Dendam Dan Penghianatan

Dendam Dan Penghianatan
Bab 10


__ADS_3

Setelah Alex meninggal, Morgan memutuskan untuk memanggil teman masa kecilnya yang berada di kota Xxx untuk menjadi tangan kanannya.


Vios, Pria yang terkenal kekejamannya di XXX akan datang ke kota untuk memenuhi janjinya pada Morgan saat masih bersama.


Morgan, Vios, dan Gion mereka bersahabat selama dua puluh tahun saat Morgan datang ke kota Xxx bersama kakeknya. Mereka bertiga berjanji akan selalu ada di saat ada yang membutuhkan.


Namun di antara mereka bertiga, Gion berbeda, dia tidak suka kekerasan, dan memilih jalur damai selama itu bisa di tempuh, tapi jika dia sudah di ganggu, dia akan menjadi manusia kejam dan lebih kejam dari kedua temannya itu.


"Akhirnya kamu datang juga. Selamat datang dan selamat bergabung di markas Dragon." Sambut Secara secara langsung.


"Aku sudah berjanji dan pantang bagi Vios untuk mengingkarinya. Mulai sekarang aku akan selalu ada untuk membantumu." Keduanya pun saling berpelukan.


"Giliran Vios di sambut, saat aku datang, sambutan pun tak diberikan." Celetuk Gion ini.


"Apa kamu iri?"


"Tidak, ada sambutan ataupun tidak, aku tetap senang karena sekarang kita bertiga bisa berkumpul lagi." saut Gion, dan Vios hanya menepuk pundak Gion yang dianggap adik bungsunya itu.


Morgan segera mengajak Vios berkeliling markas dan menceritakan perjalanannya sampai detik ini, di ikuti Gion yang kerap kali menyela ucapan Morgan.


"Kamu sangat hebat Morgan, dalam waktu sebentar kamu sudah bisa menguasai sebagian kekuasaan yang telah di rebut serigala hitam. Kamu memang pantas dan layak menjadi seorang pemimpin, aku bangga padamu."


"Aku begini, karena ambisiku. Sebelum Serigala Hitam lenyap, aku tidak akan pernah tenang dan aku akan terus menyerangnya."


Saat sedang berbincang, pelayan datang mencari Morgan dengan terburu-buru.


"Tuan- tuan..., Itu Nona Lusiana pingsan." Jelas pelayan dengan nafas tersengal-sengal.


"Apa kamu bilang! Cepat, panggil dokter sekarang juga!" Perintah Morgan dan segera pergi ke untuk menemui tawanannya itu. Vios yang tak paham dengan apa yang terjadi hanya membuntuti Morgan untuk memastikan.


"Bagaimana ini bisa terjadi?!" Tanya Morgan sambil membentak. Semua terdiam dan tidak ada yang berani menjawab. Semenjak paman Aditiya koma, Lusiana seperti menjadi tahanan yang terlantar.


"Ma- maafkan saya tuan, tadi saat saya datang untuk mengantarkan makanan, Nona Lusiana sudah tergeletak di lantai." Jelas pelayan.


"Kalian semua tidak becus, menjaga satu tawanan saja kalian tidak bisa. Aries cepat hukum para pelayan ini, dan jangan biarkan mereka bebas sebelum menyadari kesalahan mereka semua!" Perintah Morgan yang benar-benar sedang emosi.


Aries pun segera menjalankan perintahnya dan menyeret para maid itu keluar kamar dan membawanya pergi.


Tak lama kemudian dokter yang dipanggil pun datang. Morgan segera memerintahkan semuanya untuk keluar.


"Cepat periksa dia, dan pastikan kalau dia akan baik-baik saja!" Perintah Morgan.


"Baik tuan, saya akan memeriksanya dulu." Segera saja dokter itupun memeriksa kondisi Lusiana yang belum sadar itu. Setelah beberapa saat dokter itu pun selesai melakukan pemeriksaan.


"Bagaimana? Dia baik-baik saja kan? Aku tidak mau dia mati dengan mudah."

__ADS_1


"Emmm, sebenarnya ada satu masalah yang harus saya sampaikan. Entah ini akan menjadi kabar bahagia atau malah sebaliknya. Sebenarnya Nona ini pingsan kerena dia-"


Karena kesal mendengar sang dokter bicara bertele-tele, Morgan meraih kerah bajunya dan menariknya.


"Cepat katakan yang sebenarnya, atau kamu tidak akan pernah bisa bicara lagi." Ancam Morgan membuat dokter itu terkejut dan ketakutan.


"Nona itu sedang hamil tuan. Ampuni saya tuan. Tolong lepaskan! beri saya kesempatan." Jelas dokter tersebut membuat Morgan benar-benar terkejut. Segera saja Morgan melepaskannya.


"Jika sudah selesai, cepat pergi dari sini."


Dokter itu pun bergegas pergi, namun ia sempat memberikan resep vitamin untuk diberikan kepada Lusiana.


Setelah dokter itu pergi, Morgan mendekati Lusiana dan menatap wajah pucat nya yang kini masih terbaring pingsan.


'Brengsek kamu Lusiana, Ternyata kamu memanfaatkan kelengahan ku untuk menjebak ku. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu nanti.'  Morgan hanya bisa menggerutu dalam hati, karena sudah terjebak permainan Lusiana, yang memanfaatkan kesempatan.


Setelah menunggu beberapa waktu namun Lusiana belum kunjung sadar, Morgan memutuskan untuk membiarkannya istirahat, dan akan meminta penjelasan padanya saat ia sadar nanti.


"Aries, siapkan pelayan baru untuk menjaganya. Dan pastikan mereka benar-benar menjaga. Aku tidak ingin ada kecerobohan terulang lagi!" Perintah Morgan.


"Siap tuan, akan segera saya bawakan."


"Vios, temani aku ke bar Victoria sekarang."


" Tunggu, aku juga mau ikutan," ucap Gion yang tak mau ketinggalan.


"Selamat datang tuan Morgan," Sapa Victoria


"Aku butuh ruang VIP." Jawab Morgan


Victoria pun memanggil beberapa wanita cantik untuk melayani Morgan dan yang lainnya.


****


Di kamar, perlahan Lusiana mulai tersadar dari pingsan. Ia bingung apa yang sudah terjadi padanya, saat menyadari ada perban yang melilit di kepalanya.


"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Lusiana kepada para maid yang menunggu Lusiana sadar sepanjang waktu.


"Maafkan aku, Nona. kami pelayan baru di sini. Kami tidak tau apa yang sudah terjadi pada Nona, kami hanya di perintahkan untuk menjaga Nona baik-baik.


"Aauuhhh, kenapa perutku sakit sekali."


"Apa Nona baik-baik saja?"


"Perutku sakit sekali, seperti kram. Tolong aku." Lusiana pun meringis kesakitan bahkan sampai menangis. Sedangkan para pelayan hanya bisa membantu mengusap perut Lusiana dengan minyak.

__ADS_1


Setelah di usap-usap dengan minyak, perlahan Lusiana mulai membaik. Maid Eli pun segera memberi air agar Lusiana minum, supaya lebih rileks lagi.


" Terimakasih banyak."


"Tidak perlu terimakasih Nona, ini sudah tanggungjawab saya untuk menjaga Nona. Kami tidak mau seperti maid sebelumnya yang mendapatkan hukuman karena lalai menjaga Nona. Kami akan menjaga Nona dengan baik seperti perintah tuan Morgan.


"Tuan Morgan apa tau kondisiku saat aku pingsan?"


"Tentu saja Nona, bahkan tuan Morgan yang memerintahkan untuk memanggil dokter. Selain itu hanya tuan Morgan saja yang tau mengenai kondisi Nona, saat dokter menjelaskan."


'Bukankah dia sangat membenciku? Kenapa dia harus mengkuatirkan aku. Seharusnya dia mengabaikan aku dan membiarkan aku menderita. Tapi kenapa dia malah peduli.' Gumam Lusiana lalu ia ingin turun menemui Morgan dan meminta penjelasannya.


"Mau kemana Nona?"


"Aku ingin bertemu tuan Morgan, ada yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Tuan Morgan tidak ada. Tuan sedang pergi ke bar bersama tuan Gion dan tuan Vios."


"Vios? Siapa dia?"


"Tamu tuan Morgan yang baru datang. Lebih baik Nona istirahat saja, biar kondisi Nona segera pulih. "


Lusiana pun tak bisa menolak, dan memilih untuk patuh sesuai rencana yang sudah dia buat. Namun Lusiana tidak menyadari tentang kehamilannya.


Lusiana yang belum mengisi perutnya dengan apapun minta maid Eli untuk membawakannya makanan


" Bi, sedari tadi aku belum makan dan sekarang aku sangat lapar. Bisakah bibi membawakan aku makanan? Aku sangat lapar." Pinta Lusiana.


" Tentu saja, tunggu sebentar Nona biar Ina yang mengambilkan makanan untuk Nona." Jawab Eli dan Ina pun bergegas pergi untuk mengambil makanan.


Setelah menunggu cukup lama, Ina pun datang dengan membawa semangkuk sup.


Saat aroma sup itu masuk kedalam indera penciuman Lusiana, tiba-tiba saja Lusiana mual-mual dan ingin muntah.


"Jauhkan sup itu dariku. Aku tidak kuat mencium aromanya, aku sangat mual. Beri aku makanan yang lain." Tolak Lusiana dan Ina pun menuruti lalu mengganti sup dengan yang lainnya namun lagi-lagi Lusiana merasa mual saat mencium aromanya.


"Nona sebenarnya kenapa sih? Saya sudah mengganti menunya beberapa kali, tapi nona terus saja menolak. Saya tak atau lagi harus membawakan makanan apa lagi," ucap Ina dengan kesal.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu, hanya saja, setiap mencium aroma rempah, membuatku tiba-tiba mual dan ingin muntah, tapi sebenarnya aku sangat lapar." Jelas Lusiana sambil menitikkan air mata, karena merasa tersiksa.


"Kalau begitu, Nona makan buah saja, untuk sementara. Ina bawakan Nona buah apel!" Perintah Eli dan segera saja Ina kembali keluar untuk menuruti permintaan Lusiana.


"Sudah Nona, jangan bersedih. Kami sudah terbiasa begini."


"Tapi aku tidak seperti biasanya begini."

__ADS_1


"Apa mungkin Nona saat ini sedang-" terka Eli membuat Lusiana terkejut.


To be continued 🙂🙂 🙂


__ADS_2