Dendam Dan Penghianatan

Dendam Dan Penghianatan
Bab 6. Siap melawan


__ADS_3

Setelah pekerjaannya selesai, Morgan bersama anak buahnya Kembali ke mansion. Mata Morgan yang sangat tajam seperti elang itu, seketika melihat sesuatu yang mencurigakan di balik pintu balkon yang terlihat bayangan dari halaman mansion.


"Matikan lampu, biarkan pencahayaan minim saja!" perintah Morgan. Setelah itu Morgan pun berjalan mendekat, dan berdiri tepat di bawah balkon kamar yang di tinggali Lusiana.


Kain bersambung yang panjang tiba-tiba terjuntai di tepat di depan Morgan.


"Tuan-"  Alex ingin bicara namun tertahan, saat Morgan meletakkan telunjuknya di bibir, memerintahkan untuk tetap diam dan jangan berisik.


Kain seprai yang di ikat bersambung dengan selimut, mulai bergoyang seolah ada yang sedang memberi beban.


Pelan-pelan namun pasti, Lusiana berusaha kabur dari kamar lewat balkon, berharap kali ini ia bisa kabur, setelah mengamati sejenak situasi dari kamarnya.


Sesaat setelah hampir sampai di lantai dasar, Lusiana tak menyadari jika Morgan sudah menunggu dirinya.


"Apa kau ingin kabur?" tanya Morgan tiba-tiba, membuat Lusiana terperanjat dan tanpa sadar melepas genggaman tangannya di tali seprai, dan ia pun langsung terjatuh ke lantai marmer.


Aaaauuuhhhh...


Akila mengaduh saat pantatnya mendarat tepat di atas marmer yang keras.


Morgan berjongkok di depan Lusiana dan mencengkeram dagunya dengan kuat.


"Berani sekali kamu ingin kabur dari tempat ini! Apa kamu sudah lupa? Siapapun yang sudah masuk ke sini, tidak ada yang bisa keluar hidup-hidup. Jika kamu ingin meninggalkan tempat ini berarti kamu harus mati terlebih dulu, dan akan aku lemparkan jasad mu seperti  sampah," ucap Morgan lalu membuang wajah Lusiana dengan kasar dan kembali berdiri dengan angkuh.


"Apa salahku tuan? kenapa Tuan begitu membenciku, dan menghukum ku seperti ini? Orang tuaku saja tak pernah memperlakukan aku seperti ini. Hiks...hiks..." Tanya Lusiana tak paham disertai tangisnya.


"Apa kamu masih tak sadar dengan kesalahanmu itu?! Kalau begitu salahkan takdir, kenapa kamu harus terlahir dan menjadi keturunan Serigala Hitam, Itu artinya hidup dan kematian mu ada di tanganku." Bentak Morgan. Ia akan langsung marah setiap terdengar nama Serigala Hitam di telinganya.


"Bawa dia ke ruang hukuman dan cambuk dia sepuluh kali!" Perintah Morgan sambil berlalu pergi tanpa belas kasih.


Lusiana hanya bisa memberontak saat tubuhnya di seret paksa oleh anak buah Morgan dan siap menerima hukuman cambuk, sesuai perintah Morgan.


Di depan mata, Morgan menyaksikan sendiri saat Lusiana menerima cambukan di punggungnya.


CTAST... CTAST...


Rotan itu melayang di punggung mulus Lusiana dan teriakan histeris pun menggema di seluruh ruangan hingga membuatnya pingsan.


Tak ada rasa belas kasih yang di perlihatkan Morgan, yang ada hanyalah sebuah kepuasan setelah menyiksa keturunan Serigala Hitam.


Gion yang ikut menyaksikan hanya bisa memalingkan wajahnya saat melihat seorang gadis yang begitu tersiksa di depan matanya.

__ADS_1


"Morgan, jangan terlalu keji dengan wanita, lihatlah dia sampai pingsan saat menahan sakit." Tegur Gion yang tahu apa yang di lakukan Morgan pada seorang gadis.


"Jangan pernah ikut campur urusanku, aku memanggilmu datang kemari untuk membantuku dalam pekerjaan, bukan untuk ikut campur masalahku." Jawab Morgan dengan kesal lalu meninggalkannya pergi.


Gion pun hanya bisa geleng kepala, melihat sikap sepupunya itu.


Gion meminta Anak buah Morgan untuk mengantarkan Lusiana kembali ke kamarnya dan memerintahkan pelayan untuk mengobati luka bekas cambuk yang ada di tubuh Lusiana.


****


Di kamar Morgan mengamuk dan menghancurkan apa yang ada di dekatnya. Ia marah kepada dirinya sendiri yang harus berpura-pura bersikap kejam agar bisa di takuti bawahannya. Padahal hatinya selalu memberontak dengan sikap yang ditunjukkannya.


Di tengah ruang yang sedang berantakan, Morgan menengguk alkohol sambil bersandar di sisi ranjang, hanya untuk meredam kemarahannya.


"Hiks... hiks..." tangis Lusiana setiap ia merasakan perih di punggungnya, membuatnya kehilangan semangat, bahkan saat Aditiya memintanya untuk makan, Lusiana tetap menolak.


"Nona makanlah, jika tidak makan, anda akan merasakan lebih sakit!" perintah Aditiya namun Lusiana tetap menolak.


"Paman, kenapa dia begitu jahat, kenapa dia tidak membunuhku saja. Jika memang dia membenci orang tuaku, kenapa dia tidak langsung berhadapan dengan orang tuaku, bukan menyiksaku seperti ini, dia itu pengecut." ucap Lusiana dalam kemarahan dan juga rasa sakitnya.


"Nona, untuk apa Nona masih saja terus memberontak, sudah saya katakan berulang kali, lebih baik Nona menurut, agar tuan muda Morgan tidak murka, itu semua juga demi kebaikan Nona, karena tuan masih belum menginginkan kematian Nona," ucap Aditiya dan berlalu meninggalkan Lusiana kembali dan meninggalkan makanannya di atas meja.


Aditiya pun menemui Morgan untuk memberi laporan sesuai keinginan tuan mudanya itu.


"Baik-baik saja tuan, hanya saja dia tidak mau makan, dan hanya menangis sepanjang hari." jelas Aditiya.


"Dasar gadis bodoh, dia kira dengan begitu aku akan  merasa simpati dan membiarkannya bebas." Morgan pun bangkit berdiri dan berjalan menghampiri kamar Lusiana.


Morgan pun menarik tangan Lusiana dan melemparnya tubuh Lusiana ke lantai.


Aaaauuuhhhh...


"Sepertinya kamu lebih suka tidur dilantai, bersama An*ing daripada di atas kasur yang empuk. Jika kamu masih saja memberontak, maka satu persatu persatu keluargamu akan segera mati," ancam Morgan , membuat Lusiana benar-benar ketakutan.


"Penjaga...! Bawa budak ini ke kandang an*ng, agar dia tahu, bahwa ancaman ku tidak pernah main-main." Perintah Morgan kepada penjaga yang berjaga di luar.


"Tuan, maafkan aku. Tolong jangan hukum aku lagi. Aku janji akan menjadi budak mu yang penurut. Aku akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan, asal jangan masukkan aku ke kandang An*ing aku takut, Hiks... Hiks..." Lusiana merengek ketakutan bahkan ia pun bersujud di kaki Morgan agar di ampuni.


Morgan menyeringai, lalu membalikkan tubuhnya dan narik lengan Lusiana dengan satu tangan.


"Jika aku menginginkan tubuhmu, apa kamu akan memberinya dengan sukarela? Jangan dijawab! Ia ataupun tidak, aku akan mendapatkan apa yang aku mau, termasuk tubuhmu." Bisik Morgan di telinga Lusiana.

__ADS_1


Lusiana pun hanya bisa menangis dalam ketakutan, mulutnya tak lagi bisa berkata-kata untuk melawan saat Morgan dengan mudahnya melolosi pakai Lusiana.


"Bagaimana perasaan ayahmu Alexander saat tau putri bungsunya sebentar lagi akan di nodai oleh musuhnya sendiri? apakah ayahmu masih bisa menyombongkan diri, dan masih mementingkan kekuasaannya daripada menyelamatkan kamu putrinya sendiri." Bisik Morgan di telinga Lusiana, sambil menyusuri lekuk tubuh wanita yang kini menjadi mainannya.


Morgan hanya bisa menggigit bibir dan mengepal tangannya sendiri, saat pria yang menculiknya menyentuh area tubuhnya yang sensitif oleh sentuhan.


Ia hanya bisa membungkam mulutnya sendiri, agar tidak mengeluarkan suara yang dianggapnya memalukan.


Lusiana yang masih merasakan sakitnya punggung akibat cambukan kini Ia harus menerima lagi, rasa sakit diarea terlarang yang si perlakuan laki-laki yang ada di atasnya dengan kasar.


Lusiana tak berani memberontak, setiap perlawanannya, malah membuatnya semakin merasakan sakit. Ia hanya bisa membiarkan Morgan melakukan apa yang dia inginkan. Menikmati tubuhnya dengan paksa dan membiarkan mahkotanya di ambil paksa.


*****


Braakkkk...


"Kurang ajar. Kau bajingan, aku akan melenyapkan mu dan akan aku hancurkan kamu. Berani sekali kamu menyakiti bahkan menyentuh adikku." pekik Govinda dengan geram, dalam kemarahan yang berkobar.


Mata-mata yang di kirim Govinda ke dalam markas Dragon, memberikan informasi mengenai kondisi adiknya yang di sekap Morgan.


"Siapkan semua sesuai rencana, kita akan menyerang Dragon malam ini juga." Perintah Govinda kepada bawahannya.


"Govinda, apa sudah kamu persiapkan semuanya, jika kali ini kamu gagal, maka nyawamu atau adikmu akan melayang. Kamu tahu kan, kekuatan Dragon saat ini hampir sama dengan serigala hitam. Papa benar-benar menyesal, kenapa dulu papa kecolongan, tidak membunuh anaknya saat itu juga." Ucap Alexander yang harus duduk di kursi roda, akibat penyerangan yang ia lakukan terhadap Dragon yang mengharuskan ia kehilangan satu kaki.


"Aku janji pa, aku tidak akan membiarkan, Dragon berjaya, aku akan buat Dragon musnah dan namanya ada di anggap sampah."Govinda berkata dengan yakin, seolah dialah pemenangnya.


****


Setelah menikmati, gadis tawanannya dengan brutal hingga membuat Lusiana pingsan, Morgan menyadarkan tubuhnya di samping Lusiana yang sedang terbaring dengan tubuh polosnya. Ia pun menyalakan sepucuk rokok, sambil memulihkan kembali staminanya yang sudah terkuras.


"Penjaga masuklah!" Perintah Morgan tanpa malu. Sedangkan salah satu penjaga yang masuk hanya bisa menunduk tak berani melirik Tuannya yang sedang bersama sang budak.


"Iya tuan."


"Apakah kamu sudah berhasil menghasutnya?" tanya Morgan.


"Sudah Tuan, tadi di buru-buru pergi setelah saya mengatakan apa yang sedang tuan lakukan dengan budak Tuan." Jelasnya.


"Bagus. Jika dia kembali, perintahkan Aries untuk memenggal kepalanya dan kirim jasadnya ke markas Serigala Hitam."


"Siap Tuan, akan saya laksanakan." Penjaga itupun kembali keluar dan berjaga di luar pintu kamar.

__ADS_1


'Mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal ayah, tapi aku ingin membuatnya mereka mati dengan cara lebih menyakitkan dan perlahan. Aku Morgan Marly sudah siap balas dendam.'


To be continued 🙂🙂🙂


__ADS_2