Dendam Anak Jalanan

Dendam Anak Jalanan
Bertemu Dika untuk Pertama Kalinya


__ADS_3

Cuaca hari ini tidak terlalu bagus menurut Dika. Padahal bagi sebagian orang, cuaca saat ini sangatlah indah. Langit terlihat bersih tanpa adanya awan. Memperlihatkan kebiruannya yang berbeda dengan biru lainnya. Tentu itu sangat indah. Tapi bagi Dika, kata indah adalah pernyataan yang sangat konyol.


Karena ingin bertemu dengan Satria, Dika memilih pulang dari kantor meski hari masih sore-- biasanya dia pulang larut malam. Selain itu, dia malas dengan langit biru yang terpampang indah dari kursi kebesarannya. Membosankan menatap pemandangan dari ruangan yang letaknya di puncak gedung. Tinggi banget hingga gedung-gedung kecil disekitarnya jadi kelihatan kecil seperti rumah kecil.


Jam 14.50, Dika dan sekretaris Off sampai dirumah. Cukup mengherankan kenapa bisa secepat itu, tapi yang heran hanya mereka yang tidak mengenal sekretaris Off. Gadis misterius itu hampir bisa melakukan pekerjaan yang umumnya diminati laki-laki. Jangankan menyetir ala Juan Manuel, bertarung seperti Chuck Liddell aja dia mampu. Kalian semua harus tunduk dihadapannya, dia gadis serba bisa yang asal-usulnya masih dipertanyakan. Dan lihat aja sekarang, dia bisa bertingkah seperti pelayan yang sedang melayani tuannya.


Dika turun dari mobil saat sekretaris Off membukakan pintu untuknya. Keduanya langsung melangkah masuk ketika tidak ada lagi yang harus dilakukan.


"Satu jam lagi kita ke rumah Satria. Atur agar aku bisa bertemu dengannya!" titah Dika datar.


"Tapi tuan, kemungkinan beliau saat ini ada di kantor, bagaimana kalo nanti malam?"


"Aku tidak peduli dia dimana, pokoknya pertemuan kami harus satu jam kedepan. Kau pikir kenapa aku pulang cepat!" omel Dika.


"Baiklah, tuan, saya akan berusaha." Jawab gadis itu agak kesal. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan agar Satria bisa berada dirumah, sesuai dengan keinginan Dika. Kalo saja sekretaris Off memiliki kekuatan, maka dia tidak akan ragu untuk menggunakan itu. Tapi kenyataannya... jangankan kekuatan, nomor hape Satria aja tidak ada. Makanya mustahil untuk mengetahui keberadaan pria itu dimana saat ini.


"Aku mau kopi!" ujar Dika seraya mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Baik, Tuan." Jawab sekretaris Off menyapukan pandangan ke sekeliling-- mencari seorang pelayan.


"Hei kamu!" sekretaris Off menunjuk seorang pelayan yang sedang sibuk menyisir rambutnya didepan tangga.


Yang ditunjuk menoleh. "Aku?" tanyanya bego.


"Iya. Kamu pelayan baru, ya? Saya belum pernah melihat wajahmu sebelumnya,"


"Iya, nyonya." jawab gadis itu tersenyum.


"Jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja sekretaris Off." kata sekretaris Off datar. "Ya udah, buatkan kopi untuk tuan Dika. Secepatnya!"


Gadis itu langsung berseri. Dika? Dimana pria itu? Ia ingin melihatnya, sudah lama ia penasaran dengan wajah pria itu.


Dan ternyata, gadis itu adalah Tata.


"Heh! Kenapa masih berdiri disitu! Cepetan kopinya!" desak sekretaris Off.


"I-iya sekretaris Off." Akhirnya gadis berpakaian pelayanan itu melangkah ke dapur.


Tata menggaruk kepalanya berulang dihadapan meja bar coffe . Bingung setengah mati. Bukan karena tidak tahu membedakan gula dengan garam, tapi karena tidak tahu bagaimana cara membuat kopi.


Sejak kecil sampai dewasa seperti sekarang, Tata hampir tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga. Jangankan membuat kopi, megang sapu aja dia nggak pernah. Maklum, dia anak tunggal di keluarganya Yamasaki, jadi hidupnya indah dengan pelayanan besar-besaran. Dia nggak pernah melayani, jadi wajar aja dia bingung.


Tentu seorang Putri tunggal di keluarga terpandang diperlakukan dengan istimewa. Memberikan apapun yang diinginkan. Dan itu dirasakan oleh Brigitta Yamasaki. Itulah mengapa hidupnya berjalan sesuai keinginannya.


Menghabiskan waktu di salon, makan di restoran berkelas, jalan-jalan ke tempat-tempat mewah, dan lain sebaginya adalah kegiatan Tata sebelum berakhir menjadi pelayan seperti sekarang. Rasanya menyebalkan menjalani kehidupannya yang sekarang.


Dua menit berlalu sejak dia memandangi gelas dihadapannya. Masih kosong. Tidak ada gula ataupun kopi yang meluncur kedalam gelas.


Gadis itu mencoba mengingat ilmu yang dia dapatkan di kampus mengenai kopi. Tapi masalahnya, tidak ada kaitan apapun dengan pengetahuan yang dia miliki. Meski dia telah lulus S2, tapi tetap aja tidak berguna untuk prosedur membuatkan kopi.


"Apa aku buka google aja, ya?" gumamnya. Ia merogoh sakunya. Sial! Ternyata dia tidak membawa hape. Ia baru ingat, bahwa kedatangannya kerumah itu hanya bermodalkan nafas doang.


"Mati aku!" katanya disertai getokan dikepala. Menyesal sejadi-jadinya. "Udahlah, buat manual aja,"

__ADS_1


Tata mulai menyendokkan gula kemudian diikuti dengan kopi.


Sebenarnya apa yang dia lakukan sudah benar, karena dia mengisinya dengan gula dan kopi, bukan dengan garam dan lada, tapi... ada kesalahan yang dia perbuat.


Tiga sendok kopi dan satu sendok gula, itu yang dia masukkan. Dan menurutnya itu sudah benar.


"Hei! Kopinya kelamaan!" suara sekretaris Off terdengar setengah berteriak dari ruang utama.


Tata jadi panik. Akhirnya dia hanya sempat mengocok tanpa sempat mencicipi. Langsung bergegas mengantarkan.


"Lelet!" ketus sekretaris Off saat melihat kedatangan gadis itu.


"Maaf, sekretaris Off." ujarnya menanggapi. Ia berjalan hati-hati menuju pria yang duduk di sofa. Ditangannya secangkir kopi beralaskan tatakan mengepulkan uap. Menandakan bahwa kopi tersebut masih panas.


Duh, gugup banget lihat wajah Dika. Udah lama penasaran. Jadi deg-degan.


Tata akhirnya sampai dihadapan Dika. Ia meletakkan minuman itu dengan hati-hati.


"Silahkan, Tuan." wah, dia benaran bisa melakukan pekerjaan persis kayak pelayan. Bahkan cara bicaranya saja di copas habis dari pelayan dirumahnya.


Tidak ada jawaban. Pria itu menggubris. Malah sibuk dengan hape ditangannya.


Bagi Tata tidak apa-apa diabaikan seperti itu. Namanya juga baru-baru, pikirnya. Dia pikir Dika adalah orang yang ramah, sama seperti cerita Hana beberapa tahun lalu. Tidak terbesit dalam benaknya bahwa Dika kejam seperti omongan orang-orang.


Gadis itu sengaja berdiri didekat meja agar bisa mengamati wajah Dika dari jarak yang lumayan dekat.


Wajah Dika tidak mengecewakan. Bahkan sangat memuaskan. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Hana, pria itu lebih ganteng dilihat secara langsung. Buktinya foto yang kemarin dia dapatkan bukan apa-apa dibandingkan wajah asli dari pria itu. Acungi jempol buat siganteng laut yang satu ini.


Kak Satria mah kalah jauh! Masih nilai delapan dibanding Dika yang seratus. Aduh, tolong...aku meleyot


Sekretaris Off yang duduk di samping Dika menyadari tingkah gadis itu. Ia hanya menggeleng, tidak menegur, karena setiap wanita selalu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan gadis itu saat bertemu Dika. Tentulah, siapa juga yang mau melewatkan objek sempurna. Lumayan menambah kegembiraan hati-- cuci mata istilahnya.


Entah Dika sadar atau tidak, tapi dia memilih cuek aja. Wajahnya tetap datar seperti biasa.


Tidak seberapa lama, Dika mengangkat cangkir yang dibawakan Tata. Ia menyesap isinya dengan santai.


Tidak ada keluhan. Pria itu malah meletakkannya kembali. Ia tidak protes atau melemparkan cangkir itu. Namun, dia mulai bicara pelan.


"Siapa yang membuatkan kopi ini?"


"Saya," ujar Tata mengangkat tangan. Persis kayak anak TK yang ditanyai siapa yang bisa menjawab satu ditambah satu.


Dika terdiam sejenak. Matanya yang sedari tadi sibuk pada hape kini beralih pada wajah Tata.


"Kamu?" wajah Dika tidak tertebak, tidak ada ekspresi disana. "Habiskan ini!" ucap Dika menunjuk kopi dengan dagunya.


Jelas Tata tidak mengerti maksudnya. Jadi dia menjawab dengan jawaban polos . "Terimakasih. Tapi saya tidak suka kopi. Saya lebih juga greentea atau segelas coklat panas." balas Tata tersenyum.


"Habiskan! Sebelum nyawamu yang habis!" suara Dika memang biasa aja, tapi arti kalimatnya membuat Tata bergetar hebat.


"Ta-tapi saya tidak..."


"Tiga menit. Saya kasih waktu tiga menit untuk menghabiskannya. Jika lewat sedetik saja, kau benar-benar akan berubah menjadi makanan buaya." sepertinya Dika benar-benar serius dengan ucapannya.

__ADS_1


Tata masih belum bergerak. Dia kira pria itu hanya bercanda.


"Dua menit empat puluh detik." ucap Dika lagi.


"Hei, cepat habiskan! Sebelum kau benar-benar mati hari ini juga!" sekretaris Off ikut panik. Ia tidak mau Dika melakukan pembunuhan hanya karena kesal pada pelayan baru itu.


Tata baru sadar, bahwa pria benar-benar serius. Langsung dia mengangkat gelas itu, meneguk isinya.


Tapi masih satu tegukan, ia langsung berhenti. "Pahitttttt!" serunya.


Dia yang tidak suka kopi aja tidak ingin meminumnya, apalagi penggila berat seperti Dika. Wajarlah pria itu sedikit berlebihan. Anak kecil aja pasti demikian, apalagi lah Dika yang memiliki tempramen buruk.


Tata ingin meletakkan kembali cangkir itu, tapi tidak bisa karena Dika terus saja menghitung.


"Satu menit dua puluh detik." ujarnya.


Tidak ada pilihan lain kecuali meneguk isi cangkir itu secepatnya. Dia tidak ingin mati konyol hanya karena kasus kopi. Masih untung kalo dia mati mayatnya kelihatan, bagaimana kalo Dika benar-benar memberikannya pada buaya. Ih..itu mimpi buruk yang gila.


Dengan segala keterpaksaan dibarengi rasa takut, akhirnya kopi itu habis di detik kelima sebelum waktu berakhir. Ia mengaku lega dalam hati, meski sekarang ia ingin muntah. Tapi muntah akan lebih baik dibandingkan mati konyol.


"Buatkan sekali lagi! Jika hasilnya masih seperti itu, maka kau harus meneguknya dalam waktu dua puluh detik." ucap Dika dengan santainya. "Lima menit dari sekarang! Jika lewat, kau akan ku pecat!"


Segera Tata berlari menuju dapur. Kalo sampai dia dipecat, hilang sudah harapannya untuk kembali masuk ke rumah itu.


"Hiks... seseorang tolong bantu aku..." gumamnya menangis di dapur. Ia tetap tidak tau bagaimana cara membuat kopi dengan benar.


Saat itulah, seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.


"Ada apa, Nona?" tanyanya lembut.


"Hiks, saya disuruh sama Dika untuk membuatkan kopi. Tapi saya tidak tau caranya gimana," jawab Tata sedih.


"Mau ku bantu?"


"Ya..." Tata mengangguk cepat.


Jadilah wanita itu yang membuatkan kopi tanpa basa-basi. Ia terlihat handal dalam bidang itu.


"Nah, udah siap..." ujar wanita itu tersenyum. "Antarkan, gih..."


Tata tersenyum senang. Langsung ia mengantarkan kopi buatan wanita itu. Tentu saja Dika akan berfikir itu buatannya.


Ternyata setelah mencicipinya, Dika tak lagi protes. Dia terlihat meneguknya dengan nikmat.


Tata senang melihat itu.


Setelah menghabiskan kopinya, Dika dan sekretaris Off berdiri. Mereka ingin pergi menemui Satria. Tapi sebelum pergi, Dika berkata, "Jangan pikir aku bodoh. Berulah dengan menyuruh pelayan lain sekali lagi, aku benar-benar akan mencampakkan mu ke dasar Palung Mariana." Dika beralih menatap sekretaris Off.


"Atasi dia sebentar!" perintah Dika. Lalu pergi menuju pintu keluar.


Tinggallah sekretaris Off dan Tata yang saling berhadapan.


"Sebenarnya aku juga penasaran kenapa kau bisa masuk kesini. Sepertinya kau bukan pelayan biasa. Dari kulitmu saja sudah terlihat bahwa kamu bukan dari kalangan orang miskin. Tapi, kali ini kamu lolos. Identitasmu tidak akan kupedulikan selama kau tidak menggangu dirumah ini. Tapi sekali lagi kau melakukan kesalahan, aku yang akan turun tangan untuk memecatmu." sekretaris Off bicara panjang lebar. Sebelum akhirnya benar-benar melangkah menuju pintu.

__ADS_1


"Belajarlah dengan benar!" ucapnya sebelum menghilang dibalik pintu.


__ADS_2