
Hari Minggu di rumah Dika Feryaldi.
"Apakah anda tidak pergi ke pusat pelatihan beladiri hari ini?" tanya Sekretaris Off pada Dika yang sedang sibuk. Ia meletakkan kopi di atas meja. Sejenak ia memperhatikan apa yang sedang dilakukan tuannya.
"Nggak." Sahut Dika singkat.
"Kenapa? Bukankah anda ingin lebih baik dalam bertarung?" tanyanya sambil mendudukkan tubuhnya tepat disamping Dika.
"Ya."
"Namun kenapa anda tidak pergi? Bukankah hari ini anda senggang?"
Dika tidak menjawab. Ia sedang sibuk dengan miniatur miniatur bangunan dihadapannya. Mengabaikan memang salah satu kemampuannya.
Merasa tidak mendapat tanggapan, sekretaris Off langsung bangkit dan meninggalkan Dika sendirian. Dia hafal banget sama tabiat tuannya. Bukan Dika namanya kalo tidak menyueki orang lain.
*****
Sebuah moge merah berhenti tepat didepan gerbang rumah besar milik Dika.
Ternyata pengendaranya seorang cowok cool yang mengenakan helm. Sudah bisa ditebak dia pasti cowok tampan yang berdamage. Dari caranya berpakaian saja sudah tampak demikian.
"Pak...Dika ada dirumah?" tanya pengendara itu pada satpam tanpa membuka helmnya.
"Hah?" si satpam jelas bingung. Tentu ia tidak mendengar apa yang ditanyakan pria itu.
Jadinya pria itu mendekatkan motornya hingga jarak satpam itu hanya tinggal beberapa langkah.
"Dika ada di rumah?" tanyanya lagi. Kali ini dengan suara yang lebih keras.
"Maksud anda tuan Dika?" satpam itu memperjelas.
Cowok itu sedikit bingung, tapi dia langsung mengangguk. Entah siapa nama Dika sekarang ia tidak peduli. Yang penting ia mengetahui keberadaan pria itu.
"Iya. Tuan ada dirumah." Jawabnya pada akhirnya.
Cowok itu langsung kegirangan. Tidak nyangka hari ini adalah hari keberuntungannya karena hanya kali ini dia mendengar Dika berada dirumah. Sudah lama sekali ia tidak melihat sohibnya itu.
"Saya mau bertemu dengannya." Cowok itu langsung turun dari motornya. Detik kemudian ia membuka helm yang melindungi kepalanya.
"Anda masih ingat saya, kan?" pria itu tersenyum menatap satpam yang berdiri siaga dibibir gerbang.
"Tuan Satria?" satpam itu langsung mengenali sesosok pria tampan yang sedang berdiri dihadapannya. Dulu pria inilah yang memperkerjakan nya hingga sampai kini ia bisa menghidupi keluarganya.
"Yap, betul! Saya masih Satria." Cowok itu menyunggingkan senyumnya. Bahkan satpam yang sudah setengah baya itu harus mengakui betapa gantengnya anak muda yang bernama Satria ini.
"Saya bisa masuk kan, pak?" Satria hendak melangkah tapi langsung dihalangi oleh satpam itu.
"Maaf tuan, saya bukannya tidak ingat dengan segala kebaikan anda, tapi tidak ada seorang pun yang bisa masuk kedalam jika tidak ada persetujuan dari sekretaris Off."
Satria jelas sangat kaget dengan perlakuan pria paruh baya itu. Tidak mungkin dia tidak tau siapa Satria bagi Dika. Kedekatan keduanya jelas diketahui oleh hampir semua orang.
"Pak, saya Satria loh!"
"Saya tau, tuan. Tapi seperti yang anda ketahui, tuan Dika tidak mau bertemu dengan siapapun."
"Bahkan dengan saya?" Satria menunjuk dirinya. Sungguh ini sangat mengecewakan jika benar Dika juga tidak mau bertemu dengannya.
"Iya, tuan. Kehidupannya di privasi sejak kejadian tahun lalu." Maksudnya sejak kematian Hana Angela.
Entah dari arah mana tiba-tiba sekretaris Off muncul seperti hantu.
"Ada apa ini?" sergahnya pada kedua pria yang sedang berdebat. Ia mengambil tempat berdiri tepat dihadapan Satria.
"Saya ingin bertemu Dika." Satria langsung ke inti. Tidak peduli apa jabatan wanita ini yang penting tujuannya datang kesana tercapai.
Sekretaris Off melipat tangannya di dada. Terlihat jelas dia menantang keinginan Satria.
"Dia tidak mau bertemu dengan siapapun!" ketus sekretaris Off tegas.
"Siapapun? Termasuk dengan saya?" ulang Satria.
"Emangnya anda siapanya? Setahu saya tuan Dika tidak dekat dengan siapapun." Imbun gadis itu.
Satria kehabisan akal. Rasanya aneh juga jika Dika tidak berubah. Sebenarnya Satria akan menerima hal ini lebih mudah, apabila saja pria itu tidak sampai mengurung diri seperti ini. Masa bertemu dengan sahabatnya saja tidak mau!
Tidak ada cara lain selain memasang wajah imutnya. Mengedip edipkan matanya dengan tangan terlipat diatas dada. Percayalah dia benci melakukan itu, tapi biasanya hal tersebut bisa membantu dikeadaan sulit.
"Eh? Dia ngapain?" batin sekretaris Off.
"Tolonglah... ini sangat penting bagiku. Jangan membuatku pulang dengan sia-sia. Aku udah dari satu tahun lalu ingin menemuinya, masa baru mendapat kabar gembira seperti ini langsung terusir, sih!" Satria memanyunkan bibirnya.
Sekretaris Off terpana. Menurutnya cukup aneh juga jika pria berwajah dewasa seperti Satria kelakuannya bisa bertingkah Childish. Dia jadi gemas sendiri.
Sialan! Dia cowok pertama yang membuatku gila seperti ini!
"Udah! Jangan melakukan itu! Aku akan bicara dulu dengannya." Sekretaris Off langsung beranjak dengan wajah memerah. Dia bingung kenapa bisa segrogi ini.
Wanita cantik itu kembali masuk kedalam rumah. Menemui Dika yang sedari tadi sibuk dengan urusannya.
"Tuan, seseorang ingin menemui anda." Lapor sekretaris Off.
"Sudah kubilang aku tidak mau bertemu siapapun!" tanpa melirik Dika marah dan kesal.
Sial! Kenapa aku terjebak seperti ini sih!
__ADS_1
"Tapi katanya dia sangat dekat dengan anda. Katanya ada sesuatu yang ingin disampaikan." Sejujurnya sekretaris Off takut melanjutkan. Selain karena tolakan mentah mentah dari Dika, juga karena dia berbohong. Tapi karena wajah imut Satria tadi membuatnya tidak tega membuat pria itu kecewa.
"Aku tak peduli! Jangan memaksaku, Gwendoline Mainoff!" tiba-tiba Dika mengangkat wajahnya, melemparkan tatapan seram kearah sekretaris Off.
Persetan dengan pria itu! Aku tidak rela dipecat karenanya.
"Ah, baiklah. Maafkan saya, tuan." Udahlah, jika Dika sudah bilang tidak, artinya tidak ada kesempatan untuk membujuknya. Apapun yang terjadi. Bodohnya sekretaris Off berfikir bisa mendapat persetujuan.
"Siapa namanya?" Tidak seperti biasanya, Dika menanyakan sesuatu. Selama ini, selama sekretaris Off bekerja disana, Dika tidak pernah bertanya apapun. Ini pertama kalinya.
Dan yang paling parahnya lagi, ini kali pertama sekretaris Off tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan pertama tuannya.
"Eh, aku tidak tau namanya, tuan. Tapi..."
"Apa?" Nada suara Dika berubah.
"Tapi kalo tidak salah dia pimpinan dari Worley group." Sejujurnya sekretaris Off agak mengenal Satria, secara nama pria itu terkenal luas di kota yang dia tempati sekarang. Dan dia bertemu dengan pria itu beberapa kali. Namun bukan berarti dia harus mengetahui nama pria itu, kan. Wajahnya memang sering dia lihat, tapi namanya tidak ia ketahui.
Dika langsung memberikan reaksi berbeda. Garis wajahnya sedikit menegas.
"Satria Nugroho?" Dika mengangkat salah satu alisnya, artinya dia penasaran.
"Ngggg...."
"Suruh dia masuk. Hanya lima menit saja!"
"Apa..." Sekretaris Off langsung panik. Tidak nyangka banget Dika memberikan perintah seperti itu.
"Empat menit lima puluh dua detik lagi." Lanjut Dika tanpa peduli dengan kepanikan gadis cantik itu.
"Eh..." Langsung berlari menuju tempat Satria menunggu.
Diluar dia melihat Satria berdiri sambil bersandar ke jeruji gerbang.
"Cepat masuk! Sebelum dia berubah pikiran!" dengan ngos-ngosan, sekretaris Off menarik tangan Satria. Menuntunnya masuk kedalam.
Satria tidak mengerti kenapa tangannya ditarik-tarik. Tapi dia tidak protes juga sih. Kayaknya dia nyaman tangannya digenggam gadis cantik.
"Wow... See who's coming." Ternyata Dika sudah berdiri dan menunggu kedatangan pria itu. Ia terlihat sangat santai dengan sweater biru yang dipadukan dengan celana panjang plus sisiran rambut kesamping. Kedua tangannya terselip kedalam saku. Ada lengkungan aneh dibibir nya.
"Dika." Sapanya penuh haru.
"No... I'm not Dika! But trash." Pria itu menyahut dengan mengatakan dirinya sampah.
Satria tersenyum. Namun dalam hati ia menangis. Menyesali segala sesuatunya. Baik itu takdir, nasib, atau apapun namanya. Ia tau segalanya tidaklah adil bagi Dika. Walaupun kehancuran Dika tidak ada sangkut paut dengannya, tapi ia turut menyesali perubahan pria ini.
"Segalanya berubah Dika." Satria menatap Dika dari tempatnya berdiri. Memperhatikan setiap detail perubahan dalam kehidupan maupun diri laki-laki itu.
"Yah! That's right!" sahut Dika.
Dika kaget. Namun dia hanya terdiam tanpa berniat membalas pelukan sahabatnya. Ia menunggu sampai Satria benar-benar puas dengan kelakuannya.
Dibanding Dika, sekretaris Off yang paling kaget. Ia tersentak saat Satria melakukan hal yang begitu konyol menurutnya. Berpelukan? Bukankah biasanya cewek yang melakukan itu. Tapi melihat Dika tidak marah atau menolak, jadinya ia hanya terpaku tanpa bisa melarang pria itu.
"Hei, lepaskan!" ujar Dika mendorong tubuh Satria. Sebenarnya bukan karena apa-apa, hanya saja Satria seolah ingin memeluknya untuk waktu yang lama dan seperti ingin menangis di pundaknya. Jadinya ia risih.
"Ternyata kau baik-baik saja." Satria berlagak seperti orang tua yang baru saja menemukan anaknya yang hilang setelah sekian lama. Terlihat dari matanya yang mengembun.
"Tentu saja aku harus baik-baik saja!" sahut Dika sambil berjalan menuju sofa. Sikapnya sangat berbeda dari yang dulu.
Satria mengekor dari belakang. ia menatap Dika yang mendudukkan tubuhnya dengan kasar. Pria itu terlihat sangat angkuh sekarang.
Kenapa dia tidak menawarkan duduk? Sadis benar orang ini!
Satria berdiri sambil bergumam dalam hati. Sejenak ia melihat apa yang ada diatas meja.
Miniatur perusahaan? Untuk apa Dika menyusun semua itu? Apa ini caranya untuk menghancurkan orang lain? Entahlah! Semua pernyataan yang muncul hanya membuatnya pusing. Jadi ia langsung menggunakan jalur langit, dengan cara bertanya langsung.
"Apa ini?"
Tatapan Dika datar. Kayaknya ia ngga niat menjawab pertanyaan Satria.
"Apa begini caramu menghancurkan orang lain?" tanya Satria lagi.
"Yap! It's true."
Satria mengerti. Jadi selama ini begini cara yang digunakan Dika untuk naik ke puncak. Menghancurkan orang lain untuk melejitkan karir. Bagi Satria, cara tersebut terlalu banci. Tidak dewasa.
Ya, dia menjadi salah satu pengusaha paling tajir dan terkenal sekarang. Kehebatannya dalam dunia bisnis memang patut diacungi jempol. Ia berhasil mencapai satu tujuannya, yaitu menjadi yang terhebat. Tinggal satu lagi yang belum ia tuntaskan, yakni balas dendam.
"Setahuku kau bukan orang seperti ini," Satria berusaha mencari jalan agar tetap memancing Dika bicara. Ia tau, Dika nggak bakalan bicara jika tidak dipanasi.
Dika menatap Satria dengan tatapan datar, nyaris tanpa ekspresi. "Setahumu? Sejak kapan kau tau tentangku?" dasar Dika, tidak tau diri sekali dia jadi manusia. Dia itu bisa hidup sampai sekarang memang karena apa? Tentu karena Satria. Karena Satria tau segala sesuatu tentangnya.
Emangnya, dia pikir kenapa dia bisa seperti sekarang, tentu saja karena bantuan dari Satria juga. Sejak pertama dia merintis bisnis Satria lah yang mengajari dan membantunya. Dan ucapan Dika barusan benar-benar menunjukkan bahwa dia seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Iyakan?
"Kau sangat berbeda sekarang. Sangat berubah. Kenapa sih?" ada nada kesedihan didalam suaranya.
"Hei, SIAPAPUN BISA BERUBAH, SATRIA." tiba-tiba suara Dika meninggi. Menunjukkan bahwa dia kesal dengan pertanyaan Satria.
Sekretaris Off cukup terkejut dengan apa yang diucapkan tuannya. Dia tidak tau apa masalah Satria dengan Dika. Tidak tau juga kenapa Satria datang kesana. Yang sekretaris Off tau hanya tentang Hana. Maksudnya dia tau Dika berubah karena kematian gadis itu. Dan sekarang dia bingung, suasana apa yang sedang terjadi. Tapi untuk sementara ia harus jadi pengamat. Sebelum nanti ia mencari tau tentang semuanya.
Dalam hati Satria membenarkan perkataan Dika. Hal yang wajar jika pria itu berubah. Itu artinya dia benar-benar mencintai Hana, adiknya. Namun meskipun demikian, Satria tidak menginginkan Dika terlalu larut dalam kesedihan. Hana sudah meninggal satu tahun yang lalu, dan yang terjadi, Dika masih bersedih sampai saat ini. Satria ingin Dika memulai hidup baru dan melupakan Hana.
Satria mengepalkan tangannya. Manik matanya menuju ke miniatur yang disusun diatas papan berkotak. Tidak ada miniatur gedungnya disana. Dan dia cukup terkejut melihat gedung pusat perusahaan papanya ada di barisan paling depan. Dan yang paling parahnya lagi, berada di kotak berwarna merah bertanda tengkorak. Artinya, sasaran Dika saat ini adalah papanya. Cepat atau lambat Dika pasti akan menghancurkan papanya, Herman Nugroho.
__ADS_1
Dika menyadari kalo Satria sedang memperhatikan permainannya. Ia tersenyum bengis seraya berkata, "apa yang kau lihat, Satria Nugroho?"
"Apa maksud semua ini?" balas Satria bertanya.
"Kau tidak mengerti, ya? Biar ku jelaskan, ini semua adalah perusahaan yang harus aku hancurkan. Ada perusahaan Andi didalamnya, perusahaan papanya Doni, perusahaan Melissa, dan tidak lupa, perusahaan Herman Nugroho..... si bangsat yang membuatku harus berakhir seperti ini!" Dika berujar sambil menunjuk-nunjuk susunan miniatur diatas meja.
Satria tergetar. "Kenapa jadi begini? Bahkan pada teman-temanmu juga? Kau begitu kejam!"
Mendengar Satria mengatakan kejam, Dika langsung menyeringai licik. Bodoh sekali Satria baru mengatakan ia kejam. Kemana aja dia sejak satu tahun lalu? Apa dia tidak tau sudah berapa banyak orang yang dihancurkan oleh Dika? Atau jangan-jangan dia pura-pura nggak tau.
"Dasar bodoh!" cemooh Dika kasar. "Sangat tolol!"
Dalam hati, Satria membenarkan ucapan Dika. Dia memang bodoh, bahkan sangat tolol. Namun Dika sudah salah mengira. Satria tau segalanya. Selama ini, tanpa disadari oleh Dika, sebenarnya Satria selalu berada didekatnya. Selalu berdiri dibelakang pria itu. Menjaga dan membenarkan jalannya. Hanya saja, dia melakukannya secara diam-diam.
"Apa kau melakukan itu semua karena kematian adikku?" pertanyaan itu terlontar begitu saja. Menikung dari isi obrolan yang sesungguhnya.
Alis milik Dika langsung bertaut. Dia paling benci orang membicarakan Hana didepannya. Meskipun Hana adalah adik Satria, dia tidak suka pria itu membahas wanitanya. Terlalu meresahkan!
"Untuk apa kau melakukan semua ini? Toh dia sudah meninggal. Dan lagipula, dia pasti sangat kecewa padamu jika dia tau kau melakukan ini untuknya. Percayalah, Hana tidak pernah berharap kau melakukan hal seperti ini. Dia pasti ingin melihatmu hidup lebih baik." ntah kenapa tiba-tiba Satria membahas itu.
"Diam kau! Hentikan berbicara tentangnya! Mulutmu tak pantas mengucapkan itu!" Dika menyergah tajam.
Satria langsung kena mental. Bibirnya mengatup rapat, seakan terkunci karena gertakan Dika. Ini aneh! Sejak kapan Satria jadi selemah ini.
Dika mengangkat wajahnya, melemparkan pandangannya pada Satria. Ada sekelabat rasa bersalah dalam hatinya. Karena sesungguhnya, dia tidak berhak menggertak Satria seperti itu. Satria begitu banyak membantunya, bahkan hingga kini, dia yakin Satria selalu campur tangan dibelakangnya. Tapi, kesakitan hati Dika membuat dia melupakan rasa bersalahnya.
"Sebenarnya apa tujuanmu datang kesini? Apa cuma mau ngoceh ngga jelas?" Dika bangkit dari duduknya, dan berjalan pelan menuju tempat Satria berdiri sedari tadi.
Kini keduanya saling berhadapan. Jarak mereka lumayan dekat, mungkin hanya sekitar tiga meter saja.
Satria menatap Dika tajam. Tangannya langsung terkepal erat. "Bisakah kau kembali seperti dulu?" Satria membalas pertanyaan dengan pertanyaan.
Cukup lama Dika terdiam. Sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bicara. "Aku orang yang sama. Tidak ada yang berubah dariku," jawab Dika.
"Maksudku, berhentikan menghancurkan orang lain mulai sekarang. Itu tidak baik,"
"Tidak baik? Bukankah kau yang mengajariku seperti ini. Menghancurkan orang lain untuk naik ke puncak tertinggi." Dika tersenyum licik.
" Aku tidak pernah mengatakan itu!" bantah Satria.
"Kau tidak mengatakannya secara langsung. Aku yang memodifikasinya."
Satria terdiam lagi. Rasanya tidak akan ada gunanya beradu mulut dengan Dika. Dia tau Dika tidak akan pernah kalah soal argumentasi. Dia punya kemampuan besar disana.
Sekretaris Off menonton perdebatan keduanya. Ia mencoba membaca masalah dengan situasi yang terjadi. Baginya ini sedikit rumit karena Dika yang biasanya sangat hemat bicara, tiba-tiba jadi seperti ini saat bersama Satria. Dia jadi pusing sendiri memikirkan hal itu.
"Sial! Kenapa ini harus terjadi!" gumam Satria. Dia tidak menyangka bahwa Dika mendengar gumamannya.
"Kau ngomong apa?" sela Dika.
Entah roh apa yang merasuki pikirannya, tiba-tiba Satria berjalan mendekati meja. "Kubilang kenapa ini harus 'TERJADI'!" tegas Satria. Lalu ia menghempaskan semua susunan rencana yang telah diatur oleh Dika. Miniatur miniatur itu berserakan kemana-mana. Beberapa diantaranya rusak.
Hak tersebut membuat darah Dika mendidih. Emosinya langsung memuncak dan sekujur tubuhnya terasa berdenyut. Dengan tangkas dia mendekati Satria lalu menarik kerah baju pria itu.
"Apa yang kau lakukan, bangsat!" dari mata saja semua orang juga pasti tau kalo Dika sedang marah besar. Pasalnya tatapan Dika tajamnya dahsyat amat. Dia bisa membunuh hanya dengan tatapan.
"Kenapa? Kau mau menghancurkan ku juga?" wajah Satria terlihat sangat santai. Kayaknya dia ngga takut dengan hal yang akan terjadi padanya.
"Aku benar-benar akan membunuhmu, Keparat!" Dika mengeraskan cengkeramannya. Sampai-sampai kerah baju itu mencekik leher Satria.
"Konyol sekali! Kau akan membunuhku hanya karena hal sepele? Kau bukan Dika yang kukenal," kini Satria berusaha melepaskan diri dari cengkraman Dika. "Seorang pria yang terluka harusnya bisa lebih kuat. Kehilangan seseorang memang sakit tapi...."
"DIAMMMMMM!" teriak Dika. Dia langsung memotong pembicaraan Satria dengan berteriak. Sekretaris Off sampai kaget setengah mati gegara suara besar milik tuannya itu.
"Kau tidak tau bagaimana rasanya menjadi aku, bangsat!" Dika menuding kepala Satria. Kebetulan tinggi mereka hampir sama, hanya saja Dika lebih tinggi dua centi. "Apakah seorang Satria Nugroho pernah merasakan hidup menderita? Apa kau pernah merasai tidur dijalan? Apakah kau pernah menahan lapar meski orangtuamu enak-enakan menikmati makanan dirumah? Apa kau pernah dikhianati oleh sahabatmu sendiri? Dan....apa kau pernah ditinggal oleh orang yang kau cintai? TIDAKKKK!!! Kau tidak pernah merasakan itu, bajingan!" sungguh Dika sangat marah kali ini.
"Kau hidup bahagia sejak lahir. Tidak pernah menderita sedikitpun. Jadi, jangan coba-coba menasehatiku, karena kau belum merasakan apa yang kurasakan,"
"Dika, bukan begitu maksudku...." Satria jadi bingung sendiri. Dia tidak bermaksud menyinggung masa lalu Dika, dia hanya ingin memperalat Hana untuk melunakkan hati Dika. Tapi kenapa malah berujung seperti ini, ya?
Sepertinya Dika tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Satria. makanya dia berkata, "Sebagai informasi, rencana ku selanjutnya adalah menghancurkan Herman. Akan ku tunjukkan padanya, bagaimana cara menghancurkan seseorang dengan benar. Sama seperti janjiku dulu."
"Tapi Dika...."
"Dan peringatan untukmu, jangan coba-coba membantu menyelamatkan Herman. Karena jika kau melakukan itu, maka janjiku akan kuingkari. Diamlah jika kau ingin selamat!" tegas Dika.
"Kumohon dengarkan aku Dika...." Satria berusaha membela diri namun tidak bisa. Karena Dika selalu nyolot.
"Jika kau kasihan padanya, maka bantu dia meminta maaf padaku. Kalo dia meminta maaf dengan benar, mungkin aku bisa meringankan bebannya. Setidaknya aku ngga bakalan biarin dia mati konyol. Pergilah, suruh dia berlutut di hadapanku!" Dika mendorong Satria kebelakang.
"Dika....." Satria benar-benar tidak punya kesempatan untuk bicara. Dika selalu menghalanginya.
"Kubilang pergi!!! Kau sudah cukup beruntung hari ini, karena aku mau menemuimu."
"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting padamu.... tolong dengarkan ini..."
"Tadi perjanjian hanya lima menit saja, dan ini sudah lebih dari lima menit. Kau pilih saja, keluar dengan kakimu sendiri atau keluar dengan diseret?"
Satria menghembuskan nafasnya kasar. Kepalan tangannya mengeras. Sorot matanya menajam menatap Dika. "Aku bisa keluar sendiri!" ujarnya kesal. Ia melangkah menuju pintu yang terbuka lebar.
Masih lima langkah berjalan, Satria berhenti. Ia membalik badannya dan berkata, "Dika aku tau sesuatu tentang kematian Hana. Aku datang kesini untuk meminta bantuan kepadamu. Jika kau mau membantuku, temui aku dirumah. Mari kita membantunya agar tidur dengan nyenyak."
Setelah mengatakan itu Satria melanjutkan langkahnya.
"Aku menunggumu, teman." ucapnya sekali lagi.
__ADS_1