terima. Terlebih misinya hanya tinggal satu langkah lagi. Hanya dengan sekali tendangan, Herman Nugroho akan hancur berkeping. Tapi, apakah dia akan tetap egois?
Surat itu kembali menjadi objek yang diperhatikan oleh Dika. Dia memperhatikan beberapa kalimat terakhir yang tidak bisa ia baca. Sudah berungkali dia mencoba, bahkan sudah menempelkan matanya ke kertas itu, tapi tetap aja dia tidak bisa membacanya. Mungkin kalimat itu ditulisnya saat ajal sudah datang menjemput. Makanya yang terlihat hanyalah garis-garis yang tidak jelas. Hanya kata 'Tata' yang terbaca. Itupun Dika tidak tau artinya apa.
"Tuan, hapuslah air mata anda," sekretaris Off memberikan selarik tissue pada Dika.
Bukannya menerima, Dika malah melemparkan pandangannya pada wanita bernama Sumitra itu.
"Bagaimana surat ini bisa sampai padamu?" tanyanya dengan suara yang tidak ramah.
"Aku menemukannya saat non Hana dikurung di gudang. Saat itu non Hana tidak bernafas lagi, aku.." belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Dika langsung menyahut.
"Apa maksudmu dia dikurung! Dan, kata tidak bernafas membuatku ingin membunuhmu!"
Wanita itu langsung takut. Pasalnya ekspresi wajah Dika aja sangat menakutkan. Apalagi suaranya.
Sekretaris Off yang menyadari ketakutan wanita itu, langsung mengatasi situasi.
"Nyonya, anda bisa menceritakan bagaimana sebenarnya kehidupan nona Hana di rumah suaminya. Dan bagaimana kematiannya," ucap sekretaris Off dengan senyuman hangat.
"Nona Hana hidup sangat menyedihkan di rumah itu. Dia tidak pernah dianggap sama sekali."
"Berceritalah dengan benar!" tegur Dika. Ia tidak suka mendengar cerita yang langsung ke inti.
Akhirnya dengan segala kesusahan, Sumitra menceritakan alur hidup Hana. Sejak masuk ke rumah itu hingga keluar menjadi mayat. Bagaimana siksaan yang dia dapatkan dan seperti apa hidupnya. Wanita itu bisa menceritakan semendetail mungkin.
"Jadi begitu tuan." Ucapnya mengakhiri.
Dika mengepalkan tangannya. Ada rasa dendam yang lebih membara dibandingkan dengan yang sebelumnya. Ini jauh lebih menjijikkan.
"Kau tau dia diperlakukan seperti itu, tapi kau diam saja?" Dika malah menilai Sumitra buruk. "Pada intinya, secara tidak langsung, kau ikut membunuhnya!"
"Ti..tidak, Tuan. Saya bahkan selalu berusaha membantunya." Wanita itu mencoba menyelamatkan diri.
"Kalo begitu, berikan saya bukti, apa yang sudah kau lakukan untuknya,"
Sumitra terdiam. Sebenarnya banyak yang sudah ia berikan pada gadis itu. Karena saat Hana masih hidup, dia hampir memberikan semua yang dia miliki untuk gadis malang itu. Tapi sayangnya tidak ada bukti yang tersisa. Karena semua yang dia berikan bersifat kasat mata.
Akan tetapi, ada satu hal yang masih tersisa. Ia dengan cepat mencari hal itu. Membuka tas besarnya dan mengambil sebuah benda pipih berwarna putih dari sana. Ternyata sebuah handphone.
"Saya membelikan ini untuknya, tuan." Dia mengangkat benda itu. "Harganya memang murah, tapi saya membelinya dengan seluruh uang tabungan yang saya miliki. Awalnya kenapa saya tertarik membeli ini karena rasa kasihan saya pada non Hana. Ia tidak diijinkan memiliki benda seperti ini, padahal dia sangat membutuhkannya. Terlebih untuk menghubungi anda, dan meminta bantuan pada keluarganya. Tapi sayangnya, tidak ada satupun dari semua yang dia hubungi menjawab teleponnya. Mungkin karena nomor murahan atau apa, saya juga tidak tau."
Wanita itu bercerita panjang lebar. Dika dan sekretaris Off hanya bisa menyimak dengan seksama.
"Dia selalu sedih apabila orang-orang yang dia sayangi memilih mengabaikannya."
"Berani sekali kau mengatakan kalo aku mengabaikannya!" sanggah Dika dengan ekspresi marah.
Melihat wajah marah marah Dika yang sangat menyeramkan membuat Sumitra takut. "Ma-Maaf, Tuan." ucapannya gemetaran.
"Ceritakan lebih lanjut tentangnya. Apa yang kau lakukan membelinya hape."
__ADS_1
Sumi berfikir dalam ketakutannya. "Saya memang tidak bisa membantu banyak, Tuan. Tapi saya merekam beberapa bukti bahwa non Hana di aniaya tuan Ivano ketika masih hidup." wanita itu menyerahkan hape itu pada sekretaris Off agar gadis itu yang membuka videonya.
"Saya pikir dengan merekam perbuatan jahat tuan Ivano dan nyonya Susi, bisa membantu nona Hana. Tapi sayangnya, sebelum saya menyerahkan itu ke polisi, non Hana sudah berpulang ke hadapan Yang Kuasa."
Seraya mengatakan itu, sekretaris Off turut menerima sodoran wanita itu. Hanya hape murahan yang ukurannya kecil. Mungkin jika dibandingkan dengan hape anak muda sekarang, hape bercasing putih itu nggak ada apa-apanya. Diibaratkan langit dan bumi lah perbedaannya.
Sekretaris Off menyalakan hape itu. Tidak terhalang oleh sandi atau pola. Hape itu tidak terkunci.
Pertama sekali yang dilihat oleh sekretaris Off di hape itu adalah wajah Hana dan Sumi yang terpajang sebagai wallpaper. Keduanya tersenyum manis kearah kamera. Wajah Hana lebih besar, mungkin karena mengambil posisi sebagai pengambil potret di foto itu. Kala itu rambutnya pendek.
Sumi terlihat sangat bahagia di foto itu, soalnya senyumnya mengalahkan senyum monyet.
Sempat sekretaris Off tersenyum gegara melihat wajah keduanya. Tapi segera ia lenyap kan senyuman itu, karena faktanya, gadis yang berada didalam foto itu telah meninggal. Segera ia berlanjut untuk mengambil Vidio yang dimaksud Sumitra.
Dapat. Gadis itu hendak memutar. Akan tetapi, ia menyadari, bahwa video itu tidak hanya satu, melainkan banyak.
"Apa semua video ini adalah bukti penganiayaan tuan Ivano?" tanya sekretaris Off sambil menggeser beberapa video.
"Iya, nona." Jawab Sumitra.
Sekretaris Off menoleh pada Dika. "Yang mana yang harus saya putar duluan, Tuan?" tanyanya.
"Terserah." Jawab Dika.
Gadis itu mengangguk. Memilih secara random. Dan akhirnya terputar video yang dimulai pada tamparan di wajah Hana.
Sekretaris Off reflek menyetop pemutaran. Ia memberikan hape itu pada Dika. Karena Dika lah yang ingin menonton video itu.
Dika membiarkan hape itu bersandar pada vas bunga. Biar Sekretaris Off juga bisa melihatnya---acara nobar namanya.
"Hentikan!" perintah Dika.
Sekretaris Off langsung menyetop sesuai perintah tuannya.
"Apa-apaan itu!" pekiknya. "Dia disiksa sekejam itu?" tatapan mata Dika bagai pedang yang hendak menebas leher wanita paruh baya itu.
Sumitra meremas dasternya. Takut benget dengan reaksi Dika. Dikiranya laki-laki tampan itu ingin menyalahkannya sama seperti yang tadi.
Dan benar saja, Dika benar-benar menyurutkan nya lagi.
"Kau tahu dia diperlakukan seperti itu, tapi apa yang kau lakukan? Hanya berdiri sambil merekam tanpa berniat menolong?"
Sumi menunduk dalam. Dalam hati ia memprotes kalimat 'Hanya berdiri sambil merekam'. Apa pria itu berfikir dia bisa mendapatkan rekaman itu dengan mudah? Tentu saja tidak, butuh perjuangan yang sangat sangat ekstra untuk mendapatkan itu.
"Maafkan saya, Tuan. Tapi hanya merekam saja yang bisa saya lakukan untuk membantu non Hana. Jika seandainya saya mencoba membelanya, mungkin saat ini saya tidak bisa duduk disini. Dengan kata lain, saya berakhir sepertinya." Akhirnya Sumitra memberikan pembelaan pada dirinya sendiri. Dalam hati ia takut tak kepalang, tapi ini demi menegakkan kebenaran.
Dika berfikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan oleh wanita ini.
"Tapi setidaknya kau bisa memberitahu padaku! Agar aku datang untuk menyelematkan nya..." lanjut Dika.
"Seandainya non Hana mengijinkan, mungkin dia tidak akan menderita seperti itu. Tapi non Hana melarang ku, Tuan. Dia bilang, sudah cukup dia menghancurkan hidup anda, non Hana tidak ingin merepotkan anda lagi. Katanya, dia tidak punya hak atas anda lagi..." balas Sumitra.
Dika langsung terdiam.
"Dia selalu saja seperti itu. Selalu dan selalu! Gadis bodoh!" gumam Dika. Ia mengalihkan pandangannya ke wanita itu lagi.
__ADS_1
"Bisakah aku menyimpan hapemu ini? Aku akan menggantinya dengan harga seratus kali lipat." kata Dika sayu.
"Tentu, tuan. Anda tidak perlu menggantinya. Saya ikhlas kok. Asal pembunuhan yang dilakukan kedua manusia itu terbongkar. Saya ingin mereka membusuk dipenjara!"
Dika mengerutkan keningnya. "Mereka? Apa bukan hanya Ivano?" tanya Dika penasaran.
"Tidak! Tadi saya juga sudah menyebutkan nyonya Susi. Wanita gila itu yang membunuh non Hana sebenarnya. Dia mengunci non Hana di gudang selama tiga hari tanpa memberikan makan atau minum. Dan akhirnya berakhir menyedihkan..."
"Susi?" Dika mendengar semuanya, tapi ia tertarik dengan nama itu. "Susi itu siapa?"
"Istri pertama Tuan Ivano." jawab Sumi.
"Hah? Dia udah menikah?"
"Sudah, Tuan."
"Jadi kenapa Herman masih menikahkan putrinya dengan pria yang sudah beristri? Apa dia sengaja melakukan itu untuk membunuh Hana?"
"Bukannya saya sok tau, tuan. Tapi menurut saya, orang tua dari non Hana tidak mengetahui pernikahan pertama dari tuan Ivano. Karena pernikahan itu memang disembunyikan sejak lama."
Sekretaris Off berfikir sama dengan wanita itu. Karena bagaimanapun juga tidak mungkin Herman tega menikahkan Hana dengan pria yang jahat dan sudah beristri.
"Kalo benar demikian, apa istrinya itu tinggal serumah dengan Ivano?" tanya Dika. Dia yang tidak pernah menanyakan apapun kini jadi tukang cecar.
"Iya, Tuan. Tapi nyonya Susi lebih banyak tinggal dirumah orangtuanya."
"Susi? Rumah orangtuanya? Apa jangan-jangan mereka Susi yang sama, ya?" gumam Dika pelan. Dia pikir Susi mantan pacarnya, adalah Susi yang menjadi istrinya Ivano.
"Apa namanya Susi Arina?" tanya Dika penuh selidik.
"Iya, benar tuan."
"Apa?" Dika langsung frustasi. Ia meraih hapenya dari meja dan mencari foto seseorang.
"Apa Susi yang ini?" tanyanya menunjukkan foto seorang wanita yang hanya mengenakan bikini.
Sumi mendekatkan pandangannya. Mencoba mengenali wanita itu. "Iya, benar tuan. Dia Susi istrinya tuan Ivano."
Dika langsung enek seketika. Pantas...pantas saja wanita itu selalu aneh saat mereka pacaran dulu. Rupanya dia dijadikan selingkuhan. Dan Dika baru tau itu sekarang. Dia ingin menertawakan kebodohannya saat ini.
"Kurasa ini akan sedikit membantu." ucapannya mengepalkan tangannya. "Hei, tinggallah disini, aku memerlukan mu sebagai saksi nantinya. Bisakan?"
Sumi tidak tau harus menjawab apa. Dia takut untuk mengiyakan.
"Kenapa? Apa anda tidak mau?" kini sekretaris Off yang mengambil alih pembicaraan.
"Saya bukannya tidak mau, nona, tapi bagaimana dengan hidup saya kedepannya. Jika saya hanya dibutuhkan sampai pengadilan datang, berarti setelah itu saya akan hidup gelandangan."
"Jangan khawatir, kau bisa tinggal dirumah ini. Terserah sampai kapan kau mau. Kau juga bisa bekerja sebagai pelayan jika kau tidak keberatan. Dan sebagai hadiah karena kau sudah baik pada Hana ku, maka aku akan menjamin hidupmu sampai akhir hayatmu. Gimana, kau puas?" Dika bertutur panjang lebar.
Sumitra tersenyum. Ia tau sekarang kenapa Hana sangat mencintai pria ini. Ternyata Dika sangat baik, sesuai dengan cerita yang disampaikan Hana.
"Terimakasih, Tuan. Saya tidak tahu bagaimana cara berterimakasih kepada anda." Sumi sampai menunduk sedalam-dalamnya.
"Tidak perlu sampai segitu. Anggap aja ini balasan karena kebaikanmu." Dika berdiri, mengambil hape berwarna putih itu. "Sekretaris Off, berikan dia kamar yang layak. Atur posisinya dirumah ini."
__ADS_1
"Baik, Tuan."