
Setelah berhasil membawa adik bungsu Govinda. Morgan segera membawanya ke salah satu mansion peninggalan orang tuanya dan ingin menjadikan gadis itu sebagai alat balas dendam untuk menghancurkan mafia Serigala Hitam, dendam kesumat yang membara membuat Morgan benar-benar ingin membuat seluruh keturunan Serigala Hitam benar-benar menderita sebelum musnah.
"Selamat datang Tuan Rafan..." sambut Aditiya yang sudah menunggu kedatangan Morgan.
"Apa kabar paman?" Sapa Morgan dan keduanya saling berpelukan untuk melepas rindu. Bagi Morgan, Aditiya adalah ayah kedua setelah Rudolf dan Morgan selalu menghormatinya.
"Bawa gadis itu ke kamar." Perintah Morgan pada salah satu anak buahnya yang membawa gadis tawanan yang Morgan dapatkan dan saat ini dalam kondisi pingsan.
"Siapa dia tuan muda? Tanya Aditiya yang penasaran. Morgan tak langsung menjawab, ia melangkah menuju kursi kebersamaan yang kini menjadi miliknya.
Morgan memejamkan mata sejenak saat tubuhnya menempati kursi tersebut, bayangan Rudolf pun melintas di benaknya.
Rudolf adalah sosok pria yang sangat penyayang, selama hidupnya Morgan dan ibunya nya di perlakukan seperti ratu dan pangeran. Walaupun Rudolf ketua Mafia yang terkenal kejam, tapi dia tak pernah melakukan kekerasan fisik pada keluarganya.
"Dia akan menjadi tawanan ku paman, aku akan menjadikan dia sebagai alat untuk balas dendam. Mereka semua harus merasakan sakit, jauh lebih sakit dari yang pernah aku rasakan. Aku yakin mereka tak akan tinggal diam, jika mengetahui putri bungsunya berada di tangan kita. Paman aku butuh informasi tentang dia." Morgan pun menyeringai, pikiran jahat pun memenuhi otaknya.
Segera saja Morgan memerintahkan penjagaan yang lebih ketat untuk antisipasi serangan dadakan dari musuh, dia tindak ingin lengah dan kejadian di masa lalu terulang lagi.
Butuh perjuangan yang keras untuk sampai berada di titik sekarang, menggantikan posisi sang Ayah sebagai pimpinan Mafia Dragon.
"Paman, aku butuh wanita malam ini..." perintah Morgan dan saat itu juga, Aditiya membawakan gadis cantik sesuai keinginan Morgan untuk menemani malamnya.
****
Di kamar lain, gadis yang bernama Lusiana itu terbangun dari pingsannya, dan merasa linglung dengan keberadaannya di tempat yang masih asing itu.
"Dimana aku? Apa yang sudah terjadi padaku?" Dalam kebingungannya, Lusiana segera turun dari kasur dan menghampiri pintu yang tertutup dan berharap pintu itu tidak terkunci.
Lusiana dengan susah payah berusaha membuka pintu yang ternyata terkunci dan dia pun menggedor- gedor pintu namun tak ada yang memperdulikannya.
__ADS_1
"Buka pintunya, keluarkan aku dari sini!" teriak Lusiana yang sudah putus asa.
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki seseorang yang menghampiri pintu yang terkunci. Lusiana langsung berdiri dan mundur beberapa langkah membiarkan seorang itu membukakan pintu untuknya dan berharap segera membebaskan dirinya.
Benar saja, Aditiya datang ke kamar yang di tempati Lusiana bersama dua pelayan yang membawa pakaian ganti dan juga makan untuknya.
"Pelayan, letakkan semua itu di atas meja, biar Nona ini melakukannya sendiri, sesuai perintah Tuan, tidak ada perlakuan istimewa untuk tawanan ini." perintah Aditiya pada kedua pelayan lalu menyuruhnya pergi.
"Apa maksudmu tawanan? Keluarkan aku dari sini, aku tidak ingin di sini. Jika kalian butuh tebusan, bilang saja dengan ayahku, mereka pasti akan membayar berapapun yang kalian inginkan." Lusiana masih tak mengetahui tujuan dirinya menjadi tawanan.
"Nona, apa Nona tidak bisa melihat, kamar yang anda tempati ini sangat mewah, dan untuk membeli Nona tiga kali lipat pun Tuan muda kami bisa membayarnya. Lebih baik Nona terima nasib Nona telah masuk dalam kandang harimau." Aditiya pun segera keluar dan kembali mengunci kamar Lusiana. Disisi lain Lusiana tak percaya jika dirinya akan menghabiskan hari-harinya menjadi tawanan.
***
Keesokan harinya, Morgan sedang duduk di meja makan, menikmati sarapan yang tersaji. Saat sarapan tak ada satu orangpun yang di izinkan untuk mengganggunya. Semua berdiri agak jauh dan tak ada yang berani mengeluarkan suara apapun.
Morgan menikmati sarapannya dengan tenang hingga ia selesai.
"Lepaskan aku, aku tidak mau bertemu dengan orang seperti tuan kalian yang sangat jahat, yang sudah mengurungku seperti ini." Lusiana terus memberontak, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Aditiya yang terus menarik tangannya membawa Lusiana ke hadapan Morgan.
"Aaaauuuhhhh..." Akila terjatuh tepat di depan kaki Morgan.
"Berdiri!" Dengan lantang Morgan meminta Lusiana untuk berdiri. Lusiana berusaha bangkit berdiri namun Morgan segera menjambak rambutnya hingga membuat kepalanya terangkat, Lusiana pun pada akhirnya bisa menatap wajah Morgan yang tampan namun aura dingin sangat jelas di wajahnya.
Morgan mencengkeram kuat dagu Lusiana hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Dengarkan aku baik-baik, mulai sekarang kamu akan menjadi budak ku, dan jangan pernah berharap kamu bisa keluar tempat ini. Apa kamu tahu? yang keluar dari tempat ini hanyalah mayat. Jadilah kucing kecil yang manis jika ingin mendapatkan perlakuan yang baik."
"Lebih baik aku mati, daripada menjadi budak pria gila seperti kamu." Di bawah ancaman Lusiana pun masih berani melawan. Morgan pun menjadi geram, selama ini tak ada satu orang pun yang berani melawan perkataannya. Dengan kasar Morgan melepas tangannya.
__ADS_1
"Jika bukan karena ingin balas dendam, sudah aku robek mulutnya." Gumam Morgan dengan geram karena gadis yang ada di depannya sudah berani melawannya. Morgan lalu pergi meninggalkan ruang makan dan memerintahkan Aditiya untuk mengurung kembali tawanannya.
*
*
*
Setelah mendapatkan cukup banyak dukungan, Morgan pun memutuskan untuk membangkitkan kembali bisnis ayahnya, sembari menjalankan misi selanjutkan menarik para kelompok yang masih bersekutu dengan mafia Serigala.
Morgan pun memanggil sepupunya yaitu Gion untuk membantunya menjalankan bisnis ilegalnya. Peredaran senjata pun mulai kembali di jalankan secara besar-besaran. Tempat-tempat perjudian pun mulai kembali di kuasai, bahkan peredaran obat-obatan terlarang pun sudah dalam kendalinya.
Namun Morgan belum lah puas dengan apa yang di dapatnya sekarang, sebelum ia bisa membunuh pria yang sudah membunuh orang tuannya. Apa yang ada di depannya tak akan bisa membuat dirinya puas.
*
Setelah perjalanannya yang panjang Gion akhirnya sampai di mansion, tak ada sambutan atau apapun saat dirinya datang.
"Tuan Gion, selamat datang di mansion utama Tuan Morgan. pelayan akan mengantarkan Tuan ke kamar yang sudah di siapkan." Sambut Aditiya.
"Di mana Morgan?" Tanya Gion.
"Aku disini." Saut Morgan yang sedari tadi memperhatikan kedatangan Gion dari kursi kebesarannya.
"Aku ini keluargamu atau bukan sih, kenapa kamu sama sekali tidak menyambut kedatanganku." Protes Gion.
"Untuk apa di sambut, kamu bukan orang spesial bagiku," jawab Morgan dengan dingin.
"Kau. Hah... Sudahlah, aku akan kalah jika bicara denganmu, dasar pria dingin." Morgan pun memilih pergi ke kamar untuk istirahat, setelah perjalanan panjangnya dari kota XXX.
__ADS_1
To be continued 🙂🙂🙂