
Seorang ayah dan anak laki-laki kesayangannya tengah bermain bermana. Mereka adalah Rudolf Marly dan putranya, Morgan Marly. Sementara itu, ibunya, Liliana Marly sedang menikmati cemilan sambil memperhatikan anak dan ayah itu bermain.
"Ayah, Morgan yang sembunyi, Ayah yang jaga ya!" ucap Morgan, anak yang berusia lima tahun, sambil berlari mencari tempat untuk sembunyi saat bermain petak umpet.
"Bersembunyi lah di tempat yang aman. Ayah akan menemukanmu," ucap Rudolf sambil menyembunyikan wajahnya di dinding.
Morgan memilih untuk sembunyi di bawah kolong meja yang sedikit gelap, agar ayahnya tidak bisa menemukan dirinya.
Braakkkk… Salah satu anak buah Rudolf terpental di pintu, membuat Rudolf dan Liliana terkejut dan langsung menghampirinya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Rudolf.
"Tuan… Kita diserang," ucapnya terbata setelah itu memuntahkan seteguk darah, sebelum akhirnya tergeletak tak bernyawa.
"Sial…" Dengan geram Rudolf mengepalkan tinjunya. Belum sempat Rudolf bergerak, para musuh pun sudah mengepung dan siap menyerang. Mereka adalah organisasi Serigala Hitam, musuh bebuyutan Dragon.
Rudolf tak sempat dan menggunakan kedua tangannya berusaha menghalau musuh untuk tidak masuk lebih dalam. "Bersembunyi lah bersama Morgan. Aku akan mengatasi mereka!" Titah Rudolf.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan kamu sendirian, kita akan hadapi bersama," jawab Liliana sang istri.
Mereka pun berusaha melawan bersama anak buahnya untuk melenyapkan Serigala Hitam.
Dor…!! Dor…!!! Suara tembakan terus menggema, melesatkan timah panas ke segala arah. Namun sayangnya Dragon kalah telak karena kalah pasukan.
__ADS_1
"Mundur tuan, Selamatkan diri kalian, biar kami yang melawan mereka," teriak Aditiya pimpinan pasukan, memerintahkan Rudolf untuk melarikan diri menyelamatkan keluarganya.
Rudolf segera menarik Veronica untuk masuk, namun tanpa mereka sadari Pria bertopeng emas sudah lebih dulu masuk tanpa mereka sadari. Pria bertopeng itu menempelkan pedangnya di leher Rudolf.
"Serahkan stempel itu padaku."
"Jangan harap kamu bisa mendapatkannya. Sampai matipun, kamu tidak akan dapatkannya," jawab Rudolf tanpa takut, walaupun pedang sudah berada di lehernya yang sekali tarik bisa memutus leher.
Rudolf meraih pedang miliknya yang ada di dekatnya dan segera menangkis pedang pria bertopeng. Dua mata pedang beradu, Rudolf berusaha menangkis setiap serangan pria bertopeng itu. Liliana pun segera membantu suaminya dan ikut menyerangnya.
Dua lawan satu membuat Pria bertopeng itu sedikit kewalahan. Rudolf berhasil merobek paha pria bertopeng itu hingga tersungkur. Namun siapa sangka Pria bertopeng itu masih punya kekuatan untuk mengayunkan pedangnya melukai Liliana yang berusaha melindungi suaminya.
Samar-samar terdengar suara tembakan di halaman rumah. Sedangkan di dalam rumah, suara pertengkaran dan diiringi suara benda-benda pecah memekikkan telinga. Tak lama kemudian terdengar suara jeritan sekali dari seorang wanita yang tak lain adalah Liliana.
Sebuah pedang menancap di punggung Liliana dan menembus ke tubuh Rudolf. Saat itu juga, keduanya tumbang ke lantai.
Pria kecil itu tanpa sengaja menyaksikan pembantaian yang terjadi pada orang tuanya dengan keji. Ayah dan ibunya tewas karena sebuah pedang yang melukai beberapa bagian tubuhnya, dan juga satu pedang menancap di tubuh keduanya. Darah segar terus mengalir dari tubuh orang tuanya hingga menggenang di lantai.
Morgan kecil yang berusia lima tahun itu menjadi saksi pembantaian yang dilakukan oleh orang bertopeng yang membawa pedang di tangannya untuk menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Entah apa masalahnya, Morgan sama sekali tidak tahu.
Sang ayah yang memberikan perintah untuk Morgan agar tetap diam di tempat, membuat Morgan hanya bisa terus bersembunyi dan membungkam mulutnya sendiri, karena ketakutan jika dirinya juga tertangkap. Ia pun tetap diam sampai para pembantai itu pergi.
Berjam-jam Morgan masih tetap sembunyi, sampai terdengar suara-suara yang memanggil namanya. "Tuan muda Morgan... Tuan muda Morgan..." Suara orang-orang yang memanggil namanya.
__ADS_1
Dengan tubuh masih gemetar, Morgan kecil berjalan sambil berjongkok keluar dari kolong meja.
"Paman..." Panggil Morgan pada seorang lelaki yang merupakan pengasuhnya.
"Tuan muda Morgan selamat... Tuan Morgan selamat..." ucapan beberapa orang yang merupakan anak buah dari Rudolf yang masih tersisa, membuat Morgan sangat senang karena mendapati tahu bahwa Morgan masih selamat.
Aditiya laki-laki yang dipanggil paman oleh Morgan langsung menghampiri dan memeluk Morgan serta memastikan keadaan Morgan baik-baik saja. Morgan hanya terdiam. Kejadian itu membuat trauma tersendiri bagi Morgan.
Aditiya mendapati Morgan memegang topeng yang terdapat bercak darah yang masih segar. "Tuan muda, berikan topeng itu pada Paman," pinta Aditiya, namun Morgan malah menyembunyikannya ke belakang dan menggelengkan kepala tidak ingin memberikannya.
Beberapa saat kemudian Morgan baru ingat orang tuanya, lalu bertanya kepada Aditiya. "Ayah dan ibu, apa mereka sudah bangun Paman? Tadi Morgan lihat ibu dan ayah tidur di lantai, tapi Morgan gak boleh keluar dan disuruh tetap sembunyi di kolong meja Paman," tanya Morgan dengan kepolosannya.
Aditiya pun tak dapat mengatakan apa-apa jika orang tua Morgan sudah meninggal. Atas kematiannya, keduanya akhirnya dimasukkan ke dalam tempat kremasi yang telah di siapkan.
Morgan yang didampingi sang kakek, yaitu Leonardo Marly, sedang dikuatkan untuk menjadi anak yang tidak lemah.
"Kakek, mengapa mereka jahat pada ayah dan ibu?" tanya Morgan sambil terisak.
"Dengarkan, Morgan. Ayah dan ibumu sekarang sudah tenang di surga. Kamu harus menjadi anak yang kuat. Kamu harus bisa membalas dendam. Buatlah mereka yang telah membuat ayah dan ibumu meninggal menerima akibatnya. Jangan biarkan mereka hidup dengan tenang sampai anak cucumu. Buatlah mereka semua menderita. Mengerti, kan?" ucap Leonardo, yang mulai menanamkan kebencian dan balas dendam pada cucunya.
Morgan yang masih kecil lalu mengeluarkan sebuah sumpah dan dendam, yang akan diberikannya kepada mereka yang telah membunuh orang tuanya dan akan menghabisi seluruh keturunan.
"Aku bersumpah di depan abu orang tuaku. Kelak, saat aku dewasa, aku akan menuntut balas dan akan membuat seluruh keturunan pria bertopeng itu menderita," teriak Morgan.
__ADS_1
Setelah proses kremasi dan penyimpanan abu Rudolf dan Liliana Marly selesai, Leonardo membawa Morgan kecil ke kota XXX. Di sana, dia akan membentuk Morgan menjadi lelaki tangguh yang nantinya akan menjadi penerus dari organisasi Mafia Dragon yang didirikan ayahnya.
To be continued 🙂🙂🙂