Dendam Dan Penghianatan

Dendam Dan Penghianatan
Bab 9


__ADS_3

Timah panas melesat cepat tepat menembus jantung Govinda.


Morgan terkejut dengan apa yang terjadi, lalu ia mencari asal timah melesat itu, namun yang ia dapati Lusiana tengah memegang senjata yang tak lain itu adalah milik Morgan.


"Dia!" gumam Morgan.


Morgan tak menyangka, jika Lusiana ada di tempat tersebut, membuatnya bertanya-tanya siapa yang membawanya.


"Lusiana." Ucap Govinda sebelum ambruk.


Tubuh Lusiana bergetar, hingga senjata api yang di pegang Lusiana pun terjatuh.


"Kakak... " Teriak Lusiana dan berlari menghampiri kakaknya yang sudah tersungkur akibat tembakan yang di tujukan untuk menembak Morgan , justru mengenai kakaknya sendiri.


"Kakak, bangun jangan tinggalkan aku, Maafkan aku kak, aku tidak sengaja melukai kakak. Jangan mati kak." tangis Lusiana pun pecah.


Morgan mundur beberapa langkah, menarik pedangnya dan membiarkan dua saudara itu bertemu untuk yang terakhir kalinya. Di balik sisi kejam Morgan, terselip rasa perikemanusiaan dan itu adalah sisi lemah Morgan.


Govinda menyentuh pipi Lusiana dengan tangannya yang bersimbah darah.


"Jangan menangis adikku, terimakasih kamu sudah menjaga kehormatan kakak dengan mati di tanganmu bukan di tangan musuh. Berjanjilah Lusiana, kamu akan membalaskan dendam kakak." Govinda masih mengukir senyum untuk adiknya di sisi waktunya yang tersisa.


"Aku janji kak, aku akan membalaskan dendam kakak, aku akan membunuhnya. Kakak jangan mati, jangan tinggalin kau," ucap Lusiana disertai tangisannya, ia pun memeluk erat tubuh kakaknya yang tak berdaya.


Govinda akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Lusiana dan saat itu juga Lusiana berteriak histeris Saat kehilangan kakaknya di depan matanya sendiri.


"Seret dia. Jangan biarkan dia kabur." perintah Morgan pada salah satu anak buahnya, sedangkan yang lain ada yang membawa mayat Alex juga anggota yang meninggal lainnya dan ada juga yang membantu membawa Aditiya.


"Lepaskan aku, aku ingin bersama kakakku." teriak Lusiana yang terus saja meronta tak ingin meninggalkan kakaknya, namun tenaganya jauh lebih kecil di banding dengan pria yang menarik tubuh Lusiana.


Lusiana hanya bisa menatap tubuh kakaknya yang tergeletak tak bernyawa untuk terakhir kalinya, Air matanya terus bercucuran melepas kakaknya Govinda.


"Aku akan membalasnya kak, akan aku bunuh nya." Gumam Lusiana


Lusiana di bawa kembali ke markas, sedangkan Aditiya segera dilarikan ke rumah sakit. Luka yang cukup parah membuat Aditiya kehabisan banyak darah, Dokter yang menangani pun segera melakukan tindakan dengan operasi untuk menyelamatkan nyawanya. Beberapa kantong darah dibutuhkan untuk menolong Aditiya dari maut, namun sayangnya walaupun Aditiya berhasil melewati masa kritis, dia akan mengalami koma untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.


"Kamu harus bertahan paman." ucap Morgan dalam kecemasan.


"Morgan, kamu tenang dulu. Dokter pasti akan menangani paman Aditiya semaksimal mungkin, yakinlah kalau paman bisa melewati ini." Gion pun menenangkan Morgan.


"Aku harap begitu, Tapi aku belum bisa tenang sampai mendapatkan kepastian ." Tak lama dokter pun keluar, Morgan segera mencecar dokter tersebut dengan banyak pernyataan.

__ADS_1


"Operasi berjalan lancar, tapi ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Pasien mengalami koma dan tidak bisa di pastikan berapa lama pasien akan sadar." Jelas dokter, dan segera berlalu.


Morgan menatap tubuh Aditiya yang sedang koma, Rasa bersalah pun menghampiri, andai ia tak mengizinkan Aditiya ikut serta mungkin hal tersebut tidak akan terjadi.


*****


Keesokan harinya, Morgan datang ke pemakaman Alex di tengah hujan yang mengguyur saat prosesi pemakaman.


Seluruh anggota Dragon pun berduka atas meninggalnya Alex dan beberapa anggota lainnya. Semua anggota mengenakan pakaian hitam mengiring Alex ke peristirahatan terakhir.


"Perjuanganmu telah selesai Alex, Dragon berterimakasih atas pengorbanan mu." Morgan menjatuhkan serangkai mawar hitam sebagai bentuk duka di atas peti mati Alex.


Di depan matanya Morgan menyaksikan peti mati Alex mulai tertimbun tanah. Seketika Morgan memejamkan matanya menahan air mata agar tidak bisa lolos keluar.


*****


Lusiana yang di kurung seorang diri hanya bisa menangis terisak di temani kesunyian. Disaat berduka dirinya malah terkurung dalam belenggu musuh.


"Kak, maafkan aku." Lusiana belum bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah membunuh kakak kesayangan itu.


Seseorang membuka pintu kamar yang yang hampir tak pernah terbuka, hanya sesekali pelayan mengantarkan makanan.


"Tuan Morgan menunggu Nona. Mari ikuti saya untuk menemui tuan." Ucap seorang wanita yang tak lain kepala pelayan.


"Apa lagi yang kau inginkan? Aku sudah membunuh musuh mu apa itu masih belum cukup untuk membebaskan aku, ucap Lusiana. Morgan masih diam.


"Jika itu belum membuatmu puas, lebih baik bunuh aku sekarang juga, sebelum aku yang berbalik membunuhmu."


Morgan menyeringai, ia pun bangkit berdiri dan mendekati Lusiana dan berhenti di belakang Lusiana.


"Aku telah bersumpah, akan melenyapkan seluruh keturunan Serigala Hitam, itu artinya kamu juga akan mati. Tapi aku belum menginginkan kematian mu saat ini. Aku ingin kamu menyaksikan kematian ayahmu didepan matamu, setelah itu baru aku akan melenyapkan mu." Bisik Morgan di telinga Lusiana. Tak ada belas kasih yang di tunjukkan Morgan, setelah tanpa sengaja Lusiana menyelamatkan hidupnya.


Morgan hanya memberi peringatan pada Lusiana dan tidak melakukan apapun padanya.


******


"Aaarrgggghhhh." Morgan mengerang setiap jarum yang menusuk kulitnya dalam proses pembuatan tato di tubuhnya, dan kali ini Morgan mengukir tato di tubuhnya dengan ukiran Dragon bermahkota sebagai simbol jika penguasa Dragon saat ini adalah dirinya dan di kemudian hari keturunannya yang akan mewarisi dan akan menghiasi kulitnya dengan tato naga sebagai simbol kekuatan.


Saat Menikmati prosesnya. Seorang wanita berdiri tepat di depan Morgan, seketika Morgan memperhatikan tubuh bagian bawahnya saja, karena dirinya tidak bisa mendongak untuk melihat wajahnya.


"Siapa yang memerintahkan kamu kemari ?" tanya Morgan dengan dingin.

__ADS_1


"Maafkan saya tuan Morgan Jika saya masuk tanpa izin. Saya di kirim Bos Viktoria untuk melindungi tuan Morgan. Saya Wilia salah satu penembak jitu terbaik yang dimiliki Asoka. " Jelas Wilia.


Morgan hanya mendengus kesal, " Pergilah kamu bisa perkenalkan dirimu esok." Usir Morgan sambil memalingkan wajahnya.


"Tapi tuan... Iya baiklah..." Wilia pun tidak berani membantah dan memilih pergi ketimbang menjadi umpan serigala.


Sebelum pergi, Wilia sempat merhatiin tubuh Morgan benar-benar membuat wanita tergoda.


***


Setelah beberapa jam penyempurnaan tato di tubuhnya, akhirnya selesai dan dengan rasa sakit dan nyeri, Morgan memandangi tubuhnya di cermin besar dan memperlihatkan tubuhnya yang berotot di kelilingi dengan tato Dragan yang melilit di tubuhnya, walaupun belum nampak hasilnya seratus persen, tapi Morgan yakin itu akan menjadi tato terbaik yang dia miliki.


"Sempurna." Satu kata yang Morgan ucapkan sebagai bentuk pujian karena puas dengan hasilnya.


"Wow... luar biasa, Sekarang kamu benar-benar menjadi seorang pemimpin Dragon. Kakek pasti bangga dengan dirimu yang sekarang." Puji Gion pada sepupunya.


"Siapa yang memerintahkan Wilia masuk ke kamarku tanpa izin. Bukannya sudah ku katakan tidak boleh ada yang masuk ke kamar pribadiku, tanpa seizin ku."


"Aku yang menyuruhnya masuk, karena-"


"Jangan ulangi kesalahan lagi melanggar ucapan ku, atau mulutmu tidak bisa terbuka lagi!"


"Iya baiklah, maafkan aku. Aku juga akan pergi dari sini, sebelum mulutku tak bisa di buka." Gion pun perlahan keluar dari kamar Morgan


Lagi-lagi Morgan hanya bisa mendengus kesal setiap aturannya yang selalu di bantah.


"Penjaga, bawa tawaranku kemari." titah Morgan kepada penjaga yang berjaga di luar pintu kamarnya.


Tak lama, Lusiana yang tangannya terikat di dorong masuk ke kamar Morgan dan saat itu juga dua pasang netra yang penuh kebencian saling bertemu.


"Apa lagi yang kau inginkan. Belum puaskan kamu menyiksaku. Kenapa kamu tidak kau bunuh aku saja, Lebih sakit dari kematian setiap kau siksa seperti ini." Teriak Lusiana yang frustasi dengan perlakuan yang didapatnya.


Morgan menghampiri dan langsung menjambak rambut Lusiana dan membuat Lusiana terdongak ke atas.


"Jangan pernah lagi berteriak di depanku atau kamu akan merasakan akibatnya yang lebih dari ini. Jangan pernah memerintahkan lagi untuk membunuhmu. karena aku masih ingin bermain-main denganmu, selama kamu masih hidup, kau adalah budak ku." Morgan pun mendorong tubuh Lusiana ke atas ranjang dengan kasar.


Lagi-lagi Morgan menggunakan Lusiana sebagai pemuas untuk memenuhi hasratnya. Dan akhirnya Lusiana pun menyerah saat tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan Morgan agar dirinya tidak di sakiti lagi dan dia pun dengan rela melayani Morgan dengan suka rela.


Keesokan harinya saat Lusiana terbangun, ia menyadari jika di kamar Morgan ada beberapa pelayan yang tengah menyeka tubuh Morgan dan mereka sesekali melirik Lusiana dengan penuh rasa cemburu karena bisa menikmati tubuh bosnya sedangkan mereka yang susah payah mencari perhatian agar bisa di pakai bosnya sama sekali tidak pernah di lirik.


Lusiana pun sudah tidak malu-malu lagi dan kembali melanjutkan tidurnya setelah tenaganya terkuras setelah melayani musuhnya itu.

__ADS_1


To be continued 🙂🙂🙂


__ADS_2