Dendam Dan Penghianatan

Dendam Dan Penghianatan
Bab 8


__ADS_3

Morgan segera menunju mobil yang sudah disiapkan, bersiap untuk pertumpahan darah.


"Tunggu tuan muda, izinkan aku ikut. Aku akan menyaksikan dengan mata dan kelapa ku Kematian Alexander malam ini juga." pinta Aditiya dan Morgan hanya mengangguk untuk mengiyakan.


Mobil hitam, keluar beriringan menuju tempat yang sudah di katakan Adul sebelumnya.


Di sepanjang perjalanan, Morgan menyiapkan senjatanya, mengisi kembali Pistol dengan peluru. Mengusap pedang dengan mata yang tajam dengan sapu tangan hingga mengkilap. Pantulan cahaya lampu yang mengenai mata pisau, seakan mengatakan jika mata tajamnya sudah siap untuk menghunus musuh.


Kelompok Serigala Hitam yang sudah siap pun, berdiri di depan sebuah bangunan dengan perlengkapan senjata yang lengkap. Menanti kedatangan Dragon yang sudah dipancingnya.


Sorot lampu mobil menyilaukan pandangan mereka, saat satu persatu mobil datang dan berjajar.


Mereka semua turun dari mobil dengan perlengkapan senjata yang lengkap juga.


Tap... Tap...


Suara langkah sepatu berlahan mendekat. Govinda muncul di antara anak buahnya yang terlihat sangar-sangar dan bertubuh kekar. Sangat kontras dengan Govinda. Langkahnya yang tegas sambil menyeret pedang, menunjukkan diri siapa pimpinannya.


Di belakangnya, terlihat dua pria yang sedang menyeret Alex yang sudah tidak berdaya dengan tubuh bersimbah darah.


Morgan pun keluar dengan mengenakan Jaket mantel hitam untuk menutupi tubuhnya, Fedora hat yang ada di kepalanya, menambah kesan dinginnya. Asap tipis mengepul di udara seiring hembusan yang keluar dari hidungnya.


Emosi ia sisihkan sejenak, untuk mengambil sikap berkuasanya. Tak ada yang tahu persis wajah asli Morgan Marly, sebab ia tak pernah terlibat untuk urusan-urusan kecil.


"Terlalu licik, untuk memancingku keluar dengan cara kotor seperti itu. Apa kamu sudah siap menyerahkan nyawa mu dan seluruh anak buah serigala hitam." Morgan menyeringai lalu menata topinya dan menunjukkan wajah aslinya yang sedari tadi ia sembunyikan.


Govinda menarik Alex dan menunjukkan kepada Morgan sebuah ancaman serius. "Jika kamu ingin dia tetap hidup maka, serahkan Lusiana padaku, jika tidak dia akan mati di depanmu," ucap Govinda sambil menodongkan pedang di leher Alex.

__ADS_1


Morgan mere*mas tangannya sendiri dengan kuat, mengumpulkan kemarahannya dalam genggaman. Suara gemertak dari gigi, menandakan emosinya yang hampir meluap. Morgan menarik dalam-dalam nafasnya dan menghembusnya dengan kasar agar pikirannya kembali jernih, Satu nyawa hilang, 'harus di ganti dengan puluhan nyawa' gumam Morgan.


"Tu-tuan to-tolong a-aku." ucap Alex dengan suara terbata-bata untuk yang terakhir kalinya, sebelum Govinda menggoreskan mata pedang di leher Alex.


Bayangan puluhan tahun kembali muncul, saat Morgan menyaksikan ayah dan ibunya mati karena pedang.


Bayangan saat pertama kali bertemu dan saat Alex ingin menjadi anak buah Morgan juga kembali muncul, tawa Alex yang tulus terlukis dalam bayangan, semangatnya selalu mengiringinya.


"Kalian harus mati, kalian akan mati di tanganku." Teriak Morgan histeris, dan memerintahkan anak buahnya untuk menyerang.


Perkelahian antara dua geng Mafia yang saling bermusuhan itu pun tak terhindarkan. Timah panas pun menyasar ke segala arah. Saling membunuh dan saling melukai sampai titik darah penghabisan.


Sreettt...


Aaahhhh...


Aditiya jatuh tersungkur, setelah pedang panjang melukai punggungnya dari belakang.


Di depan mata Morgan, Aditiya tak berdaya. beberapa anak buah Morgan diperintahkan untuk menarik Aditiya mundur.


Dor...


Dor


Dzziiinnng...


Suara-suara itu menggema, di sebuah tempat kosong tempat mereka menuntaskan balas dendam.

__ADS_1


Satu persatu tumbang, dan menyisakan sebagian kecil yang tersisa. Morgan yang sudah di selimuti kemarahan, mengambil pedang yang ada di dekatnya dan menyerang Govinda.


Traanngg....


Dua pedang beradu mata.


Govinda menyeringai puas telah berhasil melumpuhkan orang-orang terdekat Morgan.


"Tak akan ku biarkan kalian lolos, brengsek. Dragon harus lenyap malam ini juga." ucap Govinda.


"Kita lihat saja, siapa yang akan mati terlebih dahulu dan Siapapun yang menang, dia yang akan berkuasa."


Morgan dan Govinda saling menyerang dan membuktikan kekuatan antar pimpinan. Perkelahian dua musuh pun terjadi saling melukai dan saling menghajar.


Darah segar sama-sama mengalir di tubuh masing-masing.


Aaarrgggghhhh....


Govinda tersungkur, saat pedang Morgan mengenai pahanya. Pedang yang penuh darah 'pun akhirnya berhasil menodong leher Govinda.


"Nyawamu tidak akan bisa selamat lagi, brengsek. Aku akan membunuhmu sama seperti kamu membunuh Alex." Ancam Morgan yang masih terus menodongkan katana nya.


"Lakukan saja brengsek kalau kamu bisa, jika aku mati masih ada yang lain untuk membalaskan kematian ku." Tantang Govinda tanpa rasa takut, padahal Morgan bisa saja langsung menggoreskan pedang itu Langsung di leher Govinda.


Dooorrrrr.....


Suara tembakan itu tiba-tiba saja melesat begitu saja, timah panas meluncur menembus jantung dari arah yang tak terlalu jauh.

__ADS_1


To be continued 🙂🙂🙂


__ADS_2